Bab 19 Pelan Pelan Saja

Semenjak Seruni membuka hadiah yang diberikan Bagas kepadanya, ia tak lagi bisa melihat Bagas seperti dulu. Perasaan yang ada di hatinya tak bisa ia cerna dan klasifikasikan dengan baik. Ia merasa bahagia dan malu disaat yang bersamaan, beberapa waktu terakhir ini ia jadi sering merindukan Bagas, berharap mereka bertemu lebih sering, Seruni merasa aneh dan bingung atas itu. Tapi ia tak bisa mengungkapkannya. Apalagi Bagas juga bersikap seperti biasanya saja padanya. Seruni takut salah mengartikan sikap Bagas, ia juga takut salah menilai perasaannya sendiri. Karena semuanya terasa asing dan baru baginya. Berbagai perasaan yang baru itu akhirnya membuat ia uring uringan dan menghindari Bagas.

"Eh pulang bareng yok." ajak Bagas

"Enggak, kamu pulang sama yang lain aja. Jangan ikut kami." jawab Seruni.

"Loh kenapa Run?" tanya Dayu.

"Enggak mau Yu. Bagas pulang sama Hendri dan Damar aja yah. Aku mohon." ucap Seruni lagi.

Bagas mengernyitkan dahinya. Bingung dengan Seruni yang beberapa hari ini tak mau melihatnya saat bicara. Terkesan berusaha menghindari interaksi dengannya. Apakah ia tidak suka dengan hadiahnya. Tapi Seruni bukan tipe orang yang seperti itu. Ia selalu menghargai apapun yang diberikan padanya.

"Kenapa lagi ini bocah?" batin Bagas

"Aku ada salah ya Run sama kamu?" ia mengenakan jaket bersiap pulang.

"Enggak. Ada yang mau ku omongin sama Dayu. Urusan cewek. Kamu nggak boleh tahu."

"Dua hari ngomongin urusan cewek? Belum selesai juga?"

Dayu yang mengetahui bahwa Bagas memberikan hadiah khusus untuk Seruni menyadari sebab kelakukan Seruni yang sekarang. Ia yakin ada hubungannya dengan itu. Ia berbisik pada Bagas.

"Kemarin kamu ngasih apa ke Seruni?"

"Ngasih apaan?"

"Kamu ngasih sesuatu kan waktu main di rumahku?" bisiknya. Headshot tepat sasaran. Bagas terdiam, jadi Dayu lihat semuanya? Aih malu sekali kalau memang iya. Jangan jangan Dayu bisa membaca apa yang dirasakannya pada Seruni. Gawat kalau benar.

"Itu hadiah biasa. Cuma postcard." jawabnya. Berusaha bersikap tenang.

"Ooooooooh gituuuuuu." Dayu tersenyum penuh makna. Ia seakan menggoda Bagas, ayolah aku tahu semuanya. Seolah berkata seperti itu. Bagas menatapnya kesal.

"Yaudah aku pulang duluan ya Run, Yu. Hati hati dijalan." pamitnya. Menyusul Hendri dan Damar yang sudah sampai di gerbang. Ia juga sudah janjian untuk main PS dengan mereka berdua nanti malam di rumahnya.

"Run kenapa sih beberapa hari ini aku lihat kamu kayak berusaha menghindari Bagas?" tanya Dayu diperjalanan pulang.

"Ha? Emang iya ya" jawabnya mencoba berkelit.

"Hi? Iming iyi yi? Yaiyalah. Kelihatan jelas Run. Bagas punya salah sama kamu? Atau dia jahatin kamu? Bilang aja biar aku cubit nanti."

Seruni tersenyum menatap sahabatnya itu. Dayu yang selalu peduli dengan tulus padanya. Hei jangan salah, Seruni punya insting yang cukup tajam untuk memilih orang yang bisa dekat dengannya. Ia bisa membedakan orang yang tulus dan tidak. Mungkin karena itu teman akrabnya tidak begitu banyak. Mungkin Dayu bisa membantunya soal apa yang dirasakannya saat ini.

"Yu, aku bingung sekali."

"Bingung kenapa?" tanya Dayu lagi.

"Kemarin Bagas ngasih aku sesuatu, itu hadiah yang bagus menurut ku Yu, aku suka sekali. Tapi entah kenapa sejak itu aku jadi nggak nyaman kalau ada di sekitar Bagas."

"Nggak nyaman gimana? Ada rasa sebel atau kesal atau benci terhadap Bagasi? Atau gimana Run?"

"Nggaak, aku nggak benci ataupun sebal Run padanya. Hanya saja aku malu dan sering tidak tahu harus bagaimana kalau ada di dekatnya sekarang. Aku harus gimana Yu." Seruni menjelaskan dengan mata yang berkaca kaca. Ia benar benar bingung rupanya.

Dayu yang sangat memahami apa yang mungkin sedang di rasakan oleh Seruni. Dalam urusan seperti ini otak Dayu akan ada dalam sikap kerja yang tepat dan akurat. Seharusnya dia juga begini dalam proses belajar di sekolah. Berbagai sinetron dan drama yang ia tonton membimbing Dayu pada satu kesimpulan terhadap apa yang dialami Seruni. Gadis itu ternyata jatuh cinta. Menggemaskan sekali dua sahabatnya itu menurutnya.

"Hahaha selamat Gas, kamu nggak bertepuk sebelah tangan sih ini." batin Dayu.

"Seruni, kamu harus menghadapi apa yang kamu rasakan ini. Jangan dihindari, itu salah satu bagian kita untuk belajar mengenal perasaan dan mungkin itu proses yang membuat kita makin dewasa. Aku tidak benar benar tahu apa yang kamu rasakan, tapi saranku jangan terlalu menghindari Bagas. Nanti dia salah paham. Sampaikan saja apa yang kamu rasakan. Aku yakin dia tahu harus bagaimana soal itu." Dayu menjelaskan pikirannya pada Seruni.

Seruni menatap Dayu. Iya benar, ia tak ingin Bagas berpikir bahwa Seruni membencinya. Mereka harus bicara. Begitulah ia mengambil keputusan hari itu. Seruni berterima kasih pada Dayu karena sudah membantunya untuk menangani gelisah yang mengganggunya. Ia akan mengajak Bagas bicara besok. Itulah skenario yang ada di kepalanya, yang sayangnya gagal Seruni eksekusi saat di sekolah. Ia masih kabur, karena jantungnya yang tidak bisa berdebar dengan normal saat Bagas mendekat padanya. Dayu yang melihat drama gratis di depannya itu hanya tertawa gemas.

"Run, aku mau ketemu Pak Eko sebentar yah. Mau bahas soal lomba pencak silat yang akan aku ikuti nanti. Kamu boleh pulang duluan kalau buru buru." ucap Dayu saat mereka bersiap pulang.

"Oke Yu, aku tunggu aja. Tapi kalau lama aku pulang duluan ya." jawab Seruni.

"Iyaaaaa. Aku ke kantor dulu yah." pamit Dayu.

Bagas mencoba menghampiri Seruni saat Dayu sudah pergi. Ia sudah memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dan pulang bersama mereka hari ini

"Seruni." sapanya dari belakang. Bagas bisa melihat Seruni menegang saat mendengar suaranya, sebenarnya ada apa sih. Ia bingung dengan gadis itu. Bagas menarik bangku dan duduk di hadapan Seruni. Tangannya bertumpu diatas meja. Ia bisa melihat jelas Seruni yang tertunduk di depannya. Bagas mengeluarkan sebuah sticky notes dan menulis sesuatu disana. Lalu ia bertanya pada Seruni

"Run kamu marah sama aku?" Seruni menggeleng pelan.

"Aku ada salah?" Seruni menggeleng lagi. Bagas bisa melihat telinga Seruni yang sudah berwarna kemerahan.

"Kamu benci padaku Run? Kalau iya, aku nggak akan ganggu kamu lagi." Seruni menggeleng lagi untuk ketiga kalinya. Bagas tambah bingung harus melakukan apa agar gadis ini mau berbicara dengan benar padanya.

"Kamu nggak suka hadiah yang ku kasih? Hadiahnya jelek? Buang aja kalau gitu" ia bertanya, kali ini disertai sedikit emosi dalam suaranya. Ia agak frustasi sepertinya. Kali ini Seruni mengadah, wajahnya terlihat kesal.

"Nggak Gas, hadiah itu bagus banget. Kenapa kamu ngomong sembarangan begitu?" Seruni tidak hanya menggeleng kali ini, ia mengangkat wajahnya, hingga berhadapan dengan Bagas. Cukup dekat. Ia lihat Bagas tersenyum miring, sama kesal dengannya.

"Akhirnya kamu melihat ke arah ku juga Seruni Sandyakala." ucapnya. Bagas bisa melihat Seruni yang tegang dan gugup. Meskipun anak itu juga bisa merasakan wajahnya yang memanas, tapi ia tidak akan mundur, Seruni harus menjelaskan alasan ia menghindarinya beberapa hari ini. "Sekarang ngomong sama aku kenapa kamu kabur terus beberapa hari ini dari aku?"

"Aku nggak nyaman kamu ada di dekatku." jawab Seruni takut.

Bagas terkesiap. Apa maksudnya ini.

"Bagaimana rasa nggak nyamannya?" tanya Bagas lagi.

"Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana kalau kamu ada di dekat ku. Aku senang tapi gugup. Aku ingin bertemu kamu tapi aku nggak sanggup karena rasanya malu." Seruni menenggelamkan wajahnya di permukaan meja.

Bagas ternganga mendengar penjelasan Seruni. Apakah ini pernyataan cinta? Apa perasaannya berbalas. Tapi ia yakin Seruni belum menyadari itu. Ia tak bisa menahan senyum dan salah tingkahnya. Baiklah, mungkin dia terlalu terburu buru mendekati gadis ini. Setelah melihat respon Seruni yang overwhelmed seperti itu, Bagas memutuskan untuk menahan diri. Sampai Seruni siap, ia tak ingin hubungan persahabatan mereka semua merenggang karena Seruni terus kabur darinya. Bagas akan menunggu sampai saatnya tiba.

"Bukan nggak nyaman karena benci kan?" tanya nya memastikan lagi. Seruni menggeleng pelan. Bagas tersenyum lega.

"Seruni lihat aku."

Lagi, Seruni mengangkat kepalanya, wajahnya dan Bagas kini berhadapan dengan sangat dekat. Ia bahkan bisa melihat dua biji jerawat yang tumbuh di dahi anak itu.

"Masih takut?" tanyanya lagi. Seruni menggeleng pelan. Bagas mengambil sticky notes nya. Merobek satu lembar dan menempelkannya di dahi Seruni.

"Dasar, bikin pusing aja." ucapnya

"Aku pulang duluan yah. Kamu hati hati di jalan." ia pamit dan menyandangkan tasnya ke bahu. Meninggalkan Seruni sendirian di kelas yang sudah meleleh tak karuan. Di ambilnya notes yang tertempel di dahinya. Membaca apa yang tertulis disana.

Seruni, aku akan menunggumu jadi pelan pelan juga nggak papa, santai aja. Jangan kabur lagi yah atau kamu akan benar benar ku tangkap. :P

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!