Adi yang mulai ketakutan, langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Dia mengunci kamarnya. Sudah pasti Ratna menyusul bocah tersebut.
Suara dobrakan pintu yang yang menambah ketegangan di rumah itu. "Adi keluar kau! Dasar bocah tengik." Teriak Ratna yang mengamuk.
"Tidak mau! Tante pergi saja dari sini!"
"Jangan menguji kesabaranku, dasar bocah sialan!"
Adi semakin ketakutan mendengar teriakan dan makian Ratna. Bocah itu tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan untuk melarikan diri dia kesulitan, karena berada di lantai atas.
Tiba-tiba suara Ratna sudah tidak terdengar lagi, entah dimana wanita itu saat ini. Adi yang penasaran mendekati pintu perlahan dengan tubuh gemetar. Dia meletakkan telinganya di daun pintu tersebut. Sejenak suasana hening dan sepi. Dia tidak mendengar apapun di luar.
Tiba-tiba suara dobrakan itu muncul kembali. Dan ternyata Ratna mencoba menghancurkan gagang pintu itu dengan martil yang di ambilnya dari gudang.
Dentangan suara martil yang di pukulkan ke gagang pintu, terdengar sangat keras. Membuat Adi langsung melangkah mundur dengan rasa takut yang semakin menguasainya.
Dan akhirnya pintu itu terbuka setelah Ratna berhasil menjebol gagang pintu tersebut.
"Kemana lagi kamu akan kabur, Adi?" Ratna yang berhasil masuk sambil membawa sebuah martil di tangannya. "Cepat serahkan surat itu, atau aku habisi kau" ancam Ratna sambil mengayunkan martil tersebut.
Adi menelan salivanya sambil memeluk erat surat tersebut. "Ti-tidak mau, i-ini milik keluargaku!" ucapnya dengan suara bergetar. Nampak jelas ketakutan Adi saat ini.
Ratna perlahan mendekat. "Dasar bocah keras kepala! Berikan surat itu padaku!" perintahnya.
Ratna seperti wanita kehilangan akal, tanpa basa-basi dia mencoba menyerang Adi yang hanya seorang anak yang masih berumur 12 tahun. Entah setan apa yang merasuki wanita licik itu, beberapa kali dia menyerang Adi dengan martil yang di bawanya, namun Adi bisa menghindar.
Prang, brak, prang....
Beberapa kali suara keras yang terdengar dari benda-benda di sekitar kamar yang hancur karena serangan membabi buta wanita itu. Nampak kamar Adi yang kacau berantakan. Wanita itu benar-benar ingin menghabisi putra Herman.
Ratna dengan cepat mengarahkan martil itu ke kepala Adi, namun beruntungnya, bocah itu dengan cepat menghindarinya. Dengan spontan Adi mendorong Ratna dengan sekuat tenaga, dan naas Nya, Ratna terlempar ke arah jendela sampai dia pun jatuh ke dasar, dengan kepala yang membentur batu, yang membuatnya tewas di tempat.
Adi yang menyaksikan itu langsung terduduk lemas, dengan tubuh yang gemetar.
"
"
Gedebug....
Suara benda jatuh yang terdengar oleh Herman yang baru pulang dari kerjanya. Segera dia mencari sumber suara tersebut. Bak di sambar petir dirinya saat melihat tubuh manusia yang bersimbah darah di halaman rumahnya.
Perlahan Herman mendekati tubuh itu dengan posisi tertelungkup. "Ratna?!" Begitu kagetnya Herman sambil meremas rambutnya sendiri. Ternyata benda yang jatuh itu adalah tubuh mantan istrinya. Rasa takut dan cemas di rasakan Herman saat ini. Terlebih posisi jatuhnya Ratna tepat di bawah kamar putranya, Adi.
Lekas Herman berlari masuk ke dalam rumahnya. "Adi! Adi! Dimana kamu nak?!" teriak Herman memanggil putranya.
Sudah pasti tempat pertama yang di tuju adalah kamar putranya. Herman begitu kaget dengan kondisi kamar putranya yang berantakan. Terlihat Adi yang kini hanya diam mematung dengan tatapan kosong menatap ke arah jendela.
"Adi" Herman mendekati putranya dan langsung memeluknya. "Adi apa yang sebenarnya terjadi nak?"
Tangisan bocah usia 12 tahun itu pun pecah. "Ayah, a-aku tidak sengaja me-melakukannya, A-adi tidak sengaja me-mendorong tante Ratna" ucap Adi menangis histeris.
"A-apa maksud mu nak? Kamu mendorongnya?" Herman yang sangat terkejut dengan pengakuan putranya itu.
"A-aku tidak sengaja Ayah, A-adi tidak mau masuk penjara, to-tolong Adi Ayah" Terlihat Adi yang begitu ketakutan.
"Jelaskan pada Ayah apa yang sebenarnya terjadi?"
Adi pada akhirnya menceritakan semua yang telah terjadi dengan suara terbata-bata pada ayahnya. Bagaimana dia bisa mendorong Ratna. Herman yang mendengar cerita putranya itu hanya bisa membisu dengan mata mengembun ingin menangis.
Herman memeluk erat Adi. "Dengarkan Ayah nak? Kamu tidak bersalah. Kamu tidak akan masuk penjara, percaya pada Ayah" ucap Herman menguatkan putranya yang ketakutan dalam pelukannya.
Herman melepas pelukannya, dan menatap Adi dengan tatapan yang sangat dalam. "Adi, bisakah Adi membantu Ayah."
Adi menganggukan kepalanya.
"Adi telepon polisi sekarang, dan beritahu pada polisi bahwa Ayah yang melakukan ini semua." perintah Herman.
Adi menangis sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak Ayah."
"Adi, bukankah kamu ingin menjadi pengacara?" tanya Herman sambil menangkup wajah putranya dengan kedua tangannya.
Adi menganggukan kepalanya lagi sambil menangis.
"Maka dari itu turuti semua perkataan Ayah, dan berjanjilah, Adi harus merahasiakan kejadian ini yang sebenarnya" ucap Herman menyakinkan bocah tersebut.
"Tapi kenapa Ayah harus melakukan ini?"
"Dengarkan nak? Jika kamu di penjara, kamu tidak akan bisa jadi pengacara"
Begitulah ucapan Herman pada putranya. Karena rasa paniknya, Ayah Mona bertindak sendiri dengan caranya sendiri, yaitu dengan mengorbankan kebebasannya demi putranya.
Anak yang polos itu menuruti semua perkataan ayahnya, dengan menghubungi pihak kepolisian. Sedangkan Herman merekayasa kejadian tersebut dengan menghilangkan bukti-bukti keterlibatan putranya. Dan membuat bukti palsu seolah dirinya adalah pelakunya.
"
"
Wiuwiuwiuw....
Suara mobil sirine polisi yang sudah sampai di kediaman Herman.
"Cepat amankan!" perintah seorang polisi, yang bernama Toni, yang tidak lain adalah Ayah dari teman Adi, yaitu Kevin.
Beberapa polisi masuk ke dalam rumah dan memeriksanya. Terlihat Adi yang tengah duduk terdiam di ruang tamu. Anak itu langsung di amankan pihak kepolisian, yang selanjutnya di bawah ke rumah sakit, karena ada beberapa luka lebam di tubuhnya.
Selanjutnya anggota lain menelusuri setiap ruangan dan menemukan Herman berada di kamar putranya tengah duduk di tepi ranjang sambil membawa martil.
"Angkat tangan!" perintah salah satu anggota polisi dengan suara lantang, sambil menodongkan pistol ke arah Herman.
Sedangkan polisi lain menyergap Herman dan memborgol tangannya. "Anda kami tangkap!" suara lantang anggota polisi.
Sedangkan di luar sekitar rumah Herman, sudah ramai tetangga kanan kiri yang menyaksikan kejadian tersebut. Salah satunya adalah Kang Ujang. Pria itu langsung menghubungi Mona.
"Halo"
"Mbak Mona, ini Kang ujang."
"Ada apa Kang?
"Mbak, Pak Herman di-di tangkap polisi" suara Ujang yang terdengar gugup.
"Apa maksud Kang Ujang, Ayah di tangkap polisi?" Begitu terkejut Mona, mendapat kabar tersebut.
"Iya Mbak, Mbak Mona pulang saja dulu"
Kemudian sambungan telepon terputus.
Tanpa membuang waktu Mona bergegas menyudahi pekerjaannya. "Res, maaf ya, aku harus pulang sekarang"
"Loh, ada apa?" tanya Resti.
"Nanti aku jelaskan, kalau ada yang menanyakan ku, bilang saja aku sakit."
Dengan segera Mona menaiki motor menuju rumahnya. Dalam perjalanan, wanita itu terlihat cemas, dia tidak mengerti kenapa polisi mendatangi rumahnya.
"Ya Tuhan....kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini?" batin Mona.
Dia melajukan motornya dengan cepat. Sampailah dia di rumahnya yang sudah terlihat kerumunan warga di sana.
"Minggir! Awas!" Mona membelah kerumunan warga yang berkerumun di depan rumahnya.
"Ayah!" suara Mona memanggil Herman yang sudah dalam posisi tangan di borgol.
Herman yang melihat kehadiran Mona, hanya bisa diam tak berani menatap putrinya itu.
"Pak, kenapa Ayah saya di tangkap, apa salah Ayah saya?" Mona meminta penjelasan kepada seorang polisi yang membawa ayahnya.
"Ayah anda di duga melakukan pembunuhan" jawab anggota polisi.
"Apa?! tidak mungkin" Mona membekap mulutnya sendiri karena syok, mendengar ucapan polisi tersebut.
Mona bertanya kembali pada salah seorang polisi yang dia kenal. "Pak Toni, apa benar begitu?" tanya Mona sambil menggigit kuku ibu jarinya. Nampak kecemasan di raut wajahnya.
"Tenanglah Mona, semua akan di jelaskan di kantor polisi" jawab Toni mencoba menenangkan.
"Tidak mungkin" gumam Mona dengan air matanya yang luruh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
nanti kebenaran akan terungkap dari boneka cctv milik si Kevin yah,,,
2024-07-14
0