Di rumah sakit terlihat Mona yang sedang berbaring di ruang perawatan dengan kaki terpasang gips. Nampak Mona sendirian, menatap langit-langit atap ruang perawatan.
Mona menghela nafasnya, "kenapa harus berakhir di tempat ini? Harusnya hari ini aku bekerja."
Lalu tiba-tiba terdengar langkah kaki memasuki ruangannya, dan itu adalah sang dokter, Bastian.
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Mona? Apa masih terasa sakit?" tanya Bastian yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sudah dokter, terima kasih sudah merawat saya" ucap Mona.
Bastian tersenyum mendengar ucapan pasiennya itu "Kenapa berterimakasih? Ini kan memang tugas seorang dokter" ucapnya.
"Tapi dok, apa saya boleh pulang hari ini? Saya takut kalau lama di rumah sakit, biaya nya akan semakin mahal" Mona yang nampak cemas. Karena dia tahu saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit keluarga Erlangga yang pastinya biayanya pasti mahal, terlebih dia tidak memiliki asuransi kesehatan.
"Kamu tenang saja, semua biaya di tanggung rumah sakit, jadi tak usah khawatirkan itu. Dan kamu boleh pulang besok" Bastian menjelaskan kepada Mona yang raut wajahnya terlihat khawatir. Namun setelah mendengar penjelasan Bastian, wanita itu berubah mimik wajahnya, yang tadinya cemas menjadi terlihat lega.
"Baiklah aku tinggal dulu, beristirahatlah, semoga lekas sembuh" ucap Bastian, kemudian berlalu meninggalkannya.
Sedang di dalam kamar perawatan, Mona sedang mengecek ponselnya, dimana isi ponselnya penuh dengan panggilan dan pesan dari ayah, adik serta sahabatnya, Resti.
"Ya ampun.... mereka pasti khawatir" ucap Mona. Dengan segera menghubungi keluarga dan sahabatnya itu.
"
"
Di sebuah ruangan yang cukup luas, terlihat Bastian sedang duduk di kursi kebesarannya, yang sibuk dengan tumpukan kertas laporan rumah sakit yang di pimpinnya.
Benar saja, Bastian adalah Direktur rumah sakit di Erlangga Hospital and Clinic saat ini. Dia di beri kepercayaan oleh Wilma, ibu tiri Reno, untuk memimpin rumah sakit miliknya. Bastian masih merupakan kerabat keluarga Erlangga. Terlepas hubungan sahabatnya dan bibinya sangat buruk, itu tak mempengaruhi persahabatannya dengan Reno. Karena jauh sebelum konflik Reno dan Wilma, keduanya sudah bersahabat dekat.
Ceklek...
Suara pintu terbuka, yang membuat Direktur rumah sakit tersebut langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Reno?" Bastian mengerutkan dahinya akan kehadiran sang pengacara. "Ada angin apa sampai kau menemuiku? Apa ada sesuatu?" tambahnya.
Reno melangkah mendekati Bastian, dan duduk di hadapan sahabatnya itu. "Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Reno pada Bastian tanpa basa-basi.
Sudah pasti dia terkejut dengan ucapan Reno, seolah dia mengkhawatirkan keadaan Mona. Wanita pengantar pizza yang hampir celaka karenanya.
"Apa kau mengkhawatirkannya?" Bastian terkekeh, seakan menggoda pengacara dingin itu.
"Jelas Aku khawatir, karena dia tidak boleh membuka mulutnya atas kejadian ini." Begitulah jawaban Reno. Dia merasa khawatir karena beralasan jika sampai Mona menyebarkan kejadian tersebut, itu akan menjadi isu negatif terhadapnya sebagai pengacara yang di kenal publik memiliki kredibilitas tinggi.
Bastian yang mendengarnya pun tidak terlalu terkejut dengan alasan Reno, yang di kenal sebagai pengacara terkenal yang menangani berbagai kasus besar baik di kalangan pebisnis maupun selebritis. Bahkan kepopulerannya bisa mengalahkan sekelas artis terkenal sekalipun.
"Kau temui saja Mona di ruangannya, tapi ingat, jangan terlalu menekan pasienku, karena selama dia masih di rawat di rumah sakit ini, dia tanggung jawabku" tegas Bastian.
Reno memicingkan matanya ke arah Reno. "Apa kau menyukai wanita itu?" pertanyaan Reno yang tak di duga, membuat Bastian semakin heran pada sahabatnya itu. Tiba-tiba datang ke rumah sakit lalu di tambah menanyakan dirinya menyukai Mona atau tidak. Namun dalam hati, Bastian mengakui fisik Mona adalah tipenya. Dengan wajah cantik natural yang dimilikinya.
"Ya mungkin aku mulai menyukainya, karena dia tipeku" jawab Bastian menatap Reno.
"Jangan menyukainya, dia wanita materialistis dan licik" saut Reno, Lekas dia berlalu meninggalkan ruangan Bastian.
Mendengar ucapan Reno, membuat Bastian mengerutkan dahinya, tak mengerti maksud temannya itu, dengan mengatakan Mona wanita materialistis, tanpa memberi alasan jelas. "Kenapa dia bisa melabeli Mona sebagai wanita materialistis? Apa mungkin mereka berdua ada hubungan?" batin Bastian.
Sedangkan Reno menuju ruang perawatan dimana Mona berada. Sesampainya di depan pintu ruangan, pria itu langsung membuka pintunya.
Mona yang malam itu masih terjaga, melihat sosok yang teramat baginya menyebalkan.
"Anda?!" saut Mona secara spontan. "ada apa anda menemui saya?"
"Ini" Reno melempar amplop coklat berisi uang yang cukup banyak tepat di depan Mona. "ambil uangnya, dan tutup mulutmu atas kejadian ini" Menatap Mona dengan tatapan merendahkan.
Sudah pasti perbuatan Reno membuatnya geram. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah karena ucapan dan tatapan Reno, mengingatkan dia akan sosok Ratna, ibu tirinya yang angkuh dan sombong.
"Kenapa kau diam?! Apa uang itu kurang cukup untukmu?" Reno berucap sambil mengangkat dagunya angkuh.
"Terimakasih Pak Reno, dengan di bantu membiayai rumah sakit ini saja sudah cukup, saya tidak akan meminta apa-apa" Mona mengatur nafasnya sambil menahan air mata yang ingin menetes. "saya berjanji, saya tidak akan menceritakan semua ini."
Begitu sakit hati Mona, dengan apa yang di lakukan pengacara yang di kenal sebagai pengacara terbaik di negerinya. Ingin rasanya Mona meluapkan kemarahannya dengan memukul wajah pria di hadapannya saat ini.
"Ambil saja uangnya, jangan sok polos, melihat wajahmu saja aku tahu kau wanita seperti apa" ucap Reno dengan nada merendahkan.
"A-apa maksud anda?" Mona menatap Reno yang juga menatapnya. Dia bisa melihat tatapan penuh kebencian dari seorang Abraham Reno Winata yang di tujukan untuknya. Mona pun tak mengerti alasan kenapa sang pengacara itu terlihat membencinya.
Reno terus menatap Mona dengan senyuman sinis menghina, dan pada akhirnya dia pergi begitu saja meninggalkan ruangan, tanpa menjawab pertanyaan Mona.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Seolah aku ini musuh lama yang ingin di hancurkan olehnya" ucap Mona.
Sikap Reno yang seolah merendahkan dirinya, membuat Mona semakin membenci pengacara tersebut.
"Aku harap ini yang terakhir aku bertemu dengan pria sombong itu" Mona membatin.
"
"
Jarum speedometer mobil mewahnya menunjukkan angka 160 km, itulah laju kecepatan mobil Reno saat ini. Dia melajukan mobilnya dengan cepat dengan rasa amarah yang menguasainya. Sejak pertemuannya dengan Mona, dia begitu sangat membencinya. Wajah dan suaranya sangat mengusik hidupnya.
"Wajah penipu, memuakkan." gumam Reno penuh penekanan.
Sampai di gedung apartemennya dia menuju lantai atas dimana penthouse nya berada. Dengan langkah lebar dan cepat dia memasuki kediamannya langsung menuju kamar lalu membaringkan tubuhnya. Dia memejamkan matanya dalam sambil memijit pelipisnya. Reno terlihat sangat lelah.
"Sial" umpatnya.
Namun tiba-tiba dia di sadarkan oleh suara ponselnya yang berdering. Dia meraih ponselnya dan terlihat di layar ponsel bertuliskan nama ayahnya, Teddy Winata.
"Halo"
"Apa-apaan kau ini Reno! Berita murahan apa itu?! Besok ke rumah utama, kita harus bicara!" Suara Teddy yang terdengar sangat marah. Kemudian ponsel pun terputus.
Reno meremas ponselnya sendiri menahan amarah. Sangat terlihat hubungan Ayah dan anak ini sangatlah buruk.
...----------------...
Keesokan harinya, Mona terlihat masih berbaring di ranjang rumah sakit.
"Kakak" suara seorang anak laki-laki yang memanggilnya, tidak lain adiknya, Adi.
"Mona" di susul suara seorang lagi, yang sudah pasti itu adalah ayahnya.
Keduanya menghampiri Mona yang tengah berbaring. Mona telah menghubungi ayahnya untuk menjemput dirinya di rumah sakit. Karena sangat tidak mungkin dia pulang sendiri, mengingat dirinya harus pulang menggunakan kursi roda.
"Mona, apa yang terjadi padamu, nak? Tanya Herman yang terlihat sangat khawatir. Karena pagi harinya Mona baru menghubungi ayahnya.
Sedangkan Adi, sampai tidak masuk sekolah karena ingin ikut menjemput kakaknya. Kehadiran adiknya tersebut membuat Mona memicingkan mata ke arah adiknya. "Kamu tidak sekolah?"
"Aku kan khawatir dengan kakak, masa tak boleh menjemput juga" ucap Adi dengan raut kekhawatirannya.
"Ya sudah, ayo pulang! Semalaman di sini membuatku bosan" Mona kemudian beranjak dari tidurnya di bantu ayah dan adiknya untuk duduk di kursi roda.
Lekas mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah, menggunakan taksi online.
...****************...
...Jangan lupa kasih...
...like 👍...
...Comment 🗣️...
...Subscribe ✔️...
...Follow ➕...
...Vote 💌...
...Nilai⭐⭐⭐⭐⭐...
...jangan lupa hadiahnya 🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
apa si Mona tetap menerima uang yang dari si Reno,,,
2024-07-14
0
Bening
5 iklan + 2 bunga kamboja
2024-07-10
0