“Tuan, di luar ada Nona Chintya. Katanya ia ingin bertemu dengan anda. Sudah saya katakan jika anda sedang beristirahat saat ini. Tapi, ia tetap kekeuh ingin bertemu dengan anda sekarang juga,” lapor Aleman sang sekretaris pribadi merangkap sopir dari pria bernamakan Boy William’s itu.
“Biarkan saja dia masuk. Tapi dengan cara sedikit terpaksa. Kau tidak akan bisa menanggung akibatnya jika ia tetap memaksa ingin bertemu denganku,” kata Boy.
Aleman mengangguk. Pertanda mengerti dengan penjelasan sang Tuan Muda. Langsung menutup panggilannya. Lantas kembali berhadap dengan Chintya yang juga merupakan Nona Muda dari keluarga William’s.
Hubungannya dengan Boy sebatas sepupu. Wanita cantik itu sendiri sedari dulu menyimpan rasa kepada Boy. Tidak pernah Boy gubris. Meski dalam keadaan terluka. Ditinggalkan oleh wanita yang begitu ia kasihi, mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri.
Begitu sakit memang. Tapi apa mau dibuat? Bersujud pun Boy sudah pernah dihadapan Lili— tapi wanita itu tetap memilih pergi bersama dengan Lukas. Pria yang menjadi sahabat Boy dari semasa duduk di bangku SMP.
“Bagaimana? Boy mengizinkan ‘kan?” tanya Chintya yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sepupunya segera—yang memang sudah hampir satu minggu ini tidak bersua, dikarenakan urusan Chintya yang harus pergi ke Italy untuk merayakan anniversary pernikahan sahabatnya yang sudah bermukim di sana.
“Tuan Muda tidak mengangkat telepon. Mungkin beliau sudah tidur. Jadi, Nona Chintya, lebih baik sekarang anda—” Belum lagi sempat Aleman menyelesaikan kalimatnya. Chintya yang notabene masih merupakan Nona Muda dari keluarga William’s tersebut langsung menerobos masuk.
Aleman bergeming. Tugasnya sampai di sini. Sesuai dengan request sang Tuan Muda yang memperbolehkan Adik sepupunya itu masuk, namun dengan sedikit halangan. Ia kemudian beranjak dari tempatnya. Bergerak menuju bangunan yang terletak tepat di sisi kiri rumah mewah itu—yang memang merupakan hunian Aleman, berupa fasilitas yang Boy berikan.
Padatnya rutinitas pekerjaan yang dilimpahkan Boy membuat pria berusia 36 tahun itu mengharuskannya bermukim tak jauh dari hunian atasannya. Tidak masalah memang, mengingat hidup Aleman yang sebatang kara. Tidak punya keluarga, apalagi pasangan. Masih betah melajang sampai saat ini, disaat sang Tuan Muda sudah pernah satu kali menikah.
Justru apa yang terjadi dalam kehidupan Boy menjadi tolak ukur bagi Aleman untuk benar-benar selektif dalam memilih pasangan. Tidak ingin hubungan percintaannya kandas begitu cepat hanya karena salah dalam memilih wanita.
Sementara itu di dalam kamar Boy. Pria bertubuh tegap itu tampak menanggalkan seluruh pakaiannya. Berikut juga Naira yang kini hanya mengenakan bra juga cela na da lam.
Boy melambungkan kedua pasang pakaian mereka. Hingga tercecer tak beraturan di lantai. Sebelum akhirnya Boy bergeming menatap ke arah Naira yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri itu.
Bulat dan padat. Sepasang permukaan menonjol itu terlihat begitu sekal, cukup menantang naluri kelelakian Boy yang sudah satu tahun ini tidak terpuaskan.
Belum lagi tone kuning langsatnya yang begitu mencuri perhatian sehingga membuat duda tampan itu menelan saliva.
‘Benar-benar seksi.’ batin pria itu dalam hati. Tatkala kini maniknya menilik ke seluruh tubuh Naira.
Indah tanpa cela. Bahkan di usianya yang Boy tafsir masih belia, gadis muda itu sudah memiliki ukuran tubuh proporsional untuk seorang wanita.
Lalu Boy menarik selimut yang ada di antara mereka, menutupi tubuh gadis muda yang saat ini sudah berada tepat dibawahnya usai tadi ia menin dihnya!
“Uuuuhhhh… emmmhhhh… nikmat, sa-yang… kau begitu sempit!” lenguhan itu terdengar berasal dari mulut Boy yang saat ini juga sedang menggerak-gerakkan pinggulnya di atas Nayra.
Terus memacu dengan keringat yang sudah memenuhi tubuhnya, akibat gempuran hebat yang saat ini ia lakukan terhadap gadis muda itu.
“Be.. nar-benar legit! Tidak aku sang-ka jika milik-mu akan senikmat ini!”tukasnya kemudian lumayan keras. Sampai-sampai mencuri perhatian seorang wanita cantik yang saat ini sudah hampir sampai di depan pintu kamarnya.
Mengerutkan dahi. Chintya yang samar mendengar suara Boy kemudian berhenti. Dilihatnya pintu kamar Kakak sepupu yang sudah sejak lama ia taksir itu tidak tertutup rapat. Chintya semakin mendekat. Lalu samar-samar suara itu kembali terdengar.
“Kau... benar-benar membuatku mabuk sayang… tubuhmu, milikmu, semua yang ada pa-da dirimu... benar-benar berhasil mengacaukanku. A-ku... aku tidak bisa. Aku… aku tidak bisa! Mulai ha-ri ini… jangan ha-rap kau… bisa lepas dariku… karena kau su-dah men-ja-di milikku sekarang!” desau Boy dengan sorot mata penuh keinginan terhadap Naira yang sampai saat ini belum terjaga dari tidur lelapnya.
Sementara Chintya yang mendengar serta menyaksikan sendiri keganasan Kakak sepupunya itu hanya bisa mengatupkan mulutnya. Seakan masih tidak percaya dengan apa yang barusan sudah ia lihat.
Boy William’s yang belakangan santer diisukan merupakan penyuka sesama jenis tersebut ternyata begitu menginginkan seorang wanita!
‘Oh my god... apa yang sedang terjadi? Bukankah terakhir kali Lili mengatakan jika Kak Boy seorang Gaay? Lalu, kenapa ini? Kenapa ia sama sekali tidak terlihat seperti itu? Kak Boy sangat perkasa! Ia benar-benar menunggangi wanita itu seperti—’
“Aaaaarrrgghh… aku sampai… k- kau… benar-benar nikmat, sayang,” ucap Boy perlahan melemah. Mencuri atensi Chintya untuk kembali fokus pada Kakak sepupunya itu. Lalu, “Chintya!!” Pria maskulin itu mendadak membelalakkan matanya saat kini memergoki Adik sepupunya itu berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Farah
Eeeeh... kok tiba2?🤔
2024-03-02
1
Aisyatul Munawaroh
Lanjut tooooorrrr
2024-02-29
3