Bagaimana bisa Giyanti dan Yuni tahu? Karena Giyanti sering memergoki Bagas memperhatikan Seruni dari tempat duduknya, atau saat Bagas tertawa senang saat menjahili Seruni, ia paham anak itu punya rasa yang berbeda pada Seruni. Kok bisa sih? Memangnya apa bagusnya anak itu? Ucapnya dalam hati. Sudah miskin, jualan di sekolah lagi, wajah juga tidak terlalu cantik, apa sih yang disukai Bagas darinya. Aku lebih baik dari sisi manapun jika di lihat. Sungguh pemikiran yang picik dan dangkal. Tak apa, mereka masih remaja. Biar waktu yang suatu saat mendewasakannya bahwa ia tidak pantas merasa lebih baik daripada siapapun. Karena satu langkah maju menuju tinggi hati sama dengan satu langkah mundur kearah ketertinggalan. Yuni dan Giyanti pasti akan mempelajari itu suatu saat nanti.
"Eh coba perhatikan Bagas Yan." ucap Yuni
"Kenapa memangnya?" tanya Giyanti
"Aku perhatikan dia suka sekali gangguin Seruni loh."
"Iya aku tahu."
"Kamu nggak sebel emangnya?" tanya Yuni lagi.
"Ya sebel lah, lagian apa yang disukai Bagas dari dia sih. Cantikan juga aku."
"Iya, kamu putih, langsing gini loh Yan. Lah Seruni, mukanya biasa aja. Malu maluin lagi jualan di sekolah."
"Terus kamu tahu nggak Yun, bapaknya itu tukang mabuk. Ibunya juga kurus kering kayak orang sakit sakitan."
"Kalau aku sih nggak mau temenan sama anak yang orang tuanya nggak bener gitu."
"Sama aku juga ih."
Begitulah pembicaraan mereka berdua. Tak pantas sebenarnya mereka mengatai orang tua seperti itu. Hal seperti inilah yang menunjukan kepada kita bahwa kepintaran mengatur emosi sangat di perlukan. Agar hanya perkara perasaan tidak lantas membuat kita menghina dan merendahkan orang lain. Apalagi jika kita tidak terlalu mengenal mereka. Giyanti dan Yuni merencanakan sesuatu, mereka saling berbisik dan melihat ke arah Seruni.
Lonceng berbunyi tanda jam pelajaran pertama sudah selesai dan akan berganti ke jam pelajaran kedua. Hari ini jam kedua diisi dengan pelajaran olahraga, anak laki laki dan perempuan akan bergantian meggunakan ruang kelas untuk ganti baju. Beberapa orang ada yang memilih untuk ganti baju di toilet. Seperti Dayu, ia sudah duluan pergi ke toilet dan berjanji akan menjemput Seruni di kelas nanti. Beberapa orang masih sibuk mempersiapkan baju ganti dan membeli gorengan yang di jual Seruni untuk sarapan. Termasuk Bagas, Seruni melayani pembelinya dengan cekatan. Menuangkan sambal dalam plastik dan membungkus pesanan teman temannya. Hingga datang Giyanti dan Yuni.
"Eh eh kok kalian mau sih beli gorengannya Seruni."
"Kalau aku sih nggak mau yah. Geli banget." sahut Giyanti.
"Loh kenapa memangnya?" tanya seorang anak lain.
"Ibunya kan sering sakit batuk tuh, nanti kalian ketularan terus ikutan batuk juga gimana?" kali ini Yuni yang menjawab dengan tengil.
"Tapi aku beli nggak ngaruh apa apa tuh." sahut siswa yang lain.
Seruni yang sudah muak menahan diri terhadap kelakuan dua orang itu akhirnya lepas kendali. Amarahnya sudah melebihi batas bendungan yang bisa di tampungnya.
"Kalian bodoh atau apa sih? Yang namanya virus atau bakteri itu kalau sudah dipanaskan pasti mati. Lagian ibu ku selalu jaga kebersihan tiap masak." jawab Seruni yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Berjalan ke arah Yuni dan Giyanti.
"Ya bersih tapi kalau batuk batuk terus emangnya ngga nular?"
"Hei virus itu nularnya udara. Mana bisa lewat makanan. Dasar bodoh." sahut Seruni sengit, ia benar benar lepas kendali hari ini karena mereka berdua berani menghina ibunya.
"Kamu bilang aku bodoh?" seru Giyanti
"Hei sudah sudah, Giyanti Yuni kalian jangan cari masalah gitu dong." Hendri berusaha menengahi permasalahan.
"Iya BODOH hal sepele begitu saja nggak tahu, lain kali pakai akal mu untuk belajar daripada gangguin orang lain." balas Seruni.
"Biar saja aku bodoh, yang penting orang tuaku nggak sakit sakitan dan tukang mabuk kayak bapak dan ibumu." sahut Giyanti.
Jantung Seruni serasa berhenti berdetak, panas membakar dadanya. Matanya nyalang menatap tajam, tidak peduli apa yang akan terjadi, tangannya sudah mengepal. Amarahnya berkumpul disana.
"Apa tadi kamu bilang?" Seruni berjalan lebih dekat.
Giyanti dan Yuni menelan ludah. Berbeda dari bayangan mereka bahwa Seruni akan menangis, daripada itu Seruni malah terlihat marah dan menakutkan. Tangannya mengepal lebih kuat, ia tidak main main soal ini. Sepertinya akan ada perkelahian.
Bruuuuuuk. Seruni mendorong Giyanti sekuat tenaganya hingga gadis itu tersungkur menabrak meja. Yuni tidak tinggal diam, dijambaknya rambut panjang Seruni hingga kepalanya tertarik. Tak mau kalah, Seruni balik menjambak rambut Yuni dengan lebih keras. Beberapa anak mencoba memisahkan mereka dan yang lain berlari keluar mencari guru piket untuk menghentikan keributan ini. Bagas yang melihat teman temannya berkelahi mencoba untuk menghentikan mereka. Seruni sempat di tahan dua orang temannya, tapi karena Giyanti dan Yuni tak berhenti mencecarnya, Seruni kembali naik pitam dan berhasil melepaskan diri dari dekapan mereka dan bersiap memukul Giyanti. Bagas segera berlari ke arahnya, mencoba menghentikan Seruni dari depan dengan menangkapnya, berusaha melindungi Giyanti karena akan panjang urusannya jika anak itu benar benar kena pukul. Seruni mengarahkan pukulannya dengan fokus dan tajam ia siap menghantam wajah mengesalkan yang selalu cari ribut dengannya itu. Bagas yang datang tiba tiba tak sempat bertahan, dan Seruni tak sempat menarik tinjunya. Ya benar, pukulan itu telak mengenai hidung Bagas. Membuatnya terpental dan jatuh terduduk. Pandangannya serasa berputar, jika ini adegan kartun pasti Bagas sudah melihat tiga ekor burung yang berkicau sedang keliling di kepalanya. Hidungnya perlahan mengeluarkan darah. Pandangannya makin buram, ia melihat wajah panik Seruni dan Dayu, ia mendengar suara teman teman yang memanggil namanya, hingga Damar dan Hendri yang mencoba untuk memapahnya setelah itu gelap. Bagas KO untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Ada yang bisa jelaskan kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Pak Anto guru olahraga mereka. Ternyata beliau juga piket hari ini.
"Yuni dan Giyanti yang mulai semuanya pak. Mereka menghina orang tua dan jualan saya." jawab Seruni tanpa ragu.
"Bohong pak." sahut Giyanti.
Seruni menatapnya tajam, sudah jadi provokator pengecut lagi tak mau mengakui kesalahan. Dasar aneh, memangnya tidak ada yang lihat kalian mengganggu ku seperti itu ucapnya dalam hati.
"Iya Seruni bohong pak." sahut Yuni.
"Pak saya tidak berbohong, banyak saksinya mereka menghina orang tua dan dagangan saya. Padahal ibu saya selalu menjaga kebersihan masakannya pak."
"Iya pak kami tadi lihat dan dengar kok mereka yang mulai mengganggu Seruni." sahut beberapa orang anak di kelas.
"Mereka itu suka membully Seruni pak, wajar saja kalau Seruni sampai marah. Saya saksinya pak." Dayu ikut menimpali.
"Ya baiklah bapak dengar semuanya, yang tidak ada masalah silahkan menunggu di lapangan. Mulai pemanasan dulu, Dayu kamu yang pimpin ya." Pak Anto memberi perintah pada para siswa.
"Baik pak." jawab mereka sambil keluar kelas menuju lapangan.
"Hebat kamu Run, harusnya tadi kamu nungguin aku biar imbang dua lawan dua. Nanti aku traktir mie ayam di kantin." bisik Dayu pada Seruni. Puas sekali rasanya melihat Seruni akhirnya melawan.
"Ssttttt udah sana ke lapangan. Jangan aneh aneh kamu Yu." jawab Seruni
"Yaudah Bye, good job my friend haha." bisiknya lagi sambil tertawa.
Setelah semua anak pergi tinggalah Pak Eko dan tiga siswanya yang membuat beliau tiba tiba migrain ini.
