Mona melajukan motornya menuju kawasan apartemen mewah di kawasan kota Jakarta. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, hingga sampai dia di sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dengan segala kemewahan bangunan yang terpampang jelas di matanya.
Dia memandangi gedung itu dengan pikiranya sendiri. Mungkin sedang membayangkan dia adalah salah satu penghuni apartemen mewah itu.
"Pekerjaan apa sih yang di lakukan penghuni apartemen ini? Hingga mereka sangat mudah mendapat segalanya" batin Mona sambil menghela nafasnya dalam.
"Ah! Apa sih yang aku pikirkan?! Mungkin mereka kaya dari lahir, jadi tidak perlu berpusing ria sepertiku." Gumamnya sambil menepuk jidatnya sendiri, merasa apa yang di katakan adalah sesuatu yang melantur.
Segera Mona menemui Resepsionis apartemen mewah tersebut, meminta izin mengantarkan pesanan milik salah satu penghuni gedung mewah ini.
Petugas itu menghubungi seseorang, kemungkinan dia melapor pada pemesan pizza tersebut.
"Baik, Pak. Akan segera saya sampaikan." Begitulah sepenggal percakapan yang di dengar Mona.
"Baik, Mbak. Silakan anda mengantarnya, beliau sedang menunggu."
Mona mengangguk mengerti, "terimakasih."
"Sama-sama." Balas Resepsionis tersebut.
Kini kakinya melangkah menuju pintu lift dan masuk ke dalamnya.
Ting....
Pintu lift terbuka. Tanda Mona telah sampai di lantai 50, di mana pemesan itu tinggal. Dia melangkah keluar dengan memakai seragam kebanggaannya, yang berwarna perpaduan hitam dan merah.
Begitu melihat deretan ruangan di lantai tersebut. Mona begitu terperangah dengan suasana di lantai paling tinggi tersebut. Lantai yang hanya terdapat unit apartemen khusus, paling mewah dan paling mahal, apalagi kalau bukan sebuah Unit Penthouse.
Ini pertama kalinya Mona menginjakkan kakinya di lantai atas gedung apartemen mewah tersebut.
"Wow! Orang kaya memang beda, di luar saja semewah ini, apalagi di dalam, mungkin bola mataku akan copot melihatnya." Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dia melangkah menuju Unit Penthouse yang di maksud, hingga sampailah Mona di depan pintu unit tersebut, sebuah pintu bernomor kan angka 208 yang terpampang di depannya.
"Ini benar kan tempatnya?" sembari melihat bergantian nomer pintu dan kertas kecil yang di bawa nya. "Benar, ini memang ruangannya."
Kemudian Mona mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke penghuni unit tersebut.
[Mona; Selamat pagi Kak? Ini Yummy Pizza, saya sudah sampai di depan pintu.
^^^Pembeli; ya tunggu sebentar.]^^^
....1 menit
....5 menit
....10 menit
....15 menit
Huuufft....
Mona menghela nafas kasarnya kesal. Bagaimana dia tak kesal, dia sudah menunggu lama, tapi si pemilik Penthouse tak kunjung keluar.
"Ini penghuni masih hidup atau sudah mati sih?! lama sekali!!!" Mona yang semakin kesal sambil menyandarkan kepalanya di depan pintu.
Namun tiba-tiba pikiranya mengawang-awang ucapannya sendiri
"Apa!!! Mati?!" Mona membulatkan matanya. "Apa jangan-jangan orang di dalam terpleset, terus terjatuh, terus mati, karena itu dia tak juga keluar." Mona yang pikirannya sudah di kuasai pikiran negatif.
"Oh...Tuhan, bagaimana ini?!" sambil menggigit kuku ibu jarinya cemas.
Dia pun memutuskan mengetuk pintunya.
tok, tok, tok....
"Kak?! Apa anda baik-baik saja di dalam?!" Suara Mona memanggil dengan rasa cemas.
"Kak?! Apa anda bisa mendengar saya?!" Mona terus berusaha memanggil dengan terus mengetuk pintu dengan keras, sampai pintu tak berdosa itu pun di tendang olehnya berulang kali. Dia bukan terlihat seperti orang yang akan menolong, malah terlihat seperti orang yang ingin merampok.
"Aduh...! Bagaimana ini? Aku harus cari bantuan."
Ceklek....
Suara pintu terbuka, dan terlihatlah sosok pria tampan yang menggunakan handuk kimono dengan rambut yang masih basah. Pria itu menatap dingin ke arah Mona, memperhatikannya dari atas hingga bawah.
"Kak, apa anda tidak apa-apa? Saya pikir anda_"
Seketika Mona tidak melanjutkan ucapannya saat melihat siapa pria yang membuka pintu tersebut. Dia memicingkan matanya ke arah pria tersebut seraya mengamati wajah tampan di hadapannya, memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala, seperti wajah yang sangat familiar untuknya.
"Ya ampun! A-anda kan pengacara terkenal itu?" Mona begitu senang dengan pertemuan yang tidak sengaja itu. Sebuah pertemuan dengan seorang pengacara terkenal yang jadi idola semua kalangan, bahkan mengalahkan kepopuleran seorang artis.
"Entah kebaikan apa yang sudah saya perbuat, hingga saya bisa bertemu dengan anda Kak?" ucap Mona lalu meraih tangan pria itu sambil menyalaminya berulang kali.
Sudah pasti tingkah wanita pengantar pizza di hadapannya itu membuat hati si pria merasa jengkel, dan menarik tangannya cepat dari genggaman Mona.
Pria itu menatap tak bersahabat pada nya, sampai membuat wanita itu menelan salivanya karena mendapat tatapan bak pedang yang siap menusuknya.
"Apa yang kau lakukan?! Apa kau tidak punya adab, menggedor pintu seperti itu?!"
Mona berkesiap mendapatkan makian dari sang pemilik unit. Dia tak menyangka rasa kagumnya di balas dengan perkataan pedas sosok pria di hadapannya itu.
Mona melempar senyuman yang di paksakan ke arah pria itu, sambil membatin kesal, "siapa suruh lama, memang di pikir pekerjaanku hanya menunggu di pintu."
"Ma-maaf Kak, saya pikir terjadi sesuatu pada_"
"Mana pesananku!" Pria itu menyela ucapannya.
"Ini Kak, pesanannya." Mona menyerahkan satu kotak pizza besar ke si pria yang memasang wajah menyebalkan.
Kemudian pria itu memberi tiga lembar uang seratus ribuan pada Mon tanpa berkata apapun.
Braaak....
Suara pintu yang di tutup cukup keras. Mona kembali terkesiap, tangannya mengepal kesal. "Dasar pria sombong! Untung saja wajahnya tampan, kalau tidak, sudah ku acak-acak itu wajah."
Akhirnya Mona berlalu meninggalkan gedung apartemen mewah tersebut dengan hati dengan perasaan dongkol.
...----------------...
Di sebuah unit penthouse dengan segala kemewahan di dalamnya, terlihat pria tampan rupawan yang sedang membawa sekotak pizza yang baru di pesannya.
Pria itu bernama Abraham Reno Winata, berusia 30 tahun. Dia adalah seorang pengacara terkenal seantero negeri. Wajah tampan, kekayaan, kecerdasan serta latar belakang keluarga yang tak kalah mentereng dari karirnya saat ini. Dia adalah putra dari pengacara senior terkemuka Teddy Winata.
Begitu sempurna kehidupan yang di milikinya. Hanya dengan duduk manis saja, wanita langsung menghampiri ingin mendapatkan perhatiannya, termasuk wanita yang saat ini bersamanya.
Seorang aktris terkenal yang memiliki jutaan penggemar dengan segudang prestasi. Di tambah wajah cantik dan tubuh indah membuat dia menjadi trend center di kalangan masyarakat saat ini. Dia lah Alice Claretta.
Namun wajah cantik dan segala kelebihannya, tak lantas membuat dirinya bisa menaklukkan seorang Abraham Reno Winata, yang sudah membuatnya tergila-gila.
Reno melangkah menuju kamar mewahnya sambil membawa pizza pesanannya.
"Sayang, apa yang kau bawa?" Alice bertanya pada Reno yang baru sampai di kamar dengan menyelimuti tubuh polosnya,
Tanpa basa-basi Reno meletakkan sekotak pizza itu tepat di depan Alice, "ini makanlah, lalu pergi lah dari sini?"
"Apa maksudmu Reno?! Apa kau mengusirku?!" suara Alice yang mulai meninggi, tak terima ucapan pria di hadapannya yang seolah mengusirnya.
Reno hanya diam menatap dingin wanita yang berada di atas ranjangnya itu.
Alice langsung beranjak dari ranjangnya, dan sudah pasti tubuh polosnya terekspos jelas oleh Reno. Wanita itu memeluknya dari arah belakang, mencoba mendesak dada sintalnya ke punggung Reno, berusaha membangkitkan gairah seksual pria yang membuatnya tergila-gila itu. Tapi apalah daya tangan tak sampai, Reno sama sekali tak bernafsu pada sang artis.
"Kau jangan seperti wanita binal, Alice. Aku tak berhasrat padamu."
Reno melepas paksa pelukannya, lalu memposisikan tubuhnya berhadapan dengan wanita telanjang di hadapan nya. Memandangi tubuhnya dengan wajah datar tak tertarik, di ikuti senyum sinis nya yang begitu menyakiti Alice.
"Reno, kau tak bisa seenaknya padaku, kita sudah berhubungan cukup lama."
Protes Alice pada Reno dengan wajah memelas, mencoba meluluhkan hati sang pria pujaannya itu.
Sejak dulu Alice berupaya keras mendekati Reno. Semuanya berawal saat dia menjadikan Reno sebagai kuasa hukumnya di setiap kasus yang menimpanya. Sampai hatinya tak mampu menolak untuk memiliki pria tersebut. Dengan wajah tampan dan karismanya yang pria itu miliki, bagaiman Alice tak di buat jatuh cinta oleh sosok Reno.
"Memangnya hubungan kita seperti apa? Kita hanya sebatas pengacara dan klien, tak lebih dari itu." Tegas Reno dengan mencengkram rahang Alice yang terus protes, hingga membuatnya muak.
"Tapi aku mencintaimu sayang, aku akan berikan semua milikku padamu." Alice merajuk memelas cinta sang pengacara.
Begitu mendengar pengakuan cinta dari Alice, Reno tertawa terbahak-bahak, seolah mengejek ucapan Alice itu. Bagi Reno, cinta dan pernikahan adalah sesuatu yang sangat di hindari oleh Reno. Dia menganggap dua kata itu seperti virus yang harus di musnahkan.
"Aku tidak tertarik, karena aku sudah punya semuanya." Reno melepas cengkraman nya, "aku juga tidak tertarik apa itu cinta, karena itu omong kosong!" tambahnya.
Alice hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya atas penolakan pria pujaannya itu.
...Reno Abraham Winata...
...Alice Claretta...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Darien Gap
hmmm kacimaaan
2024-08-17
1
👑Queen of tears👑
aaaaaa apa ini 🤣🤣🧐🧐
ada Clara ku🤣🤣🤣🤦
ehhhh iya kan ini davika🧐🧐🧐🤣
2024-07-18
1
👑Queen of tears👑
aaaaaa ada erlangga di sini🧐🧐🧐
cast sang penulis juga ini🤣🤭
2024-07-18
0