Tengah malam, keduanya tidak bisa tidur di rumah asing bagi mereka meskipun pemiliknya sangat baik. Julius menyelinap keluar rumah dan duduk di kursi yg tersedia di halaman.
Tak lama kemudian, Alexa pun keluar rumah juga karena tadi melalui jendela ia melihat Julius sedang duduk dan menelepon.
Karena penasaran wanita itu pun menyusul rekan penelitiannya itu. Julius sangat peka dengan suara maka dari itu ia bisa mendengar langkah kaki seorang mendekat kepadanya tanpa menoleh. Ia pun langsung mematikan ponselnya dan menoleh ke sumber suara.
"Eh, kamu. Ngapain keluar rumah, dingin" sapa Julius.
"Hmm, aku gak bisa tidur" sahut Alexa yg sudah duduk di samping pria itu.
Mereka diam beberapa saat.
"Aku melihatmu sedang menelepon seseorang apakah keluargamu?" tanya Alexa.
"Hmmm" deheman Julius membuat wanita yg bertanya mengangkat alisnya.
"Maksudmu apa hanya dengan hmmm itu?" tanya Alexa merasa kesal.
Julius malah tersenyum kepada wanita itu.
"Kan aku meniru kamu, yang suka berdehem untuk menjawab iya" jawab Julius dengan enteng.
"Kamu tukang tiru emang" ejek Alexa dengan senyuman smirk.
"Gimana gak niru, selama sebulan ini melakukan penelitian sama kamu, mungkin udah 50 pertanyaanku kamu jawab begitu" sahut Julius tak mau kalah.
"Haha, kebiasanku ini memang udah aku lakuin sejak kecil. Orang tua dan kakakku begitu peka dengan dehemanku ini, jadi aku merasa bukan masalah" ujar Alexa sambil tertawa kecil.
"Aku juga gak masalah kamu memiliki kebiasaan itu" ucap Julius.
"Tapi jadi masalah bagi Reno. Dia gak suka katanya aku kurang ngerhargai dia" ungkap Alexa dengan wajah mendadak sendu.
Julius terdiam sesaat, membahas Reno sepertinya mampu membuat dia mendadak marah.
"Hmm, aku boleh tanya sesuatu gak soal kekasihnu itu?" tanya pria yg sedang menahan marah itu.
"Boleh aja pokoknya gak privasi ya" jawab Alexa.
"Privasi yg kayak apa ini? Hahahaha, aman aman. Aku udah dewasa taulah mana pertanyaan yg privasi dan nggak" sahut Julius dengan senyuman smirk.
"Oke kalau kamu udah paham. Mau tanya tentang dia?" tanya Alexa.
"Sejak kapan kamu pacaran sama dia?" tanya balik Julius.
"Aku pacaran sama dia udah setahun sih, tapi kenal sejak mahasiswa baru. Dia ngejar ngejar aku dengan prestasinya sebagai atlit basket" jawaban dari pertanyaan pertama Julius.
"Apa kamu langsung mau aja sama dia waktu dikejar itu?" tanya Julius lagi.
"No lah. Aku anak dari keluarga Holanda yang pasti juga milih milih pacar. Gak asal nerima aja. Dia pdkt sama aku sekitar 2 tahun dan karena perjuangannya itu aku luluh" jawaban untuk pertanyaan kedua Julius.
"Emang Reno udah sesuai dengan kriteria keluargamu yang kaya raya itu?" pertanyaan ketiga Julius.
"Nggak juga. Sampai sekarang keluargaku tidak menerima Reno sebagai kekasihku karena mereka pikir Reno hanya memanfaatkanku saja. Padahal kan aku ngerasa di baik dan perhatian, bener bener cinta sama aku. Terus status keluarganya juga gak buruk buruk amat, memiliki usaha dibidang jasa penyewaan gedung di Paris, meskipun ya mereka tidak sekayak keluargaku, tapi setidaknya mereka memiliki usaha yg cukup berkembang" jawaban ketiga pertanyaan Julius.
"Hmmm, apakah kamu tidak berfikiran jika Reno hanya memanfaatkanmu saja? Apa kamu tidak merasa keanehan dalam sikapnya?" tanya Julius lagi dan lagi.
Alexa diam dan menatap Julius yang memandangnya dengan tatapan serius.
"Kamu nih mau interogasi aku tentang Reno? Apa kamu menemukan sesuatu yang aneh dari sikapnya ke aku, hah? Aku merasa pertanyaanmu ini ingin membuktikan sesuatu" sahut Alexa tak menjawab pertanyaan berjubel dari Julius lagi.
Pria itu pun menghela nafas dan menatap ke langit.
"Aku bisa simpulkan, kamu baru pertama kali pacaran dan merasakan cinta di luar cinta keluargamu. Kamu begitu bodoh soal beginian ternyata. Meskipun aku orang miskin, aku tidak akan mengejar orang kayak hanya untuk memanfaatkannya. Sedangkan Reno yang katamu juga dari keluarga baik baik itu, begitu terlihat hanya mengambil keuntungan dari mu. Aku tau karena aku memperhatikanmu beberapa kali kamu menyempatkan mengerjakan tugas milik pria itu, lalu jika dia meneleponmu terkadang kamu langsung membuka e-banking milikmu entah untuk apa" ucap Julius mulai membuka analisisnya.
"Dia tuh anak sulung dan diberikan banyak tugas pekerjaan dirumahnya. Jadi kadang kadang dia tidak sempat belajar atau mengerjakan tugasnya. Terus soal aku buka m-banking setelah menerima telepon dengannya, karena aku ada bisnis kecil yg kukembangkan bersama dia. Toko bunga. Kita sama sama suka merakit bunga" jelas Alexa yang mencoba membela Reno.
"Ngomong sama orang jatuh cinta itu adalah kebodohan" sindir Julius dengan wajah datarnya.
"Hahahaha, kamu harus coba jatuh cinta dulu baru bisa judge kayak gitu" balas Alexa dan Julius langsung menatapnya.
"Mungkin aku sudah jatuh cinta sama kamu, Lex?" lirih Julius dengan serius.
Alexa terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan pria sampingnya dan sedang memandangnya. Buru buru ia memalingkan dari pandangan Julius dan menatap ke depan.
"Bercanda mu gak serius. Aku setia sama Reno" ujar Alexa yang entah kenapa merasa tergoda dengan pandangan serius Julius yang mengatakan pria itu jatuh cinta padanya.
"Hahhahahaha, tau aja kalau aku bercanda" tawa Julius langsung menggelegar dan memecah kecanggungan di antara mereka.
"Aku tau statusku, Alexa. Aku orang miskin dan tidak sepadan denganmu atau keluargamu. Apalagi kita hanya kenal sebulan aja, gimana aku bisa dapetin kamu semudah itu kan? Reno aja dua tahun. Aku hanya ingin membuatmu kesal" lanjut Julius memberikan alasan.
"Ih, kamu itu bikin aku bener bener kesel" cibik Alexa.
"Kalau dia kesel berarti memang dia merasa terganggu dengan pernyataanku tadi" batin Julius yg entah kenapa merasa puas sedikit ada harapan untuknya untuk mempermainkan perasaan Alexa.
Mereka pun diam bersamaan beberapa saat. Udara malam semakin dingin, Julius yang memakai jaket melepas jaketnya dan ia pakaikan kepada Alexa yang hanya pakai baju piyama saja.
"Aku gak perlu jaketmu, aku betah dingin kok" ucap Alexa yanh berusaha melepas jaket Julius di pundaknya namun tangannya ditahan oleh tangan kekar pemilik jaket.
"Pakai aja, ototku lebih kuat menerima udaha dingin ini daripada otot lembekmu itu" ujar Julius.
Alexa pun merasa aneh dengan sentuhan tangan Julius yg menahan tangannya.
"Perasaan apa ini?" batin Alexa lalu ia buru buru menarik tangannya dari bawah tangan Julius.
Pria itu pun lansung menarik tangannya dari pundak Alexa. Hening lagi diantara mereka.
"Kalau Ceri, dia temanmu sejak kapan?" tanya Julius memecah keheningan.
"Dia temenku sejak jadi mahasiswa baru juga. Kita satu kelompok orientasi. Dia fashionable banget, tapi gak tau kenapa sampek sekarang dia jomblo" jawab Alexa.
"Jomblo didepanmu, tiba tiba perebut pacarmu" batin Julius.
"Oh udah lumayan lama ya. Apa kamu percaya sama Ceri?" tanya Julius lagi.
"Percaya lah. Dia satu satunya sahabat yang aku pernah miliki dan tidak memanfaatkn kekayaanku. Dia juga dari keluarga kaya jadi ya gak perlu ambil uang dariku tapi memang agak males belajar, jadi ya kadang kadang aku bantu ngerjain tugasnya" jawab Alexa lagi.
"Sebelum bersahabat sama dia, aku selalu dimanfaatkan secara materi dari teman temanku. Kayak diancam , dibully, kalau aku gak kasih mereka uang, mereka akan berbuat jahat padaku" lanjut Alexa.
"Tadi kamu bilang dia kaya, apakah dia memang kaya atau hanya cerita saja?" tanya Julius memastikan.
"Kaya beneran. Aku sudah kerumahnya yg juga gede tapi masih gedean rumahku sih hehe" jawab Alexa berniat bercanda.
Julius pun menghela nafas kasar. Ia sudah tau jika Ceri berbohong tentang keluarga aslinya. Pria itu sudah mencari tau informasi dari orang orang disekeliling Alexa karena ingin melancarkan aksinya bermain bersama wanita itu selama ia kuliah di Paris.
"Dasar wanita licik, anak hasil selingkuhan aja bangga dan pura pura jadi majikan sungguhan" batin Julius.
"Kenapa kamu nafas begitu? Apa kamu mencurigai Ceri juga kayak Reno tadi?" tanya Alexa heran.
"Percuma kalau aku ngomong pun, kamu gak mudah percaya" jawab Julius lalu ia berdiri.
"Aku masuk ke rumah dulu, udah ngantuk" lanjut Julius pamit dan Alexa buru buru mengejarnya.
"Ini jaketmu, terima kasih" ucap Alexa sambil memberikan jaket yg tadi sempat memberikan kehangatan pada tubuhnya.
"Sama sama. Good night" ujar Julius sambil menerima jaketnya kembali.
Mereka pun masuk ke rumah Pak Jarwe dan kembali ke kamarnya masing masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments