sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa

"Kau tau, sepertinya pertemuan nanti, akan menjadi pertemuan terakhir kita." Seketika mental Daffa langsung ambruk menuju titik paling rendah, dia tidak pernah mengharapkan hal ini akan terjadi. Dia hanya bisa melamun melihat tubuh Bayu yang perlahan berjalan menuju jembatan dengan basah kuyup. Tidak lama setelah itu tiba tiba muncul seseorang yang membuat Iqbal semakin merasa bersalah, Aisyah. Iqbal melihat tubuh Aisyah dengan wajah pucat pasi, gadis itu sekilas melihatnya sebentar sebelum kemudian mendatangi Bayu untuk menamparnya walau tidak berhasil. Iqbal berbalik menuju tempat duduk dan hanya bisa menunduk sedalam dalamnya. Alfin dan Ilul hanya bisa diam saja sembari ikut duduk di samping Iqbal, mereka berdua yang tidak tahu menahu tentang masalah mereka hanya dianggap npc dan tidak dapat melakukan sesuatu yang berarti seperti Daffa.

Daffa yang juga melihat gadis itu mengingatkannya pada pacarnya dulu yang kini sudah menjauh dan tidak lagi mendapat kabar sejak satu bulan lalu. Dia selalu saja mendekati Bayu dan tidak lagi mempedulikan dirinya membuatnya merasa tidak berguna untuknya, sebenarnya Daffa bisa saja menyalahkan Bayu, tapi hal itu justru membuatnya semakin menjauh dari nya karena tingginya derajat Bayu di mata orang lain dan Daffa hanya bisa menjadi beban untuk semua orang, itulah yang sedari tadi dipikirkan olehnya, rumit memang.

"Fa, kon kate nangdi? ( Fa kamu mau kemana? )." Melihat Daffa yang berjalan kearah kamar mandi baru, atau sejalan dengan yang dilewati Dewa membuat Alfin bertanya kepadanya. Dia ingin sedikit demi sedikit mencairkan suasana walaupun itu tidak berguna sedikitpun, karena Daffa hanya menatapnya tajam dengan muka yang mengerikan dan terlihat melepaskan topeng yang sedari tadi dia pakai. "Sembarang wes, Lul ayok ados wes, Kon gak adosa Bal? ( terserah deh, Lul ayo mandi, kamu nggak mandi Bal? )."

Tanpa mempedulikan Alfin lagi, Daffa langsung pergi ke kamar mandi baru yang tadi dimaksud Bayu. Dia terus memikirkan kejadian tadi tanpa henti, terus bertanya tanya, air matanya pun tidak mau berhenti keluar, dia sangat menyesali apa yang telah dia lakukan tadi. Sampai di kamar mandi baru yang masih sepi itu Daffa langsung memukuli dinding sangat keras hingga tangannya berdarah. Tidak mempedulikan tangannya dia masih terus saja memukuli dinding hingga dinding itu memerah karena banyaknya darah yang keluar. Tubuh Daffa ambruk dan terasa lemas, tangannya bergetar karena kesakitan dan air matanya mulai berhenti menetes, matanya bahkan mulai lelah untuk mengeluarkan ekspresi.

"Kau pikir dengan melakukan hal itu kau bisa membuat pikiranmu tenang, kau ahli psikologis kan, masak gini aja nggak tau bangsad." Daffa menoleh, dia sangat terkejut melihat Bayu yang telah berganti baju sedang bersandar di tembok kamar mandi. sedikit penjelasan, kamar mandi ini memiliki 6 ruangan yang semuanya untuk membersihkan diri, di luar ruangan itu ada sebuah tembok berukuran dua meter yang mengelilingi ruangan itu, dan ada sebuah taman kecil pada salah satu sisinya yang memang sedikit menjulang keatas, sedang sisi sisi yang lain diisi dengan tembok besar yang sejajar dengan taman itu, jadi taman itu bentuknya miring, aneh memang tapi inilah yang kulihat, oh iya, tembok besar inilah yang menjadi samsak tinju Daffa. Satu lagi, tanpa Daffa sadari, dia telah menghabiskan 15 menit lebih, untuk memukuli dinding, oke lanjut.

Daffa hanya diam saja dan mulai duduk sembari menekuk dan memeluk lututnya, dia sudah sangat putus asa dengan seluruh situasi ini, dan tidak berani menatap tubuh Bayu. Bayu yang melihatnya hanya bisa menaruh kantung plastik hitam yang dia bawa di tempat cuci tangan, dia mendatangi Daffa yang kini sedang menunduk dan menyembunyikan mukanya di bawah tangan.

"Hei, kau tahu siapa yang menghajar pacarmu beberapa bulan yang lalu kan?." Sembari jongkok Bayu mengucapkan sebuah kalimat yang lebih terkesan seperti mengancam dari pada menyemangati. Daffa yang mendengarnya merasa semakin tertekan karena dia tahu betul kalau Bayu lah yang membuat pacarnya mendekam di rumah sakit selama tiga bulan penuh dan hampir saja meregang nyawa. "Dan kau mau memaafkan ku bukan?."

anak ini malah terkesan seperti tidak ikhlas untuk meminta maaf, perkataannya lebih ke merendahkan Daffa. Tapi tanpa pikir panjang dan walau dia tahu kalau dia direndahkan, Daffa tetap mengangguk cepat yang membuat Bayu semakin marah, bukan ini yang dia harapkan dari dulu. dalam sekejap tangannya sudah berada di kerah baju Daffa yang ditutupi dengan kepalanya dan langsung mengangkatnya hingga sejajar dengan dirinya saat berdiri. Dia menatap Daffa dengan tatapan kemarahan.

"Taek a cok, aku wes gak ngarep disepuro karo awakmu, tapie awakmu malah nyepuro ngunu ae, terus gawe opo aku nulungi awakmu pas iko nek segampang Iki ( tidak bisa diterjemahkan, aku sudah tidak berharap akan dimaafkan olehmu, tapi kau malah memaafkan ku begitu saja, lalu untuk apa aku menolong mu jika semudah ini )." Daffa yang masih teringat dengan kejadian itu tentu merasa sangat tertolong oleh Bayu, itu adalah bantuan besar yang masih berhubungan dengan dunia per santet an, dan Bayu menganggap itu hanyalah hal kecil yang tidak dapat membuat Daffa luluh untuk memaafkannya, entah apa yang ada dipikiran Bayu hingga menganggap kalau itu hanyalah hal kecil, sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh anak yang penuh misteri itu.

"Tidak, kau salah, itu adalah pertolongan besar, aku sangat berterima kasih kepadamu, jadi tolong jangan menyalahkan dirimu atas kejadian itu, aku sudah memaafkan mu sejak dia sendiri yang memberitahuku." Daffa berusaha meluruskan pengertian yang Bayu, dia berharap agar dia tidak terlalu keras pada dirinya sendiri. tapi ekspresi Bayu nampak tidak berubah, dia tetap marah kepada Daffa walaupun kini dia melepaskan cengkraman tangannya, membuat Daffa terduduk. Entah apa yang ada dipikiran Daffa tapi dia memutuskan untuk, seolah olah dia sedang mencari titik dimana Bayu bisa menerima permintaan maafnya sendiri, sangat aneh, tapi hanya itulah yang ada dipikirannya.

"kalau begitu kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri, kenapa kamu memukul tembok sedangkan masih ada muka orang untuk kau tinju. Mimpi yang kau katakan dulu tidak berguna fa, ingin menjadi dokter psikologi, tapi dokternya malah depresi, benar benar tidak masuk akal. Sudahlah, sebenarnya bukan inilah tujuanku kemari, kau tahu kenapa pacarmu tidak pernah menghubungimu selama satu bulan ini?." Bayu mengatakan seluruh kekesalannya pada beberapa kalimat saja, dia kini berbalik dan mengambil kantung kresek itu, dia mengambil dua barang, yaitu sebuah topi biru yang langsung dia pakai dan korek apa yang dia bawa tadi, Daffa yang mendengarkannya hanya bisa kembali tertunduk karena itu jugalah hal yang membuatnya meninju tembok.

"Aku ingin bertanya padamu, tapi aku belum menemukan artinya." Daffa mengatakan alasannya tidak bertanya sedari awal, memang benar ada sesuatu hal yang harus dia lakukan terhadap Bayu, tapi dia tidak bisa melakukannya. Bayu yang mendengarnya tidak terlalu mempedulikan ucapannya dan langsung melempar kantung kresek itu yang berhenti tepat didepan Daffa. Daffa yang tangannya sangat panjang langsung membukanya dan sangat terkejut dengan apa yang Bayu bawa, sebuah perban dan alkohol, kenapa dia membawanya?, apa dia mau merawat tanganku?, jika iya, bagaimana dia bisa tahu?.

"Sebenarnya aku lah orang yang membunuhnya, aku membunuh pacarmu, dan kini aku harus menghukum diriku di depanmu." Tanpa Daffa sadari ternyata korek itu telah berubah menjadi pisau kecil yang langsung Bayu tusukkan pada lengannya hingga tembus, darah mulai keluar deras mengotori tangannya dan lantai itu, hal itu tentu membuat Daffa sangat terkejut bukan main oleh kelakuan mendadak dari anak itu, belum lagi dengan fakta yang lebih mengejutkan tentang pacarnya, matanya seketika menjadi kosong dan tidak dapat berkata kata lagi, air matanya tidak bisa keluar, otaknya telah kebanyakan memori dan kini dia hanya menunduk tanpa memikirkan apa apa, kesadarannya seakan mau menghilang.

"Aku bersumpah dengan darah, kalau aku tidak akan lagi berbicara denganmu."

Episodes
1 Permulaan, pondok pesantren As-sasun najah.
2 Kejadian random dalam satu malam.
3 Hambali 1, kamar para senior
4 Mizam, 3 orang dalam satu tubuh
5 pembullyan pertama
6 Bertindak tanpa tahu resikonya adalah sifat alamiah yang dimiliki manusia.
7 Apa yang sebenarnya terjadi?, Siapa dia sebenarnya
8 Hubungan antara sahabat, keputusan berada di tangan Dewa
9 perasaan dan janji Bayu untuk maju
10 sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa
11 Kenangan Bayu dan sebuah kata kata untuk Dewa
12 Operasi sederhana di tingkat atas.
13 Akhir dari drama panjang, tapi cerita masih belum berakhir.
14 cara menghormati menurutku dan Bayu.
15 Eratnya persahabatan kami berlima.
16 Dendam Aisyah pada seorang habib
17 Ikatan yang mulai dibangun dengan pukulan
18 Geometry dash
19 Pertarungan yang tidak seimbang, Mahmud vs Bayu
20 Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir tragis.
21 Akhir dari pertarungan, serangan terakhir Bayu.
22 Perintah Bu Retno dan sebuah topi
23 Diakah orangnya, orang yang saya tunggu tunggu?
24 Air mata Bayu dan sebuah pelukan kehangatan.
25 Sang penikmat nafsu, rahasia umum pondok putra
26 Peringatan: episode ini mengandung hal hal berbau sexual yang mungkin mengganggu
27 the butterfly effect
28 Kembali ke jauh di masa lalu, 1975
29 miskin tapi bahagia atau menangis tapi kaya
30 Kebahagiaan yang membosankan.
31 Kematian yang sangat cepat
32 Apa yang akan dilakukan sekarang?
33 Perlahan tapi pasti, dibangunnya kepercayaan.
34 epilog
35 reality or a dream
36 the fireball and the big moon
37 Who am I?
38 questions without answers
39 friendship and reform
40 Cerita pertama: Kisah cinta penuh drama. Sebuah pembelaan dan tuntutan perubahan
41 keputusan investigasi untuk humanisme
42 penghilangan demi penghilangan, pelarian demi pelarian, pencarian demi pencarian
43 pertarungan ghaib yang menghasilkan hukuman
44 Episode bonus: sebuah lantunan sholawat
45 sebuah keputusan ekstrem, menghasilkan akibat yang ekstrem pula
46 sebuah pelatihan mengagumkan yang memulai persahabatan
47 orang lama yang membuat nostalgia.
48 Kenangan kolektif yang terus menghantui
49 perasaan bahagia menyambut reformasi sekaligus trauma yang tak pernah hilang
50 Sebuah perjuangan mencari kebebasan
51 Mencoba bangkit di tempat yang jauh
52 sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan
53 Ironi yang mengejutkan sekaligus melegakan
54 Pilihan pembelaan yang sangat sulit
55 Perlawanan balik, imbas dari serangan organ vital
56 Jatuh bangun tak berdaya
57 Pasca pertarungan yang memuakkan
58 sambutan mengejutkan usai duel panjang
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Permulaan, pondok pesantren As-sasun najah.
2
Kejadian random dalam satu malam.
3
Hambali 1, kamar para senior
4
Mizam, 3 orang dalam satu tubuh
5
pembullyan pertama
6
Bertindak tanpa tahu resikonya adalah sifat alamiah yang dimiliki manusia.
7
Apa yang sebenarnya terjadi?, Siapa dia sebenarnya
8
Hubungan antara sahabat, keputusan berada di tangan Dewa
9
perasaan dan janji Bayu untuk maju
10
sebuah fakta mengerikan yang datang untuk Daffa
11
Kenangan Bayu dan sebuah kata kata untuk Dewa
12
Operasi sederhana di tingkat atas.
13
Akhir dari drama panjang, tapi cerita masih belum berakhir.
14
cara menghormati menurutku dan Bayu.
15
Eratnya persahabatan kami berlima.
16
Dendam Aisyah pada seorang habib
17
Ikatan yang mulai dibangun dengan pukulan
18
Geometry dash
19
Pertarungan yang tidak seimbang, Mahmud vs Bayu
20
Cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir tragis.
21
Akhir dari pertarungan, serangan terakhir Bayu.
22
Perintah Bu Retno dan sebuah topi
23
Diakah orangnya, orang yang saya tunggu tunggu?
24
Air mata Bayu dan sebuah pelukan kehangatan.
25
Sang penikmat nafsu, rahasia umum pondok putra
26
Peringatan: episode ini mengandung hal hal berbau sexual yang mungkin mengganggu
27
the butterfly effect
28
Kembali ke jauh di masa lalu, 1975
29
miskin tapi bahagia atau menangis tapi kaya
30
Kebahagiaan yang membosankan.
31
Kematian yang sangat cepat
32
Apa yang akan dilakukan sekarang?
33
Perlahan tapi pasti, dibangunnya kepercayaan.
34
epilog
35
reality or a dream
36
the fireball and the big moon
37
Who am I?
38
questions without answers
39
friendship and reform
40
Cerita pertama: Kisah cinta penuh drama. Sebuah pembelaan dan tuntutan perubahan
41
keputusan investigasi untuk humanisme
42
penghilangan demi penghilangan, pelarian demi pelarian, pencarian demi pencarian
43
pertarungan ghaib yang menghasilkan hukuman
44
Episode bonus: sebuah lantunan sholawat
45
sebuah keputusan ekstrem, menghasilkan akibat yang ekstrem pula
46
sebuah pelatihan mengagumkan yang memulai persahabatan
47
orang lama yang membuat nostalgia.
48
Kenangan kolektif yang terus menghantui
49
perasaan bahagia menyambut reformasi sekaligus trauma yang tak pernah hilang
50
Sebuah perjuangan mencari kebebasan
51
Mencoba bangkit di tempat yang jauh
52
sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan
53
Ironi yang mengejutkan sekaligus melegakan
54
Pilihan pembelaan yang sangat sulit
55
Perlawanan balik, imbas dari serangan organ vital
56
Jatuh bangun tak berdaya
57
Pasca pertarungan yang memuakkan
58
sambutan mengejutkan usai duel panjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!