...*Jika ada istilah hukum yang kurang tepat di setiap pemilihan kata atau kalimat di Novel ini mohon dimaafkan. Karena author masih belajar. Jika kalian punya pengetahuan soal istilah kata dalam hukum silakan kasih masuka**n*....
...Terimakasih...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Di tengah malam, Mona menyusuri jalanan ibu kota dengan motornya. Sudah pasti rasa lelah dan letih dia rasakan. Fisik dan mentalnya benar-benar di uji saat ini.
Dia melajukan motornya menuju rumahnya. Sesampai di depan rumah, Mona menatap hampa bangunan yang penuh kenangan bersama keluarganya itu. Tapi saat ini rumah itu menjadi saksi bisu bagaimana kejadian berdarah yang melibatkan ayahnya.
Rumah yang di beri garis polisi itu kini terlihat mencekam. Kesejukan dan kehangatan rumahnya terlihat mulai pudar dengan kejadian mengerikan itu.
Tubuh Mona terasa lunglai, dia duduk di depan rumahnya sambil menangis meratapi nasibnya dan keluarganya saat ini.
"Ibu, apa yang harus Mona lakukan?" ucap Mona yang terdengar lirih, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan air mata yang terus tertumpah.
Tiba-tiba dia merasakan ada yang menepuk bahunya. "Mbak Mona" ucap seseorang yang ternyata itu adalah Ujang.
Mona mengarahkan pandangannya pada Ujang dengan mata sembab.
"Mbak Mona, mari ikut saya. Sementara waktu Mbak Mona dan Adi tinggal di rumah saya saja dulu."
"Apa boleh kang?"
Ujang menganggukkan kepalanya, "tentu boleh Mbak."
Mona beranjak dari duduknya menuju rumah Ujang. Pada akhirnya wanita itu sementara waktu tinggal di rumah Ujang, sambil menunggu proses penyelidikan selesai.
"
"
Kabar kejadian pembunuhan yang terjadi di rumah Mona dengan cepat telah menyebar. Baik itu di kampus maupun di restoran tempat ia bekerja.
Beberapa ada yang bersimpati, namun tak sedikit pula yang menggunjing. Mona berusaha kuat dengan segala cibiran maupun perkataan bernada satir untuknya.
"Mona jika kau tak suka dengan kelasku, keluar sekarang" ucap Jarwo yang saat ini mengajar.
Sudah pasti peringatan dari dosennya itu membuat mahasiswa lain menatap tajam ke arahnya.
"Ma-maaf pak" ucap Mona.
Beberapa hari ini Mona tidak bisa fokus dengan kuliah maupun pekerjaanya. Pikirannya kini terbagi dengan masalah yang menimpa ayahnya.
Beberapa jam kemudian, waktu pulang pun tiba, dia bergegas keluar dari ruangan untuk segera pulang.
"Mona" suara Resti memanggil Mona yang nampak tergesa-gesa.
"Ya, ada apa?"
"Kau jangan hiraukan kata mereka, tetap semangat" ucap Resti sambil mengepalkan satu tangan memberi semangat.
Ucapan dari sahabatnya itu membuat dirinya kembali semangat. Entah apa yang terjadi jika sahabatnya itu tidak ada di sampingnya. Mungkin dirinya akan terus tenggelam dalam keterpurukan.
Di peluknya tubuh sahabatnya itu. "Terimakasih selama ini kamu tetap mendukungku." ucap Mon pada Resti.
Resti langsung mengelus punggung Mona. "Aku akan terus mendukungmu, jika itu yang terbaik untukmu." Lalu melepas pelukan sahabatnya itu.
"Ngomong-ngomong bagaimana kemarin, apa kamu sudah ke kantor LBH?" tanya Resti.
Mona yang tidak memilik uang untuk menyewa pengacara, akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan ke Lembaga Bantuan Hukum. Dimana lembaga tersebut membantu orang-orang seperti Mona yang kesulitan mendapatkan pengacara karena terkendala biaya.
"Ya, aku sudah kesana, serta berkonsultasi mengenai kasus Ayahku, tapi_" Mona tak melanjutkan perkataannya.
"Tapi kenapa?" Resti mengerutkan dahinya, penasaran.
"Sepertinya sangat sulit untuk meminta keringanan hukuman, karena semua bukti mengarah ke Ayahku" ucap Mona yang kembali terlihat wajah murungnya. "Aku takut Res? Aku takut Ayah di jatuhi hukuman berat" ucapnya lagi.
"Mona? Jangan berputus asa. Ini memang sulit bagimu, tapi kamu harus tetap tegar" sambil menepuk kedua pundak Mona. "Ingatlah, kamu masih punya Aku."
Rasa haru menyentuh relung hatinya, kala mendengar ucapan Resti. Sulit memang jika harus menanggung semuanya sendiri. Apalagi dalam hal ini tak ada sanak saudara yang bisa dimintai bantuan.
Saat ini Mona sudah kembali ke rumahnya setelah proses penyidikan selesai. Tidak ada kesulitan yang berarti untuk nya kembali beraktifitas di rumahnya. Namun berbeda dengan adiknya, Adi. Dia seperti memiliki trauma mendalam di rumahnya, terlebih kamarnya sendiri.
"Adi, makanlah sedikit" ucap Mona sambil memberikan semangkuk bubur ayam yang masih mengepul. Tapi Adi hanya menatap kosong makananya itu.
Sudah beberapa hari ini adiknya tidak nafsu makan. Semenjak kejadian naas itu, sikap Adi berubah. Dia lebih suka diam dan sering melamun.
Perubahan drastis adiknya, membuat Mona khawatir. Bahkan dia pernah mencoba mengajak adiknya itu periksa ke psikiater tapi malah di tolak mentah-mentah olehnya. Mona pun tak bisa berbuat banyak.
"Adi, makan ya dek?" sambil menyuapi adiknya itu. Dengan segala usaha dan bujuk rayu, akhirnya Adi mau makan.
Ding dong....
Suara bel rumahnya. Segera membuka pintu rumah dan terlihat lah istri Ujang yang bernama Siti.
"Bu Siti, silakan masuk." ucap Mona. Lalu keduanya duduk di ruang tamu.
"Bagaimana keadaan Adi?" tanya Siti menatap Mona yang terlihat lelah.
Mona menghela nafasnya dalam lalu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang begitu sedih. "Masih sama" suara Mona yang terasa berat.
"Kamu sabar ya? Aku yakin adikmu akan segera pulih" ucap Siti sambil menggenggam tangan Mona.
"Kamu berangkat saja, biar Adi aku yang jaga" ucap Siti.
"Terimakasih, Bu? Mona titip Adi."
"Iya" ucap Siti menganggukkan kepalanya.
Lekas dia meraih tasnya menuju kantor pengadilan. Dimana tempat persidangan ayahnya berlangsung.
"
"
Terlihat Mona yang sudah duduk di bangku ruang persidangan dengan perasaan cemas sambil meremat tangannya sendiri. Tak berapa lama masuk Lah para hakim, di susul ayahnya yang di borgol dengan memakai baju tahanan.
Hancur, itulah yang dirasakan hati Mona saat ini. Melihat ayahnya yang kini statusnya menjadi terdakwa. Tak kuasa dia menyaksikan persidangan itu. Namun dia tetap menguatkan hatinya untuk menyaksikan persidangan tersebut.
Walau sampai detik ini, dia sama sekali belum percaya bahwa ayahnya melakukan pembunuhan itu. Walau bukti mengarah semua pada ayahnya.
Selain Mona, persidangan juga di hadiri oleh putri kandung Ratna dari pernikahan sebelumnya yang bernama Rachel. Wanita yang usianya tidak berbeda jauh dari Mona itu menatap penuh kebencian ke arah Mona yang duduk di bangku tengah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
oh iya si Ratna punya anak yah dari mantan suami pertamanya dulu,,,
2024-07-14
0
Bening
bca pe sini dulu...
1 kopi meluncur
2024-07-13
0