"Kau tahu, anime atau film itu nggak semuanya bisa terjadi, jika kamu berpikir cerita sudah selesai saat karakter utama menikah, maka apa mereka tetap bahagia setelah menikah?, setelah menyelamatkan sahabat, apakah persahabatan itu masih terbebas dari masalah?, kita tidak akan pernah tau karena cerita memang sudah selesai. Dunia ini tidak bergenre slice of life yang bahkan tidak ada perbedaan antara awal dan akhir, tapi anime bergenre slice of life membuatku belajar, bahwa hidup ini harus dijalankan sesuai keinginanmu dan tetap bergerak maju sesuai ritme, walaupun masih ada saja konflik yang menghadang, semua itu hanyalah sesuatu yang akan kita tertawaan di akhir. Kalau kamu lari dari masalah, tidak ada yang mempedulikan dirimu, teman sahabat bahkan keluargamu sendiri tidak peduli jika kehormatan mu telah menghilang karena lari dari tanggung jawab, tapi entah kenapa cara ini bahkan bisa saja menjadi cara paling ampuh untuk masalahmu, aku tidak bercanda ko, coba deh kamu pikirin lagi."
"Allahuakbar Allahuakbar." Aku melotot menatap keatas, aku benar benar jengkel kali ini, orang yang bicara kepadaku didalam mimpi sambil terlentang itu hampir menunjukkan wajahnya kepadaku, tapi malah ada Suara adzan yang membangunkan ku, hal ini sedikit menggangguku mengingat aku selalu bangun jam lima, satu jam dari sekarang. Aku menoleh ke tempat aku melihat anak bertato tadi tapi kulihat anak ini telah menghilang entah kemana, dia telah bangun terlebih dahulu, atau aku. Semua orang masih pada tempatnya tadi, berbicara terus menerus hingga adzan selesai dikumandangkan, aku yang tidak ingin tidur lagi ditambah kemalasan ku untuk sekedar bertemu mimpi yang endingnya terpotong ( Selalu terjadi ), memutuskan untuk duduk sembari bersandar ke tembok. Iya itulah goblok nya aku, aku malah ketiduran lagi sambil melipat tangan, dan bersandar ke dinding.
...***************...
...Satu Minggu kemudian...
Satu Minggu hanya ku habiskan dengan tidur, jalan jalan, makan, mandi, dan hal hal umum lainnya, tapi walau kegiatan ku cuman ini ini aja, entah kenapa rasanya sangat berbeda dengan di rumah, aku juga telah mengenal beberapa anak disini termasuk anak bertato seminggu yang lalu, walaupun aku pernah berjalan jalan dengannya tapi entah kenapa aku tidak pernah berani untuk menanyakannya. Sebenarnya aku tidak pernah menduga kalau dia orangnya asik ( sendiri ), aku nggak bercanda, yaa udah kayak wibu dan sebangsanya gitu, oh ya namanya ricko, umur 13, sikapnya sok asik. Ada lagi seorang anak, yaitu Mizam yang udah aku kenal sejak hari pertama, ternyata pernyataan ku saat itu salah, dia sangat suka memanfaatkan orang lain dengan trik anehnya, aku bahkan hampir menjadi korbannya, yang membuatku heran, mata anak ini akan membesar saat malam dan mengecil saat siang, dia juga pernah bercerita kalau dia itu mengalami sindrom kepribadian ganda berjumlah 3, siang, malam, dan masih tidak diketahui. Saya akan menjelaskan satu persatu kepribadian Mizam jadi harap bersabar, kepribadian yang muncul saat siang adalah pemilik mutlak tubuhnya yang memiliki sifat, mudah dimanfaatkan, bodoh, selalu overthinking, dan seperti ingin berteman dengan siapa saja, kata Mizam, "kata dokter psikolog kepribadianku sekarang adalah kepribadian yang mewakili hal hal baik, makanya aku bisa mudah dimanfaatkan dan selalu memikirkan pikiran orang lain." Tidak salah sih, soalnya dia benar benar memikirkan kata katanya terlebih dahulu baru mau menjawab pertanyaan teman temannya.
Malam adalah kepribadian yang muncul disaat semua orang terlelap, sifatnya benar benar terbalik dengan yang siang, manipulatif, tidak ragu ragu untuk melukai korbannya bahkan hampir bisa membuat Daffa menunduk sangat dalam karena perkataannya yang radikal. "Kau pikir dengan menggangguku, kau mampu membuatku tersinggung, sampah sepertimu seharusnya tidak berada disini melainkan berada di tempat penampungan anak yatim, jika kamu mau menggangguku ganggu terlebih dahulu teman mu itu, nggak berani kan, temen kayak anjing gini ya masak bisa membuat anak itu menoleh, dia tidak peduli denganmu yang menunjukkan kalau kau telah melakukan suatu dosa tak termaafkan baginya, tapi ya nggak heran, lua aja kayak gini, sekarang berhenti disini dan jangan mengikuti kami." Aku yang sangat terkejut mendengar perkataannya langsung menutupi mulutnya dengan tanganku, tapi terlambat, Daffa yang selalu tersenyum itu langsung berlari keluar kamar yang sedang sepi menuju kamar mandi, aku sedikit bingung dengan apa yang Mizam maksud. Mungkin kalian sudah menebak apa kepribadian ini wakilkan.
Tidak diketahui adalah kepribadian yang belum pernah kami temui sama sekali, karena kata Mizam, "kepribadian ini, hanya muncul 5 kali selama tiga belas tahun ini, dan saat muncul, dia mengobrak Abrik seisi rumah, hampir memperkosa ibu dan adikku, bahkan sampai menusuk diri sendiri, dokter tidak tahu pasti, apa yang menyebabkan kepribadian ini begitu agresif." Aku dan Daffa yang mendengarnya langsung terkejut bukan main main, bagaimana bisa kepribadian seperti itu ada, bahkan Mizam menunjukkan lengan bagian atasnya yang memiliki luka bekas jahitan tembus hingga ke sisi lainnya. "Ibuku saat itu langsung menyangkal dan bilang, kalau kepribadian itu bergumam saat hampir memperkosanya, dia meminta maaf sembari menangis sesenggukan seperti hal yang dia lakukan saat ini adalah suatu perintah kejam, dia lalu berkata lagi kalau dia tidak ada niatan untuk melukai ibuku, tapi dia bertujuan untuk menghukum ibuku yang membiarkanku kesepian, dia juga melindungi ku saat aku dirundung disekolah, ditambah dia selalu menangis saat sholat." Dari sini udah bingung, intinya kepribadian ini bisa disebut sebagai anti hero, niatnya memang baik tapi kenapa harus begitu.
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar kali tinggi itu, aku kemudian menanyakan kenapa hal ini bisa begitu mudah dia beritahu kepada kami, Mizam langsung mengangkat pundaknya lalu berkata, "Nggak tau, tiba tiba saat kamu nanya gitu, gua kepengen aja nyeritain semuanya." Pernyataan ini langsung membuatku sadar, kalau kepribadian siang udah kelewat polos dan bisa sangat mengancam, mengingat dia harus dibantu oleh kepribadian tidak diketahui agar bisa terhindar dari perundungan. "Terus nama mereka siapa?" Aku yang masih sangat antusias untuk mendengarkan cerita orang, bertanya dengan mata berbinar binar. Daffa di sampingku merunduk dalam dalam seperti ada yang sedang dia pikirkan. "Sama aja, Mizam." Aku sedikit terkejut mendengar hal ini, tapi tidak dengan Daffa yang entah kenapa terdiam dari tadi. "Oh iya, masing masing kepribadianku itu memiliki backstory tersendiri, jadi mungkin jawabanku dengan yang lain akan berbeda." Mizam menambahkan sembari terus terusan tersenyum tanpa henti, sepertinya dia sangat menikmati pembicaraan hari keempat ini.
"Lalu baga-" mulutku langsung di tutupi dengan tangan dari belakang oleh Daffa, aku yang masih sangat terkejut berusaha melepaskan tangannya, tapi tangannya sangat ketat yang membuatku semakin terkejut, sekuat apa anak ini. "Udah, jangan nanya lagi." Daffa memperingatkan dengan wajah datar tanpa emosi, matanya menatapku sayu tetapi sangat tajam menatapku. "Emang lu percaya cerita begituan." Suaraku mengecil karena cengkraman tangannya yang sangat keras, tapi entah kenapa dia langsung menghembuskan nafas diujung perkataan ku. "Mau nyata atau tidak, tapi hal ini terlalu membuatnya bahagia, padahal di hatinya dia berusaha mengunci penjelasan ini." Daffa menjelaskan, walaupun hanya ku balas dengan, "Haaah." "Haduh, pokoknya hal ini adalah sebuah pribadi yang tidak bisa di ganggu, jadi jangan terlalu banyak bertanya, kalau tidak nyata ya Alhamdulillah, kalo nyata ya udah." Sejak saat itu, aku mulai mengerti kalau Daffa itu pintar psikologi, pendengarannya sangat tajam, buktinya bukan yang tadi, nanti ku ceritakan, lalu cengkraman bangsad nya itu membuat mulutku sakit sampai 2 hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments