Hari ini papa Gama dan mama Ayu akan bertemu dengan ayah Fahmi dan juga bunda Desi. Mereka telah mengatur waktu untuk makan bersama nanti siang di restoran yang telah di tentukan.
"Apa kabar, Fahmi?" Sapa Papa Gama memeluk teman baik nya itu.
"Baik, Gam. Gimana kabar kalian? betah lama-lama di Aussie sampe lupa Negara nya sendiri," Ejek Ayah Fahmi yang memang baru bertemu lagi dengan sahabat baiknya, karena sudah 2 tahun ini mereka tinggal di Aussie.
"Ya mau gimana lagi, Mi. Bara nggak mau urus kantor cabang yang di sana. Jadi, mau nggak mau kita sebagai orang tua yang mengalah."
Mama Ayu dan bunda Desi juga asyik mengobrol masalah wanita, tidak seperti para laki-laki yang setiap bertemu pasti membahas masalah pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Bagaimana, Mi? kamu setuju nggak kalo Luna di jodohkan dengan Bara? aku tau pasti kalian berat untuk menerima Bara, karena track record dia sebagai casanova. Tapi, aku yakin seiring berjalan nya waktu, pasti Bara akan bisa menerima dan mencintai Luna. Hanya Luna yang cocok bersanding dengan Bara. Luna wanita yang mandiri, tangguh dan berani cocok untuk Bara yang keras kepala."
Permohonan papa Gama membuat ayah Fahmi dilema, pasalnya dia tidak mungkin menolak permintaan teman baik nya itu. Orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Berkat Gama lah sekarang perusahaan nya menjadi besar dan berkembang, itu semua tidak luput dari peran seorang Gama Wijaya.
"Aku coba bicarakan dengan Luna dulu ya, Gam. Kita kasih dia pengertian dulu."
"Baiklah, Mi. Tolong kabarkan nanti, ya. Semoga Luna bersedia," ucap papa Gama penuh harap.
"Baik, Gam. Secepatnya aku kabarin kamu."
Mereka berempat melanjutkan makan siang setelah lapa Gama dan mama Ayu menceritakan semuanya kepada mereka, tentang apa yang membuat Bara bisa menjadi seorang casanova.
***
Bara dan asistennya sedang menghadiri undangan makan siang sekaligus membahas masalah kerja sama mereka di salah satu restoran ternama di daerah Jakarta Barat.
Dua jam membahas masalah kerja sama antar perusahaan mereka, kini Bara dan Kenan pamit untuk kembali ke kantor karena waktu masih menunjukkan pukul 2 siang.
"Terimakasih, Pak Bara dan Pak Kenan atas waktu nya. Semoga kerja sama kita bisa terus berjalan dengan baik."
"Sama-sama, Pak. Kita pamit kembali ke kantor," ucap Kenan berpamitan.
Mereka sedang dalam perjalan kembali ke kantor dengan Kenan yang menjadi supir nya. Kenan asisten sekaligus sepupu Bara, karena Kenan merupakan anak dari adiknya mama Ayu.
Bara dan Kenan tumbuh bersama sedari mereka kecil sampai ke jenjang kuliah. Karena orang tua Kenan berada di Jerman, sementara Kenan sekolah di Indonesia bersama dengan Bara, baru setelah kuliah mereka melanjutkan kuliah di Aussie.
"Bar, kata Papa kalo bisa kurang-kurangin main di kantor bareng Feli sekretaris, lo," ujar Kenan membuka obrolan karena mereka kini masih dalam perjalanan.
"Kasian Papa sama Mama kecewa sama lo, Bar. Sampe kapan sih lo mau jadi seorang casanova? nggak ada manfaat nya buat lo Bar, yang ada entar kena penyakit HIV baru tau rasa lo."
"Udahlah, bosen gue denger lo ngomong itu mulu."
Semoga lo bisa nemuin cewek yang bisa bikin lo berubah Bar. Gue kangen lo yang dulu, bukan lo yang kek sekarang ini, batin Kenan.
Tiba di kantor, Bara langsung masuk keruangan nya yang ternyata sudah ada Bella di sana.
"Ngapain kesini?" tanyanya ketus.
"Kok, gitu sih Bar nanyanya, aku kan kangen sama kamu," jawab Bella manja.
"Pasti mau minta sesuatu lagi, kan? udah bisa ditebak sih," sinis Bara.
"Baiklah, layani aku dulu!"
Bella membuka kancing kemeja Bara perlahan-lahan, memainkan jari lentiknya di dada bidang sang casanova, kemudian mengukir pola abstrak di sana membuat Bara memejamkan mata nya.
Walaupun sudah lama menjadi pemuas nafsu Bara, Bella tidak mendapatkan fasilitas apapun dari Bara termasuk kartu untuk berbelanja. Wanita itu hanya diberikan kartu akses apartment nya saja.
***
Di kampus Luna dan kedua sahabatnya keluar dari kelas menuju ke parkiran, karena jam kuliah mereka telah selesai.
