Setelah perbincangan mengenai perjodohannya, Luna kembali ke kamarnya begitupun dengan Kenzo.
Luna masih tidak menyangka kalau dia sebentar lagi akan menikah dan menjadi seorang istri. Yang lebih parah nya lagi, istri seorang casanova yang track record nya sudah tidak di ragukan lagi.
"Huh, dosa apa yang gue perbuat sampe dapet calon laki seorang casanova yang hobi nya celup sana sini," gumam nya.
"Tau ah, daripada puyeng angguran gue cabut ke arena." Luna bersiap mengganti pakaian nya dengan kaos putih dipadukan dengan jaket kulit hitam dan jeans sobek bewarna hitam juga.
Selesai bersiap Luna keluar kamar menuju lantai satu yang ternyata sudah sepi. wanita cantik itu pergi secara diam-diam keluar rumah dan meminta security untuk tidak memberitahukan nya kepada kedua orang tuanya.
"Jangan bilang Bunda sama Ayah ya, Mang."
"Siap, Non."
Luna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arena, karena jalan malam tidak terlalu ramai.
Luna sampai di arena dan menunggu sahabatnya datang. Ajeng datang bersama dengan Devan, karena dia meminta Devan untuk menjemputnya.
"Udah lama, Lun?" Tanya Ajeng mendudukkan dirinya di sebelah Luna.
"Baru nyampe gue."
"Lah, mau balapan sih lesu bener tuh muka," ucap Devan yang tidak biasanya Luna terlihat lesu saat akan turun ke arena.
"Gue mau dijodohin bonyok."
"Hah, serius?" kaget Ajeng saat Luna mengatakan akan di jodohkan.
Luna menganggukkan kepalanya. "Sama siapa?" sambung Devan.
"Bara Adi Wijaya."
"Whaattt?" Devan dan Ajeng shock mendengar jawaban Luna.
"Gila-gila nggak nyangka gue, Lun. Padahal baru tadi siang ya kita bahas masalah magang di kantor Wijaya Corporation, eh sekarang lu malah mau dijodohin sama Ceo nya lagi," ujar Ajeng yang tidak habis pikir.
"Tapi, Juleha. Lu tau kan kalo si Bara itu casanova? sepak terjang nya di dunia malam udah jadi perbincangan orang-orang tentang Ceo muda itu," sambung Devan.
"Iya gue tau, makanya gue nolak awalnya. Tapi, karena bokap gue cerita tentang masa lalunya yang dibantu sama bokap nya Bara, jadi mau nggak mau gue nerima perjodohan itu. Semuanya demi bokap gue yang ngerasa berhutang budi sama bokap nya Bara."
"Susah sih kalo udah menyangkut masalah balas budi mah," Ajeng menyahuti.
"Iya makanya, ya udah gue siap-siap dulu 10 menit lagi mulai." Pamit Luna yang pergi bersiap siap unyuk turun ke arena.
***
Bara sedang duduk bersama teman-teman nya yang dia kenal di club malam. Mereka sedang meneguk wine di temani para wanita club.
"Gimana Bar, lo jadi booking si Angel kemaren malam?" tanya salah satu temannya.
"Nggak jadi, ada kerjaan gue semalem."
"Wah, sayang banget, barang baru itu bro masih seger," sambung pria itu.
Bara mengangkat bahu nya acuh, dia pikir sama saja wanita-wanita yang ada di club malam, sama-sama sudah bekas pakai orang banyak.
"Tuan, mau saya temani di kamar?" Tanya wanita yang sedang duduk di pangkuan Bara memainkan kancing kemeja Bara.
"Buat pedang saya tegak lebih dulu baru saya pakai kamu!"
Wanita bayaran itu menggesekkan miliknya pada milik Bara yang sedang dia tindih. Bara menggeram menahan hasratnya lalu mengajak wanita tersebut ke kamar di lantai atas.
***
Kembali ke arena balap mobil, kini Luna sedang beradu dengan peserta lainnya.
"Go Luna go Luna, ayok Luna lu pasti menang! salip terus gas yang kenceng," teriak Ajeng mendukung Luna.
"Juleha, semangat ayok semangat Juleha!" teriak Devan tak kalah heboh.
"Weh Jaenal, Luna teriak nya jangan Juleha! et dah lu mah nggak kompak."
"Lah, kan emang si Juleha. Biasanya juga gue panggil Juleha."
"Au ah, serah lu."
Luna berada di posisi kedua karena mobil hitam dibelakangnya berhasil menyalip mobil merah miliknya.
"Yah, si Luna di salip itu," teriak Ajeng.
"Wah, auto kalah nggak nih?" tanya Devan khawatir karena Luna berhasil di salip lawannya.
"Lu mah doain yang bener ogeb."
"Iya ini gue doain, ya Allah semoga Luna menang biar abis ini kita makan-makan," doa Devan nyeleneh.
"Makan mulu pikiran lu."
Luna menarik gas mobil nya lalu menyalip mobil hitam yang ada di depan nya.
"Yeah, gue salip lu. Luna mau di lawan." Gumam Luna.
Akhir nya setelah para peserta memutari Arena sebanyak 5 kali, mobil Luna lah yang unggul menjadi mobil pertama yang melintasi garis finish.
"Yeay, Juleha menang. Juleha aku padamu," teriak Devan kencang.
Ajeng menarik Devan untuk turun ke arena menghampiri Luna.
"Congrats, baby." Ajeng memeluk Luna begitu juga dengan Devan, mereka bertiga berpelukan sambil berputar-putar.
"Udah woy lepas! udah ke teletubbies kita, beda nya ini di jalan bukan di tengah rumput hijau," guyon Luna membuat mereka berdua tertawa.
"The best emang Juleha gue mah, kagak ada lawan." Ujar Devan mengacungkan jempol nya bangga.
Setelah panitia menyerahkan hadiah berupa uang tunai 100 juta untuk hadiah malam ini, mereka meninggalkan arena balap mobil itu menuju tempat nongkrong mereka.
Cafe Delima tidak jauh dari Arena balap, tempat mereka biasa menghabiskan waktu malam di sana karena buka 24 jam.
"Pesen apa aja yang kalian mau guys! biar gue yang bayar." Titah Luna mengibaskan uang yang dia dapat.
"Gas lah makan sepuasnya kita malam ini, gue sengaja belom makan biar bisa makan banyak. Udah yakin sih gue Juleha menang, malah tadi enyak gue udah masak rendang sayang banget kan gue kagak ikut makan." Ujar Devan pura pura sedih.
"Lah, salah lu sendiri itu mah, siapa suruh kagak makan dulu, Jaenal," sambung Ajeng.
"Udah ah lu pada berdua ribut mulu."
"Cafe gimana lancar kan hari ini?" tanya Luna.
Luna memiliki cafe yang berada di dekat pusat perkantoran yang di bantu kelola oleh Devan dan juga Ajeng.
Cafe yang dia bangun dan rintis memakai modal nya sendiri dari hasil jerih payahnya sendiri. Uang hasil menang balapan selalu dia tabung dan dia jadikan modal membuka cafe.
Luna bersyukur cafe nya semakin hari semakin berkembang dan ramai pengunjung. Membuatnya kadang kewalahan dan akhirnya meminta bantuan kedua sahabatnya agar ikut membantunya mengelola cafe itu.
"Aman, makin rame juga, kek nya kita harus nambah karyawan lagi deh Lun, biar nggak kerepotan pas lagi rame," ujar Ajeng memberi usul.
"Okay gue setuju, Van lu urus masalah karyawan baru ya!"
"Siap, bu boss."
Karena hari sudah larut malam, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang, Devan mengawal Luna dari belakang. Setelah itu mengantar Ajeng pulang, barulah dia pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
erinatan
sahabat yg kompak
2024-07-27
1
Susi Susiyati
bikin gemes si luna
klo bara hadeeh tu pedang moga g kena kutukkan saking sering celao celup
2024-05-28
4
Cesar Cesar
cerita ini bener-bener bikin gemas, pengen cepet-cepet nggak bahagia tapi tetep nggak mau berhenti baca🙈
2024-03-04
3