Malam hari nya Luna sudah siap dengan kedua orang tuanya, mereka berangkat ke restoran yang sudah di janjikan oleh Papa Gama.
Di restoran sudah ada Papa Gama dan Mama Ayu yang sudah menunggu kedatangan tamu spesialnya. Sementara Bara masih di jalan karena langsung berangkat dari kantor.
"Maaf ya kami baru datang," ucap Ayah Fahmi yang baru datang bersama dengan Bunda Desi dan juga Luna.
"Nggak papa Mi, kita juga belum lama sampe nya," jawab Papa Gama.
"Ini yang nama nya, Luna? ya ampun, cantik sekali kamu sayang, dulu terakhir tante liat kamu waktu masih kecil," ujar Mama Ayu memuji calon menantu nya.
"Makasih tante, tante juga cantik."
"Lho, nak Bara nya mana, Jeng ?" tanya bunda Desi karena tidak melihat sosok laki-laki yang akan dijodohkan dengan anaknya.
"Masih di jalan, Jeng. Bara berangkat dari kantor nanti langsung kesini," beritahu mama Ayu.
"Ayo duduk dulu sembari nunggu Bara datang!" papa Gama mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Mereka melanjutkan mengobrol ringan sambil menunggu Bara datang. Tidak lama datanglah Bara dengan wajah yang sedikit lesu mungkin karena baru pulang dari kantor.
Tetapi, itu tidak membuat kadar ketampanan nya menurun. Walaupun, sehabis ngantor seharian dan belum merapikan diri lagi.
"Maaf semuanya saya terlambat," ujar Bara meminta maaf.
"Tidak apa-apa nak, kami juga baru sampai." Ayah Fahmi lah yang menjawab.
"Ayok duduk dulu, sayang!" titah Mama Ayu.
"Bara, kenalkan ini om Fahmi teman baik Ayah, dan ini tante Desi istri nya, yang dihadapan kamu Luna wanita yang akan kamu nikahi," ujar papa Gama memperkenalkan mereka satu persatu.
"Sudah lama tidak lihat kamu Bara, terakhir om liat kamu waktu kamu masih SMA."
"Iya, Om." Bara menjabat tangan mereka semua.
Ganteng sih, tapi sayang Casanova. batin Luna.
Kesan yang pertama Bara dapatkan saat melihat Luna ialah cuek. Tidak seperti wanita yang biasa dijodohkan dengan nya, yang selalu bersikap sok anggun dan lembut padahal asli nya tidak seperti itu.
Karena Bara sudah datang mari kita mulai bahas untuk acara pernikahan mereka nanti.
"Fahmi, kamu dan Desi setuju nggak kalo pernikahan mereka dilangsungkan 1 bulan lagi?" tanya papa Gama to the point.
Ayah Fahmi melirik Bunda Desi lalu menatap kearah Luna.
"Apa nggak terlalu cepat, Gam?" tanya balik Ayah Fahmi.
"Nggak, Mi. Biar nanti tim Wo yang bantu urus, kita tinggal fitting baju pengantin nya saja. Mungkin Luna punya konsep pernikahan yang di inginkan?"
"Gimana Luna, apa kamu punya konsep pernikahan yang kamu inginkan?" tanya Mama Ayu.
"Hem, Luna ikut apa kata kalian aja," jawab nya singkat.
Membuat Bara heran karena biasanya wanita repot mau nya seperti ini dan itu, tetapi wanita yang ada di hadapan nya itu cuek saja. Apa mungkin baru pertama bertemu masih menjaga image.
"Kok gitu sih, inikan pernikahan kamu. Takutnya kamu punya wedding dream, makanya kami sebisa mungkin akan menuruti permintaan kamu," sambung mama Ayu.
"Nggak kok Tante, yang penting sah aja kalo di buat sederhana juga nggak papa, Tan."
"Ya sudah, kalo nanti kamu berubah pikiran atau punya ide lain kasih tau Tante, ya. Sekarang kita pilih konsep internasional saja," ujar Mama Ayu memberitahu.
"Baik, Tan," jawab Luna singkat.
"Desi, kamu setuju dengan usulku?" mama Ayu bertanya kepada calon besan nya.
"Aku setuju aja, Yu. Nanti kita bisa atur konep nya bareng gampang di aturlah."
"Ya sudah, karena kalian sepakat mulai besok kita sudah mempersiapkan acara pernikahan mereka. Dan kamu Bara, ajak Luna fitting gaun pengantin di butik Mommy ya besok. Luna kamu bisa, kan?"
"Luna bisa nya sore, Tan. Soalnya kan harus ngampus dulu," jawab Luna jujur.
"Ya sudah, nggak papa. Kamu kasih nomer ponsel kamu ke Bara ya biar gampang komunikasinya."
"Baik, Tan."
"Tinggal kita cetak undangan saja, Mi. Kira-kira mau berapa orang yang kita undang. Kamu lebih setuju acaranya dibuat outdoor atau indoor?" ujar Papa Gama meminta pendapat calon besan nya.
"Menurut ku lebih baik indoor, biar acaranya juga lebih sakral."
"Ya sudah, kita buat acara indoor saja di hotel milik keluarga Wijaya," sambung Papa Gama yang di anggukan oleh yang lain nya.
Sementara Bara hanya diam saja menyimak, karena memang tidak ada yang menanya pendapatnya.
Mereka semua melanjutkan makan malam terlebih dahulu sebelum berbincang-bincang.
Selesai makan malam Papa Gama menyuruh Bara mengajak ngobrol Luna berdua saja di meja yang berbeda, sebagai bentuk perkenalan diri agar bisa lebih dekat.
"Sana ajak Luna ngobrol biar saling mengenal!" titah papa Gama.
Bara menuruti permintaan papanya dan mengajak Luna mengobrol di taman resto yang berada di samping resto.
***
Kini Bara dan Luna sudah duduk di bangku yang ada di taman resto.
"Gue Bara yang mungkin lo juga udah kenal gue, secara gue pengusaha terkenal di Negri ini," ujar Bara percaya diri membuat Luna memutar bola matanya malas.
"Cih, percaya diri sekali anda. Iya gue kenal sama lo om Bara,tapi bukan karena lo pengusaha terkenal melainkan karena lo yang seorang casanova."
"Lo panggil gue om? lo kira gue setua itu di panggil om, umur gue baru 30 tahun, sama lo yang masih kuliah juga nggak terlalu jauh bedanya," sangkal Bara yang tidak terima di panggil om.
"Ya terima aja sih om. Jauh juga beda 8 tahun, lagi lo cocok nya di panggil om," sambung Luna membuat Bara kesal.
"Ada ya cewek tengil kek lo gini."
"Lah, ada ini bukti nya gue." Bara di buat pusing dengan tingkah calon istrinya yang ternyata sedikit tengil.
"Gue nggak nyangka dijodohin cewek modelan kek lo gini, biasanya cewek kalo liat gue klepek-klepek ngejar-ngejar gue."
"Idih, gue ngejar-ngejar cowok modelan kek lo, ngapain? gue juga nggak nyangka bisa dijodohin sama casanova kek lo yang track record nya, beh nggak usah di ragukan lagi," sambung Luna tidak mau kalah.
Sialan nih cewek, batin Batin.
"Gue juga kalo bukan karena nyokap ogah nikah sama lo," ujar Bara sinis.
"Lah, lo pikir gue mau? kalo bukan karena bokap gue punya utang budi sama bokap lo gue juga ogah," sinis Luna tidak mau kalah dari Bara.
"Tau ah, gue masuk aja males gue ngobrol sama lo om kagak nyambung." ujar Luna meninggalkan Bara yang masih terdiam.
"Gila baru ini gue di tinggal cewek," lirih Bara
"Sudah ngobrol nya?" tanya ayah Fahmi.
"Udah, Yah," jawab Luna singkat tidak lama Bara masuk dan duduk di kursinya semula.
"Ya sudah Gam, karena sudah malam juga kita pasti pulang dulu, ya."
"Iya, hati hati kalian! nanti kita saling berkabar saja."
"Baiklah." Mereka bertiga pamit meninggalkan restoran itu.
***
Di perjalanan pulang Luna duduk di kursi belakang, sementara ayah dan bundanya di depan.
"Gimana Bara menurut kamu?" tanya ayah nya memulai obrolan.
"Ya nggak gimana-gimana Yah, arogan juga menurut Luna orang nya terus terlalu percaya diri," jawab Luna jujur karena memang itu kesan yang dia dapat saat mengobrol dengan Bara.
"Bun, nanti setelah nikah Luna masih boleh tinggal sama Ayah dan Bunda, kan?"
"Kamu harus ikut kemanapun suamimu tinggal, sayang. Karena setelah menikah kamu sudah menjadi tanggung jawab suami kamu, dialah yang berhak atas kamu. Sesekali kamu datang berkunjung nanti," jawab Bunda lembut memberikan pengertian.
"Yah, kok gitu sih, Bun?" keluh nya.
"Ya memang seperti itu, percaya sama Bunda nanti lama kelamaan kamu juga akan terbiasa."
Setelah itu Luna terdiam, memutar bola mata nya menuju kearah jalan.
Gini banget ya nasib gue, batin nya sedih.
***
Bara sampai di apartemennya lalu berjalan menuju ke kamar untuk bersih-bersih. Setelah selesai bersih-bersih dia memutuskan untuk pergi ke dapur.
Terbiasa hidup mandiri diluar negri membuat nya sudah biasa dalam hal masak-memasak.
Bara membuat spageti bolognese untuk makan malam nya karena dia makan hanya sedikit saat di restoran tadi.
Menikmati makanan seorang diri sudah biasa baginya, hidup dalam kesendirian membuat nya damai. Itulah kenapa dia memilih tinggal sendiri di apartment tanpa adanya asisten rumah tangga.
Dua hari sekali akan ada yang datang untuk membersihkan apartemennya, semua pakaian nya pun dia laundry. Jadi, sesimpel itu hidup seorang Bara Adi Wijaya.
Saat sedang menikmati makanan nya, Bella datang langsung duduk di kursi tepat di hadapan Bara.
"Mau ngapain kesini?" tanya Bara to the point.
"Ih, Bara kebiasaan deh orang baru dateng juga, bukan nya di sambut." Bella mencebikkan bibirnya.
Bara hanya acuh saja melanjutkan makan nya tanpa menghiraukan Bella. Sedangkan Bella menggerutu sebal karena di acuhkan oleh Bara.
"Lebih baik kamu pulang aja, aku lagi nggak mood jangan di ganggu!"
"Kok gitu sih, sayang. Aku temenin kamu ya atau mau aku pijitin biar badan nya nggak pegel-pegel?" tawar Bella masih berusaha membujuk Bara.
Bara menghela nafas nya, hilang sudah selera makan nya lalu bangkit dari tempat duduk masuk ke kamar meninggalkan Bella yang masih menggerutu sebal.
***
Didalam kamar nya Bara mengambil wine dari laci kecil yang ada di sudut kamar. Membawanya ke balkon kemudian meminumnya di sana.
"Nggak habis pikir gue, bisa-bisanya cewek itu nolak gue? biasanya para wanita yang ngejar-ngejar gue, bahkan dengan senang hati naik keatas ranjang gue dengan sukarela," gumam Bara mengingat pertemuannya dengan Luna.
Selesai meneguk alkohol dan menghisap rokok yang menurut nya bisa membuat dirinya tenang, dia bangkit dari duduk nya kembali ke dalam kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Susi Susiyati
si luna masih muda mndri bngt,,,,
udah jd bos cafe lagi
2024-05-28
3
Kusrini
lanjut tor
2024-05-27
1
Anita Jenius
Lanjut up ya.
2024-04-05
1