Bab 7 Tak Pernah Hilang

Malang, 2019

Alarm hape berbunyi kencang pukul 04:30, Bagas terbangun saat mendengarnya. Ia mengusap wajahnya kasar, rambutnya kusut berdiri kesana kemari. Bawah matanya hitam dan sedikit berkantung. Bagas baru berhasil tidur pukul 01:00 dini hari tadi. Sudah lama ia mengalami gangguan sulit tidur seperti ini. Kadang juga ia mimpi buruk dan bangun dalam keadaan penuh keringat. Seperti malam ini. Bagas duduk di kasurnya, mengambil air minum diatas nakas. Menandaskannya dalam beberapa kali tegukan. Tenggorokannya kering sekali. Kali ini, Bagas mimpi buruk lagi. Mimpi yang kerap mengganggunya, hal yang tak ingin ia lupakan tapi tak sanggup untuk mengingatnya. Karena mengingatnya berarti mengungkit kesalahan terbesar yang ia lakukan sampai Bagas sendiri masih sulit untuk memaafkan dirinya.

Tadi Bagas melihat Seruni dalam mimpinya, ia melihat gadis itu menangis dengan tubuh penuh luka berteriak minta tolong kepadanya, sementara ia berada di dalam sebuah kotak kaca yang keras dan tidak bisa di hancurkannya. Bagas hanya bisa putus asa memukul mukul8 dinding kaca yang bahkan tidak retak sementara melihat Seruni diseret kedalam kegelapan yang pekat.

Meskipun kamar ini menggunakan pendingin ruangan yang sudah di setel dengan suhu yang cukup rendah, keringat tetap mengalir dari tubuhnya. Membasahi kaos hitam yang ia gunakan untuk tidur. Bagas menyalakan lampu di nakas, ruangan jadi sedikit lebih terang dengan cahaya yang temaram. Pikirannya sedikit kalut. Beruntung hari ini ia sudah mulai cuti, jadi dia bisa istirahat di rumah atau menemani bunda belanja.

Bagas kini bekerja di sebuah kantor konsultan konstruksi. Ia dan beberapa temannya membuka kantor itu. Masih belum begitu besar, tapi keberadaan mereka mulai di lirik banyak kontraktor proyek pembangunan karena bekerja dengan hasil yang memuaskan dan integritas kejujuran yang baik. Bagas beruntung terlahir dari keluarga yang berada seperti ini, dan ia memanfaatkan hak istimewanya dengan baik. Meskipun sering membangkang pada ayahnya, orang tua tetaplah orang tua. Cinta membuat mereka ingin kita bisa tumbuh kuat dan bisa mengarungi badai dalam samudra kehidupan, membuatnya menyayangi kita tanpa syarat meskipun ada saja adu pendapatnya. Otaknya yang cerdas juga membuatnya bisa di terima di universitas bergengsi, Brawijaya dan lulus dari teknik sipil dengan nilai yang tinggi. Karena ia sudah menyelesaikan satu proyek gedung baru di tengah kota ia memutuskan untuk mengambil cuti selama dua minggu. Akhir akhir ini asam lambungnya sangat sering kambuh. Ia ingin istirahat total tanpa di ganggu urusan kantor.

Tok tok tok

Bagas mendengar pintu kamarnya di ketuk.

"Bagas sudah bangun nak? Tanya bunda

"Udah bun." jawab Bagas

"Bunda boleh masuk?"

"Boleh bun, masuk aja. Nggak aku kunci kok pintunya."

Bunda membuka pintu kamar dengan pelan, dilihatnya putra bungsunya sedang bergulung dalam selimut. Bunda mendekat, putranya terlihat kacau berantakan.

"Mimpi buruk?" tanya bunda sambil mengusap kepalanya

"Nggak bun, aku kecapekan aja kayaknya."

"Bunda bisa dengarin kalau kamu mau cerita."

Bagas duduk dan menggenggam tanga bunda. Meyakinkan pada bunda kalau ia tak apa. Ini sudah biasa terjadi, meskipun ia tak bisa terbiasa.

"Aku nggak papa bun, cuma kecapekan karena proyek kemarin. Tapi udah selesai kok, aku udah ambil cuti bun. Nanti aku temanin belanja ya." ucapnya menenangkan bunda.

"Iya udah kalau gitu. Kamu memang harus banyakin istirahat gas."

"Mending bunda siap siap shalat, aku mau siap siap ke masjid bun."

Bunda beranjak meninggalkan Bagas, di peluknya sebentar putranya itu. Ia paham Bagas tak baik baik saja. Tapi ia hanya bisa menunggu Bagas datang dan bercerita, bunda hanya bisa menjaganya dalam doa.

Selesai shalat Bagas tak banyak meminta pada Tuhan, ia hanya ingin semuanya baik baik saja. Bagas melirik jam tangannya, waktu menunjukan pukul 06:15.

"Jogging aja ah." ujarnya dalam hati.

Tak ingin mimpi itu menghancurkannya hari ini Bagas memilih untuk produktif. Seperti sekarang, ia memutuskan untuk lari pagi keliling komplek perumahannya. Pas juga ini hari minggu jadi banyak orang yang berolahraga. Beberapa kali gadis gadis yang berolahraga ringan di sana meliriknya saat Bagas berlari. Sebenarnya, Bagas cukup tampan. Kulitnya kuning langsat, hidungnya bangir, rahangnya tegas, rambutnya lurus sedikit bergelombang dibiarkannya tumbuh agak panjang sampai ke agak atas lehernya. Tubuhnya tinggi, sekitar 186 cm membuat pakaian apapun pantas di pakainya, bahunya lebar dan ramping. Bentuk tubuh yang disukai para perancang busana. Sayangnya dia tidak begitu peduli pada itu semua.

"Pagi mas Bagas." sapa seorang bapak disana

"Eh iya pagi pak Rahmat, ayo jogging bareng pak." jawab Bagas

"Duluan aja mas, saya lagi nungguin istri beli minum."

"Oh iya mari pak saya duluan."

Bagas melanjutkan larinya

"Mas Bagas." seorang gadis melambai padanya.

Jujur Bagas lupa siapa dia. Jadi ia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Mencoba bersikap baik dan ramah.

Suasana hatinya membaik sekarang. Olahraga memang salah satu terapi terbaik saat sedang stress. Ia mampu melepaskan endorfin yang bisa memberikan energi positif bagi yang melakukannya. Sesampainya di rumah Bagas segera menghampiri bundanya. Sekarang hanya mereka berdua di rumah. Ayah sudah pergi sejak tahun lalu. Membuat Bagas berjanji tidak akan meninggalkan bunda sendirian.

"Rapi banget, bunda mau kemana?"

"Bunda mau arisan, kalau mau sarapan itu udah ada di meja. Ada juga yang udah bunda simpan di kulkas tinggal kamu panasin kalau misalnya bunda pulangnya lama. Oke?" jawab bunda

"Pagi banget bun, baru jam 8 gini kok udah mulai arisannya?"

"Iya bunda mau ke toko sekalian ngecekin barang, terus mau belanja sama bude Wati soalnya bude minta bantuin masak."

"Aku anterin ya bun?"

"Nggak, its girls time." jawab bunda sambil mengedipkan matanya

Yang benar saja? Tahu darimana bunda istilah seperti itu.

"Mending kamu tuh cari pacar, atau nggak istri sekalian biar nggak ngintilin bunda mulu. Udah gede gitu loh."

"Ntar lah bun kapan kapan." jawab Bagas sekenanya.

" Kapan kapan tuh kapan?" tanya bunda lagi

"Ya kapan kapan. Hahaha" Bagas tertawa lebar sambil mengupas kulit pisang dan melahapnya.

"Halah kamu itu, bunda ini serius loh." jawab bunda sambil merapikan kerudungnya.

"Udah ah bunda pergi dulu. Capek ngomong sama kamu."

"Iya bundaku yang paling cantik sedunia raya. Hati hati ya."

"Iya, assalamualaikum."

"Walaikumsalam bunda."

Selepas bunda pergi, Bagas tinggal sendiri di rumah. Memikirkan ucapan bunda soal menikah tadi. Jujur ia tak kepikiran untuk itu. Bahkan sepertinya tinggal dengan bunda saja sudah cukup baginya. Kecuali mungkin suatu hari nanti ia bisa bertemu lagi dengan dia. Yang sudah mencuri hatinya dari dulu. Meskipun Bagas tak yakin apakah mereka bisa betemu lagi bahkan mungkinkah dia masih mau menemuinya setelah semua yang terjadi. Kalau iya, Bagas akan menangkapnya sekali lagi dan tidak akan pernah melepaskannya.

Bagas memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, tubuhnya terasa lebih segar. Ia membuka lemarinya dan mencari kaos yang nyaman untuk dipakai. Menemukan kaos lamanya ia jadi penasaran untuk mencoba, apakah masih muat atau tidak. Sampai akhirnya Bagas melihat sebuah kotak di sudut lemarinya. Kotak kecil yang di balut bungkus kado. Di raihnya kotak itu. Sambil tersenyum dibukanya.

Ada beberapa benda disana, kartu pos, foto, dan gelang. Ada dua foto yang menarik hatinya. Foto pertama, fotonya dengan dua orang gadis. Yang satu berambut pendek bob dengan wajah cantik yang khas. Yang satu lagi terlihat kalem dengan raut wajah yang manis sekali dan kulit yang lebih gelap. Bagas ingat, itu saat sekolah mereka berwisata ke Bromo. Foto kedua membuatnya tersenyum lebar sekaligus perih. Seorang gadis yang tertidur, kepalanya menyender di meja dengan mulut yang sedikit terbuka ada iler di pipinya. Wajahnya belepotan hitam penuh coretan. Di dahinya tertulis I love Bagas. Seruni pasti marah kalau tahu jika saat dia seperti ini Bagas mengabadikannya dan menyimpan fotonya.

Hai semua, terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan like ya. Biar aku makin semangat nulisnya. Love yaa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!