“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
“Kau tahu, seluruh yang ada pada dirimu sangat mempesona. Bahkan bisa membangkitkan kelelakian ‘ku hanya dengan menatap wajahmu,” ujar pria tua itu lagi sembari kembali memamerkan senyum smirknya.
Tidak boleh lama-lama. Malam kian larut, membuat tenaga lelaki tua itu kian surut. Meski sudah mengonsumsi pil penguat untuk bertempur hebat menggagahi Naira. Tetap saja pertahanan naluriahnya akan turun jika terlalu malam mengeksekusi gadis muda itu.
Melepaskan kemeja. Tidak sabar langsung menarik seketika. Memutuskan anak kancing yang terlilit, lelaki tua itu kemudian mengempaskan kain batik yang barusan membalut tubuhnya ke lantai. Sangat arogan! Atau mungkin penuh bara? Panas karena keinginannya terhadap Naira yang ingin tersegerakan.
Sayup-sayup sepasang kelopak sayu itu membuka. Perlahan, hingga lamat-lamat bisa menyaksikan sosok yang berdiri tepat di depannya. Terkejut! Langsung mengerut memundurkan tubuh ke belakang—yang sialnya terhalang dipan dari kasur yang ia tempati.
“A- apa… apa yang sedang anda lakukan?!” Terbata Naira berbicara. Ketakutan sudah pasti saat penampilan lelaki tua yang begitu ia kenal berte lan jang dada.
“Cup… cup… cup… sudah sadar rupanya.” Eddy menyunggingkan senyum manisnya. Berusaha menarik perhatian Naira—yang sayangnya malah di pandang jijik oleh gadis itu.
“U- uwak… uwak mau apa? Ke- kenapa saya di bawa ke tempat ini? Dan uwak kena,—”
“Berhenti memanggilku dengan sebutan Uwak, Naira, sayang. Panggil aku, Abang, karena sebentar lagi kau akan aku resmikan sebagai istri ke empat,” kata Eddy—membuat Naira sungguh tidak mengerti.
Dijadikan istri ke empat? Apa maksudnya ini? Naira berfikir keras. Mengingat selama ini tidak pernah ada pembicaraan apapun tentang ini semua. Ia kenal Eddy, sangat kenal malah. Lumayan terkenal di kampung tempat tinggalnya sebagai lintah darat!
Ck, yang benar saja jika Naira harus menikah dengannya!
“Ng- nggak! A- aku… aku nggak mau dijadikan istri ke empat. Apalagi harus nikah sama Uwak!” decit Naira mencengkeram kain seprei yang berada di bawahnya.
“Kenapa Naira sayang? Apa karena aku sudah tua?”
“Tenang saja. Meskipun umurku sudah tidak lagi muda. Aku masih kuat meladenimu yang masih remaja. Milikku masih sangat perkasa. Siap tempur. Apalagi jika itu dipakai untuk membobol milikmu yang masih sempurna itu.” Berbicara sembari mendekati Naira. Tanpa terasa kini pria tua itu sudah berada tepat dihadapan Naira.
Membungkuk, mendekati daksa indah milik gadis yang sudah sejak dua tahun lalu menjadi idamannya. Merentangkan kedua tangan. Ingin merekap paksa tubuh mungil yang memesona itu ke dalam dekapannya, namun gagal!
“Jangan berani sentuh, Naira, Uwak! Ingat umur! Seharusnya di usia Uwak Eddy yang sekarang, Uwak, banyak berzikir untuk menghilangkan segala dosa yang Uwak punya. Bukan bertindal ca bul seperti ini!”
Gerakan Naira begitu cepat. Langsung beringsut dari sana ketika Eddy ingin mendekap. Melempar bantal bahkan saking kesalnya. Tidak lagi memedulikan tatakrama seharusnya di depan orang yang lebih tua.
Marah? Melihat reaksi Naira yang ternyata bisa berontak itu malah membuat Eddy semakin penasaran. Kian bergairah tatkala membayangkan bagaimana panasnya nanti sang gadis setelah berhasil dimasuki oleh miliknya. Apa akan tetap seperti ini, atau sebaliknya?
Pikiran narsis Eddy mengatakan jika Naira pasti akan ketagihan jika sudah merasakan miliknya. Jual mahal di awal karena belum mengetahui bagaimana dahsyatnya surga dunia yang akan ia perlihatkan kepada gadis yang masih sangat polos itu.
“Kau benar-benar sangat seksi, Naira. Aku sangat menyukaimu. Kemarilah mendekat. Akan aku perlihatkan padamu bagaimana surga dunia yang sesungguhnya.” Eddy turun dari atas ranjang. Bergegas menghampiri Naira yang menjaga jarak dengannya. Mengejar ketika Naira menghindar. Sampai-sampai membuat gadis muda itu khilaf—melempar vas bunga yang ia ambil dari nakas tepat mengenai kepala pria tua itu.
Bugh!
Praaaanggg!
Benda yang terbuat dari kaca itu terburai di tanah usai tadi mencium dahi Eddy hingga mengeluarkan cairan merah. Kesempatan yang Naira ambil untuk segera pergi dari sana. Membuka pintu kamar mandi, segera masuk ke dalam.
“Huufftt… hufftt… huft….” Naira mengembuskan nafas panjang. Sesaat, kembali menariknya dalam. Sebelum akhirnya kembali ia hempaskan perlahan.
“Kenapa… ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Uwak Eddy melakukan hal jahat seperti ini padaku?” ucap gadis itu bertanya pada diri sendiri. Masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu Eddy yang tadi sempat jatuh ke lantai karena lemparan Naira perlahan mulai bangkit dari sana. Pelan-pelan berdiri, mendekati pintu kamar mandi dengan setumpuk amarah yang mulai menyala.
“Naira… berani-beraninya kau melakukan hal ini padaku!” geramnya. Mencoba menarik handle pintu, tapi susah dibuka. Pasti ini semua karena Naira yang mengunci dari dalam.
“Jangan main-main denganku, Naira! Cepat buka pintu ini atau kau tidak akan bisa menanggung akibatnya!” pekik Eddy kemudian. Sudah habis kesabarannya karena sikap Naira yang ternyata terlalu berani dan kasar!
Eddy mulai memutar pikiran. Jika sudah seperti ini tidak mungkin ia menyelesaikannya sendirian. Segera menelepon anak buahnya yang memang ia tugaskan berjaga di depan, untuk segera masuk dan mendobrak pintu kamar mandi tersebut.
Naira sendiri tidak tinggal diam. Mulai memutar otak ditengah ketakutannya. Lamat-lamat memperhatikan ke arah seluruh ruang kamar mandi tersebut. Mungkinkah ada celah untuknya bisa keluar dari tempat terkutuk itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
kids maw
bikin es moci😠😠😠
2024-03-09
1
Aisyatul Munawaroh
Eddy... dasar aki2 ngk tw diri 🤬
2024-02-24
1