Bara dan Kenan tiba di restoran tempat biasa Bara makan siang, bisa dibilang itu salah satu restoran favorit nya. Karena semua makanan yang tersedia di sana sangat cocok di lidahnya.
"Lo mau pesen apa, Bar?" tanya Kenan.
"Steak sama americano coffee, jangan lupa air mineral nya juga."
Kenan memanggil waiters yang tidak jauh dari meja tempat mereka duduk, lalu memesan makanan untuk dirinya dan juga Bara.
Waiters itu berlalu dari meja Kenan dan Bara setelah mencatat pesanan mereka berdua.
"Lo kek nya deket banget sama si Luna?" tanya Bara memulai obrolan sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Biasa aja sih, kenapa iri lo?" Selidik Kenan menatap Bara.
"Biasa aja kali, kalo nggak deket itu apa manggil nya bangke? cih, bau dong lo di panggil bangke."
"Lah, lo juga tumben bahas bini lo? lagi nih ya, bangke itu panggilan kesayangan dari Luna buat gue. Bang Kenan disingkat bangke, ya gue si fine-fine aja." jawab Kenan santai membuat Bara mendengus sebal.
Tidak lama waiters datang mengantarkan pesanan mereka. "Selamat menikmati, tuan!" waiters itu tersenyum ramah.
***
Di restoran yang berbeda, Luna dan kedua sahabatnya juga sedang makan siang bersama.
Luna memilih menu pasta dan orange juice saja tidak lupa memesan dessert favoritnya tiramisu cake.
Mereka semua makan di selingi obrolan santai dan hal-hal receh yang membuat mereka semua tertawa.
"Kalian gimana di divisi pemasaran?" Luna bertanya kepada mereka berdua.
"Ya lumayan lah buat hari pertama mah, kita juga di terima dengan cukup baik di sana." Ajeng yang menjawab pertanyaan Luna.
"Syukurlah, kalo ada apa-apa bilang ke gue ya! kali aja gitu ada pembulian namanya anak magang kan kita, itu para senior takutnya merasa berkuasa."
"Tenang, Lun. Kalo ada yang kek gitu kita bakalan ngadu ke lu, kan lu Bu boss nya." Devan tertawa membuat Luna geleng-geleng kepala.
"Terus lu sendiri gimana hari pertama?" tanya Ajeng.
"Ya biasa aja sih, masih gampang gue disuruh buat input data keuangan bulanan doang," jawab Luna apa adanya.
Selesai makan siang mereka kembali ke kantor, karena jam makan siang sebentar lagi selesai.
Luna, Ajeng dan Devan menyempatkan diri untuk pergi ke musholla kantor menunaikan ibadah shalat Dzuhur.
***
Waktu begitu cepat berlalu, jam pulang kantor telah tiba. Luna dan kedua sahabatnya tidak langsung pulang, mereka semua menuju ke rumah Devan terlebih dahulu.
"Emang kita ngapain disuruh ke rumah, lu?" Tanya Luna menatap ke arah Devan
"Enyak masak banyak katanya syukuran anak nya di terima magang disini."
"Bujug si Enyak, rajin bener dah ah," sambung Ajeng.
"Ya udah, ayok gas!"
Mereka menuju ke rumah Devan mengendarai kendaraan nya masing-masing.
"Assalamualaikum, Nyak, Beh." Sapa mereka bertiga saat baru sampai di halaman rumah babeh Rozak yang sangat luas seperti lapangan bola.
"Eh, elu pade udeh pade pulang. Ayok masuk dulu nyok!"
"Sini aja dulu nyak, kita ngadem dibawah pohon mangga." Jawab Luna yang telah duduk di bale dibawah pohon mangga setelah menyalami tangan enyak dan babeh.
"Ya udeh, enyak ke dalem dulu ya bikinin elu pade minum."
"Iya, Nyak."
"Gue sekalian bikinin kopi item, Timeh!" pinta babeh Rozak.
"Lah, si abang tadi bukan nya udah ngopi."
"Entu mah tadi, sekarang mah laen." Jawab babeh cengengesan.
"Apa bedanye Bang? sama-sama ngopi," kesal enyak Fatimeh.
"Udah sonoh buru jalan! kasian entu bocah belom elu kasih minum."
"Iye ini aye bikinin." Enyak masuk kedalam rumah membuat minum untuk mereka semua.
Luna hanya tertawa melihat tingkah laku kedua orang tua sahabatnya.
Bagi Luna orang tua Devan itu lucu mereka apa adanya ditambah dengan logat khas Betawi nya, membuat Luna juga nyaman berada di sana begitupun dengan Ajeng.
Enyak dateng membawa nampan di tangan nya, lalu menyerahkan kopi untuk babeh. "Nih Bang kopi nye! " Enyak menyerahkan gelas kopi itu pada babeh.
Sementara yang lain nya enyak membuatkan teh hangat saja biar lebih rileks.
"Makasih, Nyak." Mereka kompak mengucapkan terimakasih saat enyak meletakan nampan itu di atas bale.
"Ngomong-ngomong gimane magang elu pade hari ini?" Babeh bertanya pada anak-anak muda di hadapan nya.
"Alhamdulillah lancar, Beh." Jawab Devan yang di anggukan kepala oleh Ajeng dan juga Luna.
"Syukur deh, Enyak lega denger nye. Biar pada betah dah ye di sonoh, lancar juga kerjaan nye," timpal enyak.
"Aamiin, Nyak," jawab mereka kompak.
"Ya udeh, ayok kite makan! Enyak udah bikin nasi liwet ala Enyak ini." ajak enyak mengajak yang lain nya untuk makan.
"Kite makan di mari aje biar tambah nikmat ngeliwetnye, Van sonoh elu ambil daon pisang buat kita ngeliwet pake alas daon pisang aje! titah babeh Rozak.
"Iye, Beh." Jawab Devan bangkit dari duduknya berjalan ke belakang rumah memetik daun pisang.
Setelah memetik daun pisang dan membersihkan nya, Devan kembali lagi ke depan.
"Ini nyak daon pisang nya! " Devan menyerahkan tiga lembar daun pisang.
Enyak menggelar daun pisang itu diatas bale panjang dibawah mohon mangga. Sungguh menikmati suasana seperti ini membuat Luna dan Ajeng amat sangat betah.
Rumah Devan masih dikelilingi pohon-pohon dan tumbuhan hijau, rumah kayu khas betawi klasik dengan halaman luas yang sangat bersih.
Membuat siapapun betah jika berlama-lama di sana, selain suasana masih asri di sana juga sangat sejuk karena banyak pepohonan.
"Udeh, ayok kite makan!" titah babeh Rozak.
"Mantep bener Nyak sambel buatan Enyak kagak ada lawan." Celetuk Luna mencocol ikan goreng pada sambal terasi itu.
"Iya, Nyak. Sambel buatan Enyak emang paling enak," timpal Ajeng.
"Nyak seneng kalo elu semua pade doyan."
Mereka semua makan di selingi obrolan santai sore hari, karena mereka makan masih jam lima sore.
***
Bara sampai di mansion pukul 5 sore tetapi dia tidak melihat mobil istrinya di garasi. Bukan kah seharunya dia sudah sampai karena jam pulang kantor jam empat sore.
"Kemana itu orang? cih, ternyata dia suka keluyuran juga." Kesal Bara lalu menaiki tangga menuju ke kamar nya.
Setelah pulang dari rumah Devan, Luna pergi ke cafe sebentar mengecek keadaan cafe dan persediaan untuk di dapur.
Jam 8 malam Luna baru sampai di mansion nya, baru saja ingin membuka pintu namun pintu sudah lebih dulu terbuka.
Bara keluar dengan pakaian casual nya membuat ketampanan nya semakin bertambah, tetapi itu tidak berlaku di mata Luna.
"Hobi keluyuran juga ternyata lo ya, pulang kantor jam 4 tapi jam segini baru pulang," sinis Bara pada istrinya.
Luna yang malas menanggapi lebih memilih langsung masuk saja tanpa menghiraukan ocehan sang suami.
Bara menggeram kesal karena di acuhkan istrinya sendiri. "Awas ya, lo." geram Bara kesal lalu pergi meniggalkan mansion.
Dua puluh menit menempuh perjalanan, Bara sampai di club malam elit terbesar di daerah Jakarta Selatan.
Bara masuk kedalam sudah di sambut oleh Donny. "Hai, Bro. Kusut amat tuh muka." Ledek Donny pada sahabat yang mempunyai hobi sama itu.
"Ada barang baru masih seger, mau pake nggak lo," tawar Donny.
Bara masih meneguk wine yang sudah tersedia di meja tempat dia duduk, masih belum menjawab pertanyaan Donny.
"Boleh." Jawab nya santai.
Setelah mendengar jawaban Bara, Donny memanggil wanita yang dia maksud. Wanita sexy itu menghampiri Donny dengan gaya centilnya. "Iya, tuan."
"Layani pria itu!" titah Donny menunjuk kearah Bara.
"Baik, tuan." Jawab wanita tersebut lalu mendekati Bara dan duduk dipangkuan Bara.
Wanita sexy itu melancarkan aksi nya, dia mulai menggerayangi tubuh atletis Bara.
Menggesekkan miliknya dengan milik Bara membuat pria itu memejamkan matanya.
Tanpa aba-aba Bara menarik tangan wanita bayaran itu menuju ke kamar yang sudah disediakan di sana.
***
Waktu berjalan begitu cepat malam berganti dengan pagi. Luna keluar kamarnya setelah melaksanakan shalat subuh.
Dia memilih untuk jogging keliling komplek saja. Luna sudah siap dengan celana hotpants dan tank top hitamnya.
Luna menguncir rambut nya tinggi lalu memakai topi hitam senada dengan tank top yang dia pakai.
Dia berjalan keluar dari gerbang mansion tidak lupa berpamitan dengan security.
Luna berlari kecil saat dan akan berjalan menuju taman dia tidak sengaja bertemu dengan Arnold teman kampus yang dekat dengan nya.
"Lunaaaa!" teriak Arnold karena Luna berlari kecil.
Luna berbalik badan. "Lah lu Ar, kok bisa ada di sini ?" Tanya Luna pasalnya dia tau Arnold tinggal di mana.
"Gue lagi nginep di rumah om gue, daripada bete mending gue joging eh taunya ketemu lu. Btw rumah lu sekarang disini ?"
"Iya, laki gue tinggal di komplek ini jadi gue ikut tinggal disini," Luna menjawab sembari tersenyum.
"Semoga lu bahagia Lun, gue telat ungkapin perasaan gue sekarang dan lu udah milik orang lain." Batin Arnold.
"Ya udah, ayok! Joging bareng kita ke taman sekalian sarapan bubur di sana." Ajak Luna menarik tangan Arnold.
Bara yang baru pulang melihat dari balik kaca mobil nya kalau istrinya sedang joging dengan laki-laki lain.
Dia melihat istri nya sangat cantik dan sexy menggunakan hotpants dan tank top hitam yang kontras dengan kulit putih nya.
"Cih, nggak tau malu apa ya udah punya suami jalan sama cowok lain." Gerutu Bara entah kenapa dia seakan tidak rela istrinya jalan dengan pria lain.
Dia juga seakan tidak rela lekuk tubuh istrinya di nikmati mata orang banyak. Apakah Bara mulai cemburu dengan Luna.
Luna dan Arnold sampai di taman komplek lalu memesan bubur ayam untuk mereka berdua.
"Lu udah lama tinggal disini, Lun?"
"Dari semenjak habis nikah gue langsung pindah kesini." Jawab Luna jujur.
"Berarti udah sebulanan ya, oh iya gue denger lu magang di Wijaya Corporation juga bareng Ajeng sama Devan. Enak dong magang di tempat suami sendiri," ungkap Arnold membuat Luna tersenyum.
"Biasa aja sih, nah lu juga magang di tempat bokap lu sendiri kan gimana tuh rasanya?" tanya balik Luna.
"Ya biasa aja sih, nggak ada yang spesial."
"Ya berarti sama, walaupun kita magang ditempat orang terdekat kita tapi ya nggak ada yang spesial juga," sambung Luna.
Mereka melanjutkan sarapan bubur ayam masih diselingi obrolan santai. Tanpa Luna ketahui suaminya sedang uring-uringan di mansion.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Susi Susiyati
😆😆😆😆😆😆dasar om celup g nyadar msih mnding cmn nah om celup celup smpe lupa klo om pnys istri.nnti nyesel dan baru nyadar klo istrimu pergi om.tobat om
lagian ngpa tu pedang ga di bikin mati suri bisr tau rasa
2024-05-28
4
Merica Bubuk
Lu malah yg lebih menjijikan Bara, pagi² dah kentu ga tau tempat, ky ayam maen pacek aja, si Luna mh cm joging doang
2024-05-17
1
Rizka Susanto
pngen nimpuk bara deh...gK inget apa smlm dia ngapain,giliran liat bininya jalan sma cowok Laen aja pikirannya Kya orang paling bner aja,paling terdzolimi😀
2024-05-06
3