TMTK - BAG 3

...Balas budi? Haruskah budi itu ku balas dengan mengorbankan diri sendiri?...

...***...

“Assalamu’alaikum, Bapak. Naira pulang!” Naira berseru dari arah luar. Begitu bersemangat mengingat nilai yang ia miliki cukup bagus untuk ia tunjukkan kepada lelaki yang selama ini dengan tulus melimpahkan rasa kasih kepada dirinya.

Melepaskan sepatu. Kantung kresek berisikan gorengan yang ia beli di warung depan kemudian ia taruh di samping ia duduk. Di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu, hasil mahakarya pria yang sangat dicintai yaitu sang—Bapak.

Buru-buru meletakkan sepatu pada rak hasil rangkaian Andi juga, agar bisa segera masuk ke dalam menunjukkan keberhasilannya.

4. Angka yang begitu disukai Andi—Bapaknya. Dan sekarang Naira akan memberikan angka tersebut yang merupakan nilai ipk nya di sekolah. Terbilang cukup tinggi karena memang Naira murid yang cerdas.

Naira kemudian bergegas masuk ke dalam. Namun, belum lagi sempat kakinya benar-benar melangkah masuk ke dalam rumah yang telah membesarkannya itu. Dahi Naira mengerut ketika tepat di depan pintu masuk ia melihat dua batang puntung rokok yang beluh habis terbakar.

‘Milik siapa ini. Apa mungkin tadi ada tamu?’

Sejenak Naira termenung memikirkan keberadaan puntung rokok tersebut. Jika pun benar pemikirannya jika barusan ada tamu yang datang, pantaskah mereka membuang puntung rokok seperti ini sembarangan?

Hati Naira berdenyut. Entah mengapa rasa khawatir tiba-tiba saja menjalar di pikirannya. Buru-buru masuk hendak menemui Bapaknya. Namun, baru saja ia membuka pintu, sebuah pemandangan tak lazim ia lihat!

Berantakan. Lantai yang harusnya selalu bersih, mengingat Fatimah yang terbilang cukup steril. Siang itu penuh dengan kertas-kertas yang berserak, juga tanah hasil mahakarya dari sepatu para antek-antek Eddy yang tadi sempat datang.

Naira tidak mengetahui hal tersebut. Tapi yang tebersit di pikirannya saat ini adalah ia harus segera menemui kedua orangtuanya. Memeriksa apakah mereka dalam keadaan baik-baik saja?

Segera Naira berlari ke arah dapur. Mengingat biasanya di jam segini Fatimah sedang mengolah menu makanan sederhananya. Sementara Andi kerap berada di belakang rumah, mengerjakan kerajinan tangannya, membuat celengan, juga pahatan ayat kursi untuk ia jual.

“Mak! Mamak!”

“Pak! Bapak!” Sunyi. Tidak ada yang menjawab. Berulang kali Naira memanggil tetap saja tidak ada sahutan.

Keadaan di dapur sama berantakannya seperti di depan, dan Fatimah pun juga ikut tidak ada. Bergegas menuju pintu belakang dengan harapan ada Andi di sana. Tapi kekosongan tempat tersebut ikut memupuskan harapan Naira tentang keberadaan kedua orangtuanya.

“Ya-Rabb… di mana kedua orangtuaku? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa keadaan rumah kami seperti ini?” Naira menangis. Bertanya pada diri sendiri. Hingga benaknya kembali tebersit, mungkinkah Fatimah dan Andi bertengkar. Lalu sama-sama pergi meninggalkan rumah?

Mata Naira basah. Hidungnya merah. Cairan bening itu terus keluar membasahi wajahnya, menangis tersedu sambil terduduk di lantai dapur. Lemas, benar-benar lemas. Terlebih setelah pikirannya mulai melayang-layang memikirkan biduk perkara atas apa yang terjadi. Mungkinkah ini semua karena pertengkaran yang kerap ia dengar tentangnya?

“Nai! Naira!” sebuah teriakan terdengar dari arah luar. Menghenyakkan segala pikiran Naira yang hampir menyalahkan diri sendiri. Gadis itu berpaling. Seseorang tampak berlari ke arahnya. Bu Suri tetangga sebelah yang tampak begitu panik bercampur khawatir dari sorot matanya.

“Naira… cepat sekarang ganti pakaian. Mamak mu masuk rumah sakit. Dan sekarang Bapakmu juga sedang di sana. Tadi anak Uwak, si Anto yang bawa. Rumah sakit Citra Husada! Ya, kalau nggak salah tadi si Anto Wa katanya Mamakmu sedang ditangani sama Dokter umum yang jaga tugas di sana!” kata Bu Suri begitu cepat sembari mengingat-ingat nama rumah sakit tempat di mana Fatimah di rawat.

***

Buru-buru memakai sendal. Iras cantik Naira tampak bingung dan pucat. Tangannya gemetar. Sampai-sampai membuat tas selempang yang ingin ia sandang pada lengan jatuh ke tanah. Naira memungutnya. Berjongkok meraba memegang dengan kedua tangan. Pelan-pelan ia sampirkan pada bahunya. Sebelum akhirnya kembali berbalik saat mendengar suara Suri memanggilnya.

“Naira, tunggu!” sembari berjalan Suri merogoh saku daster yang ia kenakan, mengambil dua lembar sepuluh ribuan untuk diserahkan kepada Naira. “Pakai ini untuk ongkos. Uwak tahu kamu nggak ada uang. Jangan dipikirkan, karena sekarang yang terpenting adalah kau harus segera ke rumah sakit untuk menemani Mamakmu.”

“T- terimakasih, U- uwak. Na- Naira janji b- besok-besok setelah Naira punya uang… Naira akan kembalikan uang Uwak,” terang Naira dengan perasaan tidak enak. Tahu kehidupan Suri pun tak jauh sama seperti kedua orangtuanya—yang hanya memiliki penghasilan pas-pasan untuk setiap harinya.

“Udah… jangan dipikirkan, Nai. Sekarang cepat kamu pergi ke rumah sakit. Kasihan Bapakmu sendirian di sana. Barusan Anto udah pulang. Katanya mau ke pabrik. Tahu sendiri kamu ‘kan gimana pekerjaannya. Nggak boleh libur barang satu hari, kecuali hari minggu.”

“Iya, Uwak, Naira tahu. Naira akan pergi sekarang. Titip rumah ya. Dan… untuk lantai yang berserakan tidak usah dibersihkan Uwak. Biar Nai sendiri saja nanti yang bersihkan.” Naira tidak ingin merepotkan. Apalagi Suri sudah tua. Kerap sakit-sakitan di usianya yang sekarang. Yang mana akan membuat Naira merasa bersalah jika sampai kondisi wanita tua itu drop setelah membersihkan rumahnya.

Naira tahu, Suri merupakan tetangga yang tergolong ringan tangan. Kerap membantu tanpa disuruh. Apalagi dalam keadaan darurat seperti sekarang. Pasti wanita tua itu tidak akan tinggal diam melihat kondisi rumahnya yang berantakan.

“Udah-udah… pergi sana. Urusan rumah biar jadi urusan Uwak. Jangan membantah. Ingat, Bapakmu sendirian di sana. Pasti ia sedang membutuhkanmu sekarang,” tukas Suri tidak suka dibantah—yang mana hal tersebut langsung dituruti oleh Naira.

Melangkah cepat. Jarak rumah Naira dengan jalan besar sekitar lima ratus meter ke depan. Naira buru-buru. Ia semakin mempercepat laju langkahnya. Sampai-sampai tak sempat melihat kiri-kanan. Dan,-

Bruukkkk!!

Naira jatuh ke tanah. Tak sempat benar-benar mengenai tanah. Tangannya langsung ditarik oleh seseorang yang begitu asing baginya. Lelaki berkulit gelap dengan tampang yang sangat sangar. Begitu menakutkan. Sampai-sampai membuat Naira yang tengah dilanda kekalutan tidak berkutik, terdiam.

Gadis itu melihat sang pria berjanggut rimbun itu menoleh ke arah belakang. Lalu mengangguk pelan, sebelum akhirnya seorang lain datang ikut menarik tubuh Naira—membawanya paksa masuk ke dalam mobil mereka.

“L- lepas!! L- lepaskan saya! Si- siapan kalian? P- pen-culik? K- kalian salah orang. Saya… saya bukan orang kaya. S- saya… hanyalah anak seorang pengrajin celengan yang miskin!” teriak Naira ketakutan. Tentu sembari terus melawan berusaha melepaskan diri dari jerat kedua orang dewasa yang memiliki tampang sangat menyeramkan itu!

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Fakrullah (@fakhiral2013)

Fakrullah (@fakhiral2013)

Penculik? jgn2 itu DC yg tadi datang ke rumah Naira? up terus tor...🔥 semangat!

2024-02-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!