Kejadian selanjutnya terjadi pada sore hari dimana terdapat 2 orang anak yang berasal dari satu kampung yang sama sedang bersantai di pinggiran sungai. Walaupun berasal dari desa yang sama, tapi mereka sama sekali belum mengobrol satu sama lain, bahkan untuk sekedar menoleh satu sama lain saja mereka tidak mau. Tenangnya arus sungai dan lembutnya hembusan angin membuat suasana menjadi sangat canggung bagi mereka berdua, mereka hanya saling diam tanpa suara sedikitpun dan hanya melihat arus sungai didepan mereka, suasana hening ini membuat keduanya saling memikirkan urusan mereka masing masing, tidak satu pun dari keduanya saling peduli terhadap yang lain yang membuat mereka sangat jauh padahal mereka berdua sedang duduk berjejer. Pada akhirnya suasana tidak mengenakkan itu mencair saat terdapat 2 orang lagi yang datang, ingin mandi di sungai yang kini tidak dapat dimasuki. Empat orang ini masing masing bernama Iqbal dan Dewa yaitu orang yang sedang duduk ngelamun memandangi air sungai yang bewarna coklat. Yang lain bernama Ilul dan Alfin yang kini sedang berjalan menuju Dewa dan Iqbal sembari mengobrol santai membicarakan banyak hal, diketahui jika mereka berdua memang dekat akhir akhir ini sejak aku menyundul Alfin beberapa hari yang lalu, Ilul lah orang yang berusaha menenangkan Alfin saat dia memarahiku. Mereka berdua yang telah terlanjur membawa sabun batangan itu pada akhirnya memutuskan untuk berhenti sedikit jauh dari posisi Dewa dan Iqbal, mereka melakukan hal itu karena belum terlalu mengenal Dewa.
"Lo Kon gak ados ta, tambah longgoh iku Lo ( Lo kamu nggak mandi, malah duduk )." Ilul yang melihat Alfin duduk di tempat duduk beton yang sama dengan Iqbal, bertanya kepadanya sedikit heran, pikirannya yang ingin segera mandi lalu pergi membuatnya keheranan dengan Alfin, walaupun dia tahu kalau airnya tidak memungkinkan untuk mandi, entah kenapa pertanyaan spontan ini keluar begitu saja, aku dari awal juga mulai sedikit mengerti apa yang dipikirkan anak itu, selalu mengucapkan dan melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan resikonya adalah sifat alamiah dari manusia yang masih ada di pikiran anak itu, tetapi entah kenapa dia selalu berusaha untuk mendekat ke anak anak yang lain dan selalu mengikuti apa adanya, benar benar mudah untuk dimanfaatkan, itulah hal yang bisa saya rangkum dari Ilul sampai satu bulan ini, entah apa yang akan terjadi kedepannya, tidak ada yang tahu kecuali satu orang.
Dewa tidak mempedulikan mereka berdua yang berjalan melewatinya begitu saja dan hanya terus ngelamun menatap air. Kurasa akan terlalu panjang jika aku menjelaskan semuanya sekaligus jadi aku akan menjelaskannya disaat yang tepat saja. Daffa selalu mengatakan kalau tatapan yang dimiliki Dewa selalu sendu dan tidak pernah seperti bahagia atau apa gitu entah alasannya apa, dan aku yakin alasannya bersikap seperti itulah yang justru selalu dipikirkan anak itu. Tapi hal berbeda dengan Iqbal, dia terus menatap kedua anak itu dengan tatapan gembira, Iqbal memang selalu begini, merasa kesepian tapi tidak mau berbicara, dia sebenarnya ingin berbicara dengan Dewa tapi satu hal dia tidak mau berbicara sepatah katapun kepada Dewa. Melihat kedua orang itu datang membuat hatinya yang sedih dan selalu memikirkan bagaimana caranya berbicara kepada teman satu kampungnya, berubah menjadi girang dan sangat antusias karena bisa keluar dari situasi canggung ini. Sebenarnya sangat bodoh untuk menceritakan hal ini, tapi walaupun dia sangat antusias dengan hal ini, dia tidak mempunyai keberanian untuk berbicara dengan Alfin karena adanya Ilul.
"Sek, banyune jek butek ngunulo, Bal kenelo, gak nyopo gak opo meneeng ae ( tunggu dulu, airnya masih kotor itulo, Bal sini kamu, tidak menyapa, tidak ngapain, diaaam aja )." Alfin memandang Iqbal yang dari tadi juga sedang menatapnya, dia seperti memberi kode kepada dirinya agar dipanggil. Mereka berdua memang sedikit akrab akhir akhir ini, tapi berbeda dengan Ilul yang bahkan tidak mengingat nama Iqbal, itulah kenapa Iqbal tidak langsung menemui Alfin. Hal yang berbeda dengan terjadi pada Dewa, mereka berdua sama sekali tidak mempedulikannya sama sekali, walaupun begitu, hal ini tidak membuatnya sedih sama sekali, bahkan dia masih berkutat dengan pikirannya tanpa menoleh kearah mereka sama sekali. "Lo, arek iku pisan, gak sakno ta Kon dewean Nang kono iku ( lo, dia juga, kamu nggak kasian, sendirian aja di sana )." Alfin menunjuk kearah Dewa yang membuatnya sedikit terkejut mendapati kalau dia pada akhirnya dipanggil juga, benar benar tidak nyambung jika dipikir pikir.
"Celuen Dewe, malesa ( panggil sendiri, aku malas )." Iqbal menjawab dengan nada malas, menunjukkan sejauh apa ikatan mereka berdua, tanpa ada yang menyadari kalau Iqbal salah mengucapkan kalimat barusan. Iqbal dan Ilul pada akhirnya ikut duduk di samping Alfin, sembari mulai berkenalan kembali, mereka mengabaikan Alfin yang memikirkan cara agar bisa berkenalan dengan dewa. Dewa di sisi lain masih tidak percaya dan berusaha mencerna apa maksud dari perkataan Alfin barusan, kurasa sisi introvert nya sudah keterlaluan sampai dipanggil saja salting nya minta ampun.
Entah apa yang dilakukan Alfin hingga bisa membuat hati Dewa luluh, tapi semenjak saat itu Dewa mulai berani untuk membuka diri kepada Alfin dan yang lain bahkan sampai berani membicarakan masa lalu yang seharusnya tidak ia ceritakan. Dipertengahan mereka mengobrol. Aku, Daffa dan Mizam pergi ke jembatan untuk berak dibawah jembatan. Mereka berdua yang sudah tidak dapat menahan berak itu, dengan tergesa gesa berjalan agak cepat ke bawah jembatan sampai sampai Daffa hampir terjatuh karena lantai bawah jembatan yang menjadi tempat mengalirnya air menjadi licin karena banyaknya lumut. Dari kejauhan aku dapat melihat empat anak yang sedang mengobrol santai sembari tertawa termasuk Dewa, aku sempat terkejut melihat Dewa yang tersenyum ceria menandakan kalau anak ini tidak se membosankan yang kukira, aku sengaja tidak ikut kebawah agar bisa sekedar melihat lihat tempat ini dan memandangi keadaan di sana. Selang beberapa menit kemudian datanglah seorang anak diantara mereka yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka berempat, aku menyipitkan mataku dan melihat wajah yang tidak asing, dia adalah anak yang waktu itu ke kamar dengan baju penuh keringat waktu itu. Dia hanya duduk ngelamun yang entah kenapa terasa sedikit mencurigakan bagiku.
"Aku kilingan pas jek kelas piro ngunu, koncoku wedok tau ngerangkul terus ngomong, kenapa kamu selalu berjuang se- ( aku keinget, entah pada kelas berapa gitu, temenku perempuan pernah memelukku lalu bilang, kenapa kamu selalu berjuang sen- )." Kalimat Dewa terpotong, dia sangat terkejut dengan apa yang dia saksikan kali ini. Anak yang sedari awal sudah ku curigai itu kini sedang mengangkat kerah Dewa tinggi tinggi hingga menyamai posisi wajahnya. Kejadian yang begitu cepat hingga tidak disadari oleh Alfin dan Ilul, membuat mereka semua terkejut termasuk Iqbal yang ternyata sedang dirundung rasa bersalah karena mengerti maksud ucapan dari Dewa. Anak yang tadinya hanya duduk diam sembari ngelamun tiba tiba mendatangi Dewa dan dengan tatapan marah, dia mengangkat kerah Dewa sangat keras sampai beberapa kancingnya terlepas jatuh ke tanah beton. Tatapannya yang menyala terang seperti iblis itu membuat semua orang ketakutan bukan main apalagi Dewa yang menjadi targetnya, tubuh dewa mati rasa karena ketakutan. Entah apa yang terjadi tapi hal ini membuat Daffa mulai berdiri dengan perasaan marah, dia yang dapat melihat jelas apa yang terjadi di sana mulai berjalan pergi dari bawah jembatan menuju keatas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments