TMTK - BAG 18

Gown merah berlengan panjang dengan bagian kerah depan menonjolkan belahan dada kini sudah melekat sempurna di tubuh Naira. Riasan wajah tidak terlalu mencolok. Namun, bagian mata yang dirias berkilau dengan sentuhan warna bibir yang sedikit lagi persis sama seperti warna gown yang ia kenakan cukup membuat tampilan Naira seratus delapan puluh derajat jauh berbeda dari ia yang sebelumnya.

Pangling. Tampak jauh lebih dewasa. Namun tetap menampilkan kesan cantik nan elegant tidak cukup membuat gadis muda itu nyaman. Bukan hanya perihal bibir yang tak biasa dihiasi warna terang. Tapi juga model gown yang membuat ia tidak nyaman. Terlalu ketat, serta terbuka. Sampai-sampai ia harus menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.

Tersenyum geli. Perias yang sedang menyempurnakan hasil mahakaryanya terhadap wajah cantik wanita bawaan sang tuan konglomerat itu sangat lucu melihat tingkah Naira. Terlalu lugu, polos, menggemaskan, untuk ukuran wanita yang sedang dekat dengan seorang tuan muda seperti Boy William’s.

“Ulu-ulu… kenapa kau begitu cantik, Nona,” Carlos mencubit pelan pipi gadis muda yang ada dihadapannya itu karena gemas. Bukan hanya tidak tahan dengan tingkah polos Naira. Tapi juga kecantikan Naira yang menurutnya tak manusiawi bagaikan seorang peri yang turun dari kahyangan.

“Katakan, di mana Boy menemukanmu? Aku juga ingin pergi ke tempat itu untuk memburu bidadari sepertimu,” celetuk pria gagah yang memiliki gerakan gemulai itu menggoda. Namun serius akan ucapannya.

Sayangnya Naira tidak menjawab. Atensinya tercuri dengan tampilan wajahnya. Benar-benar tidak manusiawi, sungguh cantik sekali. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari ia yang sebelumnya tidak memakai riasan apapun.

“B- bagaimana… bagaimana anda bisa melakukannya? Sosok itu terlihat begitu sempurna. Bahkan aku sampai tidak mengenalinya.” Naira menunjuk ke arah dirinya sendiri yang memantul di depan cermin. Saking excited dengan hasil mahakarya Carlos yang menurutnya sungguh luar biasa.

“Aku hanya memolesmu sedikit. Kau itu sudah cantik dari orok. Jadi apapun yang menyentuh wajahmu akan terlihat luar biasa, karena kau sungguh sangat cantik gadis muda,” kata Carlos apa adanya.

Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya. Mendekati Naira, mengabadikan momen kebersamaan mereka. Lalu mengupload ke sosial media dengan caption: Tidak ada pria yang akan menyesal menjadi pengantin prianya. Mungkin suatu saat ia yang akan Terpaksa Menikahi Tuan Konglomerat!

Kliiik!

“Selesai.” Carlos tersenyum. Ia kembali menatap Naira. “Gadisku… sekarang sudah waktunya kau menemui pangeranmu di sana. Tugasku sudah selesai. Sekarang keluarlah… aku yakin pria dingin itu akan terpana melihat kecantikanmu yang tiada tara,” tukas Carlos dengan nada gemulainya sembari membantu bangkit Naira berdiri dari kursi meja riasnya.

Di sebuah sofa yang terdapat dalam ruangan cukup besar itu terlihat Boy sedang menunggu dengan setelan rapi. Jas abu tua dengan dasi senada yang dipadankan dengan kemeja hitam tersebut terlihat begitu pas di tubuhnya.

Sangat rupawan. Lagi-lagi tak menyurutkan sedikitpun kharisma mahal dari pria itu. Malah semakin menambah ketampanannya, wibawanya, kemaskulinannya yang lagi-lagi menjadi daya tarik utama dari duda kaya tersebut.

Ceklek!

Pintu ruangan Carlos terbuka. Mencuri atensi Boy segera mengalihkan perhatiannya. Maniknya terbelalak, tak berkedip menatap ke arah Naira. Sungguh takjub dengan kecantikan gadis muda itu yang tampak sungguh memesona.

Deg!

Degupan itu terasa. Sudah cukup lama sampai membuat sang empunya bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang. Boy terpesona. Sungguh, kecantikan Naira benar-benar mencuri perhatiaannya. Buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak ingin membuat Naira besar hati karena mengetahui dirinya terpikat oleh kecantikan gadis muda tersebut.

Carlos tersenyum. Sahabatnya itu memang tidak berubah. Selalu menyembunyikan ketertarikannya pada lawan jenis, menampilkan reaksi dingin. Pantas saja disaat Lili sudah bertunangan dengan selingkuhannya Yudistira sekarang. Boy juga belum menemukan pengganti. Masih betah terus menduda, entah karena belum move on dari Lili yang begitu ia cintai. Atau mungkin karena Boy yang menutup diri?

Fitnahan Lili tentang Boy yang menyukai sesama memang cukup mengunjang kehidupan seorang Boy? Mungkin ini juga menjadi salah satu penyebab Boy menutup diri dari para gadis?

“Bagaimana, Boy? Dia sangat cantik ‘bukan? Akui saja… tidak usah malu. Toh aku yakin kau juga sangat menyukai gadis ini sehingga kau mantap membawanya ke acara pertunangan mantan istrimu itu,” ucap Carlos menggoda. Namun cukup menyentakkan hati Naira.

Mantan istri? Tunggu… tunggu. Bukankah itu berarti pria ini sudah pernah menikah, dan sekarang statusnya merupakan seorang duda?!

Naira menaikkan pandangannya. Ia menyorot ke arah Boy tajam. Mencari jawaban dari raut datar itu. Tapi sial, sia! Lagi-lagi tidak bisa ditebak. Ada banyak rahasia di sana. Apalagi?  Apalagi yang akan Naira ketahui?

“Ck, kau ini bicara apa? Justru sebaliknya dia yang terpesona denganku. Tentang membawanya ke acara Lili itu sudah seharusnya, sebagai tanggung jawabku padanya. Memperkenalkan kepada semua orang karena sebentar lagi kami akan menikah. Itu pun karena ulahnya yang sudah memberiku obat tidur, lalu naik ke atas ranjangku. Mengambil benihku hingga tertanam di rahimnya,” ucap Boy panjang lebar.

Syok. Bukan hanya Carlos yang tidak menyangka jika ternyata gadis muda yang sempat ia kira lugu itu ternyata begitu brutal. Naira pun mengalami hal yang sama. Tidak menyangka jika Boy akan menuduhnya sepicik itu untuk menyelamatkan kehormatannya.

Naik ke ranjang? Kapan? Bukankah tempo hari Boy sendiri yang membawanya tidur di atas ranjangnya? Lalu dengan tida seno noh membuka seluruh pakaiannya? Siap yang mencari keuntungan pada siapa? Kenapa Naira yang dituduh sekarang? Dasar laki-laki tidak bermoral! Munafik! Pecundang!

Sungguh Naira sangat geram. Jika saja tidak mengingat mandat sang Ayah mungkin sekarang sudah melempar mulut Boy dengan high heells nya. Memilih bungkam. Mencoba mengatur napas. Agar bisa ternetralisir dari rasa sakit hati langsung membalas dendam.

“Terimakasih. Kami harus pergi sekarang. Tentang bayaranmu sudah ditransfer oleh Aleman. Kau cek saja.” Tidak ingin berlama-lama Boy lantas langsung meraih tangan Naira. Menggenggamnya. Lalu menyeret gadis itu pergi darisana.

Sepuluh menit lagi acara pertunangan akan dimulai. Dan Boy tidak ingin telat menghadiri undangan penting dari dua orang yang sudah mengkhianatinya itu.

Bersambung.

Bonus ilustrasi gown yang dikenakan Naira.

Terpopuler

Comments

mbak i

mbak i

mulut tuan muda ini memang minta diobras ya

2024-03-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!