Bab II Pagi Hari

*Wonokitri, Januari 200*7

Seruni Pov

Pagi di desa ini selalu dingin, embun yang tebal dan pekat menyelimuti rumput serta pohon yang tinggi menjulang. Saking tebalnya embun disini kadang sampai terlihat seperti awan yang jatuh ke bumi. Cantik sekali. Desaku ini terletak di dekat gunung Bromo. Kalian tahu? Gunung Bromo itu terkenal dengan bunga edelweisnya dan padang pasir yang luas sekali. Namanya pasir berbisik. Menarik sekali kan? Dan di pagi yang dingin begini sudah pasti yang paling enak adalah bergulung dalam selimut. Tapi mana bisa aku begitu.

"Runi bangun nduk. Sudah pagi, waktunya sekolah. Mandi sana." ibu membangunkan ku dengan lembut.

"Dingin bu, males ah." aku menjawab sambil merapatkan selimutku sampai ke kepala.

"Ealah, kapan toh memangnya disini nggak dingin? Yang malas mandi itu kambing nduk." ibu belum menyerah. Sambil terkekeh tangannya mulai menggelitiki tubuhku agar lebih cepat bangun

"Ah ibuuu, geliii." aku menggeliat karena ibu memasukan tangannya kedalam selimut dan menggelitiki pinggangku.

"Ya makanya ayo bangun, kamu belum shalat subuh juga."

"Iya, iya aku bangun." sambil beringsut aku duduk di tepi kasur. Masih mengumpulkan nyawa yang baru masuk seperempatnya saja. Wangi nasi goreng yang ibu masak menerobos tirai kamarku, memaksa hidungku menghirupnya lebih dalam lagi. Hmm harumnya. Masakan ibu memang yang terbaik.

Aku bergegas pergi ke kamar mandi, menyalakan kran air dan mulai menyiram badanku.

"Ya Allah ini tiap hari namanya mandi air es,"

Terlalu dingin, aku tidak sanggup mandi berlama lama. Usai berwudhu dan memakai handuk, aku bergegas keluar kamar mandi. Kulihat ibu sedang menggoreng pisang dan jemblem. Kalian tahu jemblem? Itu adalah olahan singkong yang di parut dan diisi gula merah di dalamnya, kemudian di goreng sampai kecoklatan. Rasanya manis dan gurih. Gorengan itu akan aku bawa ke sekolah lalu ku jual disana.

Dari belakang ku lihat tubuhnya semakin kurus, beberapa kali terbatuk. Aku yakin ibu sangat lelah. Kudatangi pelan pelan dan ku peluk ibu dari belakang.

"Ada apa nduk, peluk peluk segala?" tanya ibu.

"Nggakpapa bu. Uang jajan hehe." canda ku.

Padahal aku ingin memeluknya lebih lama, ibu yang selalu ramah dan ceria meskipun tubuhnya terlihat makin ringkih dan menyedihkan. Beberapa kali ku minta ibu untuk lebih banyak beristirahat, ibu akan mengiyakan sambil tersenyum atau bercanda. Tanpa pernah benar benar melakukannya.

Usai shalat, aku bersiap siap. Ku pakai seragam sekolah, aku mematut diri di depan cermin. Ku sisir rambut ku yang sudah tumbuh hingga atas punggung, lalu ku ikat satu seperti ekor kuda. Aku menggoyang goyangkan kepala ku ke kiri dan kanan, membuat rambutku mengikuti gerakanya. Kata ibu rambutku cantik sekali, lurus, tebal dan hitam legam. Bahkan kalau terkena sinar matahari, rambut ku ini akan sedikit berkilau. Iya dong aku kan mirip ibu makanya aku cantik. Biasanya aku menjawab begitu. Sebenarnya aku tidak peduli juga, mau cantik atau tidak. Bagiku yang penting tubuh ini bisa kugunakan dengan baik juga sudah cukup.

"Runi sudah siap belum?" ibu menyeruku dari luar.

"Sudah bu, sebentar lagi selesai."

Aku bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan yang sudah di masak ibu dan bekal yang akan ku bawa. Nasi goreng masih mengepulkan uapnya yang harum. Ku susun gorengan pisang dan jemblem di dalam keranjang, siap untuk dijual.

"Bu ayo sarapan sama sama."

"Sudah kamu makan duluan, ibu mau siap siap kerja."

"Ayo toh temanin aku, aku suapin ya. Aaaaa"

"Sudah ah, cepat makan nanti kamu terlambat."

"Ya makanya, ayo makan sama aku. Ibu tega biarin aku makan sendiri? Nanti aku sedih loh." jawabku mendramatisir.

"Halah, iya sudah ini ibu makan." ibu beringsut duduk di samping lalu menyendok nasi goreng ke piringnya.

"Gitu dong, hehe." aku tersenyum sumringah.

Bukannya apa, tapi aku sangat suka saat makan berdua dengan ibu. Aku akan memuji masakannya yang selalu enak menurutku, sedikit menggoda dan bercanda dengannya. Aku paling suka saat menemani ibu, karena aku yakin jika aku terus bersamanya seperti ini, ibu tidak akan merasa kesepian.

"Kita sama sama terus ya bu."

Setelah selesai, aku bersiap untuk berangkat. Sampai di ruang tamu, ku lihat seorang pria tengah tidur dengan dengkuran seperti singa. Napasnya menguarkan bau alkohol yang tengik menyengat.

"Bapak macam apa ini?" tanyaku sinis.

Tak ingin memperdulikannya lebih jauh, aku langsung keluar rumah. Berjalan kaki ke sekolah. Menembus pagi yang dingin, mengumpulkan semangatku yang mungkin sedang melayang diantara embun pagi atau burung yang berkicau dan berterbangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!