...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Detektif Alex, Diana, dan Toni berhasil mencapai markas tersembunyi milik Darwin. Terletak di dekat pelabuhan, markas ini seolah menyatu dengan kegelapan malam. Bangunan tua terlihat terlantar menutupi pintu masuk menuju markas tersebut. Di sekitarnya, semak belukar dan pepohonan tumbuh lebat menyediakan perlindungan alami yang efektif.
“Ini pasti markasnya Darwin. Kita harus masuk dengan hati-hati,” ucap Alex.
“Tidak ada yang tampak di sekitar sini. Tempat ini benar-benar tersembunyi dengan baik,” ucap Diana kagum.
“Ayo, masuklah melalui pintu belakang, ikuti mobil Darwin. Ini lebih jarang diawasi,” ucap Toni memberitahu.
Mobil milik mereka dan Darwin beriringan melaju perlahan ke depan. Mereka bergerak dengan hati-hati, melintasi area yang gelap dan terlantar. Pintu belakang sudah lama tidak terpakai terbuka dengan gemerincing pelan saat mereka masuk ke dalam markas tersembunyi Darwin. Di dalam, suasana dingin dan angker mengelilingi ruang gelap yang hanya sedikit diterangi oleh sinar bulan yang masuk dari celah-celah jendela yang retak.
Markas ini terasa seperti labirin yang penuh dengan rahasia. Peralatan kuno dan barang-barang terabaikan berserakan di sepanjang lorong-lorong sempit. Dinding-dinding yang rapuh dan berlapis debu memberikan kesan bahwa tempat ini telah lama terabaikan oleh waktu. Tetapi, di balik penampilannya terlantar, markas ini seolah menyimpan banyak rahasia dan intrik tak terduga.
Mobil ditumpangi Darwin berhenti di depan pintu masuk markasnya, diikuti oleh mobil yang dikendarai detektif Alex, Diana, dan Toni. Darwin keluar dari dalam mobil dengan langkah mantap, menunggu di depan pintu sambil menatap mereka dengan ekspresi serius. Dengan pakaian yang rapi dan tatapan tajam, Darwin memberikan kesan bahwa dia adalah sosok tak kenal takut di markasnya sendiri.
“Selamat datang di markas kami. Ikuti aku,” sambut Darwin.
“Terima kasih, Darwin. Kami siap mengikuti Anda,” sahut Alex.
“Harapannya kami bisa menyelesaikan ini dengan baik,” tambah Diana berdoa untuk kelancaran tugas mereka.
“Ayo, kita lihat apa yang Darwin punya untuk