"Seruni, bapak tahu kamu marah. Bapak paham perasaan mu. Tapi kekerasaan itu tidak dibenarkan, kamu bisa sampaikan ketidak sukaan mu dengan bicara pada mereka, atau jika terlalu susah untuk bicara pada mereka kamu bisa sampaikan ke bapak. Jangan di pendam sampai amarah mu meledak begini. Karena itu bisa merugikan diri sendiri. Kamu bapak hukum membersihkan toilet perempuan selama satu minggu yah. Dan bapak tidak izinkan kamu jualan selama tiga hari. Pikirkan kesalahanmu selama masa hukuman ini." ucap Pak Anto.
"Dan kalian berdua, tidak pantas bicara sembarangan pada orang lain. Menganggap diri lebih baik itu adalah kesombongan, kalian hanya akan pergi ke tempat yang buruk jika memelihara sifat seperti itu. Bapak paling tidak suka berurusan dengan pembully yang merendahkan orang lain hanya untuk merasa tinggi. Kalian harus membersihkan koridor sekolah saat pagi dan pulang sekolah selama satu bulan. Pikirkan kesalahan kalian dengan baik." putusan Pak Eko sudah bulat.
Ketiga siswanya itu mengangguk lalu pamit untuk mengerjakan hukuman mereka. Seruni tidak menyesali ini. Giyanti dan Yuni perlu pelajaran sesekali. Hanya saja ia sedih kenapa harus Bagas yang kena pukul. Seruni mencoba mendatanginya di UKS. Terlihat Hendri dan Damar barusan keluar dari sana. Ia masuk dan melihat Bagas yang terbaring di kasur. Hidung dan keningnya memerah dan hidungnya di sumpal tissue. Matanya terpejam, kasian sekali. Seruni mendekat ke sampingnya, diletakannya roti dan teh hangat untuk Bagas di nakas. Rasa bersalahnya makin meluap. Ia berjalan lebih dekat dan berjongkok di samping kasur, kemudian berbisik pelan.
"Bagas, ini aku bawakan roti dan teh. Maafkan aku Gas, kamu sampai jadi seperti ini."
Bagas masih menutup matanya, tapi tangannya bergerak mengambil tudung jaket lalu menutupi wajahnya. Ia diam saja.
"Kamu belum mau maafin aku ya. Nggak papa kok Gas. Ini memang salah ku. Kamu pasti pusing ya sekarang. Aku tinggal yah makanannya. Aku benar benar minta maaf Gas. Aku mau bersihkan wc dulu. Kamu istirahat yah" ucap Seruni lagi bersiap meninggalkan Bagas.
"Aku nggak marah sama kamu. Tapi ini beneran sakit loh." jawab Bagas.
Seruni tersenyum. Padahal tadi dia hampir menangis karena Bagas hanya mendiamkannya.
"Terus kenapa kamu tutup wajahmu begitu?"
"Malu, aku lagi jelek begini. Aku nggak suka kelihatan sakit."
"Kenapa tadi kamu malah ke depan Giyanti dan melindungi dia Gas?"
"Karena kalau dia yang kena pukul urusannya akan panjang Run, dia pasti akan mengadu ke orang tuanya dan kamu bisa dalam masalah besar." jawab Bagas.
Seruni diam, dalam hati ia berjanji semua ini akan jadi yang pertama dan terakhir kali dalam hidupnya untuk berkelahi seperti tadi. Dia akan berusaha untuk lebih mengendalikan emosinya agar tidak ada lagi orang yang terluka karenanya. Ia bergerak pelan, dibukanya tudung jaket Bagas perlahan.
"Bagas tolong buka matamu sebentar, lihat aku."
Bagai di hipnotis, Bagas membuka matanya pelan. Dilihatnya Seruni menatapnya dengan lembut dan tersenyum. Wajah Seruni memerah, jantung Bagas berdegup kencang.
"Terima kasih Gas, aku bersyukur kamu mau maafin aku. Terima kasih karena sudah memikirkan ku biar tidak terlibat masalah lebih jauh. Oh iya kamu nggak jelek kok sekarang. Lucu sih, hidungmu di sumpal begini hahaha. Kalau kamu demam bilang yah karena wajahmu merah banget. Sekali lagi makasih yah." ucap Seruni panjang lebar
Ruangan ini jadi saksi bisu bagaimana hari ini takdir mereka semakin rapi terjalin. Bagas menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak memeluk Seruni sekarang juga. Dia anti berbuat kurang ajar. Setelah itu, Seruni merapatkan selimutnya dan pamit untuk pergi.
"Seruni, jangan lupa hutangmu untuk membantu aku belajar yah." seru Bagas.
Seruni membalikan tubuhnya. Menatap Bagas yang mulai masuk celah dan mendapatkan tempat di hatinya yang hangat. Ia tersenyum manis, tak ada lagi tatapan sengit darinya untuk lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments