Selama cuti ini Bagas berusaha menyegarkan pikiran dan tubuhnya. Ia banyak berolahraga, jalan jalan ke tempat ramai, mengunjungi saudara perempuannya mbak Bintang bersama bunda untuk menjenguk keponakan kecil mereka yang baru berusia 3 bulan. Setelah melihat foto lama yang ia simpan, berbagai kenangan muncul di kepalanya. Dia tidak ingin terjebak lagi disana karena bahagia dan sakit yang datang bersamaan saat memori itu kembali berputar. Bagas memilih untuk menyibukan dirinya, seperti hari ini. Ia mengajak bunda untuk belanja kebutuhan bulanan di supermarket yang terletak di pusat kota Malang.
Semenjak kepergian ayah, Bagas lebih memperhatikan ibunya. Dia tak ingin beliau kesepian.
"Bunda, sudah siap?" tanya Bagas.
"Sebentar Gas, bunda masih catat apa aja yang mau di beli."
"Aku tunggu di mobil ya bun."
"Bagas nanti mampir di warung bubur ayam bu Tini ya. Bunda pengen sarapan itu."
"Siap yang mulia ratu."
"Halah kamu ini."
Bagas menunggu di mobil sementara bunda menyusul nya setelah selesai membuat catatan belanja.
"Bagas lihat deh, ini foto Qiara. Pinter banget udah mulai miring miring. Mau tengkurap nih kayaknya." Bunda menunjukan foto Qiara keponakannya.
"Iya emang Qiara pinter bun. Mirip om nya."
"Nah kamu kapan ngasih bunda cucu juga?"
"Mulai deh bunda, nanti yah hehe." jawab Bagas.
"Nanti terus ah kamu ini. Bunda lihat kamu tuh ganteng loh. Masa nggak ada yang mau." sejujurnya bunda tidak salah. Bagas memang tampan
"Emang nggak ada bun."
"Bohong lagi deh sama bunda. Atau bunda cariin aja ya. Anak temen temen bunda banyak yang cantik dan baik loh Gas." tanya bunda.
"Duh bun, makasih. Tapi aku cari sendiri aja ntar." jawab Bagas sambil fokus menyetir.
"Kamu nyari sendiri nggak dapat dapat." seru bunda lagi. Sambil sedikit merajuk.
Bagas tersenyum melihat tingkah bunda nya. Menurutnya bunda itu lucu saat cerewet begini. Tapi akhir akhir ini bunda sering mendesak Bagas untuk segera menikah. Bahkan beberapa kali berusaha untuk menjodohkan Bagas. Bukannya Bagas tidak mau menjalin hubungan. Ia pernah mencobanya beberapa kali. Tapi semakin ia mencoba hatinya merasa tak mampu. Karena Bagas tidak pernah bisa memberikan cinta yang utuh pada mereka. Selalu ada bagian besar untuk seorang gadis di masa lalunya, yang membuatnya merasa berkhianat pada gadis lain yang dikencaninya saat itu karena tak bisa memberi mereka perasaan seutuhnya. Akhirnya ia memilih untuk menyerah. Berhenti mencari hati yang baru. Baginya Seruni adalah orang yang terlewatkan dan sayangnya hati Bagas telah menetap disana. Katakan lah Bagas sentimentil, ia tak peduli. Toh selama ini ia berhasil melanjutkan hidupnya, meski tertatih dan merasa ada yang hampa di sudut hatinya. Maka biarlah perasaan cinta itu tinggal disana. Entah akan kembali atau tidak padanya.
Bagas dan bunda menyusuri lorong supermarket sambil mendorong troli belanja. Bunda sibuk memilih kebutuhan rumah. Mencari sabun, minyak, dan berbagai hal lainnya.
"Bunda nggak beli sayur?"
"Sayur itu mending beli di pasar Gas, lebih segar. Dari petani daerah langsung."
"Nanti mau ke pasar?" tanya Bagas.
"Besok aja, masih ada sayur di rumah. Kalau sekarang udah kesiangan Gas. Kamu masih cuti kan besok?"
"Masih bun, tapi cuti terakhir."
Bunda sibuk memilih barang yang tengah di diskon, sementara Bagas hanya mengamati sekitar. Bingung, kenapa wanita suka sekali menghabiskan waktunya untuk belanja seperti ini. Ia mengamati sekitarnya hingga netra nya menangkap sesosok wanita dari kejauhan. Wanita itu menggunakan dress panjang berwarna merah muda lembut dengan motif bunga peony, ia juga menggunakan kerudung yang berwarna senada dengan motif bunga di bajunya. Bagas menegang, ia ragu dengan apa yang dilihatnya. Di tinggalkan nya bunda dan troli belanja itu. Mencoba mendekati wanita yang menarik perhatiannya itu. Jarak beberapa meter pengelihatan Bagas terhadap wanita itu makin jelas. Tubuhnya kaku, napasnya memburu, tangan dan kaki nya terasa dingin. Suaranya tertahan dan tercekat tak ingin keluar. Tenggorokannya terasa kering. Sejujurnya Bagas ingin berlari ke arah wanita itu sekarang juga. Tapi otaknya meminta kaki untuk tetap diam. Tidak, Bagas tak berani. Rasa bersalah yang mendalam kembali menggerayangi hatinya.
"Seruni." mulutnya lirih berkata
Bagas membiarkan wanita itu berlalu menjauh dari pandangannya. Air matanya menetes. Perasaannya campur aduk. Takut, malu, sesal dan bahagia menjadi satu. Ia bahagia karena Seruni muncul di hadapannya, dari satu dibanding seribu kemungkinan, keajaiban Tuhan memang tak bisa di terka. Seruni terlihat tumbuh dan hidup dengan baik. Tubuhnya terlihat lebih tinggi dan ramping, dari dulu Seruni memang cantik. Tapi saat ini dia terlihat jauh lebih indah. Seruni seperti bunga yang sedang mekar. Ia terlihat anggun dan mempesona. Bagas tak menyesali diamnya hari ini. Hatinya meledak saat melihat Seruni ada di kota yang sama dengannya. Saat hatinya siap, Bagas akan menemukannya. Jika Seruni belum ada yang memiliki Bagas berjanji akan menangkapnya dan tak akan di lepas lagi.
Halo semua. Semoga kalian suka dengan cerita ini ya. Alurnya yang maju mundur semoga tidak menyulitkan kalian untuk membaca. Aku bikin alurnya lambat agar teman teman bisa merasakan perasaan tokoh tokohnya. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, comment, dan subs ya, biar aku semakin semangat update dan bikin ceritanya. Terima kasih sekali lagi. Love you
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
StarJustStar
Puas hati!
2024-02-08
0