Terlihat kesibukan Mona yang mengantar beberapa pizza para pelanggan. Dia masih merasa kesal dengan kejadian tadi pagi di penthouse mewah itu. Jika mengingat wajah pria itu lagi, dia jadi uring-uringan tak jelas.
"Amit-amit...kalau bertemu dengan pria itu kembali" gumamnya sambil menepuk jidatnya sendiri beberapa kali. "Oh panasnya kota indah ku ini" keluh Mona merasakan suhu panas siang hari yang tak tertahankan.
"Bu es cincau satu" ucap Mona sembari mengipasi wajahnya dengan sobekan kardus bekas, mengurangi panas menyengat ibu kota.
Saat ini Mona mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan penat. Tubuh yang dari pagi sampai siang berkeliling mengantarkan pesanan pizza para pelanggan.
"Mbak minumnya." Seorang penjual menyodorkan segelas es cincau kepada Mona yang sedari tadi menunggu.
Glug, glug, glug....
Suara tegukan es cincau yang sampai ke tenggorokan, membasuh dahaganya.
"Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, Mona" ucapnya sambil tersenyum puas, karena rasa haus yang mencekiknya telah hilang.
Dia pun melanjutkan aktifitasnya sampai sore hari bersama motor butut keluaran tahun 80-an kesayangannya. Setelah berpuluh-puluh meter berkendara melaksanakan tugasnya. Dia segera balik ke restoran.
"Hai Mona, apa semuanya lancar?" tanya Resti sambil menepuk bahu Mona, yang tengah duduk di kursi tunggu dekat parkiran.
"Lancar sih? Walau awalnya tidak lancar" sambil melemaskan otot-otot nya yang terasa pegal, karena pengiriman yang padat.
Jawaban Mona yang terasa janggal membuat Resti menatap penasaran ke arah sahabatnya, lalu berkata. "Maksudnya?"
"Aku bertemu orang gila di penthouse." Sambil memiringkan kepalanya dengan tangan menopang dagu.
"Hahaha!" tawa Resti, "orang gila di penthouse? Memang orang kaya bisa gila ya?"
"Mana aku tahu, mungkin mereka kebanyakan uang jadi gila" jawab Mona dengan mengangkat pundaknya.
"Ya sudah aku pulang, besok jangan lupa, kau jangan telat lagi." Lalu Resti beranjak dari duduknya berlalu pergi meninggalkan Mona.
Kini Mona duduk sendiri, sambil menatap langit sore berwarna jingga. Wajahnya terlihat begitu lelah. Entah apa yang sedang dipikirkannya, hingga membuat bulir air mata tak terasa jatuh dari sudut matanya.
"Aduh! Apaan sih! Jangan cengeng Mona" sambil menyeka air matanya, "ayo Mona, semangat lah!"
Mona yang menyemangati dirinya sendiri, dengan segala masalah dan tanggung jawab di pundaknya.
Beranjak lah dia dari duduknya, melangkah menuju motor kesayangannya yang siap mengantar kemana saja.
"Ayo pulang...!" teriak Mona, yang tanpa di sadari terdengar oleh beberapa orang dan tukang parkir di sana.
Mona yang menyadari itu langsung terdiam menahan malu. "Mari Pak? Bu? pulang" sambil terkekeh kepada orang-orang di sekitar yang melihat tingkahnya.
Dia segera pulang menyusuri jalan sore yang padat. sepadat pikirannya yang di penuhi berbagai masalah hidup yang harus di jalani. Sampailah dia di depan rumah. Namun tiba-tiba.
Brak....
Suara gebrakan meja yang bisa Mona dengar dari luar rumah. Segera dia melangkah cepat ke dalam rumah.
"
"
"Aku minta uang sekarang Mas! Aku butuh sekarang!" teriak Ratna sambil berdecak pinggang di hadapan Herman yang sedang duduk menahan sakit bekas operasi usus buntu nya.
"Aku tidak punya uang Ratna, kamu tahu sendiri kondisiku seperti ini" ucap Herman dengan suara yang tak kalah tinggi.
"Menyesal aku menikah denganmu! Aku pikir kehidupanku membaik, malah tambah melarat!" makian Ratna yang begitu menyakiti hati Herman.
"Kalau begitu kau tinggalkan saja Ayahku, jangan jadi parasit di rumah ini!" saut Mona yang sudah berada di dalam rumah.
Pastilah marah, benci dan sakit hati yang di rasakan Mona saat ini, mendengar semua makian yang di lontarkan pada ayahnya yang sangat di hormatinya itu.
Sedangkan dari balik pintu kamar, sosok anak kecil yang menyaksikan pertengkaran ketiga anggota keluarganya hanya diam mematung dengan mata mengembun ingin menangis, dia tidak lain Adi. Anak usia 12 tahun ini sangat sering melihat ayahnya di maki ibu tirinya, yang membuat dia pun juga begitu benci pada sosok Ratna. Terlebih dia sering mendapatkan kekerasan fisik maupun verbal dari ibu tirinya itu jika tak ada orang di rumah.
"Pergi dari rumah kami, kalau tante memang sudah tidak tahan di rumah ini!" Mona yang mulai muak dengan tingkah ibu tirinya itu. Dengan mengarahkan jari telunjuknya keluar, mengisyaratkan agar Ratna angkat kaki dari rumahnya.
"Lihatlah Mas! Putrimu yang kurang ajar itu" dengan mengarahkan telunjuknya ke arah Mona.
"Cukup Ratna, aku sudah tidak tahan lagi, Aku sudah bersabar menghadapi mu" menatap tajam ke arah istrinya, "Aku pikir kamu akan berubah seiring berjalanya waktu, tapi kamu semakin menginjak harga diriku di depan anak-anak ku"
"Tapi Mas, aku ini tanggung jawabmu, jadi pantas kalau aku minta ini itu padamu." Ratna beralasan. Dia mencoba membenarkan segala perbuatannya yang selama ini di lakukan pada suaminya.
"Mari kita bercerai" kata Herman dengan tegas.
"Mas!" Ratna menatap suaminya sambil menggelengkan kepalanya.
"Keputusanku sudah bulat, aku akan menceraikan mu."
"Tidak! Aku tidak mau!" Ratna yang tidak terima dengan keputusan Herman, karena bagi Ratna, Herman di anggap pria yang mudah di atur dan di intimidasi olehnya.
Sudah pasti kata cerai yang di lontarkan suaminya membuat dirinya syok. Bahkan Ratna sampai tak percaya, suaminya yang selama ini selalu membelanya, kini tak lagi membelanya, bahkan ingin menceraikannya.
Ratna di liputi kecemasan saat ini, karena perceraian sudah di depan mata, bukan karena dia cinta dengan Ayah Mona itu, tapi lebih karena dia tidak mendapatkan uang belanja lagi untuk berfoya-foya, di tambah rencana Ratna untuk mengambil alih rumah Herman serta surat tanahnya, pupus sudah.
Senyuman puas terukir di bibir Mona. Akhirnya dia bisa mendengar langsung kata pisah yang terucap dari mulut ayahnya pada wanita yang sangat membuatnya susah itu.
"Tante sudah dengarkan, apa kata Ayahku? Jadi tante bersiap lah angkat kaki dari rumah ini." Mona tersenyum menyeringai ke arah Ratna, seolah kemenangan memihak padanya.
"Dasar kau anak sialan!" sambil mengayunkan tangannya, ingin menampar Mona. Tapi dengan sigap Mona menahan tangan ibu tirinya itu.
"Cukup Ratna! Jangan lagi hina ataupun sentuh putriku lagi, mulai malam ini aku menjatuhkan mu talak." Sambil menatap tajam ke arah wanita yang akan segera menjadi mantan istrinya itu.
Wajah merah padam di tunjukkan Ratna di hadapan Ayah dan anak itu, Herman dan Mona tak luput dari tatapan kebencian dari wanita itu.
"Kalian akan menyesal melakukan ini padaku!" ancam Ratna, lalu pergi meninggalkan keduanya ke kamar.
Kini tinggal Mona dan Ayahnya yang duduk berhadapan di ruang keluarga, dengan sebuah meja di tengah mereka. Herman tertunduk lesu saat itu juga. Pastilah hatinya hancur, rumah tangganya berakhir dengan perceraian. Wanita yang dia harapkan bisa membawa kebahagiaan di tengah keluarganya, malah menjadi duri di kehidupannya dan kedua anaknya.
Begitu sedih Mona sebagai anak, melihat ayahnya mengalami pernikahan yang pahit. Namun perceraian ayahnya sangat di syukuri olehnya, karena itu yang dia harapkan.
Di genggam tangan ayahnya yang berada di atas meja. "Ayah, terimakasih" ucap Mona sambil memandang dalam wajah ayahnya, sampai air matanya tak terasa luruh di kedua pipinya.
"Ayah, Adi sayang Ayah" putranya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Ya, Nak. Ayah juga sayang kalian berdua."
Ketiganya berpelukan saling menguatkan. Begitu sulit kehidupan mereka selama 5 tahun semenjak kehadiran Ratna di tengah keluarga mereka. Tangisan dari ketiganya pun mengiringi suasana penuh haru biru di malam itu.
...Resti...
...****************...
...Jangan lupa kasih...
...like 👍...
...Comment 🗣️...
...Subscribe ✔️...
...Follow ➕...
...Vote 💌...
...Nilai⭐⭐⭐⭐⭐...
...jangan lupa hadiahnya 🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Darien Gap
duh..dah penge cerai aja🥲
2024-08-17
1
👑Queen of tears👑
mpe bolak balik aku cek ,,apa aku yang salah tekan bab /Sob/
tenyta naskah yang sama/Bye-Bye/
2024-08-03
1
👑Queen of tears👑
ehhh ini part sebelumnya kan🤔
2024-08-03
1