Bab 5 Bapak dan Ibu

Lonceng tanda jam pelajaran terakhir sudah di pukul oleh penjaga sekolah. Suaranya besi yang nyaring di sambut gembira oleh para siswa yang memang sudah menguap sejak awal jam pelajaran terakhir. Jam segini memang mata sedang lengket lengketnya untuk dibuka. Semua siswa bergegas merapikan buku dan perlengkapan sekolah mereka. Setelah memberi salam pada pak guru, anak anak kabur keluar kelas dengan penuh suka cita, ada yang membayangkan makan siang yang sudah dimasak ibunya, ada juga yang sudah memikirkan mau main apa di rumah temannya.

"Seribu, dua ribu, tiga ribu.." Seruni sibuk menghitung hasil jualannya.

"Dapat berapa Run?" tanya Dayu yang sibuk menyimpani kotak bekalnya.

"Lumayan Yu, dapat limabelas ribu."

"Wah banyak tuh, bisa buat beli mobil." sahut Dayu

"Iya, mobil-mobilan tapinya."

"Hahaha." entahlah apa lucunya candaan itu, tapi mereka berdua menyukainya.

"Libur sekolah nanti kamu pulang ke Probolinggo nggak Run? Biasanya kamu ke tempat mbah kan?"

"Pengennya sih pulang Yu, tapi nggak tahu nanti gimana. Aku juga kangen sama mbah."

"Eh Run, tadi aku lihat nilai ulangan bahasa inggris mu dapat 98, tingginya Run."

"Alhamdulillah, kamu dapat berapa ya tadi? Aku lupa."

"Dapat 65. Hahaha. Kok bisa sih kamu pintar pelajaran bahasa asing begitu Run."

"Nggak tahu Yu, mungkin karena aku suka pelajaran bahasa inggris."

"Kok bisa Run? Aku pusing dengar pak Naryo ngomong."

"Ya suka aja, siapa tahu aku bisa keluar negeri. Kalau mau keluar negeri kan harus pintar bahasa inggris."

"Ya ampun temanku ini mimpinya tinggi juga ya, mentang mentang tinggal di gunung."

"Iya dong, karena tempat tinggalku sudah tinggi ya mimpiku juga ikutan tinggi. Emang kamu nggak pengen keluar negeri Yu?" tanya Seruni

"Enggak sih Run, tapi cita citaku keliling Indonesia. Aku mau lihat pantai Run, bosan lihat gunung sama hutan tiap hari."

"Ah iya, apalagi di daerah timur ya, katanya pantai disana cantik cantik Yu." tambah Seruni.

"Runi, aku pernah lihat foto kepulauan di Maluku yang cantik banget."

"Oh iya? Pulau apa Yu?"

"Namanya Banda Neira, aku lihat waktu paman ku pulang dinas dari Papua. Paman mampir disana, alamnya cantik banget Run."

"Paman mu yang tinggal di Malang itu Yu?"

"Iya, aku lihat waktu nemenin ayah ngantar sayur. Semenjak itu, cita citaku buat lihat pantai di Indonesia makin jadi Run. Kamu pengen kemana sih Run kalau keluar negeri?"

"Banyak Yu, mau umroh, mau ke masjid Aqsa, mau ke Jepang, pengen lihat Inggris. Banyak deh hehe." Jawab Seruni.

"Kalau umroh aku paham, tapi kalau jepang sama Inggris ngapain Run?"

"Aku mau lihat bunga sakura Yu kalau di Jepang, tapi kalau di Inggris aku mau lihat Cotswold."

"Apalagi itu Run?"

"Ya kota di Inggris, besok ikut aku ke perpustakaan. Nanti aku liatkan fotonya. Cantik Yu kayak negeri dongeng."

Mereka berdua asyik bercerita tentang tempat impian yang ingin di kunjungi. Mimpi yang nanti akan membawa mereka terbang jauh. Melintasi langit dan awan, membawa mereka ke tempat yang tak pernah mereka bayangkan. Siapa yang sangka asam di gunung memang bisa bertemu garam dilaut.

Seruni Pov

Sepanjang perjalanan pulang aku dan Dayu bercerita tentang impian kami untuk pergi ke tempat yang jauh. Aku memang ingin pergi dari sini suatu hari nanti. Bersama ibu. Aku ingin membawanya pergi dari kesulitan yang tidak pernah jemu menghampiri kami. Setidaknya disini aku punya Dayu. Sahabatku yang menyenangkan dan baik hati. Hariku terasa lebih ringan karena canda dan celetukan lucunya bisa membuat ku tertawa dan lupa sejenak suasana rumah.

"Aku duluan Run. Besok sore main aja ke rumah kalau kamu mau. Aku lagi libur latihan silatnya." ucapnya

"Kamu nggak latihan nari juga kah?" aku bertanya.

"Enggak. Udah ke rumah aja kalau mau." jawab Dayu.

Dayu berbelok ke arah rumahnya. Sementara aku melanjutkan perjalanan pulang sendirian. Keranjang jualan ku sudah lebih ringan, aku bersyukur jualan hari ini habis semua. Keuntungannya bisa aku simpan di tabungan yang memang kusiapkan untuk pergi dari sini nanti bersama ibu. Hatiku sedikit demi sedikit menjadi lebih berat karena kaki ini melangkah menuju rumah. Bisa tidak aku berhenti di ladang bunga Pak Nyoto, tidak usah sampai ke rumah. Setiap pulang dari sekolah hanya satu hal yang biasanya aku harap, bapak tidak ada di rumah.

Aku terus berjalan sampai aku sadar ternyata Bagas ada di depanku. Dia jalan sendirian tanpa teman temannya. Hatiku campur aduk, ada rasa senang karena bisa berpapasan dengannya sendirian begini, tapi ada rasa sebal karena tadi dia ikut menertawakan ku. Padahal ya aku harusnya tidak berharap apa apa sih biar tidak kecewa begini dengan kelakuannya. Tapi tetap saja aku sebal. Kan, dia bisa membela ku atau setidaknya jangan ikut tertawa dong. Mata kami bertemu beberapa detik sampai akhirnya aku memilih buang muka dan berjalan lagi lurus ke depan. Aku harus pulang. Biasanya jam segini ibu istirahat di rumah.

Tapi tiba tiba.

"Seruni!"

Aku benar benar mendengar Bagas memanggilku. Eh!?

Aku menoleh pelan. "Kenapa?"

"Tas mu kebuka tuh."

"Hah? Enggak kok." jawab ku.

"Coba di lihat dulu kalau nggak percaya." serunya lagi.

"Emang enggak. Dasar pembohong." balasku tak percaya.

"Kalau terbalik beneran gimana?"

"Ya nggak gimana gimana."

"Kamu harus minta maaf dan bantuin tugas sekolahku sampai akhir semester 2 yah."

"Enak aja. Itu mah untung di kamu." sahutku tidak mau kalah

"Loh itu permintaan maaf soalnya nuduh aku pembohong. Kamu tau nggak kalau fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan."

"Oke."

Entahlah interaksi macam apa ini yang jelas egoku tersentil oleh gaya tengilnya itu. Maaf yah tapi karena temanmu suka jahil padaku, jadi sulit berprasangka baik terhadap kalian.

Ku balikan tas punggung ku ke depan dengan kepercayaan diri 100 persen, dan ternyata benar, resleting tas ku terbuka lebar seperti buaya yang menganga karena kelaparan. Sialnya. Aku menahan napas, bisa kurasakan wajahku memanas, malunya bukan main. Sudah salah, keras kepala lagi.

"Tuh kan. Dibilangin ngeyel hahaha. Jangan ingkar janji ya. Dadah Seruniii" seru Bagas menaik turunkan alisnya dan tersenyum nakal.

Sambil melambaikan tangannya ia berbelok ke arah rumahnya. Aku hanya bisa menenangkan diri sambil memaksa kaki menuju rumah. Padahal nyaris tidak pernah berbicara panjang lebar. Selain saat ia membeli daganganku kami tidak pernah bicara, sekalinya bicara lebih lama aku malah sial dibuatnya.

"Percuma ganteng kalau nyebelin." batin ku.

Sepuluh meter lagi aku sampai di rumah. Kebetulan rumah kamu agak jauh dari rumah warga lain, sedikit masuk ke dalam hutan meskipun masih terhitung di pinggir jalan. Tiba tiba terdengar teriakan.

"Ampun paaaaaak. Jangan diambil uang itu."

Suara ibu, Tuhan tidak mengabulkan harapanku hari ini. Aku berlari sekuat tenaga, hingga sampai di depan rumah aku mencoba membuka pintu. Terkunci. Bapak mengunci pintu dari dalam. Aku menggedor dan mendorong pintu sekuat tenaga

"Pak buka pintunya." seruku dari luar.

"Diam kamu." terdengar bentakan bapak dari dalam rumah.

"Pak aku mohon jangan ambil uang itu, buat kita makan pak." ucap ibu di sela tangisnya.

"Dasar pembohong, katanya nggak punya uang. Terus ini apa? Hah!!"

"Kalau kamu tahu pasti kamu pakai buat mabuk dan judi pak. Kasihan Seruni."

Plaaaaak. Terdengar suara tamparan keras di susul jeritan ibu yang makin jadi. Aku berlari ke samping rumah, ternyata pintu samping dapur tidak terkunci. Bergegas masuk ke dalam rumah kudapati ibu sudah bersimbah airmata dengan darah di sudut bibirnya dan bapak seperti orang kesetanan. Tak terima melihat ibu seperti itu, aku mencoba merampas uang dari tangannya. Aku mencoba mengunci bapak dari belakang.

"Kembalikan uang ibu, kasian ibu pak."

Tidak mempan. Tubuh dan tenaga ku tidak cukup besar. Buuuuk. Ayah menyikut perutku sampai aku limbung dan terjatuh. Sakitnya sampai membuat dadaku sesak. Ibu berusaha menolongku dan mendorong bapak untuk menjauh. Tubuhnya yang lemah dan ringkih itu terhuyung huyung mendekat untuk memelukku. Ku peluk ibuku yang malang ini. Bagaimana ibu menahan ini semua? Kami menangis berdua. Meskipun ini nyaris selalu jadi makanan kami jika bapak ada di rumah, aku tidak pernah terbiasa.

"Dasar memang kalian nggak ada yang berguna. Sampah semua. Yang satu penyakitan, yang satu ngga bisa kerja. Cuih." ayah meludah lalu membuka pintu dan pergi lagi entah kemana meninggalkan kami yang sakit hati dan remuk di badan. Ku bantu ibu berdiri dan ku dudukan di tempat tidur. Darah di sudut bibirnya, memar di sekujur tubuhnya membuatku semakin perih. Kenapa yang seharusnya melindungi kami malah menjadi orang yang paling menyakiti.

Halo semua. Semoga kalian suka ceritanya ya. Jika ada ketidak cocokan narasi dan deskripisi latar tempat aku minta maaf. Hope you guys enjoy this. Jangan lupa vote dan like ya biar aku makin semangat. Terima kasih sudah membaca.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!