Warti duduk di tepi ranjangnya. Tubuhnya sakit sekali, ia melihat memar di lengannya. Belum lagi perih di pipi karena tamparan dari suaminya tadi. Warti kembali menangis tersedu sedu. Membayangkan nasibnya dan Seruni yang begitu buruk. Tubuhnya memang terasa remuk redam, tapi hatinya lebih hancur. Melihat gadis kecilnya dipaksa tumbuh dewasa jauh dari usianya. Melihat Seruni yang tidak bisa menikmati masa remajanya dengan nyaman karena harus menghadapi bapaknya yang bagai durjana. Anak gadisnya yang baik dan penyayang sedang tertidur di ranjangnya, jelas ia kelelahan menangis dan menahan sakit di rusuk karena disikut bapaknya tadi.
Warti teringat kehidupannya dulu di Probolinggo, meskipun tidak punya orang tua tapi dia hidup bahagia. Ia gadis yang cantik dan bekerja di rumah makan yang cukup besar, Warti pandai menghidupi dirinya sendiri dan punya banyak teman. Hingga suatu hari pemuda bernama Eko datang, masuk tanpa aba aba kedalam hidupnya. Membawa Warti bertemu orangtuanya dan meminta Warti menjadi separuh napas baginya. Siapa yang tidak bahagia, tentu saja Warti menerima dengan senang hati. Ia bertekad untuk jadi istri yang baik bagi Eko sampai maut yang memisahkan mereka berdua. Awalnya semua terasa indah. Eko suami yang baik, ibu mertuanya sangat menyayanginya, dan mereka dikaruniai putri yang meneduhkan hati bagi siapapun yang melihatnya. Hingga akhirnya usaha pemotongan ayam yang dijalankan mereka sukses besar. Ujian memang berbeda beda, bahkan kekayaan pun ujian yang berat sebenarnya. Sayangnya Eko gagal dalam ujian ini.
Rezeki yang banyak membuatnya lupa dan jumawa. Ia jadi suka bertaruh di meja judi dan mulai menenggak minuman haram. Dan benarlah, alkohol itu sejatinya merusak akal. Sumber segala perbuatan dosa. Eko tak lagi menjadi dirinya yang dulu. Ia mulai kasar pada Warti dan putri kecil mereka. Warti mencoba bersabar dan tetap menjaga keluarga kecil mereka. Entahlah mungkin Tuhan sedang menghitung air matanya yang jatuh dan akan membalasnya dengan kebaikan yang banyak nanti.
Seiring berjalannya waktu Eko tidak berhenti, malah makin menjadi. Modal dan uang usaha mereka habis untuk judi juga mabuk mabukan. Hingga akhirnya mungkin Tuhan berkata cukup, dan mengambil lagi apa yang dititipkannya. Karena sepertinya Eko belum mampu dititipi hal seperti ini. Keluarga mereka bangkrut, dan kabur ke sini untuk kabur dari penagih hutang. Disinilah mereka sekarang. Desa kecil di gunung Bromo, desa yang menyimpan seribu keindahan namun menjadi saksi bisu perih yang merepih lembar kehidupannya. Ditatapnya lagi Seruni yang tengah tertidur lelap, ada bekas air mata yang sudah mengering di pipinya, dan hidungnya yang memerah karena kebanyakan menangis. Di pijitnya pelan kaki anak gadisnya itu. Setidaknya Tuhan masih mengirimkan malaikat ini, yang mampu membuatnya menjaga semangat agar tetap hidup dan menjaga Seruni hingga nanti ia tumbuh dewasa dengan indah. Seperti namanya. Di elusnya rambut putrinya itu sembari berkata
"Maafkan ibu ya nak, membawa kamu ke dunia ini bersama keadaan sesulit ini." ia kembali terisak.
"Ibu yakin semua ini akan berakhir nak. Kita akan bahagia seperti dulu lagi."
Warti yakin, Tuhan tidak pernah tidur dan abai. Harapannya itu seperti doa yang di rapal dengan keteguhan hati, maka apapun mungkin saja terjadi bagi mereka yang percaya.
Bagas Pov
Kelas sudah selesai. Aku tidak sabar pulang ke rumah, cacing di perutku sepertinya sudah unjuk rasa minta jatah diisi segera. Ternyata pisang goreng dan jemblem yang ku beli tadi saat mau masuk pelajaran terakhir tidak cukup memenuhi permintaan mikroorganisme dalam perutku. Kenapa kalian rakus sekali sih. Di perjalanan pulang aku berpisah dengan teman temanku yang lain. Aku sengaja berjalan lambat karena melihat Seruni dan Dayu agak jauh di belakang tadi. Sampai ku lihat mereka berdua pisah jalan. Dayu pulang ke arah rumahnya dan Seruni berjalan sendirian. Kapan lagi aku cuma berdua di jalan dengannya, tanpa ada anak anak lain. Aku merasa sedang beruntung kali ini. Ku lihat ia berjalan melewatiku, mata kami sempat bertemu beberapa detik sampai akhirnya ia memutuskan buang muka dan berjalan lurus kedepan
"Ah masih sebal ya rupanya."
Aku tidak mau diberi tatapan sebal seperti itu lagi olehnya, kali ini aku harus bisa bicara lebih banyak lagi. Jangan cuma soal tanya harga gorengan dan terima kasih antar penjual dan pembeli seperti biasa. Tidak kali ini percakapan kami harus lebih banyak. Sementara kulihat sosoknya menjauh kepalaku terus berpikir alasan yang cocok untuk memanggilnya, sampai ku sadari tasnya menganga lebar di belakang. Dia lupa merapatkan resletingnya. Bisa bisanya lihat itu saja membuatku mau ketawa.
"Seruni!" aku berseru memanggilnya
Ia menoleh pelan, wajahnya terlihat kaget. Apa suaraku terlalu keras ya.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
Suara memang selembut ini ya Run. Ucapku dalam hati
"Tas mu kebuka tuh." ucapku memberi tahunya
"Hah? Enggak kok."
Wah dia tidak percaya
"Coba dilihat dulu kalau nggak percaya." jawabku lagi. Mungkin dia berpikir aku akan mengerjainya seperti yang biasa teman temanku lakukan.
"Emang enggak! Dasar pembohong!" serunya lagi.
Aku jadi ikut kesal karena dikatai pembohong, dasar keras kepala. Niatku kan baik awalnya tapi karena responnya seperti itu aku jadi ingin sedikit menjahilinya.
"Kalau beneran kebuka gimana?" tanyaku
"Ya nggak gimana gimana."
Enak saja. Aku membatin. Seharusnya tidak seperti ini percakapan kami. Kan bisa saja bahas pelajaran di sekolah atau tanya besok jualan apa. Tapi malah jadi obrolan aneh seperti ini, dan entah kenapa meskipun mengesalkan aku malah menikmatinya. Lucu juga melihat ekspresinya yang lagi cemberut seperti itu. Dia mungkin tidak sadar bibirnya terlihat mengerucut seperti bebek.
"Kamu harus minta maaf dan bantuin aku ngerjain tugas sampai akhir semester dua ya." ucapku menggodanya. Aku benar benar kesulitan menahan senyum.
"Nggak mau itu mah untung di kamu!" sanggahnya lagi
"Loh itu permintaan maaf karena nuduh aku pembohong, kamu tau nggak kalau fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan." aku mencoba iseng menantangnya.
"Oke."
Sejujurnya aku kaget karena Seruni mengiyakan tantangan konyolku. Ku lihat ia memutar tasnya ke depan dengan penuh keyakinan, dan ternyata ia menyadari tasnya menganga seperti buaya yang sedang kelaparan. Ekspresi wajahnya sungguh bisa membuatku tertawa lebar. Seruni menutup matanya rapat rapat dan menggigit bibirnya hingga melengkung ke bawah. Merah padam air mukanya seperti kepiting yang lama di rebus. Aku yakin kalau di kartun kepala dan telinga Seruni sudah mengeluarkan asap saking merah wajahnya, pasti dia malu sekali sekarang. Aku merasa sedikit kasian tapi lebih banyak senang yang kurasakan. Karena baru pertama kalinya aku melihat wajah Seruni yang semenggemaskan itu, apa ku cubit saja ya pipinya.
Aku benar benar tidak bisa menahan rasa senang ku. Seperti baterai yang dialiri listrik, percakapan ini jadi membuatku tak bisa berhenti tersenyum dan ingin menjahilinya agar bisa melihat ekspresi lucu itu lagi.
"Tuh kan dibilangin ngeyel. Jangan ingkar janji yaah. Dadaaah Seruni." ucapku sambil berbelok ke arah rumah. Wajahnya masih merah dan cemberut. Ia kesal. Harga mahal yang harus ku bayar untuk bisa bertemu lebih sering dan berbicara lebih banyak dengannya adalah rasa kesal Seruni. Tapi agar bisa melihat senyum dan berbagai ekspresi lucu Seruni yang lain, tak ada lagi harga yang lebih murah daripada itu.
Aku mengepalkan tangan dan berteriak YES atas keberhasilanku bicara lebih panjang dengannya, sambil melompat lompat penuh semangat.
"Ibu masak apa yaaa." ucapku dalam hati.
Yeay bab 6 udah jadi jangan lupa like dan comment yaa. Love you guys
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments