TMTK - BAG 12

“Ini semua salahmu! Kau itu anak pembawa sial! Semenjak kehadiranmu hidup kami jadi berantakan! Aku nggak mau tahu. Pokoknya aku nggak mau tau! Jika si tua Eddy itu memintamu. Maka datanglah dengan sukarela kepadanya. Jangan lagi kau menyusahkan suamiku. Apalagi AKU! Bersikaplah tahu diri, setidaknya sebagai balasan atas kebaikan kami selama ini!” Fatimah mendengkus. Bahkan suaranya terdengar lantang sampai ke seluruh ruangan.

Membuat lima orang pasien, serta keluarga pasien yang mendampingi langsung menoleh ke arah mereka. Bukan hanya sekedar memerhatikan Naira. Tapi juga Fatimah yang dinilai terlalu tidak manusiawi dalam memperlakukan gadis muda yang mereka tau adalah putrinya?

Naira tidak menjawab. Terus meringkuk gemetar di depan nakas sedang tempat penyimpanan barang. Sudah bergeser dari bawah ranjang Fatimah, karena perintah dari Ibunya itu.

“Asal kau tau, suamiku dikejar rentenir seperti ini itu semua karena keras kepala untuk tetap menyekolahkanmu! Andai ia mau mendengarkanku. Maka semua ini bisa aku pastikan tidak akan terjadi. Hidupku, serta sertifikat rumahku akan tetap aman. Tidak akan terancam seperti sekarang ini!” timpal Fatimah kemudian. Membuka satu rahasia suaminya kepada Naira agar gadis itu tau diri. Dan mau menyerahkan kehidupannya kepada Eddy.

Sontak, ucapan Fatimah cukup membuat Naira tercengang. Baru tahu alasan utama kenapa Bapaknya sampai berhutang. Itu semua ternyata karenanya?

“Apa-apaan kau ini Fatimah? Kenapa marah-marah seperti ini? Bukankah Dokter mengatakan padamu untuk bisa mengontrol emosimu? Jantungmu bermasalah. Tapi kau masih memarahi Naira seperti ini,” ucap Andi segera menghampiri Naira. Begitu ia mendengar tentang ocehan tidak menyenangkan dari istrinya itu.

Melihat Andi. Perlahan Naira mengangkat wajahnya, menatap iras pria tua yang selama ini begitu mengasihinya itu. Maniknya terlihat nanar. Berkaca, sampai akhirnya tak kuat lagi menahan. Kemudian menjatuhkan wajahnya pada dada kasang Andi berlinangan air mata.

“Kenapa, Bapak, nggak bilang?” Naira sesenggukan. Menahan pecahan tangis yang saat ini akhirnya tumpah di dalam pelukan Andi tersebut. “J- jika… Bapak jujur sama Naira. M- maka... mungkin Naira nggak akan membebani. Bi- biarkan Naira tidak sekolah. Asal kita bisa hidup tentram. Tidak di usik oleh rentenir jahat itu,” sambungnya lagi tergagap juga terisak.

Penuturan Naira lagi-lagi membuat Fatimah naik pitam. Ia yang tidak terima suaminya disalahkan itu lantas menarik rambut Naira dengan satu tangannya sampai membuat gadis itu kepalanya terdongak ke atas.

“Sudah Fatimah! Apa yang kau lakukan?! Tindakanmu itu menyakiti putri kita, Naira!” Andi berusaha membela. Mencegah cekalan jemari Fatimah yang saat ini sudah dipenuhi rambut Naira.

Dengan sangat hati-hati pria itu melepaskan setiap helai rambut putrinya itu. Sementara Naira hanya diam menahan, berbeda dengan Fatimah yang saat ini protes terhadap Andi yang mencoba melerai perbuatannya.

“Bapak yang apa-apaan! Sudah jelas-jelas anak sial ini menyusahkan. Tapi masih saja Bapak ngebela dia. Aku itu sayang samamu. Aku susah melihat kau kesusahan. Biarin! Biarkan anak ini biar tau rasa! Juga tau terimakasih serta balas budi atas apa yang selama ini sudah kita berikan padanya!” Terus berusaha menarik rambut Naira. Nyatanya belum puas Fatimah memberikan pelajaran kepada putri angkatnya itu Andi sudah berhasil melerai.

Ia juga menjauhkan Naira dari jangkauan istrinya. Membuat Fatimah cukup geram, lantas ingin turun dari ranjang. Tapi sayang, belum lagi niat itu terealisasikan—Fatimah harus kembali mengerang kesakitan.

Wanita paruh baya itu memegangi dada kirinya yang berdenyut nyeri. Imbas dari reaksi emosi yang saat ini melanda seluruh jiwa raganya.

Kepanikan seketika melanda. Jika tadi tangan Andi masih menghalangi Naira agar tak tersentuh oleh Fatimah. Pria itu segera pergi memanggil perawat guna mencari pertolongan!

***

“Naira, titip Mamakmu ya. Bapak mau pergi sebentar.”

“P- pergi ke mana, Pak? D- dan... bagaimana kalau nantik Mamak bangun? Naira nggak tau harus buat apa. Mak pasti marah kalau cuma lihat Naira di sini.” Bukannya tidak mau menjaga. Hanya saja gadis muda itu masih takut jika Fatimah marah.

Semenjak kehadirannya di tempat itu. Fatimah terlihat begitu benci dengannya. Sampai apapun yang ingin wanita tua itu lakukan tidak pernah memberi andil Naira untuk membantu. Terus bergantung pada Andi suaminya.

“Bilang saja Bapak mau nyelesain hutang-hutang Bapak sama Bos Eddy. Kau nggak perlu kuatir. Kalau nggak ada Bapak, Mak mu pasti mau kau urus. Lagipula selain kau siapa lagi anaknya? Nggak ada yang bisa bantu dia selain kau saat ini.” ucap Andi kemudian. Berusaha menangkan Naira dari rasa khawatir, juga takut yang mencekam.

Ya, setelah kejadian kemarin secara terang-terangan Fatimah menolak disentuh oleh Naira. Gadis muda itu khawatir jika nanti setelah kepergian Andi, Ibunya itu akan bersikukuh pada pendiriannya. Terus memusuhi Naira, tidak ingin bicara, apalagi disentuh serta meminta pertolongan dengannya.

Sakit jantung yang diderita Fatimah juga menjadi kecemasan tersendiri bagi Naira. Takut kepergian Andi memancing emosinya. Lantas sakit jantungnya kembali kumat seperti kemarin.

Tidak punya pilihan. Mau tak mau Naira menuruti permintaan Andi. Menjaga Fatimah selama pria paruh baya itu pergi.

Andi berjalan meninggalkan halaman rumah sakit Citra Husada. Langkahnya gontai menyusuri badan jalan. Menyeberang. Tak tau kemana arah tujuan. Mencari nominal dua puluh lima juta yang jumlahnya tidak sedikit untuk ia kembalikan sore ini kepada Eddy.

“Kemana aku harus berhutang?” desah pria yang  usianya tak lagi muda itu memikirkan cara bagaimana mendapatkan nominal besar tersebut sekarang.

Meskipun sulit. Tak terlintas dipikirannya untuk mencuri. Hanya menambah masalah. Mencari solusi di tengah teriknya sinar mentari yang sedang menanjak menjemput siang.

Tiga ribu rupiah kemudian ia keluarkan sebagai ganti jasa dari kopi hitam yang sedang ia tenggak. Setengah gelas yang ia beli pada penjual pinggir jalan, yang biasa menjajakan kopinya dengan kendaraan motor, mangkal tepat di depan sebuah expedisi yang bernamakan ‘CV. Alexandria Ekspress’.

Iseng Andi membacanya. Usai tadi ia melongok ke belakang. Papan nama perusahaan expedisi tersebut cukup mencuri perhatian. Di desain dengan cukup unik, juga tampilan huruf yang berwarna terang. Jingga.

“Alexandria?” Andi bergumam. Merasa tidak asing terhadap rangkaian nama itu. Dihabiskannya sisa kopi bercampur ampas itu sekali tegukan. Hingga akhirnya benak mengingatkannya pada sesuatu yang membuat ia segera bangkit dari sana!

“Ada apa, Pak? Kenapa kek terkejut gitu?” tanya sang penjual kopi terheran, atas spontanitas pelanggannya langsung semringah padahal sedari tadi tampak merengut seolah sedang memikirkan sebuah masalah yang cukup besar.

“A- ah… ti- tidak apa-apa, Bang. Barusan aku keingat sesuatu yang mungkin bisa nyelesain masalahku. Ini Bang gelasnya. Terimakasih, aku harus pergi ke sana sekarang.” Andi menyerahkan gelas berisikan sisa ampas kopi miliknya. Lalu bergegas penuh semangat memanggil sebuah becak, guna membawanya pergi menuju ke suatu tempat yang ia harap bisa menyelesaikan masalahnya sekaligus menyelamatkan kehidupan putrinya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Farah

Farah

Up tor

2024-03-10

1

Rukayah Redmi

Rukayah Redmi

oh Naura cantik

2024-03-09

1

kids maw

kids maw

kok udah habis padahal naira belum bahagia

2024-03-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!