Bab 10 Kepingan Ingatan

Sudah dua bulan berlalu semenjak Bagas bertemu Seruni di pusat perbelanjaan. Sesungguhnya ia ingin mengabari Dayu tentang pertemuan itu. Tapi tak juga dilakukannya. Ia yakin Dayu akan mengajaknya mencari Seruni, atau bahkan dia akan pergi mencarinya sendiri. Dulu mereka bahkan pergi berdua keliling kota untuk mencari Seruni saat mendengar kabar bahwa Seruni pergi ke Malang bersama ibunya. Tapi hasilnya nihil, mereka berpikir mungkin Seruni dan ibunya sudah pergi ke kota lain. Dayu dan Bagas mengetahui kepergian Seruni dari desa saat mereka kembali kesana untuk menjenguk Seruni dan mengajaknya pergi dari sana. Dayu bahkan berhasil meyakinkan orang tuanya agar Seruni boleh tinggal bersama mereka di Malang. Tapi sayang, Seruni sudah tak ada disana. Saat mendengar bagaimana Seruni bisa pindah, apa yang terjadi padanya, apa yang harus dilaluinya sendirian saat itu mereka hanya bisa terdiam dengan pikiran yang semakin kusut. Bagas ingat, dia harus berbohong pada ayah dan bunda agar bisa pergi. Ia berkata ada kegiatan ekstrakulikuler di luar kota, kalau Bagas jujur akan menemui Seruni ayahnya pasti marah dan menguncinya di dalam kamar sampai ia mau berubah pikiran lagi. Bagas kembali terbayang ingatan menyakitkan itu. Rasa bersalah memang salah satu hukuman terberat yang di tanggung oleh manusia.

Wonokitri 2010

Bagas POV

Pagi itu di sekolah ku lihat Seruni sudah ada di dalam kelas. Ia duduk sambil merapikan buku pelajaran pertama yang akan di mulai 15 menit lagi. Wajahnya terlihat pucat. Mungkin karena pagi yang dingin ini. Kulihat ia mengeluarkan kotak bekalnya. Mulai sarapan dengan nasi dan sambal tempe. Segera ku hampiri gadis itu di tempat duduknya, kebetulan tempat duduk ku pas sekali di depannya.

"Pagi Runi."

"Iya pagi Gas." jawabnya

"Sarapan apa kamu?" tanya ku basa basi.

"Nih. Mau?" ia menunjukan bekalnya sambil menawarkannya padaku.

"Hehe makasih Runi, aku udah sarapan di rumah."

Seruni diam dan melanjutkan sarapannya. Sepeninggal Dayu, Seruni jadi lebih pendiam daripada biasanya. Wajahnya sering murung, dan kami tak lagi sering main keluar bersama. Terlalu canggung untuk keluar hanya berdua, meskipun aku ingin.

Iya, Dayu pindah ke Malang saat kenaikan kelas sebelas. Ayahnya membuka toko sayur disana. Dengan memanfaatkan koneksi kenalan petani langsung dari desa ini, ayahnya bisa menjual sayur berkualitas dan segar dengan harga yang lebih murah. Dayu masih sering bertukar kabar dengan ku dan Seruni. Ia berjanji akan ikut jika ayahnya mengambil stok sayuran disini. Ia terlihat sedih meninggalkan kami berdua, tapi kami meyakinkannya untuk menjalani kehidupan di sana dengan baik. Aku bahkan mengatakan padanya secara pribadi bahwa aku akan menjaga Seruni. Tidak akan ku biarkan dia di ganggu siapapun di sekolah.

Jadi saat melihat Seruni murung begini aku ikut merasa sedih. Andai aku seperti Dayu yang bisa begitu luwes bercanda dan bercerita dengannya. Kadang kami hanya duduk diam berdua. Saat aku menemaninya di perpustakaan atau saat kami makan di siang di kantin. Aku tak bisa meninggalkannya, meskipun ia suka mengusirku dan memintaku pergi bermain dengan teman yang lain. Tenang saja Run, sudah ku lakukan saat pulang sekolah. Aku sering main dengan Damar dan Hendri.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantin. Biasanya jam segini pedagang yang berjualan sudah mulai membuka kios mereka, aku ingin beli minuman hangat. Ku lihat Seruni sekali lagi, ternyata ia juga sedang melihatku.

"Ada apa Run?"

"Nggak papa Gas, kamu mau ke kantin?" ia bertanya dengan lembut.

"Iya. Kamu mau ikut?" tanyaku lagi

Seruni tersenyum lalu mengangguk.

Bagiku, ia selalu tampak seperti bunga yang indah. Suaranya yang lembut, gerak tubuhnya yang teratur, air wajahnya yang tenang saat tak ku usili, bibirnya yang tersenyum manis dan pipi nya yang merona kemerahan alami. Bagai bunga mekar dengan kelopak halus yang harum dan menguarkan sari kehidupan. Meskipun dalam senyum itu bisa kulihat sekilas kesedihan yang ia sembunyikan. Kesedihan yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun termasuk aku dan Dayu meskipun kami bertanya. Tapi aku tetap menunggunya. Berharap suatu hari ia akan berbagi alasannya padaku, alasan kenapa ada kilat luka di balik senyum manisnya itu.

"Kamu mau beli apa Gas?"

"Apa ya, mau beli susu hangat kayaknya. Kamu mau?" aku menawarkan

"Boleh." jawabnya kemudian tersenyum lagi.

Bikin gugup saja melihatnya seperti itu. Ku alihkan pandanganku kedepan. Semenjak tiga minggu kepergian Dayu baru kulihat ia lebih ceria, hatiku sedikit menghangat.

"Bagas kamu kok sekarang tinggi banget sih. Leherku sakit kalau ngeliat kamu sekarang."

"Emang iya?"

"Iya, berapa tinggimu? Rasanya dulu nggak sejauh ini buat ngeliat wajah kamu."

"Hmm terakhir ukur sih 183 Run."

"Ya ampun, kamu udah bisa di pakai buat ngambil jambu di pohon. Udah mau dua meter Gas."

"Enak aja."

"Hahaha memang kok."

"Kamu tuh yang tambah pendek sahut ku."

"Yeee enggak lah." jawabnya lagi

Ku dengar ia bersenandung kecil setelah percakapan itu. Jujur aku bingung kenapa dia bisa seceria ini. Apa ada yang terjadi.

"Runi, kamu ada masalah?"

"Hah? Nggak kok. Kenapa emangnya Gas?" ia balik bertanya.

"Nggak, kamu beda aja gitu. Kayak jadi ceria banget. Padahal kemarin kamu kelihatan sedih."

"Ah itu. Nggak papa Gas. Masak mau sedih lama lama. Toh kita juga bilang kalau Dayu harus senang disana kan."

"Iya, tapi ini terlalu tiba tiba. Aku jadi khawatir loh." ucap ku.

"Nggak papa Gas. Aku baik baik aja. Hidup kan harus berlanjut."

"Seruni, kalau kamu sedih atau punya masalah jangan ragu buat cerita ke aku yah. Aku ada disini. Aku nggak akan pergi ninggalin kamu." ujarku padanya.

Yang ku katakan itu jujur, tekad ku sudah bulat untuk menjaganya. Aku merasa ada hal besar yang tidak ia ceritakan padaku, jika tempat yang aman bisa berwujud manusia biarlah aku jadi itu untuknya. Karena semenjak bertemu dengannya hidupku disini menjadi banyak warna dan rasa. Kulihat ia tersenyum manis dan mengangguk. Merapatkan kancing seragamnya yang ada di tangan. Seruni memakai seragam lengan panjang. Lagi lagi aku memalingkan wajahku ke depan, menggaruk kepalaku yang tak gatal. Tiba tiba merasa gerah. Andai saja perjalanan ke kantin bisa lebih lama. Aku tak mau cepat sampai.

Bagas menghentikan lamunannya tentang masa lalu. Dasar anak bodoh umpatnya sendiri. Apanya yang menjaga. Apanya yang tidak meninggal kan. Ia berdiam diri dan berhenti sejenak. Semenjak pertemuannya dengan Seruni, Bagas jadi mudah hilang konsentrasi. Kepalanya sakit dan ulu hatinya nyeri. Rasanya ia sudah sarapan tadi. Ia memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya dan berbaring di sofa ruang kantornya untuk beristirahat. Sampai pesan dari asisten pribadinya masuk.

"Pak ada Bu Andini mau masuk, boleh?"

"Ck, ngapain sih."

"Jangan yah mbak, bilang aja.."

Belum selesai Bagas mengetik, wanita cantik itu sudah muncul dari balik pintu sambil tersenyum sumringah.

"Bagas. Aku bawain kamu makan siang sayang." ucapnya dengan ekspresi ceria

Bagas hanya memijat kepalanya yang makin pusing. Hari yang cukup melelahkan untuknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!