"Weh, nongki dulu yuk di cafe depan!" ajak Ajeng.
"Gas lah," sahut Luna.
"Jaenal, lu ikut kagak?" tanya Luna yang melihat Devan hanya diam saja.
"Et dah, Juleha lu ngagetin aja."
"Lagi, lu ngeliatin apaan sih?" tanya Luna penasaran.
"Onoh si Elsa makin bening aja, ya. Sayang udah ada yang punya doi," keluh Devan.
"Et dah Jaenal, lu kek kagak ada cewek laen aja si Elsa mulu yang lu liat. Kek nya kudu di ruqiah ini Jeng si Jaenal, biar mata hatinya kebuka bisa liat cewek lain jangan si Elsa mulu," guyon Luna membuat Devan mencebikkan bibir nya kesal.
"Au lu, move on cuy move on! disabet pacar nya si Elsa baru tau rasa lu," sambung Ajeng.
"Lu berdua kira move on itu gampang? kagak segampang membolak balikan telapak tangan cuy, ini masalah hati yang rapuh sangat sensitif."
"Ceileh, Jaenal bahasa lu. Makan masih sama jengkol ikan asin aja bahasa lu tinggi bener."
"Udah, ayok Lun kita tinggal aja dia." Ajak Ajeng menarik tangan Luna.
"Weh, tungguin napah." Devan berlari mengejar kedua sahabatnya yang sudah menyebrang jalan menuju cafe.
Di cafe mereka bertiga masih asyik mengobrol. "Lun, entar malem jadi balapan?" tanya Ajeng melirik kearah Luna.
"Jadi, Jeng. Jam 10 malem," jawab Luna.
"Okey, gue pasti dateng, lu Van dateng kagak?" tanya Ajeng beralih kearah Devan.
"Gas lah, entar gue dateng kasih support," jawab Devan santai.
"Ya udah, balik yuk udah sore!"
"Ayok, bye sampe ketemu entar malem," ujar Luna yang di anggukan oleh Ajeng dan juga Devan.
***
Malam hari di mansion Nugroho sedang makan malam bersama. "Selesai makan malam kalian jangan langsung kembali ke kamar! ada yang mau Ayah bicarakan."
"Okay," jawab Luna dan Kenzo bersamaan.
Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga menanti kepala keluarga yang akan berbicara.
"Luna, Ayah mau menjodohkan kamu dengan anak teman baik Ayah nama nya Bara Adi Wijaya, Ceo Wijaya Corporation," ujar Ayah membuat Luna shock.
Bagaimana tidak shock, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba sang Ayah ingin menjodohkannya. Tidak terbesit dalam benaknya menikah sebelum lulus kuliah.
"Lho, kok gitu sih, Yah? Luna kan masih belum kepingin nikah masih kuliah juga. Terus itu dijodohin sama Bara Adi Wijaya, Ceo casanova itu? ya ampun, Ayah mau ya Luna sakit hati terus sama kelakuannya yang minus itu," jawab Luna yang terang-terangan menolak permintaan Ayah nya.
"Kenzo juga nggak setuju Kak Luna nikah sama dia, memangnya Ayah nggak tau sepak terjang nya dia seperti apa? ya boleh dalam dunia bisnis dia unggul karena kemampuan nya, tapi kelakuan nya sudah terkenal seantero kalo Bara seorang casanova," sambung Kenzo yang tidak ingin kakaknya menikah dengan laki-laki brengsek.
"Tolong Ayah Lun, Ayah yakin Bara akan berubah jika bersama kamu, karena kamu wanita yang cocok untuk Bara. Tolong Ayah Lun, Ayah juga nggak enak menolak permintaan Om Gama, Papa nya Bara. Karena beliau orang yang sangat berjasa dalam hidup Ayah. Karena beliau lah Ayah sekarang bisa seperti ini, karena beliau perusahaan Ayah bisa maju dan berkembang," jelas ayah Fahmi.
"Dulu saat Ayah di usir dari rumah orang tua Ayah karena lebih memilih Bunda kamu, Ayah tidak mempunyai apa-apa, karena semua fasilitas Ayah di cabut nenek kamu karena menolak perjodohan yang sudah beliau rencanakan. Om Gama lah yang selalu support dan membantu Ayah, mengajari gimana caranya membangun perusahaan dan memberikan modal yang cukup besar untuk Ayah tanpa pamrih meminta balasan." Ujar Ayah dengan sendu menceritakan perjalanan hidupnya yang terjal.
Mendengar cerita sang ayah membuat Luna terdiam, hatinya bisa merasakan sesusah apa dulu Ayahnya.
"Baiklah, Yah. Luna bersedia menikah dengan Bara demi Ayah."
Kenzo pun tidak bisa berbicara apa-apa lagi setelah mendengar cerita Ayahnya, sementara Bunda hanya diam saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Zahra Aisyah
lumayan menarik
2024-07-24
1
Retno Palupi
kasian Luna
2024-07-21
1
Hafidz Narend
/Good/
2024-06-08
1