Perjalanan ke sekolah adalah hal yang seru untuk Seruni lakukan setiap harinya, karena desanya ada di daerah pegunungan maka ia akan melalui turunan yang cukup curam. Sepanjang perjalanan dia akan bersenandung kecil, menyapa orang yang dia kenal atau para pekebun yang bersiap berangkat kerja. Mayoritas penduduk disini menggantungkan mata pencahariannya dengan hasil berkebun sayur. Seperti, kubis, kentang, wortel, daun bawang, dll. Karena di tanam di daerah pegunungan yang dingin dan subur, sayur dari sana biasanya lebih berkualitas dan segar. Ibu Seruni bekerja di kebun seorang juragan. Kalau hari libur Seruni suka ikut membantunya.
Seruni masih duduk di bangku SMP saat itu, ia anak yang ceria dan berpikiran positif, selain itu Seruni sangat perhatian pada siapapun, bahkan ia kadang dia lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Seruni POV
"Dinginnya."
Aku memasukan tangan kedalam saku jaket, sementara tangan sebelahku membawa barang dagangan
"Runi!"
"Eh Dayu. Kok tumben pagi pagi udah berangkat?"
"Iya, aku belum ngerjain semua PR ku. Nanti aku lihat punyamu yah hahaha." jawab Dayu
"Wah dasar, jadi kamu berangkat cepat cuma mau nyontek aja ya." aku bersungut mendengar jawabannya.
"Iya dong. Nggak boleh pelit, kamu bilang kalau pelit kan kuburannya sempit."
"Culas kamu yu, aku nggak bisa bilang gitu ke kamu soalnya kalau meninggal kamunya pakai Ngaben nggak di kubur." jawab ku sambil bercanda.
"Hahaha iya juga ya. Jadi boleh ngga aku pinjam PR mu Run, atau kalau nggak boleh kamu ajarin aku deh. Sumpah PR kemarin susah banget soalnya."
"Kenapa nggak ke rumah aja kemarin? Kan bisa kerjain sama sama?"
"Aku harus latihan nari kemarin Run, jadi malam banget baru bisa ngerjain PRnya."
"Oke oke. Kamu liat aja deh ntar. Nanti pas istirahat aku jelasin ya." jawab ku
"Makasih Seruni Sandyakala
Dayu Adisatya Nirmala. Teman baikku dari jaman masih sekolah dasar. Dayu adalah anak yang cantik dan baik hati, dia jago olahraga dan sangat lincah. Sifatnya yang menonjol adalah pembelaannya terhadap keadilan. Ia tidak suka melihat sebuah penindasan, tanpa ragu Dayu akan melawan itu jika terjadi di depan matanya. Kami berjalan berdua ke sekolah. Beberapa kali aku berpapasan dengan teman kerja ibu di kebun, dan juga anak anak yang lain. Sampai akhirnya kami bertemu segerombolan anak laki laki dan perempuan yang berjalan bersama, mungkin sekitar 6 orang. Aku kenal mereka semua.
Disana, ada seseorang yang mampu menyita perhatianku untuk hanya tertuju padanya. Tubuhnya agak kurus dan cukup tinggi jika dibandingkan anak anak seusianya dengan kulit kuning langsat dan rambut pendeknya yang bergelombang. Matanya ikut tersenyum saat ia tertawa menampilkan sederet gigi yang rapi dan bersih. Di keramaian pagi ini, mataku langsung menangkapnya saat kulihat dari ujung jalan.
Namanya Bagas Pijar Dikara, anak pindahan dari kota Malang. Ayahnya punya usaha di sana yang katanya sekarang sedang di kelola saudaranya dan ingin mengembangkan perkebunan sayur yang baru ia beli disini. Baru pindah saja sudah seterkenal ini. Dia mudah bergaul, usil, banyak tingkah, sering sok keren, tapi banyak akalnya. Semua yang ia lakukan bisa menarik perhatian, bukan tipe anak baik baik yang menuruti pasal aturan sekolah. Tapi juga bukan anak yang anak merokok sembunyi sembunyi di wc sekolah atau mencoba ikut ikutan minum alkohol di warung malam. Ya, dia anak SMP yang suka cari perhatian.
Dan aku, aku yang suka memperhatikannya dari jauh. Dari sudut yang tidak terlalu ramai, dari tempat yang mungkin tidak terlihat olehnya. Aku terlalu takut untuk menyapanya, meskipun kami duduk di kelas yang sama. Tidak siap dengan segala risiko yang mungkin ku hadapi. Aku mencoba berhenti memperhatikannya. Jangan sampai dia menganggapku aneh karena menatapnya sefokus ini.
"Eh lihat itu si Runi."
"Bawa jualan apa dia hari ini?"
"Paling bawa singkong goreng."
"Pantesan kulitnya cokelat kayak kulit singkong."
"Hahahaha." mereka tertawa.
Hei aku dengar loh kalian bicara apa, kalian tertawa karena candaan itu? Ya ampun jelek sekali selera humor kalian. Aku menggerutu dalam hati. Tapi menahannya agar tak keluar dari mulutku. Jujur aku tidak mau cari masalah.
"Hehh. Kalian pikir lucu? Dasar kampungan." Dayu sudah menyiapkan umpatan untuk membalas mereka.
"Ya kan kita emang tinggal di kampung. Wleee." sahut mereka tak mau kalah
Ya benar juga sih.
"Ya tinggal di kampung bukan berarti norak gitu. Kalian pikir kalian lebih hebat dari Runi? Dia sudah belajar bisnis dari kecil loh. Kalian aja masih minta jajan sama orang tua."
"Udah Yu, kamu jangan terlalu dekat Runi nanti kamu bau apek kayak singkong." sahut salah satu dari mereka. Disusul tawa oleh yang lain.
Aku mencuri pandang ke arah Bagas, ia terlihat menatap balik ke arahku dan menggigit bibirnya, berusaha menahan tawa karena olokan temannya tadi. Sial, pagi pagi begini hatiku sudah campur aduk saja rasanya.
"Heh Dasar ya kalian!" Dayu sudah bersiap mengambil ancang ancang untuk menghajar mereka. Secepat mungkin ku tangkap tangannya.
"Yu udah yu. Kita duluan aja ke sekolah."
"Nggak bisa Run, mereka udah keseringan begini." bantah Dayu
"Udah nanti PR nya nggak selesai." aku mencoba beralasan.
Dayu melunak, mungkin membayangkan lari lapangan 10 kali putaran kalau PR nya tidak di kumpul nanti sepertinya cukup berat dan melelahkan. Ia tidak mau.
"Awas nanti kalian ngejekin orang lagi." ancam Dayu.
"Nyenyenye."
Kuseret Dayu menjauh, aku tidak ingin pagi pagi sudah mual meladeni kebiasaan membully yang mereka lakukan. Melihat mereka semua tertawa. Termasuk Bagas. Meskipun tawanya tak selebar yang lain, hatiku sedikit perih.
halo semua cerita ini fiktif saja ya. Jika ada kesalahan dalam penuturan dan penggambaran lokasinya saya minta maaf dan tolong dikoreksi. Saya usahakan untuk mencari refrensi lebih baik lagi. Jangan lupa like dan komen ya. See you on the next chapter
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Maria Luisa
Menciptakan ikatan
2024-01-28
0