"Selamat pagi, mari kita sarapan" ucap Mona. Terlihat dia sedang menyiapkan sarapan untuk anggota keluarganya.
"Selamat pagi sayang" ucap Herman yang sudah duduk di meja makan.
"Selamat pagi Kak?" di susul suara Adi yang terlihat berlari dari lantai atas menuju meja makan.
"Mari makan....!" ucap Adi yang telah duduk bersiap menyantap sarapannya.
Namun tiba-tiba tangannya di pukul kakaknya. "Hei Adi, apa kamu sudah cuci tangan?!" sambil memicingkan matanya ke arah Adi yang tersenyum menunjukkan giginya.
"Aku lupa kak" Segera dia menuju wastafel.
"Hebat sekali putri Ayah, sepertinya pagi ini kita sarapan enak" Herman yang takjub dengan sajian sarapan yang di siapkan Mona.
Ayah benar, ternyata Kak Mona tidak hanya pintar mengomel, tapi juga pintar masak" ucap Adi meledek sambil terkekeh.
Picingan mata dari sang kakak pun tak bisa dia hindari, karena memang Adi sengaja ingin menggoda kakaknya itu.
Sambil tersenyum simpul Adi pun berkata, "jangan marah begitu lah kak, Adik pintar mu ini kan hanya bercanda" sambil memasang wajah gemas di depan kakaknya yang nampak menghela nafas melihat tingkahnya. "Mari kita makan....!" saut Adi yang langsung melahap sarapannya.
"Pelan-pelan Adi, nanti kamu tersedak" ucap Mona.
Sedangkan Herman yang melihat tingkah putranya, hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Ayah akan bekerja hari ini?" tanya Mona sambil menyantap sarapannya.
"Iya, karena kondisi Ayah juga mulai membaik." Setelah beberapa minggu beristirahat di rumah untuk memulihkan kondisinya. Herman memutuskan mencari pekerjaan. Dan pada akhirnya beberapa hari berusaha dia berhasil mendapatkannya.
"Ayah bekerja dimana? Kalau pekerjaan itu memberatkan Ayah jangan di lanjutkan, karena kondisi kesehatan Ayah lebih penting" Mona mencoba memberikan saran pada ayahnya. Karena dia tahu kondisi ayahnya tak seperti dulu.
"Kamu tak usah khawatir, Ayah mendapatkan pekerjaan yang cukup baik dan gajinya pun lumayan"
"Benarkah?" Mona menatap penasaran. "Memang Ayah bekerja dimana?"
"Sementara Ayah bekerja di sebuah rumah mewah, menjadi tukang kebun disana. Sambil mengumpulkan uang untuk merintis usaha Ayah kembali" ucap Herman tersenyum balik pada putrinya itu.
Begitu bahagia Mona mendengar ucapan Ayahnya, bukan karena pekerjaan baru yang baru di dapat, namun semangat ayahnya yang kembali seperti dulu, sebelum kehadiran ibu tirinya di tengah keluarga mereka.
"Semangat Ayah, aku yakin kehidupan kita akan lebih baik kedepannya" perkataan penuh semangat dari seorang putri untuk ayahnya.
"Iya Ayah, semangat! Adi juga mendukung kok" ucap Adi dengan pipi mengembung penuh makanan.
"Ya ampun Adi, sudah kakak bilang makannya pelan-pelan, nanti kau tersedak" Mona yang mulai kesal di buatnya.
"Habisnya masakan kakak enak."
"Enak sih enak, tapi tidak seperti juga makannya" Mona menepuk jidatnya sendiri sambil menghela nafas.
"Terimakasih sudah mendukung Ayah, kalian memang anak-anak Ayah yang hebat" saut Herman.
Setelah kegiatan sarapan selesai, ketiganya berangkat dengan kesibukan masing-masing. Seperti biasa Adi berangkat menuju sekolahnya, Mona berangkat kuliah, sedang Herman menuju rumah tempat dia bekerja.
Pria paruh baya itu naik angkutan umum menuju ke sebuah komplek perumahan elit di pusat kota yang yang bernama Jakarta Greenwin Lagoon. Sampai di depan komplek tersebut, dia melanjutkan perjalannya menuju ke dalam area komplek menuju rumah yang di tuju menggunakan ojek online.
Sepanjang perjalanan, Herman memandangi deretan rumah elit di sana yang begitu besar dan mewah, yang tersembunyi di balik kokohnya tembok dan gerbang rumah tersebut.
Hingga sampailah dia di depan gerbang yang nampak tinggi dan kokoh.
"Terimakasih bang" ucap Herman sambil memberikan uang pada si abang ojek.
Terlihat beberapa penjaga berpakaian hitam di dekat gerbang.
"Maaf Tuan, apa benar ini rumah keluarga Winata" tanya Herman ke salah satu penjaga yang berjaga.
"Iya, ada perlu apa?!" jawab seorang penjaga dengan suara tegas.
"Sa-saya Herman, saya tukang kebun baru di rumah ini, Tuan" Herman menelan salivanya merasa gugup.
Penjaga itu menatap tajam penuh menyelidik, mengamatinya dari atas hingga bawah. "Mana kartu identitasmu?!" pinta penjaga itu.
Herman langsung mengambil kartu identitasnya di dalam dompetnya, dan menyerahkan ke pria tersebut. Sudah pasti penjaga itu melihat foto identitas Herman untuk menyamakan wajahnya.
"Baik, masuklah" perintah pria tersebut.
Masuklah Herman melalui pintu kecil bagian sisi gerbang. Begitu dia masuk, nampak lah sebuah bangunan rumah mewah berlantai dua bergaya klasik eropa.
"Apa ini tempatku bekerja?" Herman cukup terkejut dengan penampakan rumah majikannya. karena pada awalnya dia mendapatkan pekerjaan itu, karena di tawari seorang tetangganya.
Dia tak pernah tahu bahwa dia akan bekerja di sebuah rumah elit yang tak terbayang sebelumnya. Mungkin saat ini dia pun tidak tahu bahwa dia sedang bekerja di rumah seorang pengacara hebat, Teddy Winata.
Herman terus mengedarkan pandanganya mengamati halaman rumah yang penuh dengan rerumputan hijau dan tanaman hias mahal yang menghiasi.
"Herman" Suara seseorang yang memanggilnya.
"Marni" saut Herman.
Tetangga yang menawari Heman pekerjaan adalah Marni, yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Winata.
Segera dia melangkah menuju Marni. Sedangkan wanita tersebut mengajak Herman untuk menemui seseorang lewat pintu belakang. "Ayo ikut aku."
Keduanya melangkah ke dalam rumah. Sudah pasti untuk menemui sang nyonya rumah, siapa lagi kalau bukan Wilma Winata.
"Nyonya" suara Marni yang menghadap majikannya bersama Herman di ruang bersantai di rumah itu.
"Ada apa?" ucap Wilma yang membelakangi keduanya. Terlihat dia sedang sibuk belajar merangkai bunga di dalam vas bersama seorang perangkai bunga yang melatihnya.
"Nyonya saya membawa tukang kebun yang baru" ucap Marni.
Wilma kemudian menghentikan kegiatanya lalu menghadap Marni dan Herman. Sudah pasti pandangannya menuju ke arah Herman yang akan menggantikan tukang kebunnya yang lama.
"Apa kamu bisa merawat tanaman?" tanya Wilma sambil melipat tangan di dada.
"Bi-bisa Nyonya" jawab Herman yang merasa gugup karena terus mendapat tatapan dari sang nyonya besar.
Pastilah Herman bisa merawat tanaman, karena sebelumnya dia pernah memiliki usaha tanaman hias langkah yang memiliki harga tinggi, dengan omset puluhan juta. Namun akhirnya dia bangkrut karena terjebak investasi palsu yang di lakukan temannya sendiri.
"Baiklah kamu bisa bekerja dari sekarang" lalu menatap ke arah Marni. "Marni, jelaskan apa saja tugasnya" perintah Wilma.
"Baik Nyonya" ucap Marni, kemudian berlalu meninggalkan majikannya bersama Herman.
Herman pun mulai bekerja di hari itu juga. Dia bertugas merawat tanaman di halaman rumah keluarga Winata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Sunshine💐🤎
1 iklan untuk mu Thor semangat terus 👍
2024-07-16
0
Sugiharti Rusli
oh ayahnya si Mona malah kerja di rumah ortunya si Reno sekarang,,,
2024-07-14
0