Satu bulan berlalu...
Sudah satu bulan usia pernikahan Luna dan Bara. Namun, belum ada perubahan sama sekali.
Mereka masih hidup masing-masing walaupun tinggal di atap yang sama. Mereka bertemu hanya saat pagi hari saja, saat Bara berangkat ke kantor dan Luna ke kampus.
Seperti biasa setiap pagi Luna pergi ke cafe terlebih dahulu, karena biasanya jam perkuliahan baru dimulai sekitar jam 10 hingga sore hari.
"Hari pengumuman acc magang, ya?" tanya Luna saat baru sampai cafe.
"Iya, kira-kira kita keterima nya dimana, ya?" Ajeng bertanya karena mereka mengajukan proposal kedua perusahaan.
"Kagak tau gue juga, semoga di Wijaya Corporation." Devan ikut menimpali ucapan Ajeng.
"Ya, semoga aja," jawab Luna santai.
"Omset bulan ini naik drastis, gue akan bagi-bagi bonus sama kalian berdua dan karyawan lain nya juga."
"Wih, gue demen nih yang kek gini," seru Devan kegirangan.
"Mata duitan banget lu, Jaenal."
"Ya elah si Inem, gue tuh mau bawa tiger ke bengkel banyak yang mau di ganti sparepart nya," sahut Devan.
"Manja banget motor lu jajan mulu," sindir Ajeng.
"Ya biarin sih, sirik aja lu, Nem," sungut Devan tidak mau kalah.
"Udah ah, debat mulu lu pada! udah ayok ke kampus!" ajak Luna pada kedua sahabatnya.
***
Mereka tiba di kampus mengendarai kendaraan nya masing-masing.
"Ini kita langsung liat pengumuman aja kali ya baru ke kelas."
"Ya udah, ayok!"
Banyak mahasiswa yang sedang melihat pengumuman magang. Luna dan kedua sahabatnya melihat pengumuman itu dan mereka bertiga bersorak kegirangan.
Mereka bertiga di terima magang di perusahaan Wijaya Corporation. Akhirnya keinginan mereka bisa terwujud.
"Alhamdulillah ya, kita keterima bertiga di sana," seru Ajeng.
"Iya, semoga magang kita selama tiga bulan ke depan berjalan lancar."
"Aamiin. Ya udah ayok ke kelas!" Ajak Devan merangkul bahu Luna dan Ajeng bersamaan, karena dia berada ditengah-tengah wanita cantik itu.
Kelas mereka selesai tidak terlalu sore, mereka memtuskan untuk kembali ke cafe saja.
***
Di kantor Bara sedang fokus mengerjakan pekerjaan nya tiba-tiba Kenan masuk kedalam.
"Makan siang, yuk!" ajak Kenan pada sepupunya itu.
"Males gue keluar nya, pesen aja sono!" jawabnya cuek.
"Kebiasaan lo mah, ya udah gue pesen dulu." Kenan memesan makanan untuk mereka berdua makan.
"Bar, besok ada anak anak magang dari universitas Barata Wijaya," ujar Kenan memberitahu.
"Berapa orang?"
"6 orang." Jawab Kenan sembari mrmaibkan ponselnya.
"Ya udah lo urus!" titah Bara pada asisten nya itu.
"Sip, beres."
"Terus hubungan lo sama Luna gimana?" tanya Kenan penasaran.
"Ya nggak gimana-gimana," jawab Bara apa adanya
"Masa sih udah 1 bulan nggak ada kemajuan sama sekali."
"Ya emang nggak ada, orang kita aja hidup masing-masing walaupun tinggal satu atap. Gue juga jarang ketemu dia, paling pas mau berangkat ngantor aja ketemunya." Jelas Bara membuat Kenan tidak habis pikir dengan sepupunya itu.
"Padahal bini lo itu cantik Bar, keliatan beda dari wanita wanita di luaran sana dan dia juga mandiri. Gue aja sempet kagum dan terpesona sama dia pas pertama kali ketemu sama dia."
"Ambil sana kalo lo demen mah," sahut Bara tidak perduli.
"Serius lo boleh gue deketin?" tanya Kenan bercanda, mana mungkin dia mendekati istri sepupunya sendiri.
"Hem."
Tidak lama makanan yang Kenan pesan datang diantar oleh office boy.
"Nih makan dulu, biar kuat tenaga lo." Kenan meletakan kotak makanan itu di meja.
Bara bangkit dari kursi kebesaran nya lalu pindah duduk di sofa yang ada di ruangan nya.
"Cih, lo kali yang kudu makan banyak biar kuat. Gue sih tanpa makan banyak udah kuat," ucap Bara percaya diri.
"Paling kuat diatas ranjang doang." Sinis Kenan lalu mereka berdua melanjutkan makan siang.
***
Luna dan kedua sahabat nya sudah sampai di Cafe Olivia. Dapat mereka lihat cafe sedang ramai pengunjung.
"Gue naek keatas dulu, ya." Pamit Luna menaiki tangga menuju kelantai tiga.
Luna fokus dengan laptopnya mengecek semua urusan resto sendiri. Sementara Devan dan Ajeng membantu dibawah.
Ajeng biasanya memantau dan membantu pekerjaan kasir dan waiters, sementara Devan diberi tugas oleh Luna memantau pekerjaan chef dan keperluan dapur lain nya itu menjadi tanggung jawab Devan.
"Huh kelar juga, lah udah jam 5 aja." Luna bergegas turun kebawah.
"Guys, gue balik duluan ya mau naro mobil dulu ke mansion abis itu ambil motor di rumah bonyok. Entar lu pada nyusul langsung aja ke arena.
"Sip dah," jawab mereka kompak.
Luna bergegas menuju ke parkiran dan melajukan mobilnya menuju ke mansion. Luna hanya memarkirkan mobil nya saja lalu keluar lagi memesan ojek online.
"Mau kemana, Non?" tanya Pak Mamat security yang berjaga di mansion nya.
"Mau ke rumah bunda, Pak. Saya pergi dulu, ya," pamitnya karena ojek online yang dia pesan sudah datang.
"Hati-hati, Non."
***
Luna sampai di mansion Nugroho yang ternyata sangat sepi hanya ada para Art saja.
"Bi, Bunda kemana kok sepi?" tanyanya to the point.
"Nyonya sedang arisan bersama teman-teman nya, Non," jawab Bibi.
"Oh, ya udah aku ke kamar dulu ya, Bi." Luna menaiki tangga menuju ke kamar nya.
Luna merebahkan dirinya di ranjang king size miliknya yang sudah lama tidak dia pakai.
"Gue kangen tidur disini, tapi sayang punya laki kek kagak punya laki. Mau nginep aja kagak di bolehin." Gerutu Luna karena sebelumnya Luna meminta izin untuk menginap namun tidak di izinkan oleh Bara.
Alasan Bara tidak mengizinkan Luna menginap agar tidak di tanyai perihal pernikahan mereka berdua.
Luna masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah selesai wanita cantik itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, karena kelelahan dia pun tertidur.
Kenzo yang mengetahui kakak nya datang pun langsung menemui kakak nya.
Kenzo membuka pintu kamar kakak nya dan melihat kakaknya sedang tertidur mengurungkan niat nya untuk berbicara dengan sang kakak.
Lelaki bertubuh tinggi itu kembali ke kamar nya, mungkin nanti ketika kakaknya sudah bangun baru dia akan berbicara.
Luna bangun saat adzan Maghrib berkumandang, dia masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu dan melakukan kewajiban nya sebagai umat muslim.
Selesai shalat Maghrib dia turun kebawah menuju meja makan. "Lah Bunda sama Ayah belum pulang, Ken?" tanya Luna pada adiknya yang sedang duduk sendiri.
"Belum kak, Bunda tadi udah pulang pas kakak tidur tapi pergi lagi ke kantor Ayah mau nemenin Ayah ke acara kolage nya," jawab Kenzo jujur.
"Oh gitu, ya udah ayok makan!" Mereka berdua makan diselingi obrolan biasa antara kakak dan adik.
"Kak, kakak nyaman sama hidup kakak yang sekarang?" Tanya Kenzo menatap kakaknya.
"Kenapa kamu tanya gitu?"
"Ya nggak papa, secara kakak kan nikah karena perjodohan dan nggak saling cinta." Ujar Kenzo yang masih mengkhawatirkan kakaknya.
"Apalagi kelakuan pria itu sangat amat nggak baik, aku takut kakak nggak bahagia dengan pernikahan kakak." Ucapan Kenzo membuat Luna terharu.
Adiknya yang selalu memperhatikan dan perhatian kepada kakaknya.
"Makasih ya, kamu selalu perhatian dan perduli sama kakak. Kamu tenang aja, kamu nggak usah mikirin pernikahan kakak yang penting kamu pikirin diri kamu sendiri, belajar yang bener biar bisa bantuin Ayah." Nasihat Luna untuk Kenzo.
"Iya, kak."
"Ya udah, kakak udah selesai makan nya. Nanti salam sama Bunda dan Ayah ya, oh iya kasih tau mereka ya kakak bawa motor kakak ke mansion kakak."
"Siap kak, hati-hati kak pulang nya." Kenzo memeluk sebentar kakak nya sebelum kakak nya pergi.
***
Luna sampai di arena jam 8 malam. Dia menghampiri Ajeng dan Devan yang ternyata sudah datang menunggu ditempat biasa.
