Makan Malam

Neira tersenyum menatap dirinya di depan cermin besar, cantik satu kata yang berhasil lolos dari bibir mungilnya.

dengan balutan gaun berwarna pink dengan krah model sabrina yang menampilkan punggung putih mulusnya.

rambut yang sengaja dia curly dengan poni lurus semakin menampakkan wajah cantik nan imutnya.

Tok,,

Tok,,

"Neira sayang, kamu sudah siap?"

"Iya Mam"

Neira menyambar slim bag miliknya dan berjalan keluar.

Widia tersenyum menatap putrinya yang sangat cantik, padahal jika di lihat kecantikan Neira itu tidak lain karena turunan darinya.

"Anak Mama cantik banget."

"Ye,, Mama ngasal.

Neira cantik juga karena Mama cantik dong. Lagian masih tetep cantikan Mama. Apalagi mau ketemu kekasih." Goda Neira membuat Widia menggeleng.

Jika di lihat,

Diantara mereka tidak terlihat seperti ibu dan anak, melainkan terlihat seperti Kakak - adik karena memang keduanya sama-sama cantik.

"Ya udah yuk." Ajak Widia dan Neira mengangguk.

Mereka berjalan turun dengan Mang Wawan yang sudah siap menunggu di depan rumah.

Sama halnya dengan Almer yang telah siap dengan jas abu-abu nya.

Dia menunggu Gevan yang belum terlihat keluar kamar.

"Ge, kamu sudah siap?"

Gevan membuka pintu kamarnya, dia pun memakai jas berwarna Navy dengan di padukan celana jeans hitam tampak terlihat sangat serasi.

"Gevan pakai motor sendiri Pa."

"Ya sudah, kita ketemu di Restoran Papa."

Gevan mengangguk dan mereka berjalan keluar.

Sesampainya di Restoran tempat mereka bertemu, Devan memarkirkan motornya tidak jauh dari mobil Almer.

Terlihat juga mobil Widia yang sudah terparkir di sana.

"Gevan ke Toilet dulu Pa."

"Oke, papa masuk kamu tau kan ruangannya."

Gevan mengangguk dan mereka berpisah di depan pintu masuk.

Beberapa pelayan langsung menunduk saat melihat sang pemilik Restoran datang.

Almer bukan hanya pengusaha properti dia pun mulai mengembangkan bisnisnya di restoran juga Hotel. Dan semuanya berjalan lancar bahkan sangat berkembang pesat.

"Maaf Saya terlambat."

Neira yang tengah mengobrol bersama Widia pun lantas menoleh.

Senyuman Almer terukir di wajah tampannya, walaupun usianya yang sudah tidak muda namun wajahnya tetap terlihat tampan dan mempesona.

"Kita juga baru sampai Mas" Ucap Widia tersenyum.

"Sayang, kenalin ini Om Almer."

Neira tersenyum dan mengecup tangan Almer.

"Neira Om."

"Halo Neira, akhirnya Om bisa ketemu langsung sama kamu Sayang."

Neira menatap Widia yang tampak tersenyum dan mengusap lengannya.

"Mama kamu sudah banyak cerita soal kamu sama Om." Lanjut Almer yang seakan tau kebingungan Neira.

"Mama."

"Maaf sayang."

Almer terkekeh.

Dia bisa melihat bagaimana Neira saat ini.

"Pa"

Ketiganya lantas menoleh saat mendengar suara seseorang.

Gevan berdiri di samping Almer.

"Ge, kenalin ini Tante Widia dan juga Neira." Ucap Almer.

Gevan menoleh, matanya menatap perempuan yang hampir dia tabrak malam itu.

"Gevan Tante." Ucap Gevan mencium punggung tangan Widia.

"Neira Kak." Ucap Neira saat Gevan menatapnya.

"Gevan."

"Semua sudah kumpul jadi kita langsung makan saja." Ucap Almer yang langsung memanggil pramuniaga restoran dan langsung menyajikan makanan yang memang sebelumnya Almer sudah memesannya.

Gevan terdiam dengan sesekali menatap Neira, terlintas di otaknya saat mereka pertama bertemu. Di sana Neira tampak kacau dengan air mata yang terus mengalir namun malam ini Neira tampak selalu tersenyum dan juga sangat cantik.

"Mama semua ini,- Ucap Neira saat melihat beberapa makan kesukaannya tersaji di sana.

"Om Almer sengaja siapin semua untuk kamu Sayang."

"Makasih Om, tapi Kok Om bisa tau kalau Nei suka semua ini."

"Mama kamu cerita semuanya, dan Kamu juga tidak bisa makan pedas karena kamu ada magh juga kamu alergi seafood bukan?" Ucap Almer tersenyum.

"Eum,,"

Neira tersenyum membuat Widia juga Almer ikuta tersenyum melihatnya. Berbeda dengan Gevan yang terlihat biasa dengan wajah datarnya.

"Kita makan saja, ayo Neira kamu boleh habiskan semuanya atau mau nambah juga boleh."

"Mana muat perut Nei Om,."

Almer terkekeh dan mereka menikmati makan malam mereka dengan seseorang terdengar obrolan kecil. Walaupun sebenarnya lebih banyak obrolan antara Almer dengan Neira.

Bahkan Gevan hanya menjadi pendengar setia di sana.

Hingga makan berlangsung lama.

Neira yang merasa bosan pun meminta ijin untuk keluar dan berjalan di area taman Restoran.

Dia pun duduk di salah satu kursi taman dengan menatap bintang di langit. Bulan dan bintang yang menyinari malam sungguh begitu indah.

"Lo setuju dengan pernikahan mereka."

Deg.!

Neira menoleh, terlihat Gevan berdiri di belakangnya.

"K- kak Gevan." Gugup Neira karena menatap wajah dingin Gevan.

Gevan berjalan mendekat dan duduk di samping Neira.

Neira terdiam, dia menunduk dengan memainkan jarinya.

"Kenapa diam." Lanjut Gevan saat Neira tidak menjawabnya.

"Lo setuju dengan Pernikahan Mereka?" Ulang Gevan dengan kembali menatap Neira yang semakin dibuat takut dengan tatapan tajam Gevan.

Ralat sebenarnya bukan tatapan tajam seperti tidak menyukainya namun memang tatapan Gevan memang seperti itu tajam bak silet.

"A-aku hanya mau melihat Mama bahagia."

"Jadi lo setuju?"

Neira mengangguk.

Gevan terdiam dan menatap langit.

"Apa Kak Gevan tidak setuju?" Ucap Neira hati-hati karena tidak mau menyinggung nya.

Gevan menghela napasnya.

"Kalau gue gak setuju gak mungkin gue ikut makam malam."

Neira mengangguk dan kembali menatap langit.

"Lo masih sekolah?"

"Masih Kak"

"Kelas berapa?*

"12 "

Gevan kembali mengangguk.

Hening kembali tanpa adanya lagi obrolan di sana.

Baik Gevan ataupun Neira terdiam dengan pikirannya masing-masing.

Hingga dering ponsel Gevan memecahkan keheningan, Gevan terlihat mengambil ponselnya dan menjawab telepon yang entah dari siapa .

"Ya"

"Ge, Lo dimana? Lo jadi kan mau ke Markas?"

"Hm"

"Udah pada nunggu soalnya nih, kita mau bahas Ospek lusa kan.?"

"30 menit."

Gevan menutup telponnya dan kembali menatap lurus.

Neira tampak terdiam. Apa laki-laki di samping nya ini memang irit bicara atau malas bicara. Kenapa tidak ada ucapan panjang yang keluar dari mulutnya.

Dia bakal jadi Kakak gue nantinya.

Gimana dong, dingin banget sifatnya kaya kulkas.

"Kenapa" Ucap Gevan menoleh.

Neira menggeleng dan kembali menatap lurus bahkan sesekali mengayunkan kedua kakinya.

"Oya Kak, ini Restoran Om Almer ya."

"Hm"

"Bagus banget, makannya juga enak."

Gevan hanya diam tanpa menjawabnya.

"Kalo Kakak kuliah dimana?"

"Ganesha"

"Waw seriusan, aku juga pengin kuliah di sana tapi aku ragu."

Gevan menoleh menatap Neira yang tampak diam.

"Kenapa?"

"Secara itu kampus terkenal dengan mahasiswa pintarnya, aku jadi minder."

"Oh"

Gevan yang ber oh ria mendengar ucapan Neira.

Neira menautkan kedua alisnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Gevan.

Apa dia tidak bisa sedikit saja bicara panjang atau paling tidak membuatnya semangat untuk bisa masuk Kampus itu.

Terpopuler

Comments

🍭ͪ ͩ🍀⃟🦘𝙼𝙾𝙼 𝚂𝚈𝙰𝙷𝚆𝙰

🍭ͪ ͩ🍀⃟🦘𝙼𝙾𝙼 𝚂𝚈𝙰𝙷𝚆𝙰

nama juga es balok nei ya begitu lah 🤭

2024-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Putus.!
2 Gevandra Bara Ataska
3 Rencana Makan Malam
4 Makan Malam
5 Markas
6 Pernikahan
7 Rumah Baru
8 Sekolah
9 9. Gara-gara telat Jemput
10 Dia siapa?
11 Tinggal berdua
12 Gaje
13 Bandung
14 Dia adik gue.!
15 Kembali Mood
16 Senyuman
17 Mengerjakan PR
18 Mall
19 Takut Hilang
20 Valentine - Coklat
21 Menginap di Rumah Widi
22 Alex
23 Dinginnya Gevan
24 Menemani makan
25 Semakin Dekat.
26 Cantik.!
27 Soal Perasaan
28 Tidak tau Malu
29 Balapan
30 Terima Kekalahan
31 Selalu Manis
32 Marahnya Gevan
33 Posesif
34 Neira Sakit
35 Salsa-
36 Penjelasan Gevan.
37 NGAMBEK
38 Ada seseorang yang harus gue jaga perasaannya
39 39 Panti Asuhan.
40 Panti Asuhan
41 Perhatian Gevan
42 Mimpi tapi nyata.
43 Nico
44 Kesal
45 Perlakuan Manis Gevan
46 Bimbang (Neira)
47 Diam-nya Neira
48 Terus Kepikiran
49 "Karena harus menjaga seseorang"
50 Melindungi seseorang ternyata?
51 Sebuah Pelukan.
52 Takut Lo ilang.
53 Jealous..!
54 Speechless.!
55 Menggemaskan..!
56 Dia pacar gue.!
57 Salting-
58 Teror
59 Kakak rasa pacar
60 Kakak Merangkap Pacar
61 Jalanin Aja..
62 Mas Pacar.!
63 Mulai Nething
64 Cemburu-nya Neira
65 Mulai Posesif
66 Ngambek bikin gemas
67 Saingan
68 Selalu di Ratukan
69 Deg-degan
70 Dia Pacar Gue (Gevan)
71 Status Hubungan
72 Elisa-
73 73
74 74
75 75
76 Permintaan Maaf Author
77 Bab 77
78 Bab. 78
79 Bab. 79
80 Bab. 80 Makan Malam
81 Bab. 81 Makan Malam 2
82 Bab. 82 Perjodohan
83 Bab. 83 Pergi Dari Rumah
84 Bab. 84 Tidak Tau Malu-
85 Bab. 85 Tingkah Salsa
86 Bab. 86 Interogasi Bi Siti
87 Bab. 87 Demam
88 Bab. 88 Kangen- PROV Neira
89 Keputusan Almer
90 Terlalu Percaya Diri
91 Bab 91
92 Bab. 92 Keegoisan Orang Tua
93 93. Keegoisan Almer
94 94. Orang Baru
95 96. Kenan Mahendra
96 96. Gevan sakit
97 97.
98 98.
99 99. Calon Kakak Ipar
100 100. Kesal Prov Neira.
101 101. Sembuh
102 102. Panti Asuhan.
103 103.
104 104. Kawin Lari
105 105.
106 106.
107 107.
108 108.
109 109.
110 110.
111 111.
112 112.
113 113.
114 114.
115 115.
116 116.
117 117.
118 118.
119 119.
120 120.
121 121.
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Putus.!
2
Gevandra Bara Ataska
3
Rencana Makan Malam
4
Makan Malam
5
Markas
6
Pernikahan
7
Rumah Baru
8
Sekolah
9
9. Gara-gara telat Jemput
10
Dia siapa?
11
Tinggal berdua
12
Gaje
13
Bandung
14
Dia adik gue.!
15
Kembali Mood
16
Senyuman
17
Mengerjakan PR
18
Mall
19
Takut Hilang
20
Valentine - Coklat
21
Menginap di Rumah Widi
22
Alex
23
Dinginnya Gevan
24
Menemani makan
25
Semakin Dekat.
26
Cantik.!
27
Soal Perasaan
28
Tidak tau Malu
29
Balapan
30
Terima Kekalahan
31
Selalu Manis
32
Marahnya Gevan
33
Posesif
34
Neira Sakit
35
Salsa-
36
Penjelasan Gevan.
37
NGAMBEK
38
Ada seseorang yang harus gue jaga perasaannya
39
39 Panti Asuhan.
40
Panti Asuhan
41
Perhatian Gevan
42
Mimpi tapi nyata.
43
Nico
44
Kesal
45
Perlakuan Manis Gevan
46
Bimbang (Neira)
47
Diam-nya Neira
48
Terus Kepikiran
49
"Karena harus menjaga seseorang"
50
Melindungi seseorang ternyata?
51
Sebuah Pelukan.
52
Takut Lo ilang.
53
Jealous..!
54
Speechless.!
55
Menggemaskan..!
56
Dia pacar gue.!
57
Salting-
58
Teror
59
Kakak rasa pacar
60
Kakak Merangkap Pacar
61
Jalanin Aja..
62
Mas Pacar.!
63
Mulai Nething
64
Cemburu-nya Neira
65
Mulai Posesif
66
Ngambek bikin gemas
67
Saingan
68
Selalu di Ratukan
69
Deg-degan
70
Dia Pacar Gue (Gevan)
71
Status Hubungan
72
Elisa-
73
73
74
74
75
75
76
Permintaan Maaf Author
77
Bab 77
78
Bab. 78
79
Bab. 79
80
Bab. 80 Makan Malam
81
Bab. 81 Makan Malam 2
82
Bab. 82 Perjodohan
83
Bab. 83 Pergi Dari Rumah
84
Bab. 84 Tidak Tau Malu-
85
Bab. 85 Tingkah Salsa
86
Bab. 86 Interogasi Bi Siti
87
Bab. 87 Demam
88
Bab. 88 Kangen- PROV Neira
89
Keputusan Almer
90
Terlalu Percaya Diri
91
Bab 91
92
Bab. 92 Keegoisan Orang Tua
93
93. Keegoisan Almer
94
94. Orang Baru
95
96. Kenan Mahendra
96
96. Gevan sakit
97
97.
98
98.
99
99. Calon Kakak Ipar
100
100. Kesal Prov Neira.
101
101. Sembuh
102
102. Panti Asuhan.
103
103.
104
104. Kawin Lari
105
105.
106
106.
107
107.
108
108.
109
109.
110
110.
111
111.
112
112.
113
113.
114
114.
115
115.
116
116.
117
117.
118
118.
119
119.
120
120.
121
121.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!