Dendam Aisyah pada seorang habib

Bayu melempar kertas itu secara tiba tiba membuat Aisyah terkejut, tapi dengan sigap tepat saat kertas itu terlepas dari tangannya dia sudah menghadap kearah Bayu. Tapi lemparan Bayu tidak tepat, bahkan kertas itu sudah terlepas beberapa derajat sebelum tangan Bayu bisa melemparnya secara lurus kearah Aisyah, alhasil kertas itu hanya beberapa senti berbelok ke kanan lalu melesat kearah kiri dan memutar melewati bagian atas siswi. Aisyah yang terkaget kan dengan serangan meleset itu tidak bisa langsung menghadap ke arah kertas, di saat dia menoleh ke kanan, kertas itu sudah ada didepan matanya yang langsung mencolok mata kanannya sedikit keras membuat nya seketika menutup muka dan menggosokkan matanya yang perih sekaligus keluar air.

Kertas itu terpental menghantam jendela di samping bangku temannya membuatnya langsung berniat membuka kertas itu selagi mata Aisyah masih menahan perih. Dia yang juga melihat kertas itu melayang kearah Aisyah langsung bersiap mengambil kertas itu dimana pun tempat jatuhnya demi memuaskan rasa penasarannya, dan betapa hokinya, kertas itu menghantam jendela samping bangkunya yang langsung dia tangkap dan segera membukanya.

Aisyah yang sadar langsung merebutnya beberapa detik kemudian, tapi dia tidak tahu kalau itu waktu yang cukup untuk membuat temannya mengerti apa yang akan dia lakukan setelah ini. Dia hanya menatapnya sebentar lalu kembali menatap jendela dan kembali ke sifat sok tidak pedulinya. Aisyah dengan tatapan marah, mengintip ke arah empat orang itu dingin, Bayu yang tertawa tanpa rasa bersalah hanya membuatnya semakin kesal dan memutuskan untuk membaca surat itu dan menutupinya dari teman sebangkunya.

Dia membacanya kalimat pertama dan kedua yang langsung membuatnya tersenyum lega, kata kata mencintaimu begitu membebaninya selama satu minggu dan selalu membuatnya salting begitu ada yang menyebutnya pacaran. Tapi begitu dia membaca kalimat terakhir senyumannya langsung menghilang mengingat gerombolan cewek itu telah semakin menggosipkan hal hal yang tidak mereka berdua lakukan, dan itu membuat perasaannya semakin membara dan sangat ingin untuk memukulnya.

Aisyah memang begitu, dewa pernah bercerita kalau dia pernah menampar temannya karena dia disebut pacaran dengan Dewa, belum lagi ilmu pencak silatnya yang benar benar dia gunakan maksimal untuk mencegah dirinya dan sahabatnya dibully, benar benar kejam tapi itulah yang terbaik bagi Aisyah agar tidak diganggu. Tapi disini dia berusaha untuk menahan amarah dan tidak mempedulikan mereka mereka yang membicarakannya, ibunya juga pernah berkata kalau nanti lama lama mereka juga bosan meladeni kamu, jadi kamu perlu diam saja.

Tapi sepertinya perkataan ibunya tidak bekerja saat dia dituduh telah melakukan seks di warung belakang sungai lah, menduakan Dewa lah, sampai menuduh ayah Dewa sebagai gay, tuduhan ini terlalu serius untuk dibiarkan dan harus dia luruskan dengan pukulan tepat di wajah orang yang mengawalinya, pola pikirnya memang sangat mengerikan sekaligus menunjukkan kalau dia sempat menahan pukulannya agar bisa mendapatkan teman. Sebuah spidol melayang kearah anak yang sedang tertawa keras dibelakang dan dengan sigap langsung ku tangkap tepat disaat spidol itu berada di kepala Bayu, sepertinya walaupun guru itu terlihat antusias tapi kemarahannya terhadap Bayu tidak berubah sama sekali.

"Kamu yang memulai, kamu yang mengembalikan, kau tahu mungkin aku perlu mengambil nafas, perutku sakit bangsad." Aku mengusap air mata yang keluar sedikit dari mataku sembari menaruh spidol itu di atas meja Bayu, dia masih saja tersenyum lebar dan tidak bisa melupakan kejadian itu. Bayu mengambil spidol itu dan langsung menunduk dan memiringkan tubuhnya ke lantai, dia secara tidak sopan langsung melempar spidol itu ke arah bawah membuatnya menggelinding lurus yang dihentikan oleh kaki Bu Retno yang pada saat itu sedang berdiri, tanpa kami sadari dia telah mengukur akurasi yang tepat agar mengenai wajah Bayu, tapi merasa kecewa ketika dihentikan olehku, benar benar pendendam.

"Daffa kembali, Bayu kembalikan ini dengan sopan." Bu Retno menyuruh Daffa yang masih dengan santainya berada di belakang dan masih tertawa walau telah dilempari spidol. Bu Retno yang wajahnya masih memerah menunjuk Bayu dengan tangannya membuat Bayu seketika terdiam walau harus menahan tawanya.

"Masih untung tidak ku lempar ke wajahmu, ibu saja mau melemparnya ke saya kan?." Bayu dengan santainya bersandar ke bangku dan bertatap tatapan dengan Bu Retno sembari tersenyum. Bu Retno yang sepertinya mau membalasnya tidak jadi karena dia masih kepikiran dengan ucapan Bayu yang tidak menganggapnya sebagai guru, dia hanya memegang kepalanya yang pening meladeni anak ini. Murid murid sekarang menatap Bayu dengan heran karena jawaban Bayu yang tidak ada sopan sopan nya walaupun menggunakan bahasa formal.

"Baiklah waktu saya telah habis dan saya mau pergi dari sini untuk memijat kepalaku, Bayu temui saya sepulang sekolah, saya akhiri wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatu." Bu Retno berpamitan dan pada akhirnya keluar dari kelas itu sembari membawa barang barang yang dia bawa sembari tetap memegangi kepalanya.

"Hancok, cangkemmu gaisok boso ta cok, di genek ngunu iku jalok sepuro, tambah jawab ( Hancok, mulutmu tidak bisa berbahasa apa cok, di gituin itu minta maaf, bukannya malah jawab )." Muklis yang dari tadi entah kenapa tiba tiba merasa marah kepada Bayu dan langsung mendatanginya. Mukanya yang juga memerah beserta tangannya yang menggenggam sangat ketahuan kalau dia mau memakai kekerasan kepada Bayu. Bayu hanya melihatnya dengan tenang dan tetap tersenyum menjengkelkan, kejadian tadi benar benar tidak bisa Bayu lupakan dengan mudah.

"emangnya kenapa, dia duluan kan yang lempar spidol." Bayu menjawabnya santai dan tidak terlihat panik walau dia sempat melihat tangan Muklis yang menggenggam erat. Dia melipat tangannya dan melihat Muklis dengan tatapan yang masih sama membuatnya tidak dapat menerimanya dan langsung melesatkan pukulannya kearah dada Bayu.

Tanganku yang sudah siap akan kemungkinan terburuk tidak sempat bereaksi dan malah dihentikan Bayu dengan telapak tangannya, Bayu langsung memutar tangan Muklis membuatnya meringis kesakitan dan seketika membuat tangannya yang satunya berusaha melepaskan cengkraman tangan Bayu, tapi percuma, kekuatan cengkraman itu masih selevel dengan Daffa mengingat mereka belajar di tempat yang sama, dia mulai mendekatkan wajahnya kearah Muklis.

"Oooo, jadi ini tentang Aisyah, kau pikir kau masih mau berpacaran setelah melihat ini." Aku yang juga mendengarnya langsung menoleh kearah Aisyah yang sedang mengangkat tangannya mau menampar sumber masalah semua gosip ini, seseorang yang sangat kaya hingga menyogok ketiga temannya agar mau berteman dengannya, Fairus.

"Lo, lapo, kon kate napok, tak kandakno kyai Lo engkok, Kon wedi lakyo karo lambeku ( Lo, kenapa, kamu mau nampar, aku beritahu kyai Lo nanti, kamu takutkan dengan mulutku )." Fairus yang masih memiliki kedekatan dengan kyai berusaha mengancam Aisyah dengan suara bergetar ketakutan, dia melihat sorot mata Aisyah yang pada awalnya lucu sekarang menjadi sangat datar, dia menggenggam erat kerah baju Fairus yang langsung membuatnya ketakutan, teman temannya hanya bisa diam saja dan tidak terlalu menanggapi Fairus, mereka tidak ingin ikut campur dalam hal berbau kekerasan.

"Gak kok, aku meker, sekali kali ojok napok tapi- ( Tidak kok, aku berpikir, sekali kali jangan menampar tapi- )." Aisyah menggenggam tangannya kuat kuat dan langsung mencengkeram erat kerah baju Fairus, dia melayangkan dua pukulan berturut-turut di wajahnya membuatnya langsung menangis keras dan terkapar tidak berdaya sembari menaruh kepalanya ke meja, pukulan beruntun itu membuat Fairus yang tidak terbiasa dipukul menangis sejadi jadinya didepan semua anak. Aisyah hanya menatapnya dengan dingin dan tanpa perasaan sedangkan ketiga temannya hanya bisa mematung ketakutan, Aisyah sedikit tidak menyangka kalau pukulan di kepala bisa membuat seseorang sampai meraung raung kesakitan, entahlah, dia memang titisan sikepet.

Episodes
1 Permulaan, pondok pesantren As-sasun najah.
2 Kejadian random dalam satu malam.
3 Hambali 1, kamar para senior
4 Mizam, 3 orang dalam satu tubuh
5 pembullyan pertama
6 Bertindak tanpa tahu resikonya adalah sifat alamiah yang dimiliki manusia.
7 Apa yang sebenarnya terjadi?, Siapa dia sebenarnya
8 Hubungan antara sahabat, keputusan berada di tangan Dewa
9 perasaan dan janji Bayu untuk maju
10 sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa
11 Kenangan Bayu dan sebuah kata kata untuk Dewa
12 Operasi sederhana di tingkat atas.
13 Akhir dari drama panjang, tapi cerita masih belum berakhir.
14 cara menghormati menurutku dan Bayu.
15 Eratnya persahabatan kami berlima.
16 Dendam Aisyah pada seorang habib
17 Ikatan yang mulai dibangun dengan pukulan
18 Geometry dash
19 Pertarungan yang tidak seimbang, Mahmud vs Bayu
20 Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir tragis.
21 Akhir dari pertarungan, serangan terakhir Bayu.
22 Perintah Bu Retno dan sebuah topi
23 Diakah orangnya, orang yang saya tunggu tunggu?
24 Air mata Bayu dan sebuah pelukan kehangatan.
25 Sang penikmat nafsu, rahasia umum pondok putra
26 Peringatan: episode ini mengandung hal hal berbau sexual yang mungkin mengganggu
27 the butterfly effect
28 Kembali ke jauh di masa lalu, 1975
29 miskin tapi bahagia atau menangis tapi kaya
30 Kebahagiaan yang membosankan.
31 Kematian yang sangat cepat
32 Apa yang akan dilakukan sekarang?
33 Perlahan tapi pasti, dibangunnya kepercayaan.
34 epilog
35 reality or a dream
36 the fireball and the big moon
37 Who am I?
38 questions without answers
39 friendship and reform
40 Cerita pertama: Kisah cinta penuh drama. Sebuah pembelaan dan tuntutan perubahan
41 keputusan investigasi untuk humanisme
42 penghilangan demi penghilangan, pelarian demi pelarian, pencarian demi pencarian
43 pertarungan ghaib yang menghasilkan hukuman
44 Episode bonus: sebuah lantunan sholawat
45 sebuah keputusan ekstrem, menghasilkan akibat yang ekstrem pula
46 sebuah pelatihan mengagumkan yang memulai persahabatan
47 orang lama yang membuat nostalgia.
48 Kenangan kolektif yang terus menghantui
49 perasaan bahagia menyambut reformasi sekaligus trauma yang tak pernah hilang
50 Sebuah perjuangan mencari kebebasan
51 Mencoba bangkit di tempat yang jauh
52 sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan
53 Ironi yang mengejutkan sekaligus melegakan
54 Pilihan pembelaan yang sangat sulit
55 Perlawanan balik, imbas dari serangan organ vital
56 Jatuh bangun tak berdaya
57 Pasca pertarungan yang memuakkan
58 sambutan mengejutkan usai duel panjang
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Permulaan, pondok pesantren As-sasun najah.
2
Kejadian random dalam satu malam.
3
Hambali 1, kamar para senior
4
Mizam, 3 orang dalam satu tubuh
5
pembullyan pertama
6
Bertindak tanpa tahu resikonya adalah sifat alamiah yang dimiliki manusia.
7
Apa yang sebenarnya terjadi?, Siapa dia sebenarnya
8
Hubungan antara sahabat, keputusan berada di tangan Dewa
9
perasaan dan janji Bayu untuk maju
10
sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa
11
Kenangan Bayu dan sebuah kata kata untuk Dewa
12
Operasi sederhana di tingkat atas.
13
Akhir dari drama panjang, tapi cerita masih belum berakhir.
14
cara menghormati menurutku dan Bayu.
15
Eratnya persahabatan kami berlima.
16
Dendam Aisyah pada seorang habib
17
Ikatan yang mulai dibangun dengan pukulan
18
Geometry dash
19
Pertarungan yang tidak seimbang, Mahmud vs Bayu
20
Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir tragis.
21
Akhir dari pertarungan, serangan terakhir Bayu.
22
Perintah Bu Retno dan sebuah topi
23
Diakah orangnya, orang yang saya tunggu tunggu?
24
Air mata Bayu dan sebuah pelukan kehangatan.
25
Sang penikmat nafsu, rahasia umum pondok putra
26
Peringatan: episode ini mengandung hal hal berbau sexual yang mungkin mengganggu
27
the butterfly effect
28
Kembali ke jauh di masa lalu, 1975
29
miskin tapi bahagia atau menangis tapi kaya
30
Kebahagiaan yang membosankan.
31
Kematian yang sangat cepat
32
Apa yang akan dilakukan sekarang?
33
Perlahan tapi pasti, dibangunnya kepercayaan.
34
epilog
35
reality or a dream
36
the fireball and the big moon
37
Who am I?
38
questions without answers
39
friendship and reform
40
Cerita pertama: Kisah cinta penuh drama. Sebuah pembelaan dan tuntutan perubahan
41
keputusan investigasi untuk humanisme
42
penghilangan demi penghilangan, pelarian demi pelarian, pencarian demi pencarian
43
pertarungan ghaib yang menghasilkan hukuman
44
Episode bonus: sebuah lantunan sholawat
45
sebuah keputusan ekstrem, menghasilkan akibat yang ekstrem pula
46
sebuah pelatihan mengagumkan yang memulai persahabatan
47
orang lama yang membuat nostalgia.
48
Kenangan kolektif yang terus menghantui
49
perasaan bahagia menyambut reformasi sekaligus trauma yang tak pernah hilang
50
Sebuah perjuangan mencari kebebasan
51
Mencoba bangkit di tempat yang jauh
52
sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan
53
Ironi yang mengejutkan sekaligus melegakan
54
Pilihan pembelaan yang sangat sulit
55
Perlawanan balik, imbas dari serangan organ vital
56
Jatuh bangun tak berdaya
57
Pasca pertarungan yang memuakkan
58
sambutan mengejutkan usai duel panjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!