"Biar gue cek dulu motor lu." Ujar Devan yang memang mengerti mesin dan suka mengecek ulang motor Luna saat dia akan balapan.
"Aman." Seru Devan mengacungkan jempol nya yang di anggukan oleh Luna.
"Hadiah nya berapa ini, Lun?" Tanya Ajeng.
"Kagak banyak, Jeng. Cuma 50 juta." Jawab Luna seraya memakai atribut balap nya.
"Nih minum dulu!" Ajeng menyerahkan botol minum itu kepada Luna.
"Udah Ready, gue turun dulu ya doain gue biar menang."
Devan dan Ajeng memeluk Luna bersamaan memberikan semangat.
"Semangat, lu pasti menang, Juleha. Lu kebanggan kita, lu pasti jadi juara nya." Ujar Devan memberikan semangat.
"Makasih ya, guys." Luna turun ke arena saat sudah di umumkan pemandu acara.
Semua peserta sudah berjejer di jalan menaiki motor nya masing-masing.
Breeem breeem
Suara tarikan gas motor bertanda pertandingan akan segera dimulai.
" Satu..dua..tiga.. Go!"
Para peserta sudah melajukan motornya dengan kencang penuh konsentrasi termasuk Luna.
Mereka semua menunjukkan skill mereka dijalan. Luna pun tak kalah semangat nya mengikuti balapan kali ini.
Posisi Luna berada di jajaran motor kedua, motor merah milik nya berusaha menyalip motor hitam yang ada di depan nya.
Posisi Luna memimpin dengan berada di urutan nomer satu namun, sayang tidak begitu lama, motor hitam yang Luna salip tadi mendahului nya lalu menyenggol motor Luna hingga jatuh.
"Lunaaaa!" Teriak Ajeng kencang saat melihat Luna terjatuh.
"Wah, curang itu yang depan maen nyenggol aja," gerutu Devan tidak terima.
"Aargghh, sial." Keluh Luna yang langsung bangun dan menaiki lagi motor nya kembali.
Dengan penuh konsentrasi dia menyalip para peserta yang ada di depan nya, kini dia berada di posisi kedua lagi.
Dia menarik gas lebih cepat menyalip motor hitam yang menyenggol nya tadi karena dia tidak terima.
"Enak aja lu mau curangin gue! cih, kagak gue biarin lu menang." Ujar Luna menambah kecepatan motor nya membuat lawan nya tidak mau kalah.
Aksi kejar-kejaran motor itu tidak dapat di hindarkan, pemotor merah yang di Kendarai Luna dan pemotor hitam lawan nya saling beradu memimpin permainan.
"Liat Van! lawan nya kagak mau kalah itu."
"Ho oh, sengit banget pertarungan malem ini," sambung Devan.
Dengan penuh konsentrasi Luna menambah kecepatan nya, karena ini putaran terakhir sampai akhir nya Luna berhasil lebih dulu sampai di garis finish dan keluar menjadi juara nya.
"Yeaayy, Luna menang," seru Ajeng kegirangan.
"Ayo kita samperin." Devan menarik tangan Ajeng turun ke arena.
Luna diberikan hadiah amplop uang tunai senilai 50 juta lalu menghampiri Ajeng dan juga Devan.
"Cih sombong, liat aja gue bales lu nanti," sinis pemotor yang mengendarai motor bewarna hitam tadi.
"Congrats, Lun." Ujar Ajeng memeluk Luna.
"Makasih kalian selalu support gue, tapi gue kagak bisa makan makan sekarang guys takut ketauan si Bara gue belom pulang jam segini."
"Gampang besok jam istirahat pas magang kan bisa sekalian makan siang di traktir bu boss." Guyon Devan membuat mereka tertawa.
"Ya udah balik yuk ! "
***
Luna tiba di mansion nya hampir jam dua belas malam, dia memarkirkan motor nya di garasi.
Bara yang baru sampai pun melihat dari balik jendela ternyata istri nya baru pulang, dia juga kaget istri nya memakai motor sport.
Luna membuka pintu utama baru saja melangkah masuk sudah di sambut dengan ocehan Bara.
"Perempuan apaan yang pulang tengah malem gini." Sindir Bara namun tidak dihiraukan oleh Luna.
Luna berlalu meninggalkan Bara begitu saja masuk kedalam kamar nya.
"Cih, sombong banget gue ngomong nggak di ladenin." Bara berjalan menaiki tangga menuju kamar nya untuk istirahat.
Setelah bersih bersih Luna langsung tidur karena besok pagi sudah mulai magang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Susi Susiyati
ayo kenan deketin luna,belm ajs panas liat istr dideketin cwo lain.nnti aja klo di gaet orang nngis km om
semngat
2024-05-28
2
Hanisah Nisa
lanjut up
2024-03-15
1