TMTK - BAG 7

“Aku nggak boleh tertangkap! Ya, aku nggak boleh tertangkap! Sekarang juga aku harus kabur. Aku harus bisa melarikan diri dari orang-orang jahat itu!” gumam Naira.

 Langkah seribu. Tentu langsung di ambil oleh gadis muda itu untuk menyelamatkan dirinya. Secepat kilat meninggalkan halaman hotel melati itu, keluar menuju badan jalan. Segera ia menyeberang guna menyelamatkan diri dari kejaran kedua pria bertubuh kekar itu—yang saat ini tampak sedang menyusuri halaman hotel tersebut.

Naira memalingkan muka, tepat setelah ia sampai di sisi jalan. Memeriksa keberadaan kedua anak buah Eddy tersebut, apakah masih berada di sana?

Sialnya tepat ketika Naira menatap ke arah mereka—kedua orang itu juga sedang menatap Naira. Membuat gadis muda itu kalang kabut, cukup terkejut, lalu bergegas pergi dari sana.

“Mam pus!” reflek Naira berseru. Jantungnya dag dig dug berdetak dua kali lebih cepat saat melihat kedua orang suruhan Eddy itu sudah mengetahui keberadaannya.

Keamanannya kembali terancam. Lari, sepertinya bukanlah suatu pilihan. Gadis itu harus mencari jalan keluar lain agar tidak kembali tertangkap oleh kedua anak buah Eddy tersebut.

“Sembunyi. Sembunyi! Aku harus segera mencari tempat persembunyian jika tidak ingin tertangkap oleh mereka!” desah Naira sembari melihat ke arah sekitar.

Naira kemudian mengulas senyum tatkala ia melihat mobil terparkir di depan sebuah mini market dengan pintu tengah terbuka. Tidak membuang waktu langsung menuju ke arah mobil tersebut dan masuk ke dalam.

Ditutupnya pintu mobil itu. Naira kemudian merangsek ke jok belakang mobil tersebut. Melihat ke arah belakang—yang ternyata kedua anak buah Eddy sudah sampai di sana!

“Sial! Ke mana gadis itu? Larinya begitu cepat dan tiba-tiba saja bisa menghilang!” dengkus Bujang—anak buah Eddy yang ikut dalam pencarian Naira.

“Sepertinya gadis itu bersembunyi di daerah sekitar sini. Nggak masuk akal kalau dia tiba-tiba bisa menghilang. Kakinya kecil, langkahnya tidak seperti kita. Jika pun ia lari cepat, pasti masih bisa kita kejar,” imbuh anak buah Eddy satunya. Merasa curiga jika Naira pasti sedang mengelabui mereka dengan bersembunyi.

Celingak-celinguk. Kecurigaan akhirnya orang-orang itu limpahkan kepada bangunan mini market tersebut. Bergerak masuk ke dalam, dengan harapan menemukan Naira di sana. Tapi sepertinya hal itu sia, karena sesaat kemudian Naira melihat kedua orang itu keluar tepat saat Naira ingin membuka pintu keluar dari mobil itu.

Gerakan tangan Naira terhenti. Gadis muda itu menunduk. Pelan-pelan kembali merangsek ke jok belakang guna mengantisipasi jika orang-orang tersebut curiga terhadap mobil yang menjadi tempat persembunyiannya.

Benar saja sesaat setelah Naira berhasil merangsek ke belakang. Ia mengintip dari kaca jendela. Dilihatnya anak buah Eddy sedang menuju ke arah mobil yang menjadi tempat persembunyiannya.

Dan—Braakk!!

Naira menringit kecil tatkala ia melihat salah satu dari anak buah Eddy dibenturkan kepalanya pada body mobil tersebut. Otomatis membuat keadaan dalam mobil seperti gempa—yang mana cukup membuat syok seorang Naira.

Belum habis perasaan terkejutnya. Sepasang netra Naira kembali dipertontonkan dengan aksi yang lagi-lagi sama sekali tidak ada dalam pikirannya. Kedua anak buah Eddy yang memiliki porsi badan tinggi tegap itu dalam seketika langsung ambruk ke tanah, oleh seorang pria yang memiliki bentuk badan yang tak jauh dari mereka—tapi lebih proposional.

“Siapa laki-laki itu?” Naira bergumam. Bertanya pada diri sendiri tentang sosok tersebut. Namun, belum lagi pertanyaan itu terjawab tiba-tiba saja seorang pria lain datang menghampiri pria yang barusan barusaja usai mengatasi kedua anak buah Eddy itu.

Tinggi dan tampan! Kalimat itu yang pertama kali tercetus di benak Naira. Juga jauh lebih berkharisma dari lelaki sebelumnya. Sementara dari bentuk badan, pria itu juga lebih maskulin dari lelaki yang tadi menghajar kedua anak buah Eddy. Memiliki rahang yang tampak kokoh, didukung dengan struktur wajah yang sangat tegas!

 Kedua orang itu tampak berbicara. Penasaran, Naira ingin mendengar. Mencoba menempelkan telinga pada kaca jendela, namun—

Slap!

Pintu mobil tiba-tiba saja terbuka. Membuat Naira yang terkejut langsung meniarapkan diri di bawah sana. Lagi, jantungnya berdegup kencang. Bahkan tiga kali lipat dari saat tadi ia dikejar oleh anak buah Eddy.

Memegang dada. Naira mencoba mengontrol pernapasan. Mengatupkan setengah hidung dengan kedua tangan, takut jika embusan nafasnya sampai terdengar oleh sosok pria matang yang saat ini sudah mendudukkan bokongnya di jok tengah!

‘Mati aku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin ‘kan tiba-tiba aku keluar sementara orang-orang itu masih ada di sana?’ batin gadis muda itu.

Tidak! Keluar berarti sama saja menyerahkan diri pada kedua anak buah Eddy yang masih berada di sana. Naira tidak ingin tertangkap. Ia tidak ingin kembali dibawa masuk ke dalam kamar hotel melati itu. Keputusannya sudah bulat, ia harus tetap di tempat itu. Apapun yang terjadi, meski hawa takut menghampiri. Tapi jujur dengan menampakkan diri juga bukan sebuah solusi.

Alhasil sampai akhirnya mobil itu mulai bergerak keluar dari halaman mini market tersebut, Naira terus dalam posisinya tiarap dengan posisi badan menelungkup, agak sedikit menyamping sembari terus menangkupkan setengah hidung dengan kedua tangannya.

Bersambung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!