Bab 17 Merangkai Asa

Saat ini hari hari Seruni sedang dalam kondisi yang baik. Dua orang itu sudah tidak pernah lagi mengganggunya semenjak perkelahian yang berujung hukuman berat bagi mereka bertiga. Terkadang Seruni masih melihat mereka menatapnya dengan tatapan sinis dan merendahkan. Tapi Seruni tidak mau ambil pusing. Selama tidak ada tindakan langsung yang mengganggu ia menganggap itu bukan masalah. Secara alami, perlawanannya kemarin itu mulai membenahi self esteem nya. Ia meyakinkan hati untuk memupuk rasa percaya dirinya kembali. Bahwa tidak ada orang yang pantas di rendahkan di dunia ini jika hanya di lihat dari permasalahan strata sosial dan ekonomi. Termasuk ia dan keluarganya. Perendahan seperti itu hanya bisa di lakukan oleh Tuhan saja, tidak ada mahkluk yang punya hak prerogatif untuk itu. Meskipun selama ini ia suka marah diam diam di belakang orang yang menyakitinya, jauh di dalam hati semua hal yang Seruni dapatkan membuat ia jadi sedikit rendah diri. Namun ia selalu berusaha menutupinya dengan bersikap tenang dan tidak peduli saat di ganggu. Ia selalu menguatkan dirinya karena keyakinan hati bahwa semua akan berlalu. Tidak ada yang abadi, kesedihan akan pergi dan kebahagiaan akan datang. Begitu juga sebaliknya. Maka Seruni akan menunggu hingga hari itu datang, hari dimana tidak ada lagi pukulan dan bentakan dari bapak untuknya dan ibu. Hari dimana ia akan pergi ke tempat yang lebih baik, hari dimana ia akan melihat dunia yang lebih luas. Tak ada lagi yang menghina keluarganya. Ia akan menyambutnya dengan suka cita.

Ya, sangat tenang. Persis seperti lautan yang menjelma bagai permukaan kaca sebelum badai gelap datang menggulung apapun disana.

Bapak sudah sebulan lebih tidak pulang, katanya ia ikut temannya kerja di Surabaya. Itu lebih baik daripada mabuk mabukan di rumah. Sebelum pergi pun sikap bapak juga sedikit lebih baik di bandingkan biasanya. Ia tidak mabuk, tidak memaki dan memukuli Seruni dan ibu seperti biasanya. Hal itu membuat keyakinan ibu bahwa ayah akan berubah tumbuh semakin kuat.

Hari ini ibu bekerja di kebun seperti biasa, disana ia mengobrol dengan teman kerja lainnya.

"Mba Warti, Runi itu kelas berapa toh?" tanya Inah

"Kelas 8 Smp mba, sebentar lagi naik kelas 9."

"Owalah, nanti apa mau lanjut sekolah kalau sudah lulus SMP?"

"Iya mbak, Seruni itu pinter. Dia harus sekolah yang tinggi. Malah kalau bisa nanti mau ta kuliahkan." jawab ibu.

"Kenapa nggak kamu nikahkan aja, biar ada yang biayain hidupnya toh War?" teman ibu yang lain menyahuti percakapan.

"Hahaha ya Seruni masih kecil mbaa. Masa mau ta nikahkan. Biar saja dia belajar, biar nanti sukses nggak nanem bawang kayak aku."

"Halah anak perempuan itu mentok juga jadi irt War, nanti juga paling ngurus dapur, anak sama suami. Nggak perlu sekolah tinggi tinggi. Apalagi di desa begini." jawabnya lagi.

Ibu hanya tersenyum.

"Seruni punya cita cita mbak, aku sebagai orang tua harus mendukung dia. Seruni pengen kehidupan yang lebih baik daripada ini. Masa aku tega menghancurkan mimpinya mbak?"

"Halah kamu itu ribet War, hidup sudah susah malah di tambahi."

Ibu kembali tersenyum. Tangannya terampil menyemai bibit bawang dan sayur untuk di tanam. Bagaimanapun ia tidak akan membiarkan anaknya berakhir disini tanpa jadi apapun. Seruni harus hidup lebih baik daripada dia.

"Mbak War, jangan di dengerin omongannya Lik Surti itu." ucap Inah

"Halah aku nggak mikirin itu kok Nah."

"Tapi kalau sampeyan pengen nyari biaya buat sekolah Seruni mau ikut aku nggak mbak?"

"Kamu mau ngapain emangnya Nah?"

"Aku di tawari kerja di Malang tahun depan mbak War, ada proyek catering yang nyari warga dari desa dan ada mess nya mbak buat yang kerja disitu. Jadi gratis urusan tempat tinggal."

"Walah jauh Nah di Malang."

"Gajiannya lumayan mbak, bisa di tabung buat Seruni sekolah. Ada liburnya juga dan ada cuti tiap tiga bulan. Cutinya seminggu." ucap Inah menjelaskan.

"Nanti deh Nah ta pikir dulu matang matang yaa." jawabnya seolah acuh tak acuh. Tapi tak bisa dipungkiri ibu sedikit tertarik. Sejujurnya penghasilan dari buruh kebun hanya cukup untuk makan sehari hari. Tabungan yang terkumpul tidak banyak padahal mereka sudah berhemat. Bagaimana Seruni bisa kuliah kalau ia tak mengumpulkan dana yang cukup dari sekarang. Tapi apakah mungkin meninggalkan Seruni sendirian disini. Atau ia bisa membawa putrinya ke Malang. Meskipun tangannya sibuk, ibu terlarut dalam pikirannya.

Hari hari terus berlalu. Hingga akhirnya ujian kenaikan selesai dan Seruni naik kelas sembilan dengan nilai yang memuaskan. Ia masih sekelas dengan Dayu dan Bagas. Masih sering main dan belajar bersama. Terkadang Hendri dan Damar juga ikut bergabung di rumah Bagas untuk mengerjakan tugas bersama.

"Dayu, ini oleh oleh buat mu dan orang rumah" Bagas mengeluarkan beberapa bungkus keripik buah khas Malang.

"Kalau ini untuk ibunya Seruni." ucapnya sambil mengeluarkan bungkusan yang sama dengan Dayu.

"Waaaah makasih banyak Gas." ucap mereka berdua bersamaan.

Bagas yang baru pulang liburan dari Malang tidak lupa membawakan oleh oleh untuk dua orang sahabatnya ini. Masih tersisa satu hadiah lagi yang terbungkus rapi dalam tas nya.

"Run, nanti kamu kalau sudah lulus SMP tetap akan lanjut sekolah kan." tanya Dayu

"Iya Yu, pasti. Aku nggak mau putus sekolah." jawab Seruni sambil mengunyah keripik.

Hari ini mereka bertiga main di rumah Dayu setelah semua pekerjaan rumah selesai.

"Kok kamu nanya gitu Yu? Memangnya disini ada yang nggak lanjut sekolah kalau sudah lulus SMP?" tanya Bagas. Ia mengupas kulit mangga, mengiris dan meletakannya di piring untuk dimakan bersama.

"Ah iya, kamu kan dari kota ya Gas, tapi disini hal seperti itu sudah umum. Ada anak yang di nikahkan kalau sudah lulus SMP. Ada yang memilih kerja untuk bantu keluarga juga." jawab Dayu

"Oh ya? Aku baru Yu. Aku pikir jaman sekarang sudah nggak ada lagi yang seperti itu."

"Bagas, kamu beruntung punya privilege untuk nggak tahu hal seperti ini. Tapi itu nyata terjadi Gas." jawab Seruni.

"Kamu nggak akan putus sekolah kan Run?" tanya Bagas. Wajahnya sungguhan khawatir.

Seruni tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku kan mau ke luar negeri Gas, gimana mau kesana kalau aku nggak jadi apa apa. Aku harus sekolah dong biar pinter. Kalau bisa sampai kuliah" jawab Seruni.

"Kalau kamu Yu, jangan bilang kamu mau nikah bentar lagi? Hahaha." kalau ini Bagas sambil cekikikan.

Dayu melempar bantal yang dipegangnya ke wajah Bagas. "Sembarangan, aku ini mau jadi polisi loh."

"Kasihan penjahatnya Yu, nanti babak belur mereka kalau kamu yang jadi polisi." ucap Bagas lagi. Mereka bertiga tertawa karena lelucon itu. Dayu beranjak ke dalam mengambil air minum yang sudah habis.

Hening, Seruni tenggelam dalam diam dan mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ia mampu pergi dari sini. Bagas meliriknya dari sudut mata.

"Seruni kamu pasti bisa pergi dari sini, aku tahu banyak tempat diluar sana. Kita bisa pergi sama sama nanti. Aku yakin." ucapnya tanpa melihat gadis itu. Seruni beralih menatapnya, melihat Bagas yang menatap lurus jalan di depannya. Bagas sadar Dayu belum juga kembali, segera mengambil hadiah yang tersisa dalam tasnya. Buru buru memberikanya pada Seruni sebelum Dayu datang.

"Ini, menurutku kamu akan suka. Buka di rumah saja, jangan di bagi ke siapapun." Bagas memberikan sebuah bungkusan kertas. Entah apa isinya, seperti setumpuk kartu. Seruni tak paham. Ia menatap Bagas yang segera buang muka setelah Seruni menerima hadiahnya. Lalu tersenyum lembut.

"Terima kasih ya Gas, ayo kita lihat semua tempat itu nanti sama sama."

Bagas menarik tudung jaketnya, menutupi wajahnya sambil bersender di kursi. "Oke" ucapnya pelan.

Dayu yang mengintip dari dalam rumah susah payah menahan tawanya, melihat Bagas yang salah tingkah sendiri. Ia sangat ingin keluar dan memeluk mereka berdua sekarang, Dayu berharap mereka bisa bersama suatu saat nanti.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!