Nampak seorang wanita yang sedang duduk di kursi teras rumah Herman sambil memainkan ponselnya, yang tak lain adalah sahabatnya Mona, siapa lagi kalau bukan Resti.
Setelah di hubungi Mona bahwa dirinya di rawat di rumah sakit, wanita itu langsung pergi ke rumahnya.
"Kenapa lama sekali, padahal katanya dia pulang pagi ini" ucap Resti yang memperhatikan halaman rumah Mona.
Setelah hampir setengah jam menunggu, terlihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumah, dan nampak lah sosok yang dia tunggu.
"Resti!" Suara Mona yang terdengar olehnya. Resti beranjak dari duduknya setelah melihat Mona yang telah keluar dari dalam mobil, lalu dia menghampiri dan membantunya duduk di kursi roda.
"Terimakasih Resti" ucap Herman sambil menepuk bahu Resti.
"Ya Om, sama-sama'" jawabnya.
Kemudian mereka masuk ke dalam rumah.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Mona? tanya Resti penasaran.
Kini mereka duduk di ruang tamu sambil menatap Mona meminta penjelasan. Nampak wajah penasaran dari ketiganya.
Sedangkan Mona menatap dengan berkaca-kaca ingin menangis karena merasa terharu atas perhatian keluarga dan temanya itu.
Pada akhirnya Mona menjelaskan kronologi bagaimana dirinya kecelakaan, walau dia tak sekalipun menyebut nama Reno. Dia hanya menceritakan sebagian dari cerita yang sebenarnya. Ketiganya terlihat tegang mendengar cerita bagaimana Mona kecelakaan.
"Ayah bersyukur kamu tidak apa-apa nak? Lain kali kalau ada sesuatu, kamu langsung hubungi Ayah" sambil menggenggam tangan putrinya.
"Om Herman benar Mon? Kamu cerita saja kalau ada sesuatu, termasuk padaku, kita ini kan sudah berteman lama" ucap Resti sambil meninju pelan bahu Mona.
"Aww! Sakit Res" pekik Mona.
"Loh! Sakit ya? Maaf aku tak sengaja" saut Mona sambil terkekeh.
"Benar kak, kalau ada yang macam-macam pada kakak, beri tahu Adi saja" ucap Adi sambil berdecak pinggang.
Mona mengernyitkan dahinya melihat tingkah adiknya itu, "memang apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan orang yang mengganggu Kakak?"
"Aku pasti akan melawannya lah!"
"Masa?" saut Resti menggoda, mendengar ucapan Adi.
"Kak Resti tidak percaya padaku, biar begini aku jago bela diri loh?" Jelas Adi penuh percaya diri, hingga membuat yang lain tertawa.
"Ayah, apa ada orang yang mengantar motorku ke rumah?" tanya Mona, yang sangat khawatir dengan motor kesayangannya itu, mengingat motor tersebut sempat di banting oleh Reno.
"Iya, kemarin malam ada yang mengantarkan motormu. Walau ada beberapa bagian yang pecah, tapi itu bisa di perbaiki kembali, kamu tenang saja.
"Ya ampun....itu motor atau pacar, sampai sebegitunya" ledek Adi.
"Aww! Sakit kak" pekik Adi yang di cubit lengannya oleh Mona.
"Jangan bicara sembarangan, kalau tidak ada motor itu, kakak tidak bisa bekerja, tahu?" ucap Mona
"Iya iya dasar galak" ucap Adi sambil memanyunkan bibirnya
"Hahaha" Herman dan Resti hanya bisa tertawa melihat pertengkaran Kakak beradik itu.
Terlihat Reno yang sudah berada dalam mobilnya menuju ke rumah utama keluarga Winata. Dia melajukan mobilnya cukup cepat. Setelah satu jam perjalanan, sampailah dia di depan gerbang besar rumah keluarga winata.
Tin....tin....
Suara klakson mobilnya terdengar oleh para penjaga yang berjaga di sana. Lekas salah seorang penjaga tersebut melihat layar monitor yang tersambung dengan CCTV, dan mendapati mobil majikannya yang berada di luar gerbang. Dengan segera penjaga tersebut menekan sebuah tombol yang membuat gerbang tersebut terbuka. Mobil sang majikan pun masuk ke area halaman rumah mewah keluarga Winata.
Reno segera keluar dari mobil mewahnya, namun dia tidak langsung masuk ke dalam rumah tersebut.
Sesaat dia memandangi rumah kebanggaan keluarganya. "Memuakkan" kata yang keluar dari mulut Reno setelah memandangi rumah besar itu
Kemudian dia melangkah ke dalam rumah. Ternyata kedatanganya sudah di nantikan oleh sekertaris ayahnya yang bernama Budiman. "selamat datang Pak Reno, anda sudah di tunggu oleh Tuan Teddy di ruang kerjanya.
Reno membalas sambutan Budiman, hanya dengan ekspresi datar, lalu menuju ruang kerja ayahnya di lantai dua. Kedatangan Reno ke rumah utama saat ini merupakan imbas dari pemberitaan tentang isu pernikahannya dengan Alice, yang dari awal ayahnya tak menyetujui hubungan mereka. Walau pada kenyataannya mereka tidak ada hubungan spesial.
Ceklek....
Dia membuka pintu itu, dan terlihat lah sosok pria yang sedang duduk di kursi. Tampilan fisik yang nampak masih gagah dengan rambut yang sudah beruban, yang saat ini sibuk mengerjakan sesuatu. Dialah Teddy Winata, seorang pengacara senior terkenal yang usianya menginjak 60 tahun.
Kehadiran Reno membuat matanya tertuju pada putranya yang kini sudah tepat ada di hadapannya. Pria baya itu menatap tajam ke arah Reno. "Apa maksud semua pemberitaan di luar sana?" tanya Teddy.
"Ayah tenang saja, aku akan selesaikan semuanya" jawab Reno bernada dingin.
"Lakukan konferensi pers segera, aku tidak pernah setuju kau menjalin hubungan dengan wanita itu" tegas Teddy.
Ayahnya bukannya tidak tahu hubungan antara Reno dan Alice, karena Teddy berfikir itu hanya hubungan sesaat, jadi dia tidak memedulikannya. Mengingat dia sangat paham sifat putranya yang mudah bosan dengan wanita. Namun pemberitaan yang mencuat di publik, membuat dirinya resah, karena ini menyangkut nama baik keluarga Winata. Terlebih dia berencana menjodohkan putranya dengan seorang putri konglomerat negeri ini.
"Kenapa Ayah sangat ketakutan, nanti juga beritanya akan tenggelam"
"Apa kau sudah gila!" Suara bernada tinggi Teddy, "aku sudah bilang sebelumnya, Ayah akan menjodohkan mu!"
Senyuman sinis keluar dari bibirnya, ketika mendengar ucapan ayahnya yang berencana menjodohkannya. "Ayah saja yang menikah, aku tidak berminat dengan pernikahan" ucap Reno.
"Reno!!!" teriak Teddy sambil menggebrak meja kerjanya.
"Harusnya Ayah sadar, tak sepantasnya Ayah memaksaku untuk menikah. Karena Ayah tak berhak mengurusi urusan pribadiku. Karena hubungan kita tak sedalam itu. Lagi pula aku tak berminat dengan pernikahan" Reno menatap Teddy sambil mengangkat salah satu alisnya. Kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Sedangkan Teddy hanya menahan amarahnya, melihat sikap putranya itu.
Reno menuruni tangga melangkah keluar, namun dia berpapasan dengan wanita baya yang merupakan ibu tirinya yang bernama Wilma.
"Bagaimana kabarmu Reno?" ucap Wilma. "aku dengar kamu akan menikah dengan artis itu?" tambahnya, sambil melipat tangan di dada.
"Memang apa urusan Anda? Urus saja diri Anda sendiri, jangan sampai penyakit Anda kambuh, yang bisa mempercepat kematian Anda, Nyonya Wilma" ucapan sarkas Reno, sambil menyunggingkan senyuman.
"Kenapa kau terus salah paham padaku, Reno, tidak bisakah kau menerimaku sebagai keluargamu?' ucap Wilma yang tetap tenang atas perkataan kasar putra tirinya itu.
"Anda jangan bicara omong kosong. Saya tidak pernah sudi memiliki keluarga pengkhianat seperti anda" ucapnya penuh penekanan.
Lekas Reno meninggalkan rumah yang membuat hatinya sangat sesak itu. Sedangkan Wilma hanya diam menerima ucapan kasar Reno, yang biasa dia terima. Dia berusaha tidak terpancing emosinya, agar penyakit jantungnya tidak kambuh lagi.
Benar saja, Wilma di diagnosa memiliki penyakit jantung sejak setahun lalu, yang membuat dirinya harus bisa mengendalikan emosinya. Walaupun dalam hatinya, dia pun sakit hati dengan perlakuan Reno padanya.
Reno masuk ke dalam mobilnya menuju lokasi kantornya. Sampailah dia di sebuh bangunan dua lantai yang cukup besar yang bertuliskan Law Office Reno and Partners. Ya.... Itulah nama kantor advokat miliknya.
Lekas dia masuk ke dalam kantor yang sudah terlihat kesibukan para rekan dan timnya.
"Selamat pagi Pak Reno" sapa seorang wanita yang merupakan rekan seprofesinya yang bekerja bersamanya.
"Pagi Pak" sapa yang lain.
"Pagi" balas Reno dengan wajah datar namun tak membuat karismanya luntur dengan sifat dinginnya itu. Malah sifat seperti itulah yang membuat dia semakin di kagumi banyak orang. Karena sifat dingin itulah yang menjadi daya tarik bagi semua orang yang melihatnya.
Dia masuk ke ruangan menuju kursi kebesarannya. Tanpa membuang waktu dia langsung berkutat dengan berkas-berkas para kliennya yang akan di tangani, baik kasus pidana maupun perdata.
Suara ketukan pintu di ikuti masuknya seorang wanita yang bernama Zenia, yang merupakan sekertaris nya. Zenia adalah sahabat Reno, seperti halnya Bastian. Ketiganya adalah teman sekolah sejak SMP. Walau saat kuliah mereka tidak satu Universitas, tetapi hubungan mereka sangat baik sampai saat ini.
"Selamat pagi" ucap Zenia dengan membawa tumpukan berkas.
"Pagi" balas Reno, yang tetap fokus pada pekerjaannya.
Zenia menaruh berkas-berkas tersebut di atas meja. "Ini berkasnya, sudah aku rekap semuanya"
"Iya" jawab Reno tanpa melihat sekretarisnya itu. Namun pandangan Reno akhirnya mengarah padanya yang masih berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" Reno menatap datar wanita yang masih tak beranjak dari ruangannya itu.
"Maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung urusan pribadimu. Tapi di media sosial sedang ramai tentang pemberitaan tentangmu" ucap Zenia menatap Reno menanti penjelasan.
"Biarkan saja, itu tak penting"
"Tapi, berita pagi ini sepertinya semakin gawat, karena Alice mengaku hamil anakmu" Zenia yang semakin khawatir akan pemberitaan yang semakin liar beredar di stasiun televisi maupun sosial media.
Entah kenapa Reno masih saja tenang mendengar kabar dari sekertarisnya itu. Seolah dia tidak terpengaruh sama sekali dengan pemberitaan yang menggemparkan jagat maya di negeri ini. Padahal itu bisa mencoreng namanya dan keluarganya.
"Tunjukkan padaku" perintah Reno pada Zenia.
Akhirnya Zenia memberikan ponselnya pada Reno, yang berisi pemberitaan tersebut.
...Zenia Murder...
...(Sumber: Pinterest)...
...****************...
...Jangan lupa kasih...
...like 👍...
...Comment 🗣️...
...Subscribe ✔️...
...Follow ➕...
...Vote 💌...
...Nilai⭐⭐⭐⭐⭐...
...jangan lupa hadiahnya 🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦✍️⃞⃟𝑹𝑨💫⃝ˢᶦ𝐂ɪᴘяᴜт
aku ga komentar banyak.
nambah satu bab dulu sambil ngopi
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Coffee//Rose/
2024-08-12
0
Sugiharti Rusli
lha bisa segitunya si Alice bikin berita heboh agar dinikahin sama si Reno
2024-07-14
0