Di ruang persidangan sedang di lakukan bacaan dakwaan untuk Herman.
"Baiklah silakan di bacakan saudara Jaksa Penuntut Umum" ucap seorang Hakim.
Surat dakwaan terhadap Herman di bacakan terperinci oleh Jaksa Penuntut Umum. Sedangkan Herman hanya pasrah mendengarkan.
"Baik saudara terdakwa, apakah saudara terdakwa mengerti dengan dakwaan yang di bacakan Jaksa Penuntut Umum?" tanya Hakim ketua.
"Saya mengerti Pak Hakim" jawab Herman.
JPU kembali bertanya pada Herman yang duduk di samping kuasa hukumnya di hadapan Hakim. "Apa benar saudara mendorong korban Ratna dengan sengaja?"
"Benar saya mendorongnya, tapi itu tidak di sengaja" jawab Herman.
"Bohong! Dia pasti sengaja membunuh ibu saya yang mulia!" suara keras dari bangku belakang, dimana itu adalah Rachel, putri kandung Ratna. Dia tidak terima dengan pengakuan Herman.
Suara gaduh terdengar dari orang-orang yang menyaksikan persidangan.
"Mohon tenang, ini ruang persidangan" ucap Hakim.
"Bagaimana kuasa hukum? Tanya Hakim pada kuasa hukum Herman yang bernama Ihsan.
"Seperti yang di sampaikan klien saya, bahwa klien saya tidak sengaja mendorong korban. Maka dari itu kami dari Kuasa Hukum Terdakwa akan melakukan eksepsi. Dan kami meminta satu minggu untuk menyelesaikannya.
"Kami menolak yan mulia, kami akan memberikan 3 hari pada kuasa hukum Terdakwa untuk membuat surat eksepsi" saut JPU.
Baiklah yang mulia, kami akan membuat surat eksepsi dalam waktu 3 hari" Ihsan menerima usulan dari JPU.
"Baiklah. Maka sidang perdana hari ini akan di tunda sampai 3 hari mendatang." Hakim pun menyetujuinya.
Sebelum keluar dari ruang persidangan, Mona langsung menemui ayahnya yang akan di bawa kembali ke sel. "Ayah."
"Mona" saut Herman yang nampak lesu.
"Ayah baik-baik saja kan di dalam sana?" sambil menggenggam tangan ayahnya yang di borgol.
"Kamu jangan khawatir, Ayah baik-baik saja" ucap Herman sambil tersenyum lirih. Beberapa minggu di dalam sel penjara, membuat Herman sangat merindukan anak-anaknya. Ada rasa penyesalan yang mengusik hatinya, karena merasa dirinya menjadi ayah yang gagal untuk putra putrinya.
"Maaf mbk, kami harus membawa tahanan. kembali" ucap seorang petugas. Lalu Herman di bawa kembali ke ruang pesakitan.
Tak sanggup hatinya menyaksikan ayahnya yang kembali di bawa ke tahanan. Dia terduduk lesu dengan menahan air mata yang ingin menetes.
"Mbak Mona" suara Ihsan yang menyadarkannya. "Bisa saya bicara sebentar" lanjutnya.
"Iya, bisa pak."
Akhirnya Ihsan mengajak kliennya itu ke sebuah kafe untuk membicarakan hal penting mengenai kelanjutan persidangan ayahnya. Terlihat dia sedang berbicara dengan kuasa hukum ayahnya dengan raut wajah serius.
"Pak, bagaimana persidangan selanjutnya?" tanya Mona.
"Ini cukup sulit Mbak Mona, karena semua bukti mengarah pada ayah anda semua, sedangkan saksi yang kita punya hanya adik anda" ucap Ihsan sambil memijit pelipisnya, yang pikiranya bingung.
"Lalu apakah ayah saya akan di penjara dalam waktu lama?" ucap Mona tertunduk lesu.
"Saya akan usahakan mencari bukti baru yang bisa membantah dakwaan itu, tapi yang terpenting adik anda harus menjadi saksi di persidangan berikutnya" jelas Ihsan.
"Ta-tapi adik saya masih kesulitan berbicara" ucap Mona dengan raut wajah tak tenang.
Kejadian berdarah yang di saksikan Adi waktu itu membuat bocah tersebut kesulitan berbicara, bukan karena dia bisu, tapi bocah itu mengalami trauma hebat yang membuatnya enggan berbicara pada siapapun. Bahkan saat di mintai keterangan kepolisian saat kejadian itu, Adi hanya menangis dan tetap dalam kediamannya.
Ihsan hanya menghela nafasnya. Dia pun juga bingung. Karena segala bukti yang meringankan kliennya sangat minim.
"Mbak Mona, cobalah bicara pada adik anda sekali lagi. Karena adik anda bisa menjadi saksi kunci kita." pengacara itu mencoba menyakinkan Mona.
Mona terlihat berpikir keras dengan apa yang di sarankan oleh Ihsan, karena dia masih ragu. Mengingat kondisi adiknya yang masih sulit berkomunikasi dengan orang lain, serta masih takutnya dia bertemu dengan khayalak ramai, rasanya sulit untuk menghadirkan Adi sebagai saksi di persidangan ayahnya.
Tapi bagaimanapun dia harus berusaha membebaskan ayahnya dari segala tuduhan. Dengan suara yang berat dia menyanggupi saran dari kuasa hukum ayahnya itu. "Baiklah, akan saya coba" ucap Mona.
...----------------...
Sedangkan di rumah saat ini Adi di temani Siti, istri Ujang. Beberapa hari ini, Mona meminta bantuan pada keluarga Ujang untuk menjaga adiknya setiap dia tak ada di rumah. Karena kondisi anak itu yang masih takut berada di rumahnya sendiri.
Namun karena ada suatu hal yang harus Siti kerjakan, dia terpaksa meninggalkan Adi sebentar.
"Adi kamu tunggu di rumah? ibu keluar sebentar." ucap Siti pada Adi yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca komik miliknya.
Seperti biasa, Adi hanya menganggukkan kepalanya, tanpa berkata sepatah kata pun.
Siti pun meninggalkan Adi sendiri.
Ding dong ding dong.....
Suara bel rumahnya yang berbunyi tak lama setelah Siti pergi. Segera adik Mona itu membuka pintu itu.
Dan nampak seorang pria dewasa yang asing bagi Adi. Dan pria itu adalah Didit, kekasih gelap mendiang Ratna.
Dengan cepat lengannya di cengkram oleh pria yang tidak di kenalnya itu. "Le-lepaskan aku" Adi yang memberontak, berusaha melepaskan cengkraman Didit.
"Diam kau bocah!" menarik paksa Adi, lalu mendorong kasar anak itu di sofa ruang tamu.
"Dengarkan aku" sambil mencengkram wajah Adi. "Jika nanti kau jadi saksi, bilang pada semua orang bahwa Ayahmu sengaja mendorong Ratna." Ancam Didit sambil matanya mendelik ke arah Adi.
Sudah pasti perbuatan Didit itu membuat bocah malang itu ketakutan. Terlihat tubuhnya gemetaran dengan mata mengembun ingin menangis.
Lalu pria tak di undang itu melepas cengkeramannya kasar. "Jika kau tida turuti ucapanku, aku akan membuat Ayah dan Kakakmu sama nasibnya seperti wanita yang mati di rumahmu ini." ancam Didit lagi sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Jawab! Jangan hanya menangis!" Teriak Didit.
Sudah pasti ancaman Didit membuat Adi tak bisa menolak perintah pria tersebut. "I-iya" ucapnya dengan suara bergetar.
"Bagus, kau memang anak pintar" ucap Didit sambil menyunggingkan bibir. Segera Didit meninggalkan rumah itu setelah apa yang di lakukan terhadap putra Herman itu.
Dengan mengendarai mobilnya, dia menuju suatu tempat untuk menenangkan pikirannya yang sumpek.
"Sial, kenapa wanita itu malah mati. Gagal sudah aku mendapatkan surat itu" ucap Didit yang saat ini sedang duduk di kursi taman kota sambil menghisap sebatang rokoknya.
"Tapi aku puas dia membusuk di penjara." Ucapnya lagi dengan senyum menyeringai.
Entah kebencian sebesar apa Didit pada Herman, hingga dia begitu bahagia dengan penderitaan mantan rekannya itu.
Benar saja Herman dan Didit dulunya berkawan baik. Tapi sifat iri dan tamaknya membuat dirinya tega menipu temannya sendiri. Kebangkrutan usaha Herman tak lepas dari campur tangannya, yang menjebak ayah Mona untuk menginvestasikan sejumlah uangnya ke perusahaan fiktif yang di buatnya. Alhasil kehidupan keluarga herman yang dulunya berkecukupan kini menjadi serba kekurangan.
"
"
Mona kini baru sampai ke rumahnya. Begitu jelas wajah kelelahan Nya akibat segala permasalahan yang menimpa keluarganya.
"Adi" suara Mona memanggil adiknya itu. "Adi."
"Mona!" suara Siti dari lantai atas yang nampak cemas.
Mona yang merasakan ada yang tak beres, langsung menuju ke lantai atas. "Ada apa Bu Siti?"
"Adi" nafas Siti yang tak karuan karena panik. "Adi tadi menangis histeris."
"Apa?!" Sudah pasti Mona kaget. Lekas dia masuk ke kamar miliknya, dan terlihat Adi yang sedang menyelimuti tubuhnya.
"Adi, apa yang terjadi pada mu, Dek?" tanya Mona sambil mendekati tempatnya tidur. Jelas pertanyaan Mona tak di jawab Adi, karena anak itu saat ini dalam ancaman Didit, yang tidak di ketahui orang lain.
Mona meremas rambutnya sendiri, "Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Adi. Kenapa semua ini terlihat tak wajar?" batin Mona.
"Bu Siti, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mona kembali.
"Ibu juga bingung Mbak, tadi ibu meninggalkannya sebentar, lalu pas ibu balik, Adi sudah seperti ini" jelas Siti.
Mona memijat kepalanya yang terasa sakit, setelah mendengar penjelasan Siti. "Bu Siti, ibu pulang saja dulu. Terimakasih sudah menjaga Adi hari ini."
"Ya, sama-sama Mbak. Saya pamit dulu." Siti lekas meninggalkan mereka.
Sedang Mona menatap sedih keadaan adiknya yang dulunya di kenal ceria penuh semangat itu, kini nampak terpuruk dalam rasa traumanya yang tak berkesudahan.
"Tuhan, tolong aku." Mona membatin dalam doanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
oh ternyata si Didit yang uda membuat ayah Mona bangkrut, jangan" dia dari dulu uda selingkuh sama si Ratna
2024-07-14
0