Bab 13 Bagaimana Aku Mengenalmu

Masa lalu dan masa depan adalah dua hal yang tak akan bisa dipisahkan dari hidup manusia. Masa lalu menciptakan masa kini, sedangkan masa depan adalah misteri. Tak pernah ada yang tahu pasti. Seperti apa yang di alami oleh dua manusia yang sedang kita bicarakan dalam kisah ini. Tak satupun dari mereka yang menyangka akan bertemu lagi.

Seruni duduk menghadap jendela di tokonya. Menikmati titik titik hujan yang turun mengalir dan pecah di permukaan kaca. Mendengar suara petir yang tak begitu kencang. Sepertinya ia akan pulang terlambat. Toko sudah ia tutup sejak tadi. Tapi perasaannya masih saja kacau, bahkan setelah ia menangis sampai puas tadi, rasanya sudah lama ia tak menangis sebanyak itu. Terlalu dalam kah lukanya? Ini sudah sembilan tahun. Bukan waktu yang sebentar kan untuk berdamai dengan apapun. Wanita itu menyesap teh chamomile nya lagi. Berharap minuman itu bisa membuat pikirannya lebih tenang. Ia memutuskan untuk istirahat di tokonya dan pulang besok hari saja.

"Ibu, aku nggak pulang hari ini. Hujan deras banget, jadi aku tidur di toko aja."

"Iya nggak papa nduk, hati hati yah disana. Sudah makan?"

"Belum bu, nanti aku masak aja."

"Iya. Besok kalau pulang temani ibu belanja ya."

"Siap kanjeng ratu."

Setelah menghubungi ibu, Seruni bergegas mandi dan menyiapkan makan malam untuknya. Kebetulan di tokonya itu ada ruangan besar dan kamar mandi di belakang yang berhasil di sulapnya menjadi dapur dan kamar untuk ia dan dua karyawan toko nya beristirahat. Jadi malam ini ia akan tidur disitu. Bukan sekali ini Seruni harus tidur di toko, jika ada pesanan besar dan banyak, ia juga akan menghabiskan waktu disana. Hujan masih turun meskipun sudah tak sederas tadi. Ia memutuskan untuk membuat teh lagi agar menghangatkan badannya. Kembali ia duduk di bangku yang menghadap jendela. Jalanan masih sepi karena hujan belum reda. Seruni selalu menikmati suasana dingin dan sendu seperti ini. Sinar lampu yang terefleksi dari genangan air di aspal jalanan basah terlihat cantik di matanya, hal kecil itu saja bisa membuatnya tersenyum. Di ambilnya ponsel dari saku celana tidurnya, ia mengambil beberapa gambar tentang hujan hari ini. Kembali ia teringat pertemuannya dengan Bagas. Tak banyak yang berubah dari wajahnya. Hanya jadi lebih tampan dan dewasa, tubuhnya juga jadi semakin tinggi dan menawan, serta rambutnya masih hitam, tebal dan sedikit bergelombang. Bertemu sebentar saja efeknya luar biasa bagi Seruni. Berbagai kenangan yang ia kunci rapat dalam hatinya seolah mendapatkan celah untuk mendobrak keluar. Semuanya terlalu indah untuk di lupakan, namun terlalu perih untuk di kenang. Ingatannya kembali melayang jauh ke masa lalu. Tentang bagaimana takdir mereka semua mulai terpintal satu sama lain.

2007

Semenjak kalah taruhan dari Bagas perkara resleting tas hari hari di sekolah jadi aneh. Ada saja kelakuan Bagas untuk mengusilinya. Padahal dulu ia tak pernah begitu. Tapi sekarang, tiap ada kesempatan ia akan berbuat iseng padanya. Bukan perbuatan yang menyakiti atau jahat. Tapi seakan sengaja membuat Seruni sebal.

Seruni POV

Hari ini jualan yang kubawa sudah habis sejak istirahat pertama. Selesai kembali dari kantin bersama Dayu, aku menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya, yaitu matematika. Bisa dipastikan baik Dayu maupun aku akan bolak balik ke toilet untuk mencuci muka.

"Bertahanlah wahai biji mata." Dayu berlagak memantrai matanya. Padahal belum 10 menit pak guru masuk juga pasti dia sudah menguap. Aku yakin.

"Run, ayo kita berdoa pak guru nggak masuk hari ini. Aku dengar tadi katanya ada guru yang di kirim ke Malang buat ikut seminar. Doakan pak Darman juga ikut." ajak Dayu. Sesat sih, tapi tentu saja aku setuju.

"Aamiin. Dengarkanlah doa orang teraniaya ini ya Tuhan." ucapku sambil mengadahkan tangan.

Bagas dan teman temannya masuk ke dalam kelas. Ia bersama Damar dan Hendri. Beberapa waktu terakhir ini mereka jarang bersama Giyanti dan Yuni. Mereka juga sudah jarang mengganggu ku. Sejujurnya anak laki laki hanya jadi tim hore saat Giyanti dan Yuni membully, mereka hanya akan tertawa atau berpura pura meminta para gadis itu untuk berhenti. Tapi tidak untuk mereka berdua, sampai sekarang pun Giyanti dan Yuni masih suka menatap sinis, mengatai, menertawakan, dan berbagai tindakan tidak menyenangkan lainnya. Aku memilih untuk diam saja, menunggu kapan harus bertindak. Dayu sudah beberapa memperingatkan dan ingin memberi pelatihan ala militer, tapi aku memintanya untuk lebih tenang. Menurutku meladeni mereka hanya buang buang waktu.

Bagas melewati kami dan ia meletakan sebuah lipatan kertas kecil di meja ku. Aku menatapnya dan ia juga balik menatapku sambil tersenyum tengil. Di tariknya ikat rambutku sampai lepas dan membuat rambutku terurai. Ini bukan seperti iklan shampo yah. Bekas ikatan yang membuat tekukan di rambut membuat bentuknya jadi aneh kalau langsung terurai. Di letakannya kembali ikat rambut ku di meja lalu kabur ke belakang. Aku berbalik hendak mengejarnya, tapi ia segera mengejekku. Dayu hanya tertawa melihatnya. Ia tahu Bagas hanya bercanda.

"Wleeee."

"Apa sih kamu, nggak jelas." umpat ku.

Bagas berbisik pelan. Aku bisa membaca gerak bibirnya.

"Baca surat yang aku kasih."

Diakhiri dengan naik turun alis dan senyum tengil yang menyebalkan ia berpaling menuju kursi nya. aku membuka lipatan kertas yang diberikan Bagas tadi.

Seruni, bantu aku ngerjain tugas matematika dan bahasa inggris ya minggu nanti. Aku tau kamu ikut ibumu ke kebun kan. Aku tunggu di sana. Oke? Oke dong masa nggak oke.

"Apa sih?" batinku. Ah iya janji soal membantu tugas itu ternyata benar benar di tagih olehnya. Baiklah, aku bukan orang yang suka ingkar janji. Toh bukan hal yang susah. Dayu penasaran yang penasaran dengan isi surat itu mengambilnya dari meja ku.

"Eh.." ucap ku kaget. Terlambat, surat sudah dibukanya

"Apa sih ini Run?"

Dayu membaca surat itu dengan lirih. Selesai membaca ia menatapku, tatapan nya bisa ku artikan seperti ini. Apa ini Run? Kok bisa begini? Apa yang sudah terjadi? Padahal hanya dari mata aku bisa melihat Dayu menodong penjelasan dari ku. Memang sahabat sejati. Akhirnya dengan terpaksa ku jelaskan soal kebodohan ku itu padanya. Dayu tertawa terpingkal pingkal.

"Ya ampun Run, kamu itu pintar loh. Tapi kenapa bodoh juga ternyata."

"Enak aja. Aku cuma lagi sial Yu."

"Harusnya kamu jangan mau."

"Aku pikir dia mau ngerjain aku Yu."

"Kalau dia sampai ngajakin taruhan begitu berarti dia yang benar Run. Makanya bisa seyakin itu."

"Iya juga ya Yu. Tapi aku terlanjur kesal."

"Tumben bisa kesal. Hahaha. Yasudah nanti aku ikut ya, aku mau belajar bahasa inggris juga."

"Iya, temani aku yah Yu, canggung sekali kalau hanya berdua dengannya."

"Iyaaaaaa." Dayu merangkul ku.

Aku kembali tenang. Ku edarkan pandangan ku keliling kelas. Menunggu Pak Darman yang tak kunjung datang. Kelas ribut sekali. Dayu sudah sibuk bercerita dengan teman di belakang bangku kami. Ku dengar anak laki laki ramai bermain di belakang kelas. Ku alihkan pandanganku kesana. Ternyata Bagas sedang melihat ke arah ku. Ia menyandarkan kepalanya di permukaan meja. Saat mata kami bertemu ia segera menutupi wajah dengan tudung jaket hitamnya. Kenapa sih dia itu?

Hai hai semua. Beberapa chapter ke depan ini akan membahas masa lalu mereka bertiga. Semoga tidak membosankan yah. Aku akan berusaha membuatnya dengan detail. Terima kasih sudah membaca cerita yang aku buat ini. Love you readers kesayangan~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!