"Selamat pagi, Ayah." Sapa Mona yang sudah menyiapkan makanan untuk anggota keluarganya.
"Selamat pagi sayang" balas Herman yang menuju menuruni tangga menuju meja makan.
Terlihat sajian sederhana yang menggugah selera, hingga mata ayahnya berbinar.
Begitu terlihat segar kondisi ayahnya setelah bercerai dari ibu tirinya itu. Seperti beban berat telah terangkat dari pundaknya. Setelah putusan cerai keluar dari pengadilan, Ratna langsung angkat kaki dari rumah Herman.
Mona yang melihat reaksi ayahnya, tersenyum bahagia. Tak bisa di pungkiri, keputusan ayahnya adalah hal yang sangat di harapkan oleh nya.
"Kenapa tidak dari dulu Ayah menceraikan wanita lampir itu. Cinta memang buta" batinnya.
Pandangan Herman mengedar ke penjuru ruangan, seperti sedang mencari seseorang.
"Ada apa, Yah?" memperhatikan ayahnya yang kebingungan.
"Mona, Adi mana? Dia tidak kesiangan kan?"
Mendapati adiknya belum turun, teriakan ala komandan pun keluar dari mulutnya.
"Adi...! Sarapan...!" teriakan Mona memenuhi seluruh ruangan.
Tak lama kemudian suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. "Ya ampun kak, apa-an sih teriak-teriak." Seru Adi yang menyauti teriakan kakaknya, lalu duduk di meja makan di samping ayahnya.
"Cepat sarapan, nanti terlambat!" sambil berdecak pinggang.
"Iya! Dasar bawel!" kesal Adi dengan memanyunkan bibirnya.
"Kau ini, mau uang jajanmu aku potong?" ancam Mona sambil memicingkan matanya ke arah adiknya.
"Mulai lagi deh, Ingat ya Kak, kakak bisa aku laporkan atas tuduhan pengancaman anak di bawah umur." Kata yang begitu saja keluar dari bocah berusia 12 tahun itu. Adi mengancam balik kakaknya sambil melipat tangan di dada.
Mona memutar bola matanya malas melihat sikap adiknya yang menggemaskan itu. Seorang adik laki-lakinya yang bercita-cita ingin menjadi seorang pengacara seperti Reno.
Benar saja. Adi memang sangat mengagumi seorang Abraham Reno Winata. Di banding mengidolakan pemain sepak bola seperti anak yang lainya, Adi malah mengidolakan Reno dan bermimpi menjadi seorang lawyer seperti idolanya.
Herman yang menyaksikan pertengkaran kedua anaknya hanya tersenyum, sebab kehangatan di dalam keluarganya yang hilang selama 5 tahun, kini kembali lagi.
"Mona juga harus sarapan, kamu juga harus berangkat kuliah kan?" ucap Herman.
"Baik, yah"
Ketiganya sarapan dengan tenang, sampai makanan yang tersaji habis tak tersisa.
"Kenyangnya....!" Adi yang merasakan perutnya terasa penuh, sambil mengelus perut yang agak mengembung.
"Ayah, Mona berangkat kuliah dulu." Mona berpamitan lalu meraih tas selempang miliknya
"Adi juga, Ayah" saut Adi.
Sebelum berangkat, seperti biasanya kedua anak itu mencium punggung tangan ayahnya berpamitan.
Segera Adi berangkat sekolah bersama teman-temanya bejalan kaki, karena jarak sekolah dari rumahnya cukup dekat. Sedangkan Mona, sudah pasti berangkat dengan motor kesayangannya.
"
"
"Pagi mbak Mona" Sapa seorang tukang kebersihan bernama kang Ujang.
"Pagi Kang Ujang" balas Mona yang telah sampai di parkiran Universitasnya. Keduanya terlihat akrab, karena anak Ujang bertetangga dengannya dan putranya satu kelas dengan adiknya, Adi.
"Ada apa ini mbak, wajahnya kok terlihat sangat bahagia?" tanya Ujang sambil memperhatikan senyum yang mengurai dari bibirnya, "baru jadian ya?" godanya.
"Iiih! Apa-an sih Kang, memangnya aneh kalau saya bahagia?"
"Bukan begitu Mbak, hari ini Mbak Mona sangat berbeda, mata pak ujang sampai silau melihat senyuman Mbak Mona" Ujang kembali menggoda sembari terkekeh.
"Mona!" panggilan seseorang dari kejauhan, dia tidak lain temannya, Resti.
"Resti!" Mona melambaikan tangan membalasnya.
"Sudah dulu kang, Mona ke kelas dulu"
"Iya Mbak!" saut Ujang.
Kemudian Mona berlari menuju Resti yang sedari tadi menunggunya.
"Kau tidak lupa sekarang kelasnya Pak Jarwo, kan?" kata Mona sambil menepuk bahu Resti.
"Mana mungkin aku lupa, Dosen ter-killer abad ini, mendengarnya saja membuatku bergidik"
"Hiiiiiii.....!" seru keduanya sambil tertawa.
Masuklah keduanya ke kelas. Tak berapa lama dosen killer yang di maksud pun memasuki kelas, siapa lagi kalau bukan pak Jarwo.S.Ikom.
"Mala petaka dan marah bahaya sudah sampai di hadapan kita, Res?" bisik Mona.
Resti yang duduk di samping Mona dengan raut wajah malas pun berkata, "Kau yang pintar saja bilang begitu, apalagi aku yang otaknya tak sampai" sambil memanyunkan bibirnya.
"Selamat pagi anak-anak" sapa Jarwo dengan tampilan setelan kemeja berwarna biru dengan celana hitam. Postur tubuh agak gemuk dengan perut buncitnya, dan tak lupa kepala botak depan yang nampak licin, selicin porselen.
"Pagi, Pak" balas para mahasiswa serentak.
"Baiklah, kita mulai kelas hari ini. Hari ini bapak akan membahas..." Jarwo menjelaskan mata kuliahnya.
Sedangkan para mahasiswanya mendengarkan penjelasannya, salah satunya Mona yang fokus dengan mata kuliah yang di sampaikan, sedangkan Resti mendengarkan malas sambil sesekali menguap.
Detik demi detik, menit demi menit sampai berganti jam. Dari mata kuliah satu ke mata kuliah lain dari dosen satu ke dosen lain. Akhirnya waktu menunjukkan pukul 3 sore, menandai berakhirnya kegiatan kuliah mereka.
"Huaaaa...." suara menguap dari Mona, "melelahkan sekali" ucapnya.
"Kau benar, leherku sampai kaku, apalagi jam nya Pak Jarwo, jadi ingin cepat-cepat keluar dari kelas" keluh Resti sambil memijit tengkuk lehernya.
"Ayo ke kantin sebentar, aku ingin makan bakso" Ajakan Resti di sanggupi Mona, yang sedari tadi memang sudah merasa lapar. Karena mata kuliah yang menguras otak dan energinya.
Mereka akhirnya sampai di kantin dan keduanya duduk saling berhadapan. "Bang bakso dua, es teh dua" pesan Resti sambil mengangkat tangan ke arah abang tukang bakso.
Tidak menunggu lama, bakso pun sampai di meja mereka. "Akhirnya makan juga" ucap Mona.
Keduanya pun menyantap bakso panas yang menggugah selera, di temani es teh dingin yang mendinginkan otak keduanya yang panas akibat mata kuliah mereka yang padat.
Namun entah kenapa di kantin saat ini, samar-samar terdengar para mahasiswa sedang bergosip membicarakan seorang artis terkenal yang tidak lain Alice Claretta.
Sudah pasti gosip itu membuat Resti penasaran, mengingat artis tersebut adalah salah satu idolanya, dari sekian banyak artis yang di idolakan. Segera dia mengambil ponsel miliknya dan mencari beritanya.
"Astaga naga...apa ini benar?!" suara tinggi Resti yang mengagetkan Mona.
"Apa-an si Res?! Bikin kaget saja."
"I-ini...berita ter panas tahun ini, idolaku Alice, kabarnya akan menikah?!" Resti begitu fokus dengan ponselnya. Menggulir layar yang berisi deretan artikel yang memenuhi pemberitaan hari ini.
"Aku pikir apa? Kalau artis menikah, bercerai, terus menikah lagi, itu sudah biasa. Tapi kalau ada berita pak Jarwo menikah denganmu, itu baru luar bisa" ledek Mona terkekeh.
"Iiiiih..amit-amit!" saut Resti merasa ogah.
"Alice kan juga punya kehidupan pribadi sendiri, kenapa kau melarangnya untuk menikah, dasar aneh" merasa heran dengan tingkah temannya itu.
"Masalahnya bukan di Alice nya, tapi pria yang akan menikahi Alice. Kalau Alice sih, dia memang idolaku, tapi kalau dia menikah dengan pria pujaan hatiku, aku tidak terima!" sambil melipat tangan di dada.
"Memang siapa pria yang akan menikahinya?" tanya Mona dengan santai sambil menikmati baksonya.
"Reno, si pengacara tampan itu, pria pujaan hatiku" jawab Resti sembari memasang wajah yang baru patah hati.
"Hukuhukuhuk" Suara batuk Mona yang tersedak. "A-apa katamu, dengan Reno?!" Mona tercengang mendengar ucapan Resti.
"Benar, Alice akan menikah dengan Reno." Resti mengangguk lesu.
Mona menatap temannya yang lesu tak bersemangat, seperti tidak ada gairah hidup. "Sudahlah, pria pujaanmu itu memang sangat tampan, tapi tak setampan sikapnya."
"Apa maksudmu? Memang kau pernah bertemu dengannya sampai kau menilai buruk padanya."
"Bu-bukan seperti itu, maksudku apa yang terlihat di luar belum tentu sama baiknya dengan yang di dalam." Mona berusaha menjelaskan semudah mungkin pada Resti.
"Terserah kau saja, pokoknya mulai hari ini aku akan jadi haters nya Alice, karena sudah berani menikahi Reno ku."
Mona melihat tingkah Resti hanya menggelengkan kepalanya heran, tak habis pikir temannya itu seperti orang tidak waras hanya karena kabar pernikahan Reno.
"Sudahlah Res, kembali ke kenyataan, jangan kebanyakan berkhayal."
Resti hanya diam saja, tak menghiraukan celotehan Mona.
"Baiklah aku akan langsung ke restoran, kau berangkat bersamaku atau berangkat sendiri?" tanya Mona pada Resti, yang masih saja fokus dengan ponselnya, mencari berita kabar pernikahan Reno dan Alice.
"Aku berangkat sendiri, kau duluan saja."
Mona menghela nafas melihat temannya yang masih terlihat cemberut itu. "Baiklah aku berangkat dulu" pamit Mona.
Kemudian Mona berlalu meninggalkan Resti menuju Restoran.
***
"Apa sih yang hebat dari Reno, wajahnya memang sangat tampan tapi kelakuan nol besar" gumam Mona sembari fokus mengendarai motornya.
Tin...tin....
Suara klakson mobil, dengan melaju cepat mengagetkan Mona. Sampai akhirnya.
Brak....
Mona dan motornya jatuh tersungkur.
"Aww! Sakit" kesakitan yang di rasakan karena posisi kakinya tertimpa motor miliknya.
"Anda tidak apa-apa?" suara rendah seorang pria yang menanyainya.
Mendengar suara yang seperti tak asing baginya, Mona langsung mengangkat wajahnya.
"Kau!" Seru keduanya saling menatap terkejut.
^^^Bersambung....^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Darien Gap
awas ada yang masuk. tutup mulutnya
2024-08-17
1
👑Queen of tears👑
langsung ketemu uuyyyyy /Facepalm/
defenisi jodoh gak ke mana /CoolGuy/
2024-08-03
0
👑Queen of tears👑
reno otw sama mona kan nnti/Slight//Slight/
2024-08-03
0