TMTK - BAG 13

“Ini, Tuan, kopinya.” ucap seorang wanita dengan postur tubuh sintal membungkuk tepat di depan Boy. Mencondongkan bagian dadanya ke arah depan. Sengaja menampilkan bongkahan gunung kembar miliknya yang separuh menyeruak. Sengaja menantang, berharap segera dicengkeram.

Alih-alih terpesona dengan pemandangan dewasa di depannya. Nyatanya Boy tetap bergeming di tempatnya. Netranya terus memerhati ke arah depan. Mengabaikan ‘dagangan’ yang barusan ditawarkan kepadanya.

Kesal? Tentu saja. Di acuhkan membuat raut wanita berkulit putih itu merah seketika. Antara kesal, malu sudah pasti. Terlebih saat ini bukan hanya ada mereka berdua di sana. Tapi juga Aleman.

Pria dengan postur tegap itu tampak menatap datar ke arah asisten pribadi Boy tersebut. Menyorot tajam. Menunjukkan ketidaksukaannya. Terlebih bukan kali ini saja Aleman mendapati tingkah centil asisten pribadi Boy tersebut yang menurutnya sangat murahan!

“Tunggu apalagi? Bukankah tugasmu sudah selesai? Jadi sekarang cepat tinggalkan ruangan ini dan kembali lanjutkan tugasmu!” titah Aleman tegas dengan sorot kian menyalak. Membuat Linda—asisten pribadi Boy langsung ambil langkah seribu meninggalkan ruangan tersebut.

Aleman kemudian mendekati Boy sesaat setelah pria itu menutup layar komputernya. Mengangkat cangkir kopi yang masih panas. Meniupnya. Sebelum akhirnya ia sesap perlahan.

“Pria itu sudah datang,” tutur Aleman. Langsung mencuri atensi Boy segera meletakkan kembali cangkir kopinya. Membalikkan badan ke arah Aleman yang memang sedari tadi duduk di depannya.

“Apa ia bersama gadis itu?” Boy bertanya. Menunjukkan ketertarikannya akan gadis muda yang tempo hari sempat ‘menumpang’ di dalam mobil juga kamarnya.

Aleman menggeleng. “Tidak. Tapi saya yakin kedatangan pria tua itu justru bisa mempertemukan anda kembali dengannya. Bahkan saya rasa anda bisa langsung memperistri gadis itu dengan memanfaatkan kesulitan Ayahnya?”

Ya, sesaat setelah Boy ditemukan pingsan oleh Aleman di dalam kamarnya. Pria yang bekerja sebagai sekretaris pribadi merangkap pengawal bagi Boy itu langsung mencari tahu tentang Naira.

Sempat berfikir jika gadis itu merupakan mata-mata utusan rival Boy. Namun nyatanya fakta dilapangan mengatakan jika Naira merupakan anak dari kalangan biasa.

Ia bahkan tidak terikat dengan jaringan sindikat apapun. Baru saja mendapatkan gelar kelulusannya di tingkat SMK yang masuk dalam kategori unggul di kota tersebut.

Boy tersenyum. Kalimat Aleman mengingatkannya pada sesuatu. Pria tua itu dalam kondisi terdesak sekarang. Boy tahu itu dari Aleman saat menyuruhnya menyelidik tentang gadis yang sudah berani sekali menghajarnya itu.

Dan bagian yang lebih menariknya lagi adalah ternyata Naira merupakan sosok bayi imut yang dulu sempat sangat dikaguminya. Lalu sekarang kembali bertemu setelah sekian lamanya, tentu dalam kondisi yang berbeda.

Menarik jas yang tadi ia sampirkan di kursi kebangaannya. Boy kembali mengenakannya. “Ayo pulang. Tidak baik membiarkan tamu kita terlalu lama menunggu di rumah. Kita akan menjamunya, dan tentu dengan jamuan yang tak biasa,” kata Boy mengulas senyumnya. Yang langsung disambut anggukan oleh Aleman mengikuti langkah kaki sang tuan muda meninggalkan ruang yang begitu disukai oleh atasannya itu.

...***...

Di sebuah ruangan. Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk menunggui seseorang. Lumayan lama. Waktunya sudah tiga puluh menit lebih tersita hanya untuk menanti kedatangan seseorang yang ia anggap bisa menyelesaikan masalahnya.

Jamuan tersedia. Bukan hanya kopi, melainkan beraneka macam hidangan lainnya. Termasuk santapan siang yang juga sudah pria itu lahap. Dimasak langsung oleh koki profesional, sesuai dengan request sang tuan muda—yang meminta untuk memperlakukan pria paruh baya berpakaian lusuh itu layaknya tamu kehormatan kepada seluruh orang-orang yang bekerja di rumahnya.

Di tengah keheningan yang menusuk di dalam bangunan megah itu. Dari ujung sana Andi melihat seorang kepala rumah tangga yang bekerja di rumah tersebut tampak sedang berjalan ke arahnya.

Pria itu kemudian membungkuk. Lalu mengatakan,- “Tuan muda kami sudah kembali, Tuan. Dan sekarang saya diminta oleh Tuan Muda untuk membawa anda menuju ke ruangannya.”

Andi mengangguk. Kemudian bangkit dari duduknya. Memenuhi keinginan sang tuan muda yang memintanya bertemu di dalam ruangannya. Khusus sekali. Pikir Andi dalam hati. Karena ternyata putra semata wayang dari almarhum sahabatnya itu tak lupa terhadapnya.

Alexandre William’s. Ya, nama itu ia ingat ketika tadi ia melihat papan nama ekspedisi yang ada di belakangnya. Sudah lama sekali ia dan sahabatnya itu tidak bersua. Terakhir ketika usia Naira memasuki enam bulan di bawa saat menghadiri anniversary ke 12 pernikahan Alexandre bersama istrinya yang bernama Juliany.

Secercah harapan kemudian muncul ketika ia mengingat nama itu. Meski sedikit ragu, sebab keduanya sudah lama sekali tak berkabar.

Selain merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Malam itu juga menjadi ajang perpisahan antara Andi dan Alexandre. Pria keturunan konglomerat yang pernah hidup susah merintis karir dari nol dengan Andi tersebut ke esokan harinya harus pergi meninggalkan Indonesia, untuk tinggal di negara Australia karena bisnis yang sedang ia kembangkan di sana.

Sayangnya selang beberapa beberapa tahun kemudian Andi Mayora jatuh terpuruk bangkrut dari bisnisnya. Ditikung oleh karyawannya sendiri yang sudah sangat ia percaya, menggelapkan dana perusahaan milyaran rupiah untuk mengembangkan bisnisnya sendiri.

Ragam hal sudah Andi lakukan. Melaporkan, menggugat di pengadilan. Tapi entah mengapa karyawan yang padahal ia ketahui berasal dari kalangan biasa itu bisa menang. Bahkan hampir tak tersentuh oleh pihak berwajib.

“Kita sudah sampai, Tuan. Masuklah. Tuan Muda sudah menunggu anda di dalam,” kata kepala asisten rumah tangga kepada Andi sembari membuka pintu kokoh berukir jepara yang ada di depan mereka.

Andi kemudian masuk mengikuti langkah sang kepala asisten rumah tangga itu dari belakang. Membawanya menuju ke sebuah meja kerja besar yang ada di dalam ruangan tersebut—yang ketika diperhatikan sesaat oleh Andi seperti ruang buku. Namun juga difungsikan sebagai ruangan untuk bekerja oleh sang pemilik rumah.

Dan Andi melihat di depannya sudah ada dua orang pemuda yang memiliki bentuk tubuh hampir sama. Tegap, kekar. Hanya saja yang duduk di kursi meja kerja terlihat lebih berkharisma, maskulin, juga memiliki sorot mata yang lebih tajam.

“Nak Boy?” sapa Andi menatap ke arah Boy William’s. Langsung bisa ia tebak dari sorot matanya, juga postur wajah yang tak banyak berubah. Namun rahang terlihat lebih kokoh dari sebelumnya. Tentu, karena Boy kecil sudah dewasa.

Boy mengangguk. Andi ia persilakan duduk. Mengulas senyum memasang tampang ramah. Seolah benar menunjukkan jika ia sangat senang bisa bertemu kembali dengan Andi setelah kurun waktu yang cukup lama?

“Tuan Andi Mayora?” sapa Boy lembut. “Apa kabar? Senang bisa bertemu kembali dengan anda,” katanya kemudian.

Andi menunduk. Menarik napasnya dalam. Sebelum akhirnya menjawab,- “Aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, Boy.”

Sungguh, rasanya benar-benar berat melontarkan kalimat itu. Terlebih ia dan Boy sudah tidak bertemu dalam kurun waktu yang cukup lama, membuat Andi merasa sungkan, tidak enak, langsung menyampaikan kesempitannya.

 Andi memang bukan orang yang pandai berbasa-basi. Sehingga tidak tercetus dibenaknya untuk banyak bertanya lebih dulu pada Boy. Terlebih tentang kehidupan Boy sedikit banyaknya sudah ia ketahui dari kepala asisten rumah tangga—yang menceritakan jika kedua orangtua Boy sudah meninggal.

“Lalu, apa ada yang bisa saya bantu? Atau anda butuh bantuan?” Boy langsung menawarkan. Disambut takjub oleh Andi tak menyangka jika putra tunggal sahabatnya itu ternyata memiliki sifat yang sama persis seperti Ayahnya. Dermawan.

Andi mengangguk. “Beberapa tahun ini hidupku benar-benar sulit. Bahkan aku sampai meminjam uang kepada rentenir untuk biaya pendidikan Naira. Aku sudah berusaha mencicil. Tapi bunga yang diberikan rentenir itu sungguh gila. Sehingga membuat hutang-hutang ku bukannya berkurang. Malah semakin bertambah sampai menjadi dua puluh lima juta rupiah.”

Andi mencoba menjelaskan runut permasalahan yang sedang ia hadapi. Disimak dengan sangat cakap oleh Boy seolah ingin mengerti. Padahal pada dasarnya pria itu sudah mengetahui semua dari rincian penyelidikan Aleman mencari informasi tentang Naira.

“Begitulah, Nak Boy. Aku sangat membutuhkan uang itu, karena jika tidak kehidupan putriku yang menjadi taruhannya,” kata Andi berharap Boy mau membantu kesulitannya.

“Satu milyar! Nominal itu akan langsung saya berikan jika anda mau membujuk dan menikahkan putri anda dengan saya!” kata Boy tegas yang membuat Andi sangat terkejut!

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Farah

Farah

Tambah lagi tooooorrrrrr/Scream/

2024-03-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!