Bagas kembali menatap dua foto yang ia temukan di dalam kotak lamanya itu. Sejujurnya dia merindukan dua sahabatnya wanitanya, Dayu dan Seruni. Di dalam kotak juga terdapat fotonya bersama anak anak lain di kelas. Ada fotonya bersama Hendri dan Damar juga. Terakhir kali ia bertukar kabar dengan Hendri dan Damar adalah beberapa bulan yang lalu. Hendri sudah menikah dan kerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan, Damar juga bekerja di Surabaya sebagai peneliti di laboratorium kualitas perairan. Sedangkan Dayu sekarang sudah jadi Polwan. Mereka terakhir bertemu dua bulan lalu. Dayu bahkan sudah punya suami dan seorang anak laki laki. Ah iya, dia pakai kerudung sekarang. Mengikuti keyakinan suaminya yang juga seorang polisi saat akan menikah. Sulit untuk bertemu lebih sering karena kesibukan masing masing.
Dilihatnya lagi foto Seruni. Wajahnya cemong karena penuh jelaga dan spidol. Ia tampak kacau sekali disitu, dan Bagas masih ingat dengan jelas bagaimana itu bisa terjadi. Bagaimana ia harus membujuk Seruni agar memaafkannya karena Seruni merajuk dan mendiamkannya selama tiga hari. Bagas ingat, itu semua karena tantangan permainan yang mereka lakukan. Bagas yang mengajak bermain, Seruni yang menentukan hukuman, tapi ternyata dia yang kalah dan berakhir dengan memalukan. Bagas memang sengaja memancing Seruni agar emosi dan meladeninya bermain.
Bagas selalu suka bermain tantangan dengan dua sahabatnya ini, yang kalah akan di hukum. Biasanya jika hukumannya membawakan tas mereka semua sampai ke rumah masing masing, atau mentraktir makan di kantin Bagas akan sengaja mengalah. Ia akan pura pura jatuh atau sedikit menyalahkan jawabannya saat ulangan. Tapi kalau hukumannya membuat kacau penampilan, dia tidak akan mengalah. Dayu yang memang penuh ambisi dan Bagas yang suka melihat Seruni memerah karena malu dan kesal adalah perpaduan yang cocok. Bukan apa apa, tapi Seruni juga tak mau kalah, terutama pada Bagas. Jadi jika berhasil membuat Seruni terdiam, dan berakhir kacau karena ia ikut ikutan berlagak seperti mereka berdua, Bagas merasa senang. Ia suka melihat Seruni cemberut dan kesal karena menurutnya sangat menggemaskan. Tapi sebenarnya ia lebih suka melihat Seruni tersenyum, hanya saja Bagas bisa berdebar sangat kencang. Ia akan malu kalau sampai salah tingkah di depan Seruni. Pernah dulu Bagas dan Dayu mengalahkan Seruni saat bermain kartu dan Seruni berakhir seperti badut karena wajahnya penuh coretan bedak dan lipstik sementara Dayu hanya terkena sedikit dan Bagas bersih sama sekali, tentu sudah bisa dipastikan Bagas akan tertawa terbahak bahak.
Bagas tersenyum mengingat masa lalunya, ia bisa mengingat wajah cemberut Seruni yang penuh jelaga dari pantat wajan juga spidol, dan bagaimana hal itu bisa terjadi dulu.
Wonokitri 2009
"Kita kerjain di rumahku aja tugasnya." ujar Bagas
"Eh tapi ini susah loh, kalau sampai malam gimana?" jawab Seruni
"Ya aku antar kamu pulang, biasanya juga gitu kan Run?" balas Dayu
"Iya Runi, ibumu kan kenal juga sama aku. Hari ini ayah sama bunda ku lagi jengukin mbak Bintang di Malang. Aku cuma sama bi Inah dan Lek Kiryo di rumah."
"Yah Run?" pinta Dayu.
Seruni masih diam berpikir, memang ia sering ikut ibunya membantu di kebun Pak Agung ayahnya Bagas tapi ia tidak pernah main kesana tanpa ada orang tuanya. Seruni akan canggung sekali pasti karena tidak ada Pak Agung dan Bu Winanti. Membayangkannya saja sudah membuat Seruni malu.
"Mukamu kenapa jadi merah begitu Run? Kamu demam?" tanya Dayu sambil memegang dahi Seruni.
"Ng nggak Yu." jawab Seruni gelagapan. Apa yang dipikirkannya sih, kan mereka cuma mau mengerjakan tugas.
Bagas yang dari tadi memperhatikan Seruni, menyadari jika wajah gadis itu memang perlahan memerah segera menemukan ide untuk menggodanya.
"Kenapa mukamu merah begitu Run? kamu mikir berduaan aja ya di rumah sama aku? Hahaha."
"Ih jangan sembarangan ngomong ya." Seruni meninju lengan Bagas.
"Aduh, sakit loh Run. Yaudah kalau nggak mikir kayak gitu ayo ngerjain di rumah ku. Aku siapin banyak cemilan deh nanti."
"Nah iya, pas banget itu Run. Kita kerjakan di rumah Bagas aja yah." jawab Dayu.
"Iya deh kita kerjain disana aja." Seruni dengan pasrah akhirnya setuju dengan dua mahkluk yang kadang bisa kompak menyebalkan itu.
Saat di rumah Seruni izin pada ibunya untuk mengerjakan tugas di rumah Bagas, dia akan berangkat dan diantar pulang oleh Dayu. Tentu saja ibunya mengizinkan. Karena ia memang kenal akrab dengan dua sahabat anaknya ini. Selain itu ibu juga harus membantu di rumah Bude Sumi dari sore sampai agak larut malam karena ada acara disana.
"Runi ibu pergi duluan ya nduk, nanti kalau mau makan malam sudah ibu siapkan di dapur. Bisa kamu hangatkan lagi kalau mau. Ibu masak sayur tewel sama peyek." ujar ibu sambil bersiap siap untuk berangkat.
"Iya bu, aku juga mungkin pulangnya telat soalnya tugas kami disuruh bikin peta daerah sekalian presentasinya bu."
"Iya yang penting nanti nggak pulang sendirian. Diantar Dayu atau Bagas yah."
"Aku sama Dayu kok bu."
"Iya iya. Yaudah ibu berangkat. Sini salim dulu."
Seruni bergegas menghampiri ibunya, mencium tangan wanita itu. Ternyata sudah ada teman ibu yang menunggu di depan, mereka akan ke tempat bude Sumi bersama. Tinggalah Seruni sendiri di rumah. Sudah sebulan lebih ayahnya tidak pulang. Suasana jadi lebih tenang tanpanya. Handphone Seruni berdering, menampilkan nama Dayu sebagai pemanggil.
"Halo yu."
"Halo Run, siap siap ya 15 menit lagi ku jemput."
"Oke Yu. Aku tunggu."
Dayu memutus panggilannya. Seruni memilih pakai baju terusan berwarna merah muda yg agak gelap dengan motif bunga bunga kecil. Ia lebih suka pakai terusan begini daripada pakai kaos dan celana. Seruni berkaca dan menyisir rambutnya yang memang dibiarkan terurai. Bibirnya yang berwarna merah alami itu diberinya sedikit pelembab. Ia menyapukan bedak tabur ke wajahnya. Seruni selalu gugup saat pergi ke rumah Bagas. Tapi kali ini dia lebih gugup karena orang tua Bagas tak ada disana. Belum sampai saja wajahnya sudah panas. Seruni menepuk kedua pipinya.
"Fokus, ayo fokus." ucapanya pada diri sendiri.
Dayu datang menjemputnya. Mereka berdua sampai ke rumah Bagas, ia terdiam melihat Seruni secantik itu, dan segera memalingkan wajahnya takut ketahuan memperhatikan Seruni. Dayu yang melihat dua orang saling suka tapi denial ini jadi gemas sendiri. Iya Dayu tahu mereka berdua saling menyukai, yang tidak tahu ya cuma mereka berdua. Dayu hanya menonton mereka, semakin denial Seruni dan semakin sok keren Bagas makin lucu suasananya. Tentu saja Dayu sadar akan perasaan dua sahabatnya itu dan bagaimana mereka menutupinya. Dayu mengerti, dan tidak akan mencampuri hal itu karena baginya yang lebih penting adalah kenyamanan mereka berdua. Tapi melihat bagaimana mereka bersikap adalah hiburan tersendiri buatnya.
Bagas benar benar menyiapkan banyak cemilan, ada keripik pisang, kue kue yang dibelinya waktu pulang ke Malang, dan minuman dingin. Mereka mengerjakan tugas dengan tekun dan teliti, Bagas menggambar peta kota Batu karena kemampuan menggambarnya yang sangat bagus jadi dia mendapatkan tugas itu. Sementara Seruni dan Dayu menyiapkan materi presentasi tentang pariwisata dan daerah yang ada disana. Mereka mengerjakannya sambil bercanda juga agar suasana tidak hening. Semua berjalan lancar sampai handphone Dayu berbunyi saat pukul 19:25 malam. Saat itu mereka sudah selesai membuat materi dan tinggal mewarnai peta nya.
"Aku angkat telpon sebentar ya" ucap Dayu.
"Halo ayah. Ada apa?"
"Sudah selesai kerjakan tugasnya Yu?" tanya suara di seberang sana.
"Belum yah, sedikit lagi."
"Bisa pulang duluan yu? Paman Dian kecelakaan yu. Jatuh dari motor. Sekarang di rumah sakit."
"Astaga ayah. Gimana keadaan paman sekarang?" Dayu bertanya panik.
Bagas dan Seruni saling lihat, tahu sepertinya ada masalah yang terjadi.
"Paman sudah sadar, tapi dari tadi mencari ayah terus. Tangannya patah. Tapi kata dokter nggak ada cidera di kepala. Ayo pulang yu, kita ke Malang sekarang. Ibu mu sudah siap siap."
"Iya ayah aku pulang sekarang."
"Seruni maaf tapi aku nggak bisa antar kamu pulang sekarang. Aku harus ke Malang, paman ku kecelakaan."
"Ya ampun yu, iya nggak papa. Aku bisa pulang sendiri nanti."
"Cideranya gimana Yu" tanya Bagas
"Ayah bilang nggak parah, tapi tangannya patah. Bagas aku minta tolong antarkan Seruni pulang ya."
"Itu gampang Yu, hati hati di jalan ya." jawab Bagas.
Mereka mengantarkan Dayu sampai ke depan, dan masuk setelah Dayu benar benar tak kelihatan lagi. Hening. Suasana canggung sekali. Karena tidak pernah berduaan. Mereka melanjutkan tugas tanpa ada yang bicara. Seruni mencoba memecah kesunyian dengan berkata
"Semoga om nya Dayu nggak papa ya Gas."
"Aamiin Run. Kita doakan yang terbaik aja."
Hening lagi. Seruni melirik ke arah Bagas. Ia terlihat mengipas wajahnya yang merah dengan buku. Padahal dingin begini, apakah dia sedang demam pikir Seruni. Mereka terus mewarnai peta sampai hampir selesai. Seruni lega dia akan segera pulang, dan tiba tiba hujan turun dengan deras nya. Seruni segera berlari keluar dan melihat hujan yang turun seperti air di tumpahkan dari bak mandi. Lemas lututnya seketika. Sementara Bagas mematung menelan liurnya dengan gugup di dalam. Sial sekali memang. Sampai selesai peta di warnai, hujan tak juga berhenti. Sementara jam sudah menunjukan pukul 20:30. Suasana semakin canggung. Wajah keduanya sudah merah tak karuan. Bagas berusaha mencairkan suasana.
"Seruni, kita main aja yuk daripada diam begini."
"Main apa Gas?" tanya Seruni.
"Apapun deh. Kamu mau main apa?"
"Nggak tahu aku bingung." jawab Seruni
"Kamu bisa main catur?" tanya Bagas
"Bisa dong, aku pernah kok main itu."
"Yaudah main itu aja yuk." ajak Bagas
"Nggak mau ah." jawab Seruni.
Ide jahil mulai terlintas di kepala Bagas.
"Kamu takut kalah ya sama aku?" Bagas mulai tengil lagi.
"Takut? Ya enggak lah." jawab Seruni, mulai terpancing.
"Ayo main, kalau gitu. Kamu deh yang tentuin hukuman dan hadiahnya kalau kalah dan menang." tantang Bagas.
Seruni yang memang sudah sebal sekian lama sering kalah dari si menyebalkan ini tanpa pikir panjang setuju. Dia ingin Bagas terlihat konyol malam ini.
"Kamu punya wajan yang bawahnya hitam nggak?" tanya Seruni.
"Iya punya, kenapa?" Bagas heran.
"Aku nggak perlu hadiah. Yang kalah mukanya di coret pakai pantat wajan sama spidol itu yah. Dan nggak boleh di hapus sampai aku sudah di rumah." tantang Seruni. Dia lumayan pandai main catur, jadi kali ini Seruni yakin akan menang. Dia bahkan bilang tidak perlu hadiah.
Bagas menyeringai, seolah harimau yang dapat buruan. Awalnya dia berniat mengalah, tapi mendengar tantangan Seruni mana bisa dia diam.
"Nggak boleh kasian ya, nggak ada batas coret mukanya. Sampai penuh juga nggak papa. Harus patuhi aturan ini ya." ucap Seruni. Ia sudah bersiap. Yakin tidak akan kalah.
"Iya iya, jangan nyesal ya." Bagas makin menggodanya.
Permainan di mulai. Bagas dan Seruni sama sama bermain dengan baik. Seruni bahkan menyerang Bagas beberapa kali. Sayangnya Seruni fokus ingin mengepung raja jadi dia kurang mengawasi pergerakan bidak Bagas yang lain, dan skakmat. Bidak rajanya malah terkurung duluan. Seruni menganga tak percaya. Sementara Bagas sudah bersorak kegirangan berlari ke dapur meminta Bi Inah mencarikan wajan yang ada jelaganya. Seruni mematung, tubuhnya membeku, kemudian berteriak pelan sambil menjambaki rambutnya. Meratapi kekalahan dan kebodohannya. Padahal dia sudah yakin sekali menang. Mau kabur tapi hujan masih sangat deras, sementara Bagas sudah datang dari dapur dengan membawa wajan penuh jelaga. Tamat riwayatnya, Bagas tidak pernah setengah setengah kalau urusan menjahilinya.
"Gas jangan banyak banyak." Seruni memelas
"Tadi ada yang bilang coret sepuasnya kan." Bagas menjawab.
Tak ada yang lebih pahit dibanding menelan omongan sendiri. Seruni terdiam, pasrah. Dia juga kan yang menantang. Wajahnya memerah karena kesal dan malu. Bagas yang melihat itu menahan tawanya. Sejujurnya ia gugup karena berarti dia akan memegang wajah Seruni. Tapi setelah satu coretan membuat wajah gadis itu jadi tambah lucu, Bagas jadi bersemangat melakukannya. Ia mencoreti semua bagian wajah Seruni hingga cemong dan belepotan. Ia mewarnai ujung hidungnya, pipinya, dan membuat kumis di bawah hidungnya. Seruni merengek meminta Bagas untuk sedikit mengasihaninya. Padahal kalau dia menang pun, Seruni berencana membuat wajah Bagas penuh jelaga. Senjata makan tuan.
Terakhir membuat kumis kucing dipipinya dengan spidol dan menulis sesuatu di dahinya. Padahal wajah Seruni sudah kacau balau tapi orang ini belum berhenti juga. Selesai sudah, Bagas tampak puas dengan mahakarya nya. Sedangkan Seruni sudah duduk lemas sambil menyandarkan kepalanya di meja. Mau marah, dia yang mulai. Mau menangis tapi gengsi. Ia menutupi wajahnya dengan tangan. Tak mau berkaca. Bagas juga menyenderkan kepalanya di meja. Menatap Seruni sambil tertawa. Pemandangan lucu ini akan di kenangnya seumur hidup.
"Kamu jahat banget Gas." ucap Seruni lirih
"Aku kan cuma lakuin apa yang udah kamu bilang di awal. Seruni aku paling suka liat kamu kalau lagi cemberut karena kamu sangat menggemaskan. Makanya jangan kasih aku kesempatan buat jahilin kamu. Karena kalau ada pasti aku lakuin dengan maksimal."
Mungkin karena sedang hujan, dan malam yang semakin larut hingga membuat seseorang makin jujur pada perasaannya. Seruni terdiam. Jantungnya berdebar, wajahnya terasa panas. Entahlah apa yang dirasakannya dari pernyataan Bagas itu. Hening. Tiba tiba, kruuuuuk. Perut Seruni berbunyi kencang. Ah dia belum makan malam ternyata. Seruni adalah ahlinya mempermalukan diri di depan Bagas, entah kenapa ada saja kelakuannya. Wajahnya semakin panas. Ia ingin segera menghilang dari sana. Kenapa hujan ini tak juga berhenti. Bagas yang mendengar suara itu tak bisa menahan senyumnya.
"Kamu belum makan malam ya, maaf ya. Aku buatkan mie ya buat kamu makan." Bagas beranjak dari tempat duduknya.
Seruni hanya mengangguk pelan, sambil menempelkan wajahnya di meja. Tak berani menatap Bagas. Melihat itu Bagas sangat ingin memeluknya, tapi ia menahan diri sekuat mungkin. Ia bergegas ke dapur. Membuatkan teh hangat untuk Seruni. Menggorengkan beberapa nugget dan memasak dua bungkus mie instan untuk mereka berdua. Tak lama ia kembali ke ruang tengah dan melihat Seruni sudah ketiduran dengan mulut yang sedikit terbuka. Bagas semakin tertawa dibuatnya. Tak pernah dia sangka melihat seorang gadis dengan wajah belepotan penuh jelaga dan tidur dengan mulut sedikit terbuka ini adalah kebahagiaan yang bisa membuatnya semakin jatuh pada Seruni. Ia mengambil handphone nya dan memotret Seruni dari samping. Bagas berharap ingatan lucu ini akan abadi dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments