Pertemuan yang kebetulan, mungkin itu kata yang tepat saat ini untuk keduanya.
Mona begitu terkejut dengan sosok pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria yang sempat membuatnya menunggu tidak jelas di depan unit penthouse. Siapa lagi kalau bukan Abraham Reno Winata.
Reno sendiri juga cukup terkejut, namun bukan Reno namanya kalau dia memasang wajah panik. Pria itu tetap tenang dengan wajah tampannya.
Pria itu kemudian menyingkirkan motor yang menimpa wanita yang di serempet nya itu.
"Hei! Jangan di banting, nanti motorku rusak!" ucap Mona jengkel. Bukan tanpa alasan Mona mengkhawatirkan motor kesayangannya itu, mengingat motornya lah yang berperan penting untuk mengantarnya membawa pesanan pizza ke para pelanggan nya.
Namun perkataan Mona di salah pahami oleh Reno. Melihat Mona yang lebih mementingkan motornya dari pada dirinya sendiri, membuat dia berfikir wanita yang di tolongnya saat ini adalah wanita matre.
Reno kemudian menggendong Mona, namun tak segera menuju mobil. Pria itu menatap dalam wanita yang di gendongnya itu, lalu berkata, "menyusahkan" sambil menginjak motor Mona, sampai spion motornya remuk.
"Apa yang kau katakan?! Dasar kau pria sombong!" Maki Mona sambil menatap tajam Reno tanpa rasa takut.
Reno mengacuhkan makian Mona, lalu melangkah menuju mobilnya. Dengan pelan dia mendudukkan wanita itu di jok mobil mewahnya, di susul dirinya masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya.
Sampailah Reno di tempat yang di tuju, tapi bukan di rumah sakit atau klinik, melainkan di gedung apartemen di mana penthouse miliknya berada.
Reno segera masuk ke dalam lift khusus yang di peruntukkan bagi penghuni penthouse, dengan membawa Mona dalam gendongannya.
"Apa kau tidak tahu jalan menuju rumah sakit?! Kenapa aku malah di bawa kesini?!" gerutu Mona sambil memicingkan matanya ke arah Reno.
"Diam!" perintah Reno, karena ocehan Mona membuat kepalanya mulai pusing.
"Aku tidak mau! Turunkan aku!"
Tanpa berpikir panjang Reno langsung menurunkan tubuh Mona dengan posisi duduk, lalu melangkah meninggalkannya di lorong penthouse.
"Hei! Apa kau sudah gila membiarkanku sendiri di sini! Antarkan aku dulu ke rumah sakit! Kau harus tanggung jawab Reno!" teriak Mona.
Seketika Reno menghentikan langkahnya. Dia mengepalkan kedua tanganya menahan marah, mendengar namanya di sebut dengan bernada tinggi oleh seorang wanita yang ingin di tolongnya itu.
Dengan cepat dia berbalik melangkah menuju wanita itu. Mona yang bisa merasakan aura kemarahan dari sang pengacara itu menelan salivanya. Pikirannya mulai di kuasai hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi setelah ini.
"Te-tetap di sana! Jangan mendekat! Aku akan ke rumah sakit sendiri" ucap Mona yang ketakutan. Dia bisa melihat raut wajah kesal dari sang pengacara.
Seketika Reno menghentikan langkahnya.
Mona yang melihat itu langsung menghela nafasnya lega. Seperti dia baru lolos dari maut.
Namun tiba-tiba Reno melangkahkan kakinya kembali, bahkan lebih lebar dan cepat.
Mona kembali di rundung ketakutan, bahkan dia sampai memejamkan matanya sambil berdoa. "Tuhan, tolong aku, adikku masih kecil, dan ayahku masih membutuhkanku" batin Mona sambil memejamkan matanya.
Lalu tiba-tiba tubuhnya seperti terangkat, dan dia langsung membuka matanya. Sudah pasti dia dapat melihat wajah pria tampan itu sangat dekat, yang sedang menggendongnya lagi.
Sampailah Reno di depan pintu, lalu menekan tombol yang berisi beberapa angka dan terbukalah pintu itu. Segera Reno mendudukkan wanita yang di gendongnya sedikit kasar.
"Aww! Pekik Mona yang kesakitan. "Apa kau tidak bisa lakukan dengan pelan?!" Mona mengerutkan dahinya merasa kesal.
Pasti lah dia kesal, seorang pria yang dia kenal sebagai pengacara hebat dengan segala kredibilitas yang sangat baik, di tambah pesona ketampanannya, ternyata hanyalah topeng semata di layar kaca dan media. Namun yang dia lihat langsung malah kebalikannya. Pria yang angkuh yang paling tidak di sukai Mona.
Tentu Reno tetap acuh dengan rintihan Mona, apalagi ocehannya.
"Dasar pria sombong! Kenapa juga aku dulu mengaguminya" gumam Mona.
Namun disaat yang bersamaan, matanya tak bisa mengalihkan pandangannya ke sekeliling penthouse yang terlihat besar dan luas dengan segala kemewahannya.
Sebuah unit penthouse berlantai dua dengan furniture mewah dan mahal di dalamnya.
"Apa pria sombong itu tinggal di penthouse sebesar ini seorang diri?" batin Mona, yang nampak takjub dengan pemandangan yang dilihatnya sat ini.
Tak lama kemudian Reno kembali dengan membawa kotak P3K. Dia langsung mengobati kaki Mona yang terluka. Sudah pasti posisi Reno di bawah Mona, yang membuat wanita itu sedikit canggung.
"Ssss" Mona merintih kesakitan karena lutut dan sikunya berdarah, di tambah kaki kirinya yang terkilir. "Aduh sakit!" pekik Mona yang menahan perih di bagian kakinya.
"Bisakah anda melakukannya dengan pelan?" pinta Mona dengan rasa perih yang dia rasakan.
Reno langsung mendongakkan kepalanya, menatap dingin wanita yang di tolongnya itu. Sudah pasti Mona menelan salivanya ketika mendapatkan tatapan tajam tersebut. Tatapan buas yang siap menerkamnya bila salah berucap.
Mona masih menahan rasa sakit pada lukanya yang sedang di obati Reno.
Ping....
Suara pesan dari ponsel Reno. Kemudian pria itu meraih ponsel di atas nakas dan membaca pesan tersebut. Setelah itu dia beranjak dari kegiatannya menuju pintu.
Ceklek....
Suara pintu terbuka, dan nampak sosok pria tampan dengan setelan kemeja abu-abu, membawa sebuah tas jinjing. Dialah Sebastian yang biasa di panggil Bastian, dokter pribadi Reno sekaligus sahabatnya. Pria dengan perawakan kalem dan memiliki sifat penyabar ini adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit swasta terkenal bertaraf internasional milik keluarga Erlangga. Rumah sakit milik keluarga ibu tiri Reno.
"Siapa yang sakit?" ucap pria itu sambil menepuk bahu Reno.
"Dia" jawab Reno singkat, sambil menatap Mona yang sedang duduk di sofa ruang utama.
Alhasil pria itu mengerutkan dahinya karena merasa heran, sebab jarang sekali sahabatnya itu membawa wanita ke dalam penthouse miliknya, kecuali wanita yang saat ini sedang menjadi pemberitaan saat ini, siapa lagi kalau bukan Alice Claretta.
"Apa dia kekasihmu? Bukankah di pemberitaan kau akan menikah dengan Alice" ucap Bastian menatap menyelidik dengan rasa penasarannya.
"Diam Lah! Itu hanya isu!" ucap Reno sambil melipat tangan di dada sambil menatap balik Bastian dengan tajam.
Mendapati dirinya di lempar tatapan tersebut, Bastian hanya tersenyum, "Baiklah kau jangan marah, aku mengerti."
Pria itu menuju Mona yang terlihat masih merintih kesakitan.
"Halo Nona, maaf aku periksa dulu" ucap Bastian.
Mona hanya mengangguk membalas ucapan dokter tersebut. Terlihat kaki Mona yang mulai bengkak, akibat tertindih motornya sendiri, serta luka-luka lecet pada lutut dan sikunya.
Bastian memberikan pengobatan pada Mona serta memberikan suntikan obat padanya.
"Apa ini sakit?" Bastian bertanya pada Mona yang terlihat masih kesakitan pada kakinya.
Bastian menatap Reno yang berdiri menyaksikan dirinya mengobati Mona. "Kenapa kau tak membawanya ke rumah sakit? Dia harus di rontgen, karena aku rasa tulang engkel kakinya bergeser."
"Bagaimana aku bisa membawanya kesana? Kau tahu sendiri apa yang terjadi di luar sana" ucap Reno.
Bukan tanpa alasan Reno tidak membawa Mona ke rumah sakit. Dia tidak melakukannya karena paparazi pasti sudah mengintainya, apalagi membawa Mona ke rumah sakit di tengah pemberitaan dirinya dengan Alice yang makin gencar bertebaran di sosial media. Sudah pasti akan menjadi isu baru yang membuat Reno muak.
Bastian yang mendengar pun bisa mengerti, bahkan dia juga ikut di pusingkan dengan pemberitaan sahabatnya itu. Sedangkan Mona mulai paham akan perbincangan kedua pria di hadapannya kini, alasan kenapa Reno yang sudah dia cap sombong itu tidak mengantarnya ke rumah sakit.
"Baiklah, aku akan membawanya sendiri ke rumah sakit" ucap Bastian, "maaf Nona, aku harus membawamu ke rumah sakit, apa kau mau?" tanya-nya.
"Iya dokter" jawab Mona sambil menganggukkan kepalanya.
Lekas Bastian menggendong Mona, "Aku akan bawa dia ke rumah sakit." Kemudian dokter itu membawa pergi Mona dari penthouse menuju rumah sakit.
Entah kenapa Reno hatinya merasa terusik melihat Bastian menggendong wanita yang dia tolong. Bahkan dia sendiri belum tahu siapa nama si wanita yang dia serempet itu.
...dr. Sebastian...
...(sumber: pinterest)...
...****************...
...Jangan lupa kasih...
...like 👍...
...Comment 🗣️...
...Subscribe ✔️...
...Follow ➕...
...Vote 💌...
...Nilai⭐⭐⭐⭐⭐...
...jangan lupa hadiahnya 🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Darien Gap
sampe sini dulu. 2 flower send
2024-08-17
0
Darien Gap
iya lah harus tgg jwb
2024-08-17
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦✍️⃞⃟𝑹𝑨💫⃝ˢᶦ𝐂ɪᴘяᴜт
wkwkwkk
nyicil
2024-07-24
1