"Loh! Kak Mona sepertinya sudah pulang" batin Adi, yang melihat motor kakaknya terparkir di halaman rumah. Dia melangkah kedalam sambil terus memanggil kakaknya. "Kak Mona!"
"Dimana Kak Mona, apa dia sedang tidur?" sambil menaruh boneka Hello Kitty itu di rak dinding kamar tidurnya, "Aku taruh disini saja dulu."
Lekas dia menuju kamar kakaknya. "Kak Mona" panggilnya lagi sembari mengetuk pintu kamarnya.
Dia masuk saja ke dalam karena tak ada jawaban. Terlihat Kakaknya yang sedang tidur terlentang, masih memakai seragam kerjanya. Dia mendekati kakaknya itu, dan terlihat wajah Mona yang pucat sambil menggigil kedinginan.
"Kak, Kakak sepertinya demam" tanganya sambil memegang kening Mona.
"Adi, kamu sudah pulang?" suara Mona yang mulai sadar. Perlahan dia membuka matanya yang terasa panas dan berat.
"Kakak tidur yang benar, sini aku bantu" Adi membantu Mona membaringkan badanya dengan posisi yang benar. Lekas dia mengambil obat dan kompres untuk kakaknya.
"Terimakasih Adi" ucap Mona.
Adi memperhatikan wajah kakaknya yang terlihat sangat lemas. "Kakak, kemarin malam kemana saja? Aku dan Ayah sangat khawatir. Ponsel Kakak pun tak bisa di hubungi" tanya adiknya yang meminta penjelasan, dengan raut wajah cemas.
Mona tersenyum tipis melihat kecemasan adiknya. "Kamu tidak usah cemas, kemarin Kakak menginap di rumah teman kakak."
"Tapi Ayah kemarin menghubungi Kak Resti, katanya juga tidak tahu" Adi yang merasa kebingungan.
"Memang teman Kakak hanya Kak Resti saja" ucap Mona sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Memang Kak Mona punya teman selain Kak Resti?" Pertanyaan Adi yang mengandung keraguan atas pengakuan kakaknya itu.
Mona membuang nafasnya. Terlihat sekali kalau adiknya itu meragukan alasannya. "Sudahlah, semakin besar kau semakin banyak tanya" ucapnya.
"Jelas aku harus banyak bertanya dan pintar berbicara. Impianku kan ingin jadi pengacara, seperti Reno yang ada di TV itu"
Mendengar nama Reno, hati Mona seolah tersayat. Sudah pasti ingatan buruk malam itu membuatnya sakit hati. Dan tak terasa air matanya luruh.
Adi yang melihat itu pun panik. "Kak, kenapa? Apa ada yang sakit?"
Mona menggelengkan kepalanya. "Adi, bisakah Kakak istirahat sebentar"
"Ya, baiklah" Adi beranjak dari duduknya, dan sebelum dia keluar dia berkata, "Kak aku tadi melihat Tante Ratna di sekitar rumah, sepertinya sedang mengawasi rumah kita." kemudian dia keluar dari kamar Kakaknya.
Mona mengerutkan dahi setelah mendengar ucapan Adi. "Tante Ratna disini? Tapi untuk apa?" batin Mona.
"
"
"Adi! Kakak berangkat kerja dulu." pamit Mona pada Adi yang sedang bermain game di kamarnya.
"Kakak bukannya sakit? Kenapa tidak masuk kerja dulu." ucap Adi yang terap fokus pada ponselnya.
"Kakak sudah sehat, kamu tak usah khawatir"
"Kakak Yakin?" Adi yang meragukan ucapan kakaknya.
"Apa kamu tidak percaya dengan tenaga super Kakakmu ini?" ucap Mona berusaha menyakinkan adiknya dengan menunjukkan otot lengannya sambil terkekeh.
"Ya, ya....percaya, yang paling super." ucap Adi memasang wajah malas.
"Kakak sudah siapkan lauk di lemari es, kamu tinggal menghangatkannya saja" ucap Mona.
"Oke"
"Aku berangkat! Jaga rumah baik-baik, dan jangan lupa kunci pintunya."
Segera Mona berangkat kerja. Walaupun badanya masih terasa tidak enak, dia tetap memutuskan untuk kerja sore itu.
"Mona" suara Resti yang baru sampai di parkiran restoran. Sama halnya dengan Resti, Mona pun juga baru sampai.
"Hei, kau kemarin tidak pulang ke rumah? Ayahmu menghubungiku untuk menanyakan Mu."
Mona terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan Resti. Sudah tentu sikap Mona yang mengacuhkannya membuat dirinya bingung. "Mon, kau kenapa?"
"Res, bisakah kita tak membahas itu."
"Ta-tapi kenapa? Apa yang terjadi padamu?"
"Aku mohon? Aku hanya ingin fokus kerja hari ini"
Resti pun mencoba mengerti keinginan sahabatnya itu. "Baiklah aku mengerti."
"Tapi kamu tahu tidak, kabar Alice yang menjadi tersangka karena telah menuduh Reno telah menghamilinya" ucapnya lagi.
"Res, aku mohon sekali lagi, aku tak mau mendengar kabar itu, aku tidak tertarik." pinta Mona meminta pengertian sahabatnya itu.
"Ya sudah, maaf" Resti yang berusaha mengerti situasi Mona. Walaupun dia tidak tahu sebab suasana hati sahabatnya itu tidak baik.
"Maaf Resti, hari ini suasana hatiku benar-benar buruk" Mona tersenyum dipaksakan untuk menutupi masalah yang menimpanya.
Seperti biasa sore itu Mona mengerjakan tugasnya dengan mengantar pesanan pada para pelanggannya. Namun pikiranya masih mengingat kejadian na-as itu. Malam dimana kehormatannya yang di ambil sang pengacara. Wajah pria itu selalu membayangi pikirannya, hingga dia merasa kesal sendiri.
...----------------...
Suara bel rumah Herman berbunyi dengan diikuti suara seseorang yang memanggil. "Adi, ayo main" panggil Radit.
"Adi" temannya, Kevin, yang ikut memanggil.
Ceklek....
"Kalian? Ada apa?" tanya Adi, melihat Radit dan Kevin di hadapannya.
"Kamu lupa ya? Kita kan janjian mau main PS sore ini" jawab Radit.
"Oh ya ampun, aku lupa" Adi menepuk dahinya sendiri" Masuklah, aku ganti baju sebentar."
Kedua temannya di suruh menunggu di ruang tamu, sedangkan dirinya lekas menuju kamarnya berganti baju.
Tak menunggu lama, bocah laki-laki itu pun turun menemui temannya. "Ayo!"
Ketiganya pun berangkat menuju tempat bermain PS yang tidak jauh dari sekolahnya.
Dari kejauhan, terlihat sosok wanita yang sedang memperhatikan Adi yang baru keluar dari rumahnya. Siapa lagi kalau bukan mantan istri dari Ayahnya, Ratna.
Rencana jahatnya untuk mengambil aset berharga milik Herman yang tersisa akan dia lakukan sore itu juga.
Tiba-tiba ponsel Ratna berdering.
"Halo."
"Apa kau sudah lakukan sayang?" Suara Didit menghubungi Ratna.
"Ya ampun kau ini, aku baru saja mau melakukannya." Ratna yang nampak mulai kesal. Pastilah wanita itu kesal. Karena rencana awal mereka akan melakukan berdua, namun tiba-tiba Didit tidak jadi ikut, beralasan anaknya sedang sakit. Padahal tanpa di ketahui Ratna, itu hanya akal-akalan Didit untuk tidak ikut.
"Cepat ambil surat-surat itu! Karena orang itu terus menagih hutangnya!" perintah Didit pada selingkuhannya itu.
"Ya ampun, kau cerewet sekali, sini kau saja yang melakukannya!" Ratna semakin di buat kesal dengan tingkah memerintah Didit.
"Bu-bukan begitu sayang, kamu tahu sendiri rentenir itu kalau sudah marah, nyawa kita taruhannya" Suara Didit yang tiba-tiba melembut.
"Makanya, kamu jangan banyak bertanya, aku sedang fokus sekarang!" Ratna yang balik membentak Didit.
"Baiklah semoga kamu berhasil sayang" ucap Didit. Lalu sambungan telepon mereka pun terputus.
Tanpa membuang waktu, Ratna langsung menjalankan rencana jahatnya. Dia membuka pintu rumah itu dengan kunci cadangan yang sudah dia miliki sebelumnya.
"Yes, berhasil" gumam Ratna.
Wanita itu kemudian masuk melangkah menuju kamar mantan suaminya, Herman, yang berada di lantai atas.
Dia memeriksa lemari pakaian dan seluruh nakas di kamar itu. "Dimana kau sembunyikan surat-surat itu, Herman" ucap Ratna, sambil terus mengacak-acak kamar Herman.
"Sial, dimana surat tanah itu?" ucap Ratna yang mulai kesal. Karena lebih dari satu jam dia belum juga menemukan benda yang di carinya itu. Bahkan dia sampai mencari di kamar Mona dan Adi. Dari penjuru lantai bawah sampai atas sudah dia periksa.
"Aaaaakh!" teriak Ratna yang merasa frustasi. Dimana surat itu?! Dasar sial!"
Sangking kesalnya dia melempar sebuah fas bunga ke arah foto keluarga yang terpajang di ruang tamu di rumah itu, hingga jatuh dan pecah.
Tanpa di duga, Ratna melihat ada sesuatu yang tersembunyi di balik bingkai foto tersebut. Tanpa pikir panjang wanita itu memeriksanya.
"Hahaha! Aku menemukanya, aku menemukannya!" tawa puas Ratna, yang akhirnya menemukan surat yang selama ini dia cari, yaitu surat rumah dan surat tanah milik mendiang istri Herman.
"Aku bisa melunasi hutangku dengan ini, dan sisanya bisa aku buat senang-senang" sambil menciumi surat-surat tersebut. "Sebentar lagi kau dan anak-anakmu akan aku buat menjadi gelandangan, Herman. Karena sudah mengusirku dari rumah ini. Karena rumah ini akan jadi milikku" ucap Ratna dengan tawa yang memenuhi ruangan tersebut.
"Jangan harap nenek lampir" suara Adi yang langsung merebut surat itu dari tangan Ratna dari belakang.
Adi yang sudah kembali dari bermain PS nya. Dia kembali bukan karena sudah selesai bermain, tapi dia kembali karena ponselnya ketinggalan.
"Dasar anak sialan! Kembalikan itu!" teriak Ratna yang murka.
"Tidak mau, dasar tante jahat" ucap Adi yang saling kejar dengan Ratna.
"Kembalikan kataku!" teriak Ratna dengan bola mata membulat dan raut wajah yang semakin menakutkan. Membuat Adi yang melihatnya pun mulai ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
waduh apa yang akan terjadi sama si Adi nih nanti,,,
2024-07-14
0