Bab 15 Ruang Yang Penuh

Di perjalanan pulang dari kebun Seruni masih diam. Ia menyeka sisa sisa air matanya. Omongan pekerja disana tadi masih terngiang di telinganya. Bisa bisanya mereka bilang ibu tidak becus mengurus bapak. Ibu adalah perempuan yang terlalu baik untuk laki laki seperti bapak. Kesabarannya tak bisa di bandingkan dengan apapun. Ia bahkan lebih kuat daripada berlian. Meskipun baju dan tangannya sering kotor karena bergelut dengan tanah, tapi baginya ibu adalah hal terindah yang Seruni punya. Ia tak ingin beliau jatuh lebih sakit lagi. Seruni berjanji membawa ibunya pergi jauh dari sini.

"Masih sakit kakinya nduk?"

"Enggak bu."

"Kalau sakit kita ke tukang urut aja, takut kamu keseleo loh."

"Enggak ibuuuu, kaki ku sehat kok."

"Ibu kaget lihat kamu nangis kayak tadi."

"Ya namanya sakit bu." jawab Seruni.

"Bu, kira kira bapak masih di rumah nggak ya?"

"Ibu nggak tahu nduk, biasanya bapakmu nggak lama lama di rumah."

"Kenapa toh ibu mau tinggal sama bapak? Kenapa kita nggak pergi aja? Toh bapak juga nggak ngurusin kita bu, lihat nih ibu tiap hari kerja seperti ini tapi bapak malah mabuk dan ngambilin uangnya ibu. Nggak adil sekali."

"Seruni, bapak dulu nggak seperti itu loh. Dulu bapak baik banget. Biar bagaimanapun bapak adalah orang yang memberikan ibu keluarga. Ibu bisa kenal mbah, bisa merasakan dicintai bapak dulu, dan yang paling penting kamu terlahir jadi anaknya ibu. Itu hadiah dalam hidup ibu Run. Entah kenapa ibu yakin suatu saat nanti ayahmu akan kembali."

"Ibu bakal maafin bapak kalau itu terjadi nanti?"

"Selalu nduk, tangan ibu tidak pernah tertutup untuk ayahmu."

Ibu membawa beberapa sayur seperti wortel, kubis, dan kentang. Katanya, ibu akan membuat sup untuk makan nanti malam dan sisanya bisa di jadikan gorengan bakwan untuk di jual besok. Sesampainya di rumah mereka melihat bapak sedang duduk di teras ditemani secangkir kopi kesukaannya. Jika tidak dalam pengaruh alkohol, bapak tidak begitu menyeramkan sebenarnya. Seperti saat ini. Bapak hanya duduk diam dan merenung. Entah apa yang dipikirkannya.

"Pak, ngapain di depan? Sudah makan?" tanya ibu.

"Cari angin. Aku sudah makan." jawab bapak.

Seruni hanya memperhatikan bapak dari samping, ada rasa takut padanya mengingat beliau beberapa kali memukulinya. Apalagi tadi ia mendengar ibu ibu yang membicarakan keluarga mereka. Seruni makin tak betah ada di dekat bapak. Ia memutuskan untuk menyusul ibu ke dalam.

"Seruni mau kemana?" tanya bapak.

"Mau masuk pak, ada apa?"

"Pijiti bapak dulu sini." ucapnya.

Seruni bersungut sungut, tubuhnya sedang lelah dan ia kesal pada bapaknya tapi malah harus memijit beliau sekarang. Seruni mana berani menolaknya, ia takut bapak akan marah dan memukulnya. Seruni mulai memijit bahu bapaknya, meskipun asal asalan.

"Gimana sekolahmu?" tanya bapak.

"Baik pak."

Hening lagi. Seruni merasa bersalah bersikap cuek pada bapak seperti itu. Meskipun selama ini sering marah terhadap perlakuannya, jauh dalam hati Seruni menyayangi beliau. Tapi semua itu terpendam rapat karena kelakuan bapak sendiri. Jika tidak dalam keadaan mabuk bapak cenderung diam seperti banyak pikiran. Sudah lama rasanya sejak bapak bersikap selayaknya ayah pada anaknya. Kegiatan sederhana dan obrolan singkat itu bisa memberikan hangat tersendiri di dalam hati Seruni. Tak bohong, bagaimanapun ia rindu bapaknya. Hari itu berlangsung baik meskipun bapak ada di rumah. Ibu masak sayur sup dan mereka makan bersama. Suasana yang asing karena sudah terlalu lama tidak mereka lakukan tapi membuat Seruni merasakan sedikit desir bahagia.

Pagi hari ibu sudah menyiapkan bakwan untuk di jual. Seruni juga bersiap untuk berangkat sekolah. Ia memperhatikan kamar ibu dan bapaknya, tidak ada siapapun disana.

"Cari apa nduk?" ibu muncul dari dapur memergoki Seruni yang celingukan

"Eh nggak bu."

"Cari bapak?" tanya ibu lagi

Seruni terdiam. Iya, memang dia mencari bapaknya. Meskipun bingung juga untuk apa. Tapi karena tadi malam mereka makan bersama, ia ingin pamit pada bapak untuk berangkat sekolah pagi ini.

"Bapak sudah pergi tengah malam tadi. Katanya ada panggilan buat bantu tukang di Surabaya."

"Bapak kerja bu?"

"Iya alhamdulillah. Ibu lihat juga beberapa hari ini bapak juga nggak mabuk saat di rumah. Semoga saja semuanya jadi lebih baik ya nduk."

Ibu meninggalkannya ke dapur lagi. Seruni tak menjawab, tapi hatinya mengaminkan. Amin yang sangat serius. Jika bapak memang berubah, maka ia akan membuka tangannya dengan tulus untuk menerima ayah kembali. Setelah semuanya siap Seruni pamit pada ibunya untuk berangkat. Di raihnya jemari kurus dan kasar itu lalu di ciumnya dengan penuh rasa sayang.

"Seruni sekolah dulu ya bu. Hati hati nanti kalau berangkat ke kebun. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam, iya nduk. Kamu juga hati hati ya."

Seperti biasa perjalanan ke sekolah akan selalu dibersamai kabut dan dinginnya pagi. Seruni bersenandung kecil, suasana hatinya baik sekali pagi ini. Di jalan masih sepi, memang biasanya Seruni akan berangkat lebih awal dibandingkan anak anak yang lain. Tapi terkadang ia sengaja pergi lebih siang agar bisa berangkat dengan Dayu. Tiba tiba seseorang mengagetkannya.

"Dooooor." Bagas yang sudah di sampingnya berteriak pas di telinganya.

Seruni yang tersentak dan kaget melihat Bagas muncul tiba tiba entah darimana segera menjauh dan menjaga jarak.

"Bagaaaaaaas." jeritnya kesal

"Hahahaha. Gitu aja kaget." Bagas tertawa karena berhasil mengisengi Seruni

"Ya kaget lah, kamu pikir suaramu kecil apa. Kamu darimana kok nggak kelihatan?" tanya Seruni setelah lebih tenang.

"Sembunyi disitu." Bagas menunjuk sebuah tembok tinggi yang memang membuatnya tidak akan terlihat dari arah Seruni berjalan.

"Ngapain sembunyi? Tumben berangkatnya pagi?" tanya Seruni lagi.

"Nggak papa cuma pengen berangkat sama kamu aja. Habis kita jarang ketemu kalau aku berangkat lebih siang." jawab Bagas lagi.

Seruni terdiam. Bingung mau merespon apa. Yang jelas jantungnya berdebar dan ia merasa malu saat mendengar ucapan Bagas. Seruni mencoba mencuri pandang anak lelaki di sampingnya itu. Ternyata ia sudah memakai tudung jaket untuk menutupi kepalanya dan membuat wajahnya tidak kelihatan. Seruni tak bisa melihat ekspresinya. Hening. Sepanjang jalan mereka berdua tidak berbicara, sibuk dengan pikiran masing masing. Seruni dengan jantungnya yang berdebar kencang dan Bagas yang berharap ia di telan bumi saja karena sudah sok keren untuk berkata jujur seperti itu. Tapi ada yang sama diantara mereka, para remaja itu bahagia dan tidak sadar bahwa keduanya jatuh ke dalam perasaan yang berbeda dan istimewa secara bersama.

Setibanya di sekolah mereka berlagak tidak ada yang terjadi. Bagas sibuk bersama Hendri dan Damar. Seruni sibuk dengan dagangan dan teman teman yang lain.

"Dayu aku punya sesuatu buatmu" ucap Seruni.

"Apaan tuuuuuuchhh." jawab Dayu dengan gaya manja.

"Bisa nggak sih Yu kamu biasa aja jawabnya, nanti aku pukul loh kamu. Gini gini aku jago silat." balas Seruni.

"Oh iyaaaa? Masaaaaa? Duh takuuuut." Dayu makin menjadi jadi.

Seruni meninju pelan bahu sahabatnya, mereka berlagak adu jurus satu sama lain dengan wajah yang serius, dan di akhiri dengan acting kekalahan Seruni lalu ditutup dengan ekspresi seolah tidak ada yang terjadi. Biarlah, kelakuan mereka kadang memang cukup diketahui saja, tidak perlu untuk dipahami.

"Kamu mau kasih aku apa Run?" tanya Dayu lagi.

"Ini, lihat deh aku buatkan rangkuman materi kemarin biar kamu lebih gampang belajarnya. Ku lihat kamu lebih paham kalau di buat diagram seperti ini Yu." ucapnya

Dayu diam, sekarang kalian tentu paham mengapa ia sangat menyayangi Seruni.

"Seruni kamu jangan sok baik nanti aku cubit loh." ujarnya dengan mata berkaca kaca. Maksud kalimat itu adalah terima kasih banyak Seruni aku sayang kamu my best friend. Hanya saja terlalu aneh untuk diucapkan oleh Dayu.

"Iya iya sama sama." jawab Seruni paham dengan makna tersembunyi nya.

Hari ini semua orang berbahagia. Seperti ruangan yang penuh dengan berbagai dekorasi acara pesta, kecuali dua anak gadis di sudut kelas sana. Giyanti dan Yuni menatap tajam ke arah Seruni. Ia tahu Bagas menyukai gadis itu dan tentu saja ia tak terima.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!