Setelah sarapan bubur bersama dengan Arnold, Luna kembali ke mansion. Luna masuk kedalam, ternyata Bara sedang duduk di meja makan dengan segelas kopi hitam dan roti, mungkin pria tampan itu sedang sarapan.
"Udah selesai joging bareng laki-lakinya?" sindir Bara.
"Maksud lo apa? jenapa jadi lo yang sewot. Oh, jangan-jangan lo cemburu ya liat gue sama cowok laen?" Selidik Luna mendekat ke arah suaminya.
"Gue cemburu sama lo, jangan mimpi! gue cuma nggak mau orang lain lihat seorang istri Bara Adi Wijaya ketauan selingkuh."
"Dih, siapa juga yang selingkuh. Emang nya lo om, walaupun udah nikah masih suka celup sana-sini. Di kantor laen, di club juga laen. Bae-bae om itu pedang kena penyakit gonta-ganti lubang terus," sindir Luna begitu frontal membuat Bara mendelik kan mata nya.
"Wah-wah, ternyata lo nggak sepolos itu ya, atau jangan jangan lo sendiri udah nggak virgin? cewek bar-bar sering keluyuran kek lo gini nih pasti pergaulan nya bebas," tuduh Bara membuat Luna tidak terima.
"Serah lo deh om mau nilai gue kek gimana, yang pasti itu semua nggak ngaruh buat gue." Luna meninggalkan Bara masuk kedalam kamarnya.
Bara mendengus sebal karena lagi-lagi dia di tinggalkan saat sedang berbicara.
Saat tiba di kamarnya Luna langsung masuk ke kamar mandi untuk sekedar bersih-bersih.
Setelah selesai bersih bersih dia memutuskan untuk tidur saja, karena hari ini hari Minggu tidak ada kegiatan.
Sementara diluar setelah menghabiskan kopi nya, Bara kembali ke kamarnya untuk istirahat, karena memang dia belum tidur dari semalam.
***
Siang hari Luna bangun karena perutnya sudah berbunyi minta di isi.
Luna keluar kamar menuju ke dapur untuk memasak, karena bibi sedang pulang kampung dan besok siang baru akan kembali lagi.
Pertama Luna menanak nasi terlebih dahulu agar setelah masakan nya matang nasi juga sudah matang.
Wanita cantik itu memasak cumi asam manis, cah kangkung dan ayam goreng saja. Saat sedang asyik memasak, Bara turun ke dapur mengambil air minum.
Bara meneguk ludah nya sendiri melihat pemandangan yang ada di dapur.
Istri nya sedang memasak yang terlihat sangat sexy di matanya, padahal Luna hanya memakai kaos over size dan hotpants saja dengan rambut panjangnya yang di cepol tinggi menampilkan leher jenjang seputih susu itu.
Gleekkk
Jakun Bara naik turun melihat keringat di dahi istrinya yang semakin terlihat sexy dan menggoda.
"Oh, shit," umpat Bara saat pedangnya sudah tegang.
Baru melihat Luna seperti itu saja dia sudah terangsang apa lagi melihat Luna memakai pakaian sexy.
Mau tidak mau Bara kembali ke kamarnya menidurkan pedang nya terlebih dahulu, bisa malu kalau sampe Luna tau pedangnya bangun hanya karena melihat dirinya yang sedang memasak.
Setengah jam memasak akhir nya masakan yang Luna buat sudah tersaji di meja makan.
Bara turun dari kamarnya lalu berjalan ke meja makan kemudian mendudukkan bokong nya di kursi meja makan dengan santai.
"Bibi mana?" tanya Bara pada istrinya.
"Pulang kampung, makanya kalo jadi boss itu perhatian dikit sama pekerjanya." Sinis Luna lalu menyendok makan untuk dirinya.
"Ini semua lo yang masak?" tanyanya pura-pura tidak tau.
"Lah iya, siapa lagi coba kagak ada orang di sini." Jawab nya cuek mulai menyuap nasi kedalam mulut nya.
Baru saja Bara mengambil piring dan menyendok nasi namun Luna sudah lebih dulu bersuara. "Mau ngapain, lo?"
"Mau mandi, lo nggak liat ini gue udah nyendok nasi ya tanda nya gua mau makan," kesal Bara.
"Oh, kirain lo nggak sudi gitu makan masakan yang gue buat." Sindir Luna membuat Bara mendengus sebal banyak drama sekali pikirnya.
"Banyak drama lo, udah ah laper gue mau makan daripada lama pesen mending gue makan yang udah ada." Bara mengambil lauk yang ada.
Bara mulai menyuap makanan itu kedalam mulut nya, ternyata masakan istrinya sangat enak.
"Ternyata masakan nya enak juga." batin Bara.
Bara bahkan sampai nambah nasi dan cumi asam manis itu membuat Luna geleng-geleng kepala.
"Laper apa doyan, Om?"
"Laper lah." Jawab Bara dengan mulut yang masih mengunyah.
Selesai makan Luna merapihkan meja makan dan mencuci piring, itu semua tidak luput dari pandangan Bara.
Ternyata istrinya bisa memasak dan bersih-bersih, dia kira hanya bisa keluyuran saja.
***
" Mau kemana, lo?" Tanya Bara yang melihat istrinya sudah berganti pakaian dengan jeans panjang sobek tidak lupa jaket kulitnya.
"Supermarket belanja bahan makanan, soalnya si bibi baru balik besok siang." jawab Luna dengan jujur.
"Biar gue anter." Bara mengambil kunci motor sport dari tangan sang istri.
"Ayok! malah dia bengong."
Luna berjalan mengikuti Bara dan saat Bara menaiki motor sport merahnya, itu terlihat sangat gagah dan Luna tidak bisa memungkiri itu.
Andai suami nya bukan seorang casanova, mungkin Luna akan membuka hati untuk pria tampan itu.
Setelah Luna naik Bara melajukan motor nya dengan cepat. "Pelan-pelan aja kali, om! kita ini bukan lagi di arena tapi jalanan komplek mana bisa ngebut."
"Udah lama gue nggak bawa motor, seru juga ya ternyata. Kek nya gue juga harus beli nih motor kek gini." Ujar Bara tersenyum baru kali ini dia tersenyum saat sedang bersama istrinya.
"Lah, dia mupeng sama motor gue, emang seru naik motor tuh apalagi motoran malem-malem keliling Jakarta itu lebih seru sih menurut gue."
"Boleh tuh di coba, ayok ntar malem kita motoran lagi! " ajak Bara pada istrinya.
"Gas aja gue mah om, tapi emang lo nggak ke club gitu? biasanya kan lo nggak pernah absen tiap malem kesana."
"Lo tau dari mana?" Tanya Bara heran kenapa istrinya bisa mengetahui aa yang dia lakukan di luaran sana.
"Temen kampus gue waiters di club tempat lo nongkrong tiap malem." jawabnya jujur.
Deg!
Bara kaget berarti teman sang istri juga mengadu pada istrinya jika tiap malam dia akan berganti ganti wanita untuk bercinta.
"Apa aja yang dibilang temen, lo?"
"Ya semua yang dia liat di club," jawabanya cuek.
Tidak terasa mereka sudah sampai di supermarket, Luna turun lebih dulu lalu bejalan masuk kedalam.
Luna mengambil troli lalu mendorongnya namun, troli itu langsung berpindah ke tangan Bara yang baru masuk setelah memarkirkan motor.
"Biar gue aja, Om." Tolak Luna saat Bara membantu mendorong troli nya.
"Udah biar gue yang dorong, udah sana lo pilih apa yang mau lo beli! " titah Bara pada istrinya.
Luna menuruti permintaan suaminya dia hanya memilih sedikit saja bahan makanan untuk nanti malam dan besok, biarlah nanti bibi yang akan belanja bulanan.
Luna sudah mengambil udang, ikan dan sayur. Kini dia beralih ke rak buah-buahan. Sedang asyik memilih buah-buahan ada yang datang menghampiri Bara.
"Halo, sayang. Kamu lagi apa?" tanya Bella yang kebetulan berada di sana dan langsung menghampiri Bara bergelayutan manja di lengan pria itu.
Luna yang masih berada di sana tidak menghiraukan nya, dia masih memilih-milih buah-buahan yang akan di beli.
"Lepas, Bella! kamu ngapain sih?" Bara melepaskan tangan wanita itu dari lengannya.
Luna memasukan buah buahan itu kedalam troli lalu mengambil troli itu dari tangan Bara kemudian mendorong nya menuju ke kasir.
Mood belanja nya langsung memburuk saat wanita itu tiba-tiba datang, dia lebih memilih menyudahi belanjanya saja.
Saat Luna sedang membayar dan menyerahkan kartu nya, disaat itulah Bara datang mendekati Luna.
Bara baru sadar kalau selama satu bulan menikah dia belum pernah sekalipun memberikan nafkah lahir untuk istrinya.
Selama ini istri nya membeli apapun keperluan nya dan keperluan mansion menggunakan uangnya sendiri.
Bahkan, Bara pun ikut makan dari makanan yang dibeli dari uang istri nya sendiri. Dia mempunyai banyak uang bahkan tidak akan habis hingga tujuh turunan.
Namun, dia lupa memenuhi kewajiban nya sebagai suami menafkahi istri nya walaupun bukan nafkah batin yang dia berikan.
Bara merasa malu dengan dirinya sendiri, bahkan barusan dia mengusir Bella dengan cara memberikan wanita itu uang sepuluh juta sementara istrinya tidak pernah dia berikan uang sepeser pun.
"Sini gue bantu! " ujar Bara membantu membawakan barang belanjaan Luna.
Luna hanya diam saja sampai mereka di perjalanan pulang pun Luna lebih banyak diam tidak seperti sebelumnya yang banyak bercerita.
Setelah sampai Luna langsung menaruh belanjaan nya ke dapur menata nya di tempat nya masing-masing.
"Gue ke kamar dulu, Om." Pamit Luna pada suaminya yang memang masih berada di sana.
Bara menganggukkan kepala nya melihat langkah istri nya yang semakin jauh. Entah kenapa rasanya tidak nyaman saat sang istri mendiaminya.
Bara pergi keruang gym yang ada di mansion itu untuk menjernihkan pikirannya.
***
Sore hari nya Luna memasak untuk makan malam, dia menggoreng udang tepung dan menumis brokoli dan lalu membuat sapi lada hitam.
Luna memasak dengan porsi yang cukup hanya satu kali makan saja agar tidak mubazir.
Bara baru datang dari taman belakang sehabis menerima telpon dari Mama Ayu. Dia memperhatikan istrinya yang sedang memasak sangat lihai seperti sudah terbiasa.
Bara duduk di meja makan memperhatikan istrinya yang sedang menggoreng udang terakhir.
Selesai mengangkat udang goreng tepung dan mematikan kompor, Luna hendak berbalik namun dikagetkan dengan Bara yang ternyata sedang duduk di meja makan.
"Astaga, bikin kaget aja lo, Om." ujar Luna mengelus dada nya.
"Sorry, lo sih fokus banget sampe nggak liat gue duduk," jawabnya cuek.
"Udah salah nggak mau di salahin lagi." Luna hendak pergi dari dapur namun Bara menahan nya.
"Lo mau kemana bukan nya makan dulu ini?"
"Gue mau shalat Maghrib dulu om, habis itu baru makan." Jawab Luna masuk ke kamarnya.
"Banyak kejutan yang gue dapet dari lo Lun, gue kira lo hanya gadis bar-bar tengil yang cuma bisa ngabisin duit orang tua, keluyuran nggak jelas dan pergaulan lo juga bebas. Tapi, kek nya gue salah, semakin mengenal lo semakin kagum gue sama lo." batin Bara.
***
Setelah makan malam bersama, Bara benar-benar menepati janjinya untuk motoran malam hari keliling Jakarta.
"Udah siap?" tanya Bara.
"Ready dong." Jawabnya semangat membuat Bara tersenyum.
Luna yang baru pertama kali melihat suaminya itu tersenyum pun sempet terpesona melihat suaminya, namun dia menepis hal itu.
Bara mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang, benar kata istri nya motoran malam hari itu sangat seru.
Menikmati indah nya kota Jakarta saat malam hari yang di penuhi lampu-lampu jalan dan gedung tinggi sangat indah, di tambah hembusan angin membuat hatinya merasa damai.
"Gimana seru, kan?" tanya Luna berbicara sedikit kencang di telinga Bara agar suaminya bisa mendengar nya karena kondisi jalan yang bising.
"Iya, seru juga," jawab Bara tak kalah kencang.
Saat sudah tiba di jalan sepi, Bara menaikan kecepatan motornya membuat Luna kaget hampir saja dia terjatuh kalau saja dia tidak buru-buru memeluk erat Bara.
"Woy om, kasih aba-aba kek kalo mau ngebut untung aja kagak jatoh gue," gerutu Luna membuat Bara tertawa.
"Lah, dia malah tawa."
"Pegangan mau ngebut!"
Breeeemmm
Motor sport merah itu melaju dengan kencang membuat Luna memeluk erat Bara.
Bara merasa hatinya menghangat saat istrinya memeluk nya seperti ini seakan enggan menyudahi nya.
Saat melewati taman yang banyak penjual makanan gerobakan, Luna meminta berhenti.
"Kenapa sih?" tanya Bara bingung karena tiba-tiba saja Luna meminta nya berhenti.
"Beli jajanan dulu om, enak-enak itu."
"Nggak higenis itu makanan nya." Jawab Bara yang melihat makanan pinggir jalan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Susi Susiyati
kenali dulu istrimu om jngn main nilai istrimu jelek.gitu2 jg dia jg bos ky om cmn dia g sombong.nyadar dong om.nnti keburu di gondol orang istrimu om.
2024-05-28
2
mei puspitasari
om belum tau sih...orang kaya
2024-04-22
2