Abraham Reno Winata

Mona melajukan motornya menuju kawasan apartemen mewah di kawasan kota Jakarta. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, hingga sampai dia di sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dengan segala kemewahan bangunan yang terpampang jelas di matanya.

Dia memandangi gedung itu dengan pikiranya sendiri. Mungkin sedang membayangkan dia adalah salah satu penghuni apartemen mewah itu.

"Pekerjaan apa sih yang di lakukan penghuni apartemen ini? Hingga mereka sangat mudah mendapat segalanya" batin Mona sambil menghela nafasnya dalam.

"Ah! Apa sih yang aku pikirkan?! Mungkin mereka kaya dari lahir, jadi tidak perlu berpusing ria sepertiku." Gumamnya sambil menepuk jidatnya sendiri, merasa apa yang di katakan adalah sesuatu yang melantur.

Segera Mona menemui Resepsionis apartemen mewah tersebut, meminta izin mengantarkan pesanan milik salah satu penghuni gedung mewah ini.

Petugas itu menghubungi seseorang, kemungkinan dia melapor pada pemesan pizza tersebut.

"Baik, Pak. Akan segera saya sampaikan." Begitulah sepenggal percakapan yang di dengar Mona.

"Baik, Mbak. Silakan anda mengantarnya, beliau sedang menunggu."

Mona mengangguk mengerti, "terimakasih."

"Sama-sama." Balas Resepsionis tersebut.

Kini kakinya melangkah menuju pintu lift dan masuk ke dalamnya.

Ting....

Pintu lift terbuka. Tanda Mona telah sampai di lantai 50, di mana pemesan itu tinggal. Dia melangkah keluar dengan memakai seragam kebanggaannya, yang berwarna perpaduan hitam dan merah.

Begitu melihat deretan ruangan di lantai tersebut. Mona begitu terperangah dengan suasana di lantai paling tinggi tersebut. Lantai yang hanya terdapat unit apartemen khusus, paling mewah dan paling mahal, apalagi kalau bukan sebuah Unit Penthouse.

Ini pertama kalinya Mona menginjakkan kakinya di lantai atas gedung apartemen mewah tersebut.

"Wow! Orang kaya memang beda, di luar saja semewah ini, apalagi di dalam, mungkin bola mataku akan copot melihatnya." Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Dia melangkah menuju Unit Penthouse yang di maksud, hingga sampailah Mona di depan pintu unit tersebut, sebuah pintu bernomor kan angka 208 yang terpampang di depannya.

"Ini benar kan tempatnya?" sembari melihat bergantian nomer pintu dan kertas kecil yang di bawa nya. "Benar, ini memang ruangannya."

Kemudian Mona mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke penghuni unit tersebut.

[Mona; Selamat pagi Kak? Ini Yummy Pizza, saya sudah sampai di depan pintu.

^^^Pembeli; ya tunggu sebentar.]^^^

....1 menit

....5 menit

....10 menit

....15 menit

Huuufft....

Mona menghela nafas kasarnya kesal. Bagaimana dia tak kesal, dia sudah menunggu lama, tapi si pemilik Penthouse tak kunjung keluar.

"Ini penghuni masih hidup atau sudah mati sih?! lama sekali!!!" Mona yang semakin kesal sambil menyandarkan kepalanya di depan pintu.

Namun tiba-tiba pikiranya mengawang-awang ucapannya sendiri

"Apa!!! Mati?!" Mona membulatkan matanya. "Apa jangan-jangan orang di dalam terpleset, terus terjatuh, terus mati, karena itu dia tak juga keluar." Mona yang pikirannya sudah di kuasai pikiran negatif.

"Oh...Tuhan, bagaimana ini?!" sambil menggigit kuku ibu jarinya cemas.

Dia pun memutuskan mengetuk pintunya.

tok, tok, tok....

"Kak?! Apa anda baik-baik saja di dalam?!" Suara Mona memanggil dengan rasa cemas.

"Kak?! Apa anda bisa mendengar saya?!" Mona terus berusaha memanggil dengan terus mengetuk pintu dengan keras, sampai pintu tak berdosa itu pun di tendang olehnya berulang kali. Dia bukan terlihat seperti orang yang akan menolong, malah terlihat seperti orang yang ingin merampok.

"Aduh...! Bagaimana ini? Aku harus cari bantuan."

Ceklek....

Suara pintu terbuka, dan terlihatlah sosok pria tampan yang menggunakan handuk kimono dengan rambut yang masih basah. Pria itu menatap dingin ke arah Mona, memperhatikannya dari atas hingga bawah.

"Kak, apa anda tidak apa-apa? Saya pikir anda_"

Seketika Mona tidak melanjutkan ucapannya saat melihat siapa pria yang membuka pintu tersebut. Dia memicingkan matanya ke arah pria tersebut seraya mengamati wajah tampan di hadapannya, memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala, seperti wajah yang sangat familiar untuknya.

"Ya ampun! A-anda kan pengacara terkenal itu?" Mona begitu senang dengan pertemuan yang tidak sengaja itu. Sebuah pertemuan dengan seorang pengacara terkenal yang jadi idola semua kalangan, bahkan mengalahkan kepopuleran seorang artis.

"Entah kebaikan apa yang sudah saya perbuat, hingga saya bisa bertemu dengan anda Kak?" ucap Mona lalu meraih tangan pria itu sambil menyalaminya berulang kali.

Sudah pasti tingkah wanita pengantar pizza di hadapannya itu membuat hati si pria merasa jengkel, dan menarik tangannya cepat dari genggaman Mona.

Pria itu menatap tak bersahabat pada nya, sampai membuat wanita itu menelan salivanya karena mendapat tatapan bak pedang yang siap menusuknya.

"Apa yang kau lakukan?! Apa kau tidak punya adab, menggedor pintu seperti itu?!"

Mona berkesiap mendapatkan makian dari sang pemilik unit. Dia tak menyangka rasa kagumnya di balas dengan perkataan pedas sosok pria di hadapannya itu.

Mona melempar senyuman yang di paksakan ke arah pria itu, sambil membatin kesal, "siapa suruh lama, memang di pikir pekerjaanku hanya menunggu di pintu."

"Ma-maaf Kak, saya pikir terjadi sesuatu pada_"

"Mana pesananku!" Pria itu menyela ucapannya.

"Ini Kak, pesanannya." Mona menyerahkan satu kotak pizza besar ke si pria yang memasang wajah menyebalkan.

Kemudian pria itu memberi tiga lembar uang seratus ribuan pada Mon tanpa berkata apapun.

Braaak....

Suara pintu yang di tutup cukup keras. Mona kembali terkesiap, tangannya mengepal kesal. "Dasar pria sombong! Untung saja wajahnya tampan, kalau tidak, sudah ku acak-acak itu wajah."

Akhirnya Mona berlalu meninggalkan gedung apartemen mewah tersebut dengan hati dengan perasaan dongkol.

...----------------...

Di sebuah unit penthouse dengan segala kemewahan di dalamnya, terlihat pria tampan rupawan yang sedang membawa sekotak pizza yang baru di pesannya.

Pria itu bernama Abraham Reno Winata, berusia 30 tahun. Dia adalah seorang pengacara terkenal seantero negeri. Wajah tampan, kekayaan, kecerdasan serta latar belakang keluarga yang tak kalah mentereng dari karirnya saat ini. Dia adalah putra dari pengacara senior terkemuka Teddy Winata.

Begitu sempurna kehidupan yang di milikinya. Hanya dengan duduk manis saja, wanita langsung menghampiri ingin mendapatkan perhatiannya, termasuk wanita yang saat ini bersamanya.

Seorang aktris terkenal yang memiliki jutaan penggemar dengan segudang prestasi. Di tambah wajah cantik dan tubuh indah membuat dia menjadi trend center di kalangan masyarakat saat ini. Dia lah Alice Claretta.

Namun wajah cantik dan segala kelebihannya, tak lantas membuat dirinya bisa menaklukkan seorang Abraham Reno Winata, yang sudah membuatnya tergila-gila.

Reno melangkah menuju kamar mewahnya sambil membawa pizza pesanannya.

"Sayang, apa yang kau bawa?" Alice bertanya pada Reno yang baru sampai di kamar dengan menyelimuti tubuh polosnya,

Tanpa basa-basi Reno meletakkan sekotak pizza itu tepat di depan Alice, "ini makanlah, lalu pergi lah dari sini?"

"Apa maksudmu Reno?! Apa kau mengusirku?!" suara Alice yang mulai meninggi, tak terima ucapan pria di hadapannya yang seolah mengusirnya.

Reno hanya diam menatap dingin wanita yang berada di atas ranjangnya itu.

Alice langsung beranjak dari ranjangnya, dan sudah pasti tubuh polosnya terekspos jelas oleh Reno. Wanita itu memeluknya dari arah belakang, mencoba mendesak dada sintalnya ke punggung Reno, berusaha membangkitkan gairah seksual pria yang membuatnya tergila-gila itu. Tapi apalah daya tangan tak sampai, Reno sama sekali tak bernafsu pada sang artis.

"Kau jangan seperti wanita binal, Alice. Aku tak berhasrat padamu."

Reno melepas paksa pelukannya, lalu memposisikan tubuhnya berhadapan dengan wanita telanjang di hadapan nya. Memandangi tubuhnya dengan wajah datar tak tertarik, di ikuti senyum sinis nya yang begitu menyakiti Alice.

"Reno, kau tak bisa seenaknya padaku, kita sudah berhubungan cukup lama."

Protes Alice pada Reno dengan wajah memelas, mencoba meluluhkan hati sang pria pujaannya itu.

Sejak dulu Alice berupaya keras mendekati Reno. Semuanya berawal saat dia menjadikan Reno sebagai kuasa hukumnya di setiap kasus yang menimpanya. Sampai hatinya tak mampu menolak untuk memiliki pria tersebut. Dengan wajah tampan dan karismanya yang pria itu miliki, bagaiman Alice tak di buat jatuh cinta oleh sosok Reno.

"Memangnya hubungan kita seperti apa? Kita hanya sebatas pengacara dan klien, tak lebih dari itu." Tegas Reno dengan mencengkram rahang Alice yang terus protes, hingga membuatnya muak.

"Tapi aku mencintaimu sayang, aku akan berikan semua milikku padamu." Alice merajuk memelas cinta sang pengacara.

Begitu mendengar pengakuan cinta dari Alice, Reno tertawa terbahak-bahak, seolah mengejek ucapan Alice itu. Bagi Reno, cinta dan pernikahan adalah sesuatu yang sangat di hindari oleh Reno. Dia menganggap dua kata itu seperti virus yang harus di musnahkan.

"Aku tidak tertarik, karena aku sudah punya semuanya." Reno melepas cengkraman nya, "aku juga tidak tertarik apa itu cinta, karena itu omong kosong!" tambahnya.

Alice hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya atas penolakan pria pujaannya itu.

...Reno Abraham Winata...

...Alice Claretta...

Terpopuler

Comments

Darien Gap

Darien Gap

hmmm kacimaaan

2024-08-17

1

👑Queen of tears👑

👑Queen of tears👑

aaaaaa apa ini 🤣🤣🧐🧐
ada Clara ku🤣🤣🤣🤦
ehhhh iya kan ini davika🧐🧐🧐🤣

2024-07-18

1

👑Queen of tears👑

👑Queen of tears👑

aaaaaa ada erlangga di sini🧐🧐🧐
cast sang penulis juga ini🤣🤭

2024-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Mona Ayunda
2 Abraham Reno Winata
3 Talak cerai
4 Perceraian Yang di Syukuri
5 Pertemuan
6 Membencimu
7 Hangat-Menyesakkan
8 Obsesi Alice
9 Hancurnya Karir Alice
10 Pertemuan Yang Tak Diharapakan
11 Kehangatan keluarga
12 Kebencian dari Reno
13 Bibit Kebencian
14 Kehormatan Yang Terenggut
15 Meminta Pertanggung Jawaban
16 Peristiwa Berdarah Part 1
17 Peristiwa Berdarah Part2
18 Mengorbankan Diri
19 Menjadi Kuat dan Tegar
20 Situasi Memburuk
21 8 Tahun Penjara
22 Ingin Tetap Hidup
23 Di Selamatkan
24 Pengakuan
25 Siasat
26 Menolak
27 Menemukan Titik Terang Part 1
28 Menemukan Titik Terang Part 2
29 Bimbang
30 Hitam Di Atas Putih
31 Cinta Tak Terbalas
32 Mencari Bukti
33 Hukuman Yang Adil
34 Bersiap Menemui
35 Bertemu Calon Mertua
36 Menjalani Hariku Seperti Biasa
37 Hubungan Yang di Sembunyikan
38 Mengharap Lebih
39 Tersulut Amarah
40 Kembali Bertemu
41 Cinta Sepihak
42 Pernikahan Yang Terasa Hampa
43 Malam Pertama Tapi Bukan Yang Pertama
44 Pertemuan Yang Tak sengaja
45 Hubungan Persahabatan Yang Tak Wajar
46 Menutupi
47 Menuntut Kepatuhan
48 Tatapan Hina
49 Keadaan Rumah tangga Yang Di sembunyikan
50 Kesepakatan Baru
51 Tak Terkendali
52 Bebasnya Herman
53 Di Balik Hubungan Pernikahan
54 Ketahuan
55 Berakhirnya Hubungan Tak Sehat
56 Rencana Zenia
57 Jebakan
58 Hubungan Yang Di Akhiri
59 Pertemuan Yang Tak Di Duga
60 Jatuh Cinta
61 Tak Bisa Membohongi Hati
62 Mempertahankan
63 Rasa Bersalah
64 Bertemu Dengan Masa Lalu
65 Bertemu Sang Mantan
66 Jesslyn
67 Ketahuan
68 Hubungan Yang Semakin Dalam
69 Menguak Rahasia
70 Amarah Wilma dan Rencana Keluarga Murder
71 Kebenaran Masa Lalu
72 Rahasia Yang Terbongkar Part 1
73 Rahasia Yang Terbongkar Part 2
74 Rahasia Yang Terbongkar Part 3
75 Penyesalan
76 Dia Putriku
77 Hubungan Yang Di Pertanyakan
78 Bimbang
79 Mengagumi Dalam Diam
80 Situasi Semakin Menegang
81 Sebuah Pengakuan
82 Hubungan
83 Menyakitkan
84 Pembalasan
85 Membuatnya Berpisah
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Mona Ayunda
2
Abraham Reno Winata
3
Talak cerai
4
Perceraian Yang di Syukuri
5
Pertemuan
6
Membencimu
7
Hangat-Menyesakkan
8
Obsesi Alice
9
Hancurnya Karir Alice
10
Pertemuan Yang Tak Diharapakan
11
Kehangatan keluarga
12
Kebencian dari Reno
13
Bibit Kebencian
14
Kehormatan Yang Terenggut
15
Meminta Pertanggung Jawaban
16
Peristiwa Berdarah Part 1
17
Peristiwa Berdarah Part2
18
Mengorbankan Diri
19
Menjadi Kuat dan Tegar
20
Situasi Memburuk
21
8 Tahun Penjara
22
Ingin Tetap Hidup
23
Di Selamatkan
24
Pengakuan
25
Siasat
26
Menolak
27
Menemukan Titik Terang Part 1
28
Menemukan Titik Terang Part 2
29
Bimbang
30
Hitam Di Atas Putih
31
Cinta Tak Terbalas
32
Mencari Bukti
33
Hukuman Yang Adil
34
Bersiap Menemui
35
Bertemu Calon Mertua
36
Menjalani Hariku Seperti Biasa
37
Hubungan Yang di Sembunyikan
38
Mengharap Lebih
39
Tersulut Amarah
40
Kembali Bertemu
41
Cinta Sepihak
42
Pernikahan Yang Terasa Hampa
43
Malam Pertama Tapi Bukan Yang Pertama
44
Pertemuan Yang Tak sengaja
45
Hubungan Persahabatan Yang Tak Wajar
46
Menutupi
47
Menuntut Kepatuhan
48
Tatapan Hina
49
Keadaan Rumah tangga Yang Di sembunyikan
50
Kesepakatan Baru
51
Tak Terkendali
52
Bebasnya Herman
53
Di Balik Hubungan Pernikahan
54
Ketahuan
55
Berakhirnya Hubungan Tak Sehat
56
Rencana Zenia
57
Jebakan
58
Hubungan Yang Di Akhiri
59
Pertemuan Yang Tak Di Duga
60
Jatuh Cinta
61
Tak Bisa Membohongi Hati
62
Mempertahankan
63
Rasa Bersalah
64
Bertemu Dengan Masa Lalu
65
Bertemu Sang Mantan
66
Jesslyn
67
Ketahuan
68
Hubungan Yang Semakin Dalam
69
Menguak Rahasia
70
Amarah Wilma dan Rencana Keluarga Murder
71
Kebenaran Masa Lalu
72
Rahasia Yang Terbongkar Part 1
73
Rahasia Yang Terbongkar Part 2
74
Rahasia Yang Terbongkar Part 3
75
Penyesalan
76
Dia Putriku
77
Hubungan Yang Di Pertanyakan
78
Bimbang
79
Mengagumi Dalam Diam
80
Situasi Semakin Menegang
81
Sebuah Pengakuan
82
Hubungan
83
Menyakitkan
84
Pembalasan
85
Membuatnya Berpisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!