Bab 14 Kerja Kelompok

Pagi itu Seruni dan ibunya bersiap pergi ke kebun sayur Pak Agung. Ayah pulang ke rumah tadi malam. Mabuk seperti biasa. Tapi syukurlah ia tidak marah marah. Hanya tidur saja dengan dengkurannya yang seperti gergaji mesin. Seruni membawa beberapa buku pelajarannya, ia akan memenuhi janjinya pada Bagas untuk membantunya belajar. Dilihatnya ibu masih memasakan sarapan untuk ayahnya, ia ikut membantu menyiapkan bekal untuk mereka bawa ke kebun. Kadang Seruni bingung, kenapa ibu masih mau merawat ayah meskipun kelakuannya seperti itu. Jika ia bertanya ibu akan menjawab, ayah adalah orang baik yang sedang tersesat dan suatu hari ia akan menemukan jalan pulang. Sebenarnya, Seruni menyangsikan itu tapi ia mencoba percaya pada harapan ibunya.

"Nduk udah siap semuanya?"

"Sudah bu. Ayo berangkat."

"Sebentar ya."

Ibu berbicara pada ayah di depan.

"Pak, kalau mau sarapan sudah ada teh sama lauk di meja yah."

"Hngggg." bapak hanya melenguh dalam tidurnya, entah lah dia bermimpi apa.

Seruni menyimpan rasa kagum yang besar pada sang ibu. Dari mana ia dapatkan hati yang seluas itu. Seruni perlu waktu seumur hidup rasanya untuk belajar seperti itu. Mereka berdua segera berangkat setelah semuanya siap. Menyusuri jalan setapak menuju jalan utama untuk pergi bekerja

"Kok tumben bawa tas sekolah nduk?"

"Ah iya bu, aku janjian ngerjain tugas sama Bagas." jawabnya

"Bagas anak pak Agung?" tanya ibu lagi.

"Iya bu, dia teman sekelas ku."

"Owalah. Kalian akrab nduk?"

"Enggak bu, tapi dia sering beli jualanku."

"Baik baik sama dia yah nduk."

"Iya bu, memang mau jahat gimana hehe."

Sepanjang jalan mereka tak begitu banyak bicara karena fokus di melewati jalanan licin sehabis hujan. Sesampainya di sana mereka melihat Pak Agung dan Bu Winanti sedang bersantai di gazebo. Beberapa karyawan juga sudah ada yang datang dan mulai bekerja. Hubungan yang akrab antar pekerja membuat suasana menjadi hangat. Mereka juga memperlakukan Seruni dengan baik, memintanya agar tidak ikut mengerjakan pekerjaan yang berat. Biasanya ia ikut menebar pupuk atau membersihkan kebun dari sampah dan kotoran.

"Seruni, bisa bantu ibu bikin teh nggak?" Bu Winanti mendekat padanya.

"Iya bisa bu, saya buatkan sekarang."

"Nanti kalau sudah selesai kamu langsung kerjain tugas kalian aja. Bagas sudah cerita sama ibu kalau kalian ada kerja kelompok. Kamu kok nggak pernah bilang sih sama ibu kalau sekelas sama Bagas?" Bu Winanti bertanya lagi.

"Eeh iya maaf bu, saya lupa." jawab Seruni kikuk

"Sering sering aja yah belajar kelompoknya, Bagas suka males kalau belajar sendirian. Yaudah tolong dibuatkan yah teh nya nak. Nanti ingatkan Bagas untuk siapin cemilan buat kalian."

"Iya bu saya permisi ke dalam dulu kalau gitu."

"Makasih Seruni."

"Sama sama bu."

Bu Winanti adalah segelintir dari sekian banyak orang kaya yang paham bagaimana cara menghargai dan memperlakukan orang lain. Tutur kata dan perilakunya menyenangkan siapapun yang ada di sekitarnya. Bahkan ia begitu lembut dan perhatian pada para pekerjanya. Ia sering meminta Seruni untuk tidak ikut bekerja karena menurut Bu Winanti tidak seharusnya anak gadis seumuran Seruni bekerja di kebun seperti ini. Ia seharusnya belajar dan mencoba banyak hal baru bersama temannya. Hal yang positif tentunya. Seruni mengambil tas yang ia letakan di sekitar kebun dan berpamitan pada ibunya untuk mengerjakan tugas. Setelah itu ia bergegas ke rumah Bu Winanti untuk membuatkan teh. Ia berpapasan dengan Pak Agung saat menuju kesana.

"Selamat pagi pak, saya diminta ibu untuk bikin teh buat orang kebun." ucapnya menyapa Pak Agung

Pria itu hanya tersenyum simpul dan mengangguk dan beranjak pergi menuju kebun, sepertinya hari ini akan panen. Seruni masuk lewat pintu dapur, mengucap salam tapi tak ada yang menjawab. Ia mengambil ceret, mulai memasak air dan menyiapkan bahan untuk membuat teh hangat. Kepalanya celingukan mencari Bagas yang tak kelihatan batang hidungnya. Setelah selesai membuat dan mengantarkan tehnya, Seruni kembali ke rumah. Bagas tak juga kelihatan. Karena sudah mendapatkan izin dari Bu Wiranti, Seruni memberanikan diri untuk masuk lebih jauh. Ia memilih untuk menunggu di ruang tengah. Seruni kagum melihat isi rumah itu, interiornya tergolong bagus untuk masyarakat yang tinggal di desa. Selain itu rumah mereka luas dan sangat besar. Ia yakin ruang tengah itu mungkin seukuran dengan satu rumahnya. Seruni melihat sofa dan meja di depan televisi, ia memutuskan untuk menunggu disana. Saat akan duduk, ia kaget melihat Bagas yang tidur dengan pulasnya. Rambutnya berantakan mencuat kesana sini, mulutnya sedikit terbuka dan ada air liur yang sudah mengering di pipinya. Bagas menggunakan celana pendek dan kaos biasa. Ia terlihat berbeda tanpa seragam sekolah. Seruni tertawa kecil melihat anak lelaki di depannya ini. Dalam hati ia tak memungkiri Bagas terlihat lucu sekali.

Bagas terbangun, melihat Seruni berdiri di balik sofa membuat kesadarannya terkumpul seketika. Gawat, penampilannya sedang sangat berantakan. Ia terlalu bersemangat karena Seruni akan ke rumah sampai tak bisa tidur dan berakhir ketiduran di sofa karena nonton film sampai larut malam. Sial, Bagas malu sekali dengan dirinya. Tapi ia bertingkah seolah tidak merasakannya.

"Eh Runi, pagi banget kesininya."

"Hei ini kan udah jam setengah sembilan. Itu sudah siang tau."

"Oh gitu ya."

"Iya. Mending kamu mandi deh. Masa mau belajar berantakan gitu."

"Tetap ganteng sih aku biarpun baru bangun gini."

"Bagas, kamu mau aku ambilkan cermin buat lihat penampilanmu sekarang?"

Tiba tiba, "Hello everybody, Dayu disini."

Dayu muncul dari ruang tamu. Ia masuk setelah izin dengan Pak Agung yang di temuinya saat akan pergi ke kebun. Bagas menatap Seruni meminta penjelasan, seolah bertanya kenapa mahkluk satu itu bisa ada disini juga sekarang? Dan Seruni menatapnya balik seakan menjawab terus kamu mau kita berduaan saja di rumah mu, begitu? Lalu keduanya menatap Dayu. Seruni melambaikan tangannya senang akan kehadiran sahabatnya, sedangkan Bagas menelan pil pahit pagi ini karena realita yang tak sesuai harapannya. Tapi biarlah, toh Seruni akan tetap ada disana dan Dayu juga anak yang menyenangkan. Ini bukan hal yang buruk.

"Ngapain kamu kesini Yu?" tanya Bagas.

"Mau belajar dong. Seruni yang ajakin."

"Oh ya? Kok yang punya rumah nggak tahu ya tamu ini ternyata mengundang tamu lain?" Bagas menatap Seruni.

"Terus kamu pikir aku mau mengajarimu hanya berdua di rumah begini Gas? Yang ada kamu bakal cari masalah terus sama aku."

"Iya tuh, lagian aku udah izin sama bapakmu kok buat masuk kesini. Tadi aku ketemu di jalan." sahut Dayu

"Iya deh iya deh terserah kalian aja."

"Bagas menurutku mending kamu mandi deh, rambutmu kayak orang habis kesetrum gitu. Berdiri nggak jelas." ejek Dayu disusul tawa Seruni yang terdengar senang sekali.

"Biarin. Yaudah aku mau mandi dulu. Kalian boleh nyalakan tv nya kalau mau."

Seruni dan Dayu saling menatap kesenangan. Mereka menyalakan TV dan menonton acara yang disukai. Sedangkan Bagas menuju kamar mandi. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Wajahnya merah, campur aduk perasaannya karena semangat juga malu Seruni melihatnya dengan rambut yang seperti sarang burung dan bekas air liur yang mengering seperti itu.

"Ah udahlah bodo amat." ucapnya dalam hati.

Acara belajar bersama mereka berjalan dengan lancar. Bagas menyiapkan banyak kue dan cemilan. Seruni menjelaskan persoalan matematika substitusi dan dua jenis tense dalam pelajaran bahasa inggris. Membantu mereka mengerjakan tugas yang ada. Apakah Bagas paham akan penjelasannya? Tentu saja, bahkan tanpa penjelasan Seruni pun itu bukan hal sulit untuk di kerjakannya. Ia paham semua itu dengan sempurna. Meminta Seruni untuk membantunya kan hanya akal akalan agar ia bisa lebih dekar dan akrab dengan gadis itu. Sesungguhnya Dayu lah orang yang paling perlu kerja kelompok ini. Meskipun Seruni sering mengajarinya di sekolah Dayu perlu beberapa kali pengulangan agar paham. Usai belajar Dayu dan Seruni pamit pulang. Bagas mengantarkan mereka ke pintu depan.

"Hati hati ya di jalan."

"Iya, kami pulang dulu ya. Dadah Bagas." Dayu pamit dan melambaikan tangannya. Sementara Seruni tersenyum manis pada Bagas dan berlalu pergi. Bagas mau meledak rasanya. Ternyata Seruni anak yang sangat menyenangkan. Ia bisa diajak mengobrol soal apapun dan suka bercerita, kecanggungannya menguap entah kemana tadi.

"Run, ternyata Bagas anaknya seru ya." ucap Dayu

"Iya, nyebelin sih. Tapi dikit aja. Dikiiiit banget. Segini." Seruni menunjukan kuku kelingkingnya.

"Haha iya agak sok keren sih. Tapi asyik kok. Nggak sombong."

"Iya Dayuuu. Aku juga nggak nyangka hehe."

"Lain kali kalau mau belajar di rumahku atau rumahmu yah Run." ajak Dayu.

Seruni mengangguk setuju. Mereka berpisah di jalan. Dayu pulang sementara Seruni menuju kebun. Dilihatnya ibu sudah selesai mengurus panen sayur. Sepertinya hari ini ibu akan pulang lebih cepat. Saat akan menghampiri ibu, Seruni tak sengaja mendengar obrolan dua orang pekerja wanita disana.

"Eh Warti itu kenapa toh? Pucat terus perasaan."

"Nggak tahu juga, tapi aku dengar suaminya suka mukulin dia."

"Ah masa? Kamu tahu dari mana?"

"Aku pernah lewat depan rumahnya terus aku dengar dia teriak kesakitan."

"Ih serem ya, kenapa suaminya seperti itu ke dia?"

"Suaminya tukang mabuk, mungkin Warti nggak becus jadi istri makanya dia begitu."

Seruni panas mendengarnya, mereka tidak tahu apa apa tapi bicara sembarangan. Ia segera menghampiri ibunya, wanita itu tampak kotor. Pakaiannya penuh tanah. Seruni prihatin melihat ibunya yang berjuang sendirian seperti itu. Dipeluknya wanita dan menangis. Seruni memang sangat sensitif jika bicara soal ibunya.

"Loh kenapa nduk?"

"Aku habis jatuh bu, sakit." Seruni berbohong.

"Luka nggak?" ibu bertanya lagi.

"Lukanya nggak kelihatan bu, tapi perih sekali rasanya."

"Coba ibu lihat."

"Owalah Run Run udah jadi anak gadis jatuh aja kok ngadu sampai nangis gitu." seorang pekerja berkata pada Seruni.

Bukan jatuh, Seruni tidak terjatuh. Ia menangis karena amarah dan sedih yang bercampur jadi satu saat melihat ibunya yang penuh kemalangan ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!