MARELAN, 8 MEI.
Deru kendaraan terdengar begitu sesak memenuhi badan jalan. Disambut teriakan kernet angkot, anak kecil menangis karena permintaannya tidak dituruti, juga beberapa pengamen kecil yang sedang mengidung dengan suara lembut khas anak-anak.
Di ujung sana. Beberapa orang dewasa tampak berdiri di tepi seperti mengawas. Ditebak Andi jika orang-orang tersebut merupakan preman yang kerap kali memalak para pengamen kecil yang mencari nafkah di jalan.
Sungguh miris. Disaat yang lain sedang mengadu otot mencari nafkah. Orang-orang dewasa itu malah memeras jerih payah anak kecil, yang seharusnya ikut mereka lindungi?
Andi melangkah gontai. Rautnya tampak murung berkecamuk ragam pikiran yang cukup menguras tenaga. Serba salah. Seperti tidak ada jalan keluar. Tapi keputusan sudah terlanjur ia ambil tanpa meminta persetujuan dari yang bersangkutan.
Naira, tidak terbayang dibenak Andi bagaimana syoknya nanti sang putri ketika mendengar keputusan sepihak yang sudah ia ambil. Antara merasa bersalah. Sempat juga berpikir jika mungkin ini jalan Naira menuju bahagia? Bersama Boy William’s sang duda konglomerat yang juga putra semata wayang dari alamrhum sahabatnya.
“Naira. Maafkan Bapak. Tapi mungkin ini keputusan tepat yang sudah Bapak ambil agar kau bahagia,” lirih Andi menyudahi langkahnya. Menghirup udara sekitar dalam, sebelum akhirnya kembali ia hempaskan perlahan guna mendetoktifikasi ragam kecamuk kebimbangan atas keputusan yang sudah di ambilnya.
***
“Ahhhehuhe… Lastri… bisakah kau lebih cepat sayang? Aku… aku sudah tidak tahan… a-aku… aku hampir sam—” mendesau, kedua tangan Eddy kemudian meraih pinggul wanita yang ada di atasnya. Ingin membantu mengempaskan pergerakan naik turun memompa. Agar bisa segera mewujudkan ledakan yang sedikit lagi tiba.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan terdengar dari arah luar. Mencuri atensi sepasang anak manusia yang saat ini sedang memadu kasih di dalam sana.
Ruang tamu. Tempat itu menjadi saksi bisu atas kebrutalan Eddy terhadap istri ketiganya—yang siang itu menjadi sasaran keganasan Eddy melampiaskan gelombang panas yang memenuhi benaknya.
Lastri tidak punya pilihan. Mau tidak mau menuruti kebrutalan tiba-tiba dari suaminya. Menyingkirkan rasa malu. Sudah biasa. Bukan hanya pada Lastri, tapi juga kedua Kakak madunya—yang tak luput dari keinginan random Eddy yang tiba-tiba.
“Ck, kau mau ke mana, Lastri? Tugasmu belum selesai!” Eddy menghardik. Tindakan Lastri yang langsung menarik diri turun dari posisinya membuat Eddy sakit kepala. Bagaimana tidak, ibaratkan puncak yang satu jengkal lagi hampir tercapai. Tiba-tiba saja harus terhempas ke bawah hanya karena sebuah ketukan.
“Di- diluar ada tamu, Bang. A- aku… aku harus segera membuka pintu.” Lastri menunduk. Tangannya menarik daster yang tersingkap turun ke bawah. Tidak berani menatap wajah Eddy yang sekarang sedang marah. Takut kena murka.
“Tamu! Tamu! Tamu! Memangnya siapa sih yang bertamu siang-siang seperti ini?! mengganggu istirahat orang saja!”
Takut akan sosok Eddy yang sudah seperti kesetanan karena keinginannya gagal terpenuhi. Lastri segera menyanggul rambutnya, berlari menuju ke arah pintu depan membuka.
Maniknya disambut oleh seorang pengrajin desanya yang begitu ia kenal. Andi berdiri dengan sebuah amplop coklat ditangannya. Cukup terkejut melihat sosok Lastri yang sangat berantakan. Pucat, serta beberapa tanda merah hasil dari mahakarya Eddy yang memenuhi bagian leher juga atas dadanya.
“Eh, Pak Andi? S- silahkan masuk, Pak. Bang Eddy ada di dalam,” kata Lastri kikuk. Berusaha memperbaiki dasternya, sedikit mengangkat bagian kerah ke atas. Guna menutupi hasil perbuatan suaminya yang sama sekali tidak tahu tempat.
Andi mengangguk. Ingin melangkah kaki maju semakin mendekati pintu. Beranjak masuk ke dalam saat Lastri sudah memberikannya akses. Tapi,- “ada apa kau siang-siang datang ke rumahku, hah?!”
Tiba-tiba saja Eddy berkacak pinggang menutup akses antara pintu menuju bagian dalam. Menatap nyalak ke arah Andi sembari memperbaiki sarungnya.
Otomatis pergerakan Andi terhenti. Ia yang jaraknya hanya dua centi dari wajah Eddy lantas langsung mengangkat amplop coklat di tangannya, membuat pria tua gatal penuh nafsu semakin membuka lebar matanya.
“Hutangku.” Andi berkata dengan wajah datar. Lalu menurunkan amplop coklat tersebut, menyerahkan ke tangan Eddy. “Dua puluh lima juta. Pluss bunga-bunganya. Sekarang urusan kita sudah selesai, jangan lagi kau ganggu keluargaku, terutama putriku. Jika kau masih nekat, maka tanggung sendiri akibatnya. Aku memang seseorang yang tidak memiliki harta. Tapi aku bukan pecundang!” lontar Andi penuh penegasan jika ia tidak akan tinggal diam jika Eddy masih mengganggu putrinya—Naira.
Tersenyum smirk. Dahi Eddy mengerut dalam. Antara kecewa, kesal karena tidak bisa memiliki Naira. Sekaligus penasaran darimana uang sebanyak itu bisa Andi dapatkan?
“Uang darimana ini? Apa kau menjual putrimu kepada orang yang lebih berada? Kau itu miskin Andi, jadi jangan belagu! Mendapatkan seratus ribu saja kau sangat sulit, apalagi uang sebanyak ini. Mustahil jika kau tidak mengorbankan apapun!”desis Eddy meremehkan.
Sungguh, kalimat Eddy barusan membuat energi Andi benar-benar terkuras. Ia harus berperang dengan batinnya, kesabarannya, egonya ingin sekali menghajar, memberi pelajaran terhadap mulut Eddy, tapi harus menahan.
Masalah hutang piutang telah selesai. Andi tidak ingin masalah baru lain datang. Cukup ia pikirkan sekarang bagaimana caranya meyakinkan Naira, agar mau menikah dengan Boy sebagai timbal balas dari apa yang telah laki-laki itu berikan.
Andi menoleh. Sorot matanya tajam menunjukkan ketidaksenangannya. Hanya beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dengan kepalan tangan yang sudah mengeras. “Jika pun menjual. Setidaknya aku menjual putriku kepada orang yang tepat. Bukan kepada pria keparat yang sudah bau tanah sepertimu!” ucap Andi kemudian sebelum akhirnya benar-benar pergi darisana.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments