Kejadian random dalam satu malam.

Setelah lelah membantai beberapa nyamuk, aku kembali tidur di kasur lipat ku. Suasana sudah sangat gelap karena banyak anak yang tidur jam segini. Disaat aku masih terlentang, aku tiba tiba melihat sebuah kepala yang terpampang jelas di depanku, entah dari mana kepala itu datang. Kepala dengan rambut panjang yang diikat pada pagar besi menuju lantai 2, darah mengucur deras pada leher kepala itu, yang membuatku mengerti kalau kepala ini baru saja dipasang dan pembunuh itu bisa saja masih ada di sini. Ketakutan, seketika aku membuka mulutku dan mulai berteriak, tapi tiba tiba ada sebuah tangan yang datang dan tumbuh dari tembok di atas kepalaku, benar benar hal yang sangat biasa di film horror atau anime. Aku menjadi sangat panik dan seketika mengangkat tanganku untuk melepaskan tangan yang tumbuh, tapi tangan kurang ajar ini malah menahan seluruh tubuhku dari kaki, tangan, dan yang lainnya.

Aku yang sangat sangat panik, tidak bisa berbuat apa apa dan hanya melotot menatap kepala yang semakin lama semakin menyeramkan, si tangan ini juga menahan kepalaku yang membuatku tidak bisa menghadap kemana mana selain ke arah kepala itu. Beberapa detik aku menatap kepala yang kini darahnya mulai sedikit mengucur dibandingkan dengan yang tadi saat pertama kali kulihat, tiba tiba kepala itu menoleh menatapku sangat tajam, dengan senyuman lebar penuh darah di mulutnya semakin membuat suasana menjadi lebih kelam. "Kenapa kau malah meninggalkanku bangsad?." Aku yang mendengarnya langsung mengenali suara ini dan semakin membuatku memperhatikan kepala buntung di depanku. Dia mengucapkan kata kata mutiara dengan mengubah ekspresinya, senyuman lebarnya berubah menjadi tatapan sendu, perubahan ekspresi yang tiba tiba ini membuatku semakin yakin kalau dia adalah teman sekaligus sahabatku dimasa lalu.

"MAU SAMPAI KAPAN ELU BEGINI ANJING?, KENAPA SIH KAmu itu selalu begini ngentod?." Aku yang mendengarnya langsung terkejut bukan main, tangisan itu mengingatkanku dengan kematian tragisnya di masa lalu. Iya, wajah sendunya menatap marah ke arahku sembari menangis, giginya yang merapat antara yang atas dan bawah semakin menunjukkan amarahnya yang meluap luap, tetapi entah kenapa aku mengenalnya dengan ekspresi kesedihan. Hal ini juga yang seketika membuatku menangis, air mataku keluar begitu saja setelah melihat pipinya yang dipenuhi air mata. Melihat air mataku wajahnya kembali mengubah bentuk ekspresi, ini adalah kebiasaan sahabatku yang suka mengubah ekspresinya tanpa dia sadari, entah kenapa dia selalu menjawab tidak tahu setiap aku menanyakan hal itu.

"Maaf, aku membuatmu takut ya?." Kepala itu menundukkan kepalanya, lebih detailnya, dia hanya menundukkan matanya tidak berani menatapku, dia tetap menangis sekaligus menyesal telah meneriaki ku sebelumnya. Tanpa aku dan kepala itu duga, secara tiba tiba kepala itu terjatuh dan menimbulkan suara keras yang secara nggak langsung menunjukkan kalau dia keras kepala. Entah bagaimana caranya, kepala itu bergerak mendekatiku meninggalkan bercak darah di bagian lehernya, wajah pucat sahabatku mendatangiku secara perlahan. Aku yang semakin panik segera berusaha untuk memberontak. Kenapa aku begitu panik, padahal dia adalah sahabatku?, mungkin itu yang ada di benak kalian, jawabannya simple, karena aku manusia yang masih memiliki phobia terhadap kepala buntung. Aku memejamkan mata, tidak kuat melihat sahabatku sembari terus menggeliat seperti cacing kepanasan, walau sebenarnya aku tau kalau itu tidak ada gunanya. Aku semakin panik begitu aku merasakan sebuah gesekan di kakiku, gesekan yang seperti di serbu ribuan ulat dengan cairan merah kental menyelimuti kakiku, entah kenapa walaupun aku bisa menutup mataku, tapi aku masih seperti bisa "melihat" kepala itu berjalan di perutku dan berbalik menghadap ke tangga besi.

Aku terkejut bukan main beberapa detik setelah aku merasakan berat kepala di perutku, aku membuka mata dan tidak percaya dengan pemandangan di depanku, terdapat sangat banyak sekali orang di kanan kiri ku dengan memakai jubah hitam berkerudung sedang berdiri menunduk seperti menatapku, mereka menutupi setengah wajah mereka dengan masker yang memiliki corak berbeda beda pada masing masing orang. Masih ada satu tempat tersisa tepat di bawah kakiku, terlihat satu orang yang memakai jubah yang sama tapi ditangannya terlihat sabit besar, aku memperhatikan dengan seksama bentuk wajahnya yang tertutup kerudung dan kegelapan malam, seketika pupil mataku membesar mengetahui wajahnya yang hilang dan hanya menyisakan tengkorak beserta daging daging yang masih menempel. matanya tiba tiba menyala merah menyala menatap tajam ke arahku seperti mau mencabut nyawaku, salah, bukan seperti, tapi dia benar benar mau membunuhku dengan sabit besar itu yang kini dia angkat tinggi tinggi.

Detik itu juga, aku langsung memberontak seperti orang gila, aku menggigit tangan yang menutupi mulutku, tapi sekeras apapun aku menggigit hingga terasa cairan merah, tangan ini sangat gigih dan tidak mau melepaskan mulutku. Terlambat, atau tidak, tepat saat orang itu mengayunkannya kepadaku, tangan tangan ini malah melepaskan ku saat senjata itu meluncur ke arahku, aku berhasil lepas sepenuhnya dan berguling ke kanan bertepatan dengan sabit itu yang menghantam lantai keramik, keramik yang dibawahnya beton itu terbelah dan sabit itu masuk begitu saja seperti membelah jeli. Dengan nafas yang tidak teratur, aku langsung berbalik dan tidak henti hentinya dibuat terkejut oleh pemandangan di depanku, kepala sahabatku kini terbelah menjadi 2 tanpa mengucurkan darah sama sekali, kepala itu sudah mati tepat saat sabit itu mengenainya dan membelahnya sekaligus lantainya. Aneh tapi nyata, orang di kanan kiri ku menghilang entah kenapa dan tangan tangan tadi juga ternyata lebih takut pada sabit kematian daripada gigitan ku, nggak kaget sih.

Aku yang hanya berpikir jika orang ini telah membunuh kepala kekasihku langsung bangkit berlari dan segera menendangnya sangat keras, entah kenapa aku tidak berpikir kalau sahabatku memang sudah mati sedari awal. Hal tidak terduga kembali muncul, orang berjubah itu menghilang begitu saja saat aku berkedip. Alhasil, aku tidak dapat menghentikan kakiku yang membuatku menendang tembok, tendangan bar bar itu membuat kakiku sakit dan membuatku terjatuh ke lantai, entah kenapa rasa sakit dari menendang tembok ini terasa seperti terjatuh dari ketinggian, ditambah mulutku seperti membisu, aku masih bisa membuka mulutku dengan normal, tapi entah kenapa tidak ada suara yang muncul sedikitpun.

"Siapa sebenarnya dirimu?" Aku yang masih berkutat dengan kakiku yang masih terluka dari dalam tanpa meninggalkan luka fisik sedikitpun, seketika tersenyum lebar mendengar suara seseorang, hal ini adalah pertanda kalau aku masih disayang Tuhan, mungkin. Aku menoleh dengan senyuman yang ku paksakan karena menahan sakit di kakiku. Yap benar apa yang kalian duga, tidak ada siapapun di asal suara itu. "Kapan dimulainya?""Memangnya kau tahu apa hah tentang hidupku.""Sudah ayo kita tidur." Aku yang kebingungan menoleh ke sana kemari, berharap kalau ini bukanlah imajinasi, walaupun aku tahu kalau aku hanya menunggu harapan palsu, tepi entah kenapa aku masih saja berharap tanpa henti.

"Manusia akan terus berusaha."

"Kami semua menunggumu."

"JANGAN MENDEKATINYA LAGI, KONTOL."

"Tuhan sudah mati."

"Kenapa kau selalu berjuang sendiri?"

"Apa maksudnya ini?, dimana kalian?" Aku menutup telingaku kuat kuat, karena suara suara ini bisa membuatku masuk rumah sakit jiwa, suara ini menjadi lebih keras semakin lama membuat gendang telinga seperti mau meledak. Aku yang sangat kebingungan ditambah dengan kakiku yang mendadak tidak terasa sakit lagi dan malah bisa dibuat berjalan normal, aku berjalan pelan menuju tengah halaman asrama yang masih tersambung dengan keramik dan biasa digunakan sebagai tempat solat para santri yang tidak mendapat bagian di musholla. Semakin aku berjalan sedikit, aku semakin dibuat ternganga dengan pemandangan mengejutkan yang kulihat tanpa henti, tepat di seluruh halaman terdapat banyak sekali kepala manusia utuh yang masih mengucurkan darah, berjejer rapi memutari satu tempat kosong tepat di bagian tengah yang tertancap sabit besar milik lelaki berjubah hitam dan yang membuatku semakin lelah mendapati kenyataan adalah di ujung sabit itu terdapat sebuah kepala dengan rambut panjang menjuntai menutupi wajahnya, menancap begitu saja seperti sebuah kehormatan untuk menaruh kepala itu di sana. Aku yang bingung bagaimana harus menanggapi seluruh kenyataan ini, mulai berjalan sendiri ke arah sabit itu tanpa ada kontrol dari tubuhku sendiri. Tapi secara bersamaan aku juga merasa sangat penasaran dengan kepala diujung sabit itu, pikiran ini terus datang dan selalu aku larang untuk mendekati sabit itu, tapi sepertinya tubuhku lebih penasaran daripada otaknya. Kaki dan tanganku bergerak sendiri dan mulai membuka rambut panjang yang menutupi wajahnya

"Apa maksudnya ini bangsad?, kalian pikir aku ini siapa bisa melakukan hal seperti ini, anjing!!" dengan penuh emosi, aku berteriak sekencang kencangnya, seluruh mata dari kepala di sekitar ku tiba tiba menatapku dengan tatapan marah kepadaku seperti hendak membunuhku saat itu juga jika mereka masih memiliki tubuh. "JANGAN LAWAN MEREKA KONTOL, LAWAN MU ADALAH AKU BANGSAAAD." Aku yang semakin menggila dengan semua kebingungan ini seketika tersadar saat suara Langkah kaki mendatangiku dengan sangat cepat walau lebih banyak kudengar suara retakan tengkorak daripada tamparan kaki kepada lantai. Dengan sigap, aku langsung berbalik dan melihat hal yang sangat mengejutkan, iya jangan bosan akan hal mengejutkan yang sangat random ini, lelaki dengan wajah yang sama persis denganku berlari cepat ke arahku, lelaki itu memakai jubah hitam yang aku lihat tadi milik si kepala tengkorak, aku bisa menebaknya karena ada berkas darah di bagian bawah jubah itu yang kini sedang berkibar saat seseorang yang ternyata diriku sendiri sedang berlari melewati kepala kepala dibawahnya tanpa tergelincir sedikitpun.

Tanpa sempat aku berpikir, lelaki dengan muka marah itu seketika menendang ku sangat keras saat aku berbalik. Tubuhku terpental dan terjatuh ke lantai yang anehnya terasa cair, aku tidak bisa bernafas dan dadaku terasa seperti ada yang menekannya sangat keras. Beberapa detik kemudian Aku membuka mataku yang sempat tertutup karena tendangannya yang tepat mengenai kepalaku, seperti tendangan anak silat padahal ku yakin pada diriku kalau sebenarnya aku tidak pernah belajar silat. Kali ini yang kulihat hanyalah air di sekelilingku, aku tidak terlalu terkejut karena terlalu lelah mendapati semua hal berat ini di otakku yang lelet. Aku langsung menggerakkan tanganku langsung menutupi bagian mulut dan hidung, mencegah agar tidak ada air yang masuk sembari menggoyangkan kakiku agar bisa sampai keatas. Tapi sekeras apapun aku berusaha menggerakkan tubuhku untuk berenang keatas, semua itu sia sia, karena sinar matahari yang ada di atas ku semakin meredup. Aku merasa kalau ini adalah akhir dari seluruh kejadian random yang tidak aku mengerti entah aku merasa senang atau sedih akan hal ini, karena kematian ku semakin dekat , aku kembali mengingat kehidupan bejatku saat masih hidup.

"Sampai jumpa, terima kasih karena telah menemaniku, Dimas."

Episodes
1 Permulaan, pondok pesantren As-sasun najah.
2 Kejadian random dalam satu malam.
3 Hambali 1, kamar para senior
4 Mizam, 3 orang dalam satu tubuh
5 pembullyan pertama
6 Bertindak tanpa tahu resikonya adalah sifat alamiah yang dimiliki manusia.
7 Apa yang sebenarnya terjadi?, Siapa dia sebenarnya
8 Hubungan antara sahabat, keputusan berada di tangan Dewa
9 perasaan dan janji Bayu untuk maju
10 sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa
11 Kenangan Bayu dan sebuah kata kata untuk Dewa
12 Operasi sederhana di tingkat atas.
13 Akhir dari drama panjang, tapi cerita masih belum berakhir.
14 cara menghormati menurutku dan Bayu.
15 Eratnya persahabatan kami berlima.
16 Dendam Aisyah pada seorang habib
17 Ikatan yang mulai dibangun dengan pukulan
18 Geometry dash
19 Pertarungan yang tidak seimbang, Mahmud vs Bayu
20 Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir tragis.
21 Akhir dari pertarungan, serangan terakhir Bayu.
22 Perintah Bu Retno dan sebuah topi
23 Diakah orangnya, orang yang saya tunggu tunggu?
24 Air mata Bayu dan sebuah pelukan kehangatan.
25 Sang penikmat nafsu, rahasia umum pondok putra
26 Peringatan: episode ini mengandung hal hal berbau sexual yang mungkin mengganggu
27 the butterfly effect
28 Kembali ke jauh di masa lalu, 1975
29 miskin tapi bahagia atau menangis tapi kaya
30 Kebahagiaan yang membosankan.
31 Kematian yang sangat cepat
32 Apa yang akan dilakukan sekarang?
33 Perlahan tapi pasti, dibangunnya kepercayaan.
34 epilog
35 reality or a dream
36 the fireball and the big moon
37 Who am I?
38 questions without answers
39 friendship and reform
40 Cerita pertama: Kisah cinta penuh drama. Sebuah pembelaan dan tuntutan perubahan
41 keputusan investigasi untuk humanisme
42 penghilangan demi penghilangan, pelarian demi pelarian, pencarian demi pencarian
43 pertarungan ghaib yang menghasilkan hukuman
44 Episode bonus: sebuah lantunan sholawat
45 sebuah keputusan ekstrem, menghasilkan akibat yang ekstrem pula
46 sebuah pelatihan mengagumkan yang memulai persahabatan
47 orang lama yang membuat nostalgia.
48 Kenangan kolektif yang terus menghantui
49 perasaan bahagia menyambut reformasi sekaligus trauma yang tak pernah hilang
50 Sebuah perjuangan mencari kebebasan
51 Mencoba bangkit di tempat yang jauh
52 sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan
53 Ironi yang mengejutkan sekaligus melegakan
54 Pilihan pembelaan yang sangat sulit
55 Perlawanan balik, imbas dari serangan organ vital
56 Jatuh bangun tak berdaya
57 Pasca pertarungan yang memuakkan
58 sambutan mengejutkan usai duel panjang
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Permulaan, pondok pesantren As-sasun najah.
2
Kejadian random dalam satu malam.
3
Hambali 1, kamar para senior
4
Mizam, 3 orang dalam satu tubuh
5
pembullyan pertama
6
Bertindak tanpa tahu resikonya adalah sifat alamiah yang dimiliki manusia.
7
Apa yang sebenarnya terjadi?, Siapa dia sebenarnya
8
Hubungan antara sahabat, keputusan berada di tangan Dewa
9
perasaan dan janji Bayu untuk maju
10
sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa
11
Kenangan Bayu dan sebuah kata kata untuk Dewa
12
Operasi sederhana di tingkat atas.
13
Akhir dari drama panjang, tapi cerita masih belum berakhir.
14
cara menghormati menurutku dan Bayu.
15
Eratnya persahabatan kami berlima.
16
Dendam Aisyah pada seorang habib
17
Ikatan yang mulai dibangun dengan pukulan
18
Geometry dash
19
Pertarungan yang tidak seimbang, Mahmud vs Bayu
20
Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir tragis.
21
Akhir dari pertarungan, serangan terakhir Bayu.
22
Perintah Bu Retno dan sebuah topi
23
Diakah orangnya, orang yang saya tunggu tunggu?
24
Air mata Bayu dan sebuah pelukan kehangatan.
25
Sang penikmat nafsu, rahasia umum pondok putra
26
Peringatan: episode ini mengandung hal hal berbau sexual yang mungkin mengganggu
27
the butterfly effect
28
Kembali ke jauh di masa lalu, 1975
29
miskin tapi bahagia atau menangis tapi kaya
30
Kebahagiaan yang membosankan.
31
Kematian yang sangat cepat
32
Apa yang akan dilakukan sekarang?
33
Perlahan tapi pasti, dibangunnya kepercayaan.
34
epilog
35
reality or a dream
36
the fireball and the big moon
37
Who am I?
38
questions without answers
39
friendship and reform
40
Cerita pertama: Kisah cinta penuh drama. Sebuah pembelaan dan tuntutan perubahan
41
keputusan investigasi untuk humanisme
42
penghilangan demi penghilangan, pelarian demi pelarian, pencarian demi pencarian
43
pertarungan ghaib yang menghasilkan hukuman
44
Episode bonus: sebuah lantunan sholawat
45
sebuah keputusan ekstrem, menghasilkan akibat yang ekstrem pula
46
sebuah pelatihan mengagumkan yang memulai persahabatan
47
orang lama yang membuat nostalgia.
48
Kenangan kolektif yang terus menghantui
49
perasaan bahagia menyambut reformasi sekaligus trauma yang tak pernah hilang
50
Sebuah perjuangan mencari kebebasan
51
Mencoba bangkit di tempat yang jauh
52
sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan
53
Ironi yang mengejutkan sekaligus melegakan
54
Pilihan pembelaan yang sangat sulit
55
Perlawanan balik, imbas dari serangan organ vital
56
Jatuh bangun tak berdaya
57
Pasca pertarungan yang memuakkan
58
sambutan mengejutkan usai duel panjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!