Bab 12 Senja di Toko Bunga

Jika garis takdir dapat dilihat manusia, mungkin bisa dibayangkan bagaimana langit akan penuh dengan garis tipis berwarna warni, yang berkilau saling menjalin hingga terbentuk ikatan. Saling bersentuhan dengan berbagai cerita yang mereka bawa. Tapi satu yang pasti, tak ada yang namanya kebetulan. Semut yang lewat di lantai rumah mu, hujan yang turun sebelum jemuran kering, bahkan daun yang telah menguning dan jatuh dari pohonnya pun tak lepas dari campur tangan Sang Kuasa. Maka hari ini, pertemuan dua manusia di sebuah toko bunga bernuansa hangat ini, dengan latar senja langit jingga bercampur saga, jelaslah bukan kebetulan. Mungkin Tuhan menyiapkan hadiah dan obat yang manis untuk masing masing luka mereka. Benang takdir mereka terhubung kembali, kali ini Bagas berjanji akan membuatnya terjalin kuat dan tak akan lepas lagi.

"Terima kasih Tuhan." ucapnya dalam hati. Diantara kemungkinan 1 banding 1000 mereka masih bertemu, bagaimana mungkin itu kebetulan. Meskipun Bagas tak tahu harus berkata apa, berbuat bagaimana, lidah nya terasa kelu. Tapi ia tak boleh lari sekarang. Hei bisakah kau perintahkan sesuatu? Hatinya merutuk pada sang otak yang malah tak bekerja saat sedang dibutuhkan dalam keadaan darurat begini. Oke, bagaimana cara menyapa orang yang kamu tinggal kan sendirian dalam keadaan hancur? Hai? Apa kabar? Aku rindu kamu? Begitu balas otak pada hatinya. Baiklah aku diam jawab hatinya lagi. Apakah kalian pernah merasakan begitu banyak perasaan dalam satu waktu bersamaan? Itulah yang sedang Bagas rasakan sekarang, hingga tubuhnya tak tahu harus merespon seperti apa.

Seruni sendiri pun sama. Terlalu banyak hal yang ia rasakan dan membuatnya terdiam. Segalanya jadi lebih lambat, bahkan ia merasa bisa melihat bunga di toko nya bergerak lebih pelan. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Beberapa hal ingin ia tanyakan padanya, tapi satu hal yang Seruni tahu pasti, kerinduannya yang begitu dalam pada pria di depannya ini. Ia memutuskan untuk memecahkan keheningan antara mereka berdua, Seruni melihat air mata Bagas yang jatuh tadi. Mungkin nanti dia akan bertanya segala hal yg ia inginkan. Tapi ia memilih hanya menunggu untuk sekarang

"Mau minum teh dulu? Kita udah lama nggak ketemu?" tanya Seruni.

"Boleh Run." jawab Bagas

Seruni mempersilahkan Bagas duduk di kursi dekat jendela kaca. Ia memperhatikan seluruh ruangan toko, merasa jika toko ini mirip florist yang ada di Eropa, client nya beberapa kali meminta refrensi yang mirip dengan ini. Aroma teh chamomile yang harum menguar memanjakan indra penciumannya. Sementara Bagas mencoba untuk merespon kejadian ini. Ia bertemu Seruni langsung dan kini mereka akan minum teh bersama. Siapa yang sangka? Seruni pun datang dengan nampan berisi dua cangkir teh dan satu toples cookies cokelat. Ia meletakan nampan itu di meja. Bagas tahu Seruni pun pasti bingung harus apa, ia bisa melihat itu dari matanya.

Bagas menyesap teh yang telah di sajikan untuknya.

"Hati hati Gas, itu pan.."

Terlambat. Bagas yang sudah meminumnya terlanjur tersedak karena kepanasan. Baru bertemu sejak 9 tahun lalu saja ia masih salah tingkah begitu. Wajahnya memerah, masa iya kesan pertama pertemuan kembali ini kacau karena dia buru buru minum teh yang masih panas akibat tidak tahu harus berbuat apa. Memalukan. Seruni menyerahkan tissu padanya.

"Hati hati Bagas, itu masih panas. Kamu apa kabar?" tanya Seruni

"Sehat, sudah lama ya Run."

"Iya, kita terakhir ketemu 9 tahun yang olalu."

"Kamu.. Kamu apa kabar Run?" menanyakan ini saja sudah membuat rasa bersalah Bagas mulai menyergap lagi.

Seruni terdiam cukup lama

"Baik Gas, aku sehat dan baik baik saja." jawabnya sambil tersenyum.

Senyumnya tak berubah. Masih manis dan memikat Bagas. Juga luka yang ada disana masih bisa dilihat Bagas dengan jelas. Namun ia belum berani bertanya. Tentulah ia ikut andil di dalamnya. Hatinya kembali perih.

"Ayah sama bunda juga baik Gas?"

"Ayah sudah meninggal Run, bunda baik baik aja. Jadi banyak kegiatan sekarang."

"Oh ya? Nggak berubah ya Hahaha. Kamu kok bisa kesini Gas?" tanya Seruni lagi.

"Iya tadi dapat alamat toko bunga ini dari kantor. Mereka pesan rangkaian bunga untuk lobby dari sini ternyata. Aku juga baru tahu."

"Terus, kamu mau cari bunga juga?"

"Iya, buat acara di rumah. Bunda suka rangkaian bunga mu Run."

Seruni kembali tersenyum, hatinya mulai merasakan desiran yang telah lama ia kunci rapat.

"Terima kasih ya. Ngomong ngomong kantor nya dimana Gas"

"Saga Ametris Building yang di jalan Mangkubuwono itu Run."

"Ah iya aku tau."

Hening lagi. Cuaca tambah dingin karena senja mulai beranjak magrib. Selain itu mendung dari utara juga terlihat mulai bergerak ke arah selatan.

"Seruni."

"Ya."

"Sejak kapan kamu ada di Malang?"

"2010 akhir Gas."

"Toko bunga ini? Ibu mu?" tanya Bagas lagi

"Ibu punya usaha warung makan kecil dan penyewaan kos dekat kampus. Toko ini ku bangun sekitar 3 tahun lalu."

Aku sangat bahagia mendengarnya. Jujur. Seruni masih diam dan menyesap teh nya. Entah dari mana aku punya keberanian bicara seperti ini.

"Runi."

"Iya Bagas."

"Maaf kan aku." Bagas bicara tanpa berani menatapnya

Seruni diam cukup lama. Di genggamnya jari jemari tangannya lalu di usapnya sendiri. Lalu bisa Bagas lihat dari kaca, ekspresi Seruni yang tak bisa diartikannya Tidak, padahal obrolan ini berjalan baik. Seruni bersikap ramah padanya, seolah tak ada yang terjadi diantara mereka. Ia memperlakukan Bagas layaknya teman lama yang bertemu kembali. Tapi kenapa Bagas merasa tambah sesak. Melihat Seruni bertingkah sebaik itu. Ia merasakan jarak yang begitu jauh. Apa yang harus ia lakukan untuk menghapus rasa bersalahnya yang makin menumpuk setelah ini. Tapi satu hal yang Bagas sadari, Seruni tak pernah menatapnya saat mereka bicara. Ia memilih untuk menghadap cangkir teh atau lurus ke jalan lewat jendela kaca di tokonya.

"Ayo Gas, aku bantu pilih bunga nya. Nanti aku rangkaikan. Simpan nomor yang bisa dihubungi nanti di meja yah." ujar nya.

Ah dia mengalihkan permintaan maaf Bagas. Tapi Bagas tak menyerah, ia meyakinkan diri bahwa suatu saat permintaan maaf itu akan sampai pada Seruni, dan ia akan menunggu saat itu tiba. Setidaknya itu saja dulu untuk sekarang. Bagas mengumpulkan rasa percaya dirinya.

"Iya bu Florist. Silahkan di pilih bunga tercantik buat ibunda saya kalau bisa persis seperti di kantor ya."

"Oke. Aku bikinkan yang paling cantik buat bunda yah."

"Buat hari minggu yah Run."

"Iya Bagas."

Yah. Setidaknya Seruni tidak berteriak mengusirnya atau memakinya pengkhianat. Bagas tak mungkin meminta lebih untuk sekarang. Selesai memilih bunga yang ia pesan Bagas keluar toko, Seruni mengantarnya hingga depan pintu. Sebelum membuka mobil Bagas bertanya.

"Seruni."

"Iya Gas."

"Kamu sudah menikah?

Bodoh nya manusia ini. Maki otaknya sendiri pada Bagas. Seruni terdiam agak lama. Sementara Bagas masih menunggu di samping mobil.

"Belum." jawabnya.

"Aku boleh main kesini lagi?"

"Jangan sering sering yah." jawab Seruni sambil tersenyum.

Hati Bagas sedikit menciut tapi ia tidak mau mundur.

"Seminggu dua kali boleh?"

"Aku pikirkan dulu yah Bagas."

"Oke Runi, aku pulang dulu. Terima kasih buat hari ini."

"Sama sama, hati hati di jalan."

Bagas menyalakan mobilnya dan meninggalkan toko. Seruni masuk ke dalam dan menutup pintu. Lalu membiarkan air mata yang di tahannya sedari tadi jatuh tanpa terbendung lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!