Andini masuk ke ruang kantor Bagas. Membawa sebungkus plastik berisi sup buntut kesukaan Bagas. Dilihatnya Bagas yang sedang berbaring di sofa. Wajahnya terlihat pucat.
"Loh, Bagas kamu kenapa?" ia bertanya panik.
"Nggak papa cuma kecapekan dikit." jawab Bagas.
"Kamu telat makan lagi ya? Pasti kebanyakan bergadang sama minum kopi kan ?"
"Enggak din. Kamu ngapain kesini?"
"Aku mau bahas desain yang ku buat untuk pesanan client Gas. Bisa nggak di sesuaikan sama desain rumah yang lagi kamu buat."
"Bukannya kita janjian lusa Din?"
"Hehe tapi aku terlalu excited buat ketemu kamu Gas. Sorry. Kamu lagi nggak enak badan gini kasian banget."
"I am fine Din. Pusing sedikit aja."
"Baik apanya. Muka kamu pucat gini. Makan yah, aku bawakan sup buntut nih. Aku ambilin mangkuk di pantry dulu."
Bagas membiarkan Andini keluar mengambil mangkuk untuk wadah sup yang dibawa nya. Dia tak ada tenaga untuk menolak tawaran gadis itu. Bagas harus segera sehat, deadline yang diberikan client tinggal sebentar lagi. Ia harus menyelesaikan proyek ini dan menyerahkan hasil secepatnya. Siapa tahu perlu banyak revisi dari pemilik rumah, jadi tak banyak waktu yang terbuang sia sia. Di tenggaknya obat pereda nyeri yang biasa ia minum jika ulu hati nya bermasalah. Padahal dokter sudah mengingatkannya untuk mengontrol pikiran untuk menghindari stres agar penyakit lambungnya tidak kumat terus.
Andini telah kembali dari pantry. Membawa sepasang piring dan mangkuk. Sembari mengomeli Bagas soal menjaga kesehatan dan mengelola stres nya. Di tuangkan nya sup ke dalam mangkuk dengan hati hati, Bagas mencoba menawarkan bantuan tapi di tolak nya.
"Udah istirahat aja Gas."
"Aku udah mendingan Din. Barusan aku minum obat."
"Kamu tuh kebiasaan deh. Udah tau kerjaan banyak dan berat, harusnya kamu makan teratur. Jangan banyak pikiran. Nggak ingat dokter ngomong apa? Kamu mikirin apa sih?" Andini mencecar Bagas.
"Seruni." jawab Bagas dalam hatinya.
"Udah. Kamu nggak perlu khawatir Din. Aku cuma mikirin proyek ini aja. Mungkin aku berlebihan jadinya agak stres dikit." jawab Bagas lewat mulutnya.
Inilah yang namanya lain di bibir lain di hati.
"Bohong deh." jawab Andini tak percaya.
"Ayo kita makan aja Din. Kok sup nya kayak manggil manggil aku dari tadi." ucap Bagas mengalihkan pembicaraan.
"Yaudah, sini aku suapin."
"Kamu jangan aneh aneh ya." Bagas mengayun ayunkan sendoknya ke wajah Andini.
"Aku serius loh. Tapi kalau kamu nggak mau, yaudah haha. Nih sup nya." jawab Andini mendorong mangkuk sup yang ada di meja ke arah Bagas.
Rembulan Andini Juwita. Wanita cantik itu adalah seorang desainer interior yang handal di bidangnya. Perusahaan Bagas sering bekerja sama dengannya karena Andini selalu bisa menyulap ruang yang di serahkan padanya menjadi nyaman dan menyenangkan. Andini adalah anak teman bunda, keluarga mereka saling mengenal baik. Bagas pernah mencoba membiarkan Andini mengisi hatinya. Dulu. Mereka berhubungan setahun lebih. Saat Bagas memasuki semester akhir masa study nya. Hingga akhirnya hubungan itu selesai karena Bagas lagi lagi merasa tak mampu memberi perasaan yang utuh padanya. Kepribadiannya yang ceria, perfeksionis dan ambisius membuatnya sukses seperti sekarang. Tidak ada kata mundur jika ia sudah memutuskan untuk maju. Ia adalah wanita pintar dan tahu apa yang diinginkannya. Sampai hari ini ia masih menyimpan hati untuk Bagas, meskipun tak lagi dibicarakannya dengan terus terang seperti dulu, tapi masih ada nama pria itu disana. Andini cukup tahu ada seseorang yg telah menyita hati Bagas sepenuhnya.
Mereka melanjutkan makan siang.
"Gimana progres proyeknya Gas?" tanya Andini.
"Udah 75 persen Din. Bentar lagi selesai. Gimana hasil ketemu client?"
"Ya gitu deh. Alhamdulillah lancar sih. Ada ekstra desain buat kamar anak anak."
"Oh iya? Gimana?"
"Mereka minta dibuatin space buat arena main macam outbond gitu tapi versi mini. Ntar di konsultasiin sama kamu kalau meeting."
"Oke."
"Gas punya waktu nggak malam minggu ntar?"
"Kenapa Din?"
"Dinner yuk." ajak nya. Andini selalu terbuka dalam hal seperti ini. Ia tak kenal gengsi, baginya jika menginginkan sesuatu berarti kamu tak boleh berdiam diri, kejar lah hingga dapat.
Bagas hanya tersenyum dan menggeleng.
"Sorry Din aku nggak bisa."
"Ah kamu mah." Andini menggerutu. Wajahnya yang cantik dibingkai dengan alis hitam yang tegas dan rambut panjang tebal hitam yang terawat itu cemberut. Tak ada yang bisa menafikan keindahan wanita ini. Tubuhnya yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih bersih membuat siapapun yg melihatnya akan kagum. Belum lagi kemampuannya untuk memadu padankan pakaian membuat penampilannya selalu menawan. Seperti hari ini, ia menggunakan kemeja biru pastel dengan celana bahan berwarna khaki. Cantik sekali.
Sayangnya ia jatuh cinta pada laki laki gagal move on seperti Bagas. Tentu saja ia bisa dapat yang lebih baik untuknya. Namun masalah hati biasanya bisa membuat siapapun jadi bodoh macam mereka berdua.
Pintu kantor terbuka, muncul seseorang lagi dari sana. Randu. Sahabat sekaligus rekan sekantor Bagas, yang biasanya ikut menangani proyek lapangan.
"Yo bro." ia berseru.
"Masuk Ran." ucap Bagas.
"Eh ada tuan putri Andini." .ucapnya
Andini hanya mencebik mendengarnya. Tuan putri adalah olokan yang di ciptakan Randu untuknya. Tidak, itu bukan pujian. Kalian jangan salah paham.
"Gimana tadi di lapangan?"
"Aku sama Pak Doni udah cek bahan sih di toko bangunan. Aman aja kok sejauh ini nggak ada kendala."
"Thank you ya Ran."
"Santai aja Gas, ngapain kesini Din?" tanya Randu pada Andini.
"K E P O. Wleeee." bukannya menjawab, Andini malah mengolok Randu.
"Yeuuuu. Jangan jutek mulu, ntar naksir loh hahaha"
"Iya Din hati hati ntar naksir Randu jadi yang ke 10 loh kamu." canda Bagas.
"Dih enak aja."
Mereka memang sering bicara santai seperti itu. Karena sudah berteman baik bahkan sebelum perusahaan itu berdiri, suasana kerja yang hangat bukan hal asing bagi mereka. Bagas hanya akan menarik diri jika Andini mulai memancing harapan lagi padanya. Selebihnya, mereka adalah sahabat baik yang profesional dalam bekerja sama.
Di sisi lain, bunda juga ternyata baru saja sampai di kantor. Ia bermaksud untuk membawakan cemilan untuk karyawan disana. Bunda menyiapkan brownies, risol dan siomay untuk dibagikan. Sesampainya di lobby kantor, bunda melihat rangkaian bunga segar yang indah disana. Bunda mendekat dan ia menghirup wanginya. Ah bunga ini masih baru rupanya, sepertinya ia harus bertanya pada Bagas dimana bunga ini di pesan. Rangkaiannya yang cantik menarik hati bunda. Sebentar lagi ada arisan di rumahnya, tentu bunga ini akan memperindah suasana nanti. Bunda beranjak masuk ke dalam mencari ruang anaknya.
Cklek, dibukanya pintu kantor. Bunda melihat anak anak yang sudah di kenalnya lama ini sedang berkumpul dan bercanda. Bahagia merasuk ke hatinya saat melihat Bagas tersenyum lebih cerah.
"Eh budeee." seru Andini.
"Iya sayaang." jawab Bunda
"Tante, masuk sini." ajak Randu.
"Bunda ada apa kesini? Tumben nggak ngabarin dulu?"
"Iya makasih Randu. Ini loh bunda bawain cemilan buat orang kantor. Sebagian udah bunda simpan di lobby tadi." bunda menjawab Randu dan Bagas sekaligus.
"Ya ampun berarti pas banget dong aku kesini." ucap Andini
"Iya, tante ikut master chef cocok loh kayaknya. Enak banget ini brownies tan." Randu ternyata sudah mengunyah brownies duluan. Kapan dia mengambilnya?
"Duh kamu Randu, ada ada aja."
Agak lama bercakap cakap Andini memutuskan untuk kembali ke kantornya, sedangkan Randu harus pergi menerima telepon dari client soal bahan bangunan yang akan mereka gunakan. Tinggalah Bagas dan bunda disana.
"Bunda disini aja ya pulang sama aku."
"Nggak Gas, bunda mau pulang bentar lagi ada kegiatan pkk. Mau rapat bakti sosial."
"Bunda udah kayak presiden aja sibuknya."
"Emang dong haha. Eh iya Andini ngapain kesini Gas, ciye ciyeee." Bunda menggoda anaknya
"Nggak ada apa apa bun, ngomongin kerjaan aja."
"Bunda suka loh sama Andini tuh, udah pinter, baik, cantik lagi."
"Oh ya Bun?" Bagas tersenyum menanggapi bunda. Berpura pura tak paham.
"Iya, cocok loh kalian itu."
"Nggak bun, Andini berhak dapat orang yang sayang sepenuhnya sama dia, dan itu bukan aku bun"
"Halah kamu itu alasan terus. Oh iya, bunda lihat karangan bunga di depan tadi itu pesan dimana?"
"Nggak tahu ya bun, kenapa?" tanya Bagas.
"Cantik banget bunda suka, bisa pesankan buat di rumah. Hari minggu nanti ada arisan soalnya."
"Ah iya, nanti aku pesankan bun. Bunda mau bunga apa? aku nggak paham jenisnya."
"Intinya yang mirip bunga di depan."
"Oke my lovely mom." jawab Bagas sambil sibuk di depan komputernya.
"Bagas bunda pulang duluan yaa. Bunda senang sekali lihat kamu banyak tersenyum dan ketawa kayak tadi." ucap bunda.
Bagas menatap bunda nya dengan tulus. "Makasih banyak bun." jawabnya.
Bunda pergi setelah Bagas mencium tangannya. Pamit pada semua rekan kantor anaknya yang ia temui saat keluar. Bagas menghubungi asisten pribadinya lewat aplikasi chat.
"Amira, boleh tau pesan bunga untuk lobby dimana?"
"Pesan di florist baru pak. Namanya Forever Chrysant Florist pak."
"Oke, saya minta alamatnya yah."
"Baik pak."
Amira mengirimkan sebuah lokasi yang tak begitu jauh dari kantor, butuh 15 menit untuk sampai kesana dengan mobil.
"Terima kasih Amira."
"Sama sama pak."
Sore hari sepulang kerja, Bagas mendatangi alamat yang di beri Amira. Sampai disana ia melihat sebuah toko bunga yang cantik dan rapi. Toko bernuansa coklat krem muda dan pink pastel itu memberi suasana yang hangat dan lembut. Di depannya berjejer beberapa keranjang yang berisi bunga mawar, matahari, dan lily. Serta mawar imitasi yang digunakan untuk menghias plafon etalase memberi kesan mewah dan penuh tapi tidak bertumpuk. Siapa pun yang mendesainnya pasti punya selera yang elegan. Bagas masuk ke dalam, berbagai jenis bunga ada disana. Tertata memanjakan mata. Tapi tak ada orang.
"Permisi." Bagas bersuara agak keras agar terdengar siapapun di sana.
"Iya, sebentar." sebuah suara menyahut dari dalam.
Bagas menghadap ke arah bunga di depan pintu. Memperhatikan bunga cantik berwarna merah muda dengan kuntum kelopak sebesar kepala bayi baru lahir.
"Silahkan di lihat mas, ada yang bisa di bantu?"
Bagas membalik tubuhnya. Manik mata keduanya bertemu. Waktu terasa berputar lebih lambat, entah kenapa Bagas seperti bisa merasakan hembusan angin melewati setiap pori pori kulitnya. Lihatlah bagaimana Tuhan bekerja. Wanita di depannya pun sama. Hanya mematung, matanya sedikit berkaca kaca. Bagas menelan saliva nya. Semua perasaan menyerangnya bersamaan. Ia tahu wanita bekerudung merah marun itu, bergaun gamis cokelat polos, bertubuh ramping dan bermata indah itu. Ia kenal pipi yang selalu merona alami itu.
"Seruni." bisiknya
Tanpa sadar air mata keduanya menetes bersama.
Halo guys, akhirnya mereka ketemu juga hehe. Beberapa chapter kedepan aku akan full membahas soal Seruni. Stay with me ya. Jangan lupa like dan komen biar aku makin semangat update nya. See you
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments