“Ingat, jika nanti orang-orang bertanya padamu kau hanya perlu menjawab, ya, dan tidak. Selebihnya lepaskan senyummu. Berjalan lah dengan tegak sambil terus menggandeng tanganku,” peringat Boy mewanti-wanti tentang apa yang harus dilakukan Naira dan yang tidak.
Bukan apa. Pesta malam ini bukan dari kalangan biasa. Semua yang hadir di sana merupakan para pebisnis dari berbagai bidang. Tak terkecuali Boy sendiri yang mengelola warisan dari kedua orangtuanya. Mengembangkan pabrik industrial yang cabangnya sudah hampir ada di seluruh kota.
Naira mengangguk. Sesuai dengan instruksi Boy ia meraih lengan pria itu untuk ia pegang. Agak kaku, sedikit tidak berani. Mengingat ini kali pertama ia melakukan hal ini.
Bersama Ikhsan hubungan percintaan mereka sangat sehat. Tidak ada yang namanya pelukan, apalagi ciuman. Sehingga dapat dipastikan jika sampai sekarang bukan hanya bagian bawah Naira saja yang masih pe ra wan, tapi juga bibirnya.
Tidak sabar. Boy menarik pergelangan tangan Naira. Kemudian ia sampirkan pada lengannya. Mengapit sedari turun dari mobil sampai akhirnya menaiki anak tangga, memasuki sebuah hotel tempat berlangsungnya acara.
Sementara Aleman memarkirkan mobil. Boy dan Naira sudah disambut oleh petugas yang berjaga di depan pintu hotel. Sangat ramah, benar-benar ramah. Sampai-sampai seluruh orang yang ada di sana melempar senyumnya kepada Naira, membuat gadis muda itu risih tidak nyaman?
“Ini hotelku. Jadi kau jangan terkejut jika orang-orang ini ikut menghormatimu seperti mereka menghormatiku,” kata Boy jumawa.
Naira memperhatikan. Pantas saja ia disambut dengan sangat baik, bahkan terkesan istimewa. Ternyata pria yang bersamanya merupakan seorang bos besar pemilik hotel tersebut.
Naira benar-benar takjub. Gedung itu begitu indah dipandang sepanjang mata. Setiap ornamennya, terlihat begitu apik ditata. Bagaikan berada di dalam sebuah series film para ceo kaya?
“Ya-Rabb… apa ini mimpi?” desahnya sembari melangkah. Yang sialnya terdengar oleh telinga Boy langsung berkata,- “ini bukan mimpi gadis bisboll. Kau benar-benar sudah masuk ke dalam lingkungan konglomerat. Siap-siap mainkan peranmu karena sebentar lagi kau akan dipertemukan dengan ragam kaum munafik dari keluarga kaya.”
Mengeratkan genggaman tangan Naira pada lengannya. Dengan gaya angkuh pria maskulin itu membawa Naira masuk ke dalam aula pesta. Megah. Satu kata itu menggambarkan apa yang saat ini tersaji di depan mata. Di mulai dari susunan gelas yang tampak berkilau layaknya permata?
Tak jauh berbeda seperti awal pertama memasuki area hotel tersebut, keduanya lantas menjadi sorot perhatian setiap tamu yang hadir di acara itu. Tak terkecuali sepasang mata milik sang punya acara. Ikut menyorot angkuh ke arah Boy dan Naira dengan tatapan mencemeeh?
“Boy… akhirnya… aku fikir kau tidak akan datang karena malu tidak bisa membawa pasangan,” sapa Lili dengan nada sedikit mencibir.
Boy tersenyum smirk. “Apa kau tidak lihat gadis cantik yang ada disampingku?” sudut matanya mengerling ke arah Naira. “Perkenalkan, Naira Mayora. Dia adalah calon istriku sekaligus calon Ibu dari anak-anakku kelak. Besok kita akan menikah. Sementara acara akan menyusul setelahnya. Tenang saja, aku tidak akan lupa terhadap kau dan juga Yudistira. Seperti layaknya menjamuku, kalian berdua juga akan mendapatkan undangan khusus dariku ketika pesta pernikahan kami nanti.”
Deg!
‘Hei… apa-apaan ini? Ke- kenapa orang ini pakek acara bilang-bilang sama mereka jika besok kami akan menikah? Ke kua saja belum. Membicarakannya apalagi! Lalu, bagaimana ia bisa mengumumkan hal tersebut dengan sangat enteng?!’
Jantung Naira berdegup kencang. Kalimat Boy barusan sungguh membuat ia jadi kefikiran. Ditatapnya wajah Boy lamat-lamat. Pria maskulin itu tersenyum, menatap teduh ke arahnya. Lalu,-
Cup!
Sebuah kecupan mendarat singkat di kening Naira. Membuat gadis itu takjub, tidak bisa bereaksi apa-apa. Ia tertegun. Urat lehernya mengeras. Sementara kedua tangan yang sedari tadi terkepal canggung diuraikan oleh Boy menuntun bersalaman dengan Lili.
“N- Naira Mayora.”seulas senyum gadis itu kembangkan di bibirnya. Tentu setelah mendapat kode dari Boy yang dengan kurang ajar mencubit bokongnya.
“Lili.” Mantan istri Boy ikut mengulas senyum. Palsu. Sambil mencari kelemahan dari gadis yang ada dihadapannya. “Nama belakangmu tadi Mayora, bukan?” tanyanya kemudian.
Naira mengangguk. “Hmm… sepertinya aku pernah dengar. Tapi sebentar….” ucap Lili dengan gerakan seperti sedang mengingat suatu hal. “Kalau begitu jika tidak salah nama Ayahmu Andi Mayora ‘kan? Si pecundang luar biasa yang tidak bisa mengurusi perusahaannya. Lalu ketika bangkrut malah menuduh karyawannya yang melakukan kecurangan!” desisnya kemudian. Tersenyum. Sengaja mencari masalah dengan memantik amarah Naira.
Iras Naira berubah. Tentang perusahaan sang Ayah yang bangkrut sedikit banyaknya ia tahu dari omelan Fatimah. Tapi Andi bukan pecundang. Ia tidak akan mencari perkara dengan orang lain jika orang tersebut tidak bermasalah.
Aaahh… rasanya ingin sekali meremas mulut wanita yang ada di depannya. Jemari Naira yang barusan sempat terurai, kini sudah kembali terkepal saking geramnya. Tapi… ia bisa apa? Lingkungan ini seratus delapan puluh derajat jauh berbeda dari kawasan tempat tinggalnya. Sedikit saja melukai, bisa dipastikan ia akan berurusan dengan pihak berwajib. Setidaknya gambaran itu yang bisa gadis muda itu tangkap dari para kaum berada.
“Kau benar. Andi Mayora merupakan calon Ayah mertuaku. Dan tentang perusahaan, sebagai menantu yang baik aku telah membebaskan sebagian usaha yang ia miliki kembali padanya. Lalu tentang pecundang… aku rasa kalimat itu lebih tepat disematkan kepada Tuan Hari Suherman. Bukankah ia yang merupakan musuh dalam sekam? Karyawan yang telah dengan tega mengkhianti atasannya sendiri untuk bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan?” desis Boy menyela.
Tentu sebagai pembawa ia tidak akan tinggal diam melihat wanitanya direndahkan di sana. Mengungkap fakta yang seharusnya tidak terungkap, jika saja Lili yang merupakan putri semata wayang dari Hari Suherman tersebut tidak memulainya duluan.
Naira cukup terkejut. Ternyata Boy tahu banyak tentang permasalahan yang dihadapi oleh ayah angkatnya. Sementara Lili yang mendapatkan respon menohok seperti itu kalang kabut menyembunyikan emosinya yang menggelegak karena ulah Boy.
“Ehm! K- kau… apa kau yakin ingin menikah dengannya?” lontar Lili tiba-tiba. “A- aku hanya ingin memberitahukanmu satu hal. Dia ini Gaay, pria penyuka sesama. Jadi aku harap kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu karena nanti kau pasti tidak akan tersentuh setelah bersamanya,” timpal Lili kemudian.
Berbekal pengalaman saat masih bersama Boy. Mantan suaminya itu tidak sembarangan dalam menyentuh wanita. Terlebih ketika ia tidak memiliki rasa. Jangan harap akan mendekat, tidak menjaga jarak saja sudah syukur.
Lili yakin. Wanita yang ada dihadapannya ini merupakan bayaran dari mantan suaminya. Sengaja di sewa untuk hadir di acara pertunangannya itu untuk membuat panas serta mempermalukannya!
Jadi jangan salahkan ia jika sekarang Lili pun melakukan hal yang sama. Mempermalukan Boy dihadapan khalayak ramai, terutama di depan wanita bayarannya itu!
“Tidak akan tersentuh kau bilang?” Boy segera menimpali. “Ck, apa kau lupa dengan pernyataanku barusan?” picingnya kemudian. “Esok kami akan menikah. Dan kau tahu kenapa?” Boy mendekati Lili, merapat tepat pada daun telinga. “Ini semua karena aku sudah menghamilinya. Benihku ada pada rahimnya, dan sebentar lagi pria yang kau cap gaay juga tidak memuaskan wanita ini akan segera memiliki keturunan. Dan itu menunjukkan jika aku bukan seorang pria yang gagal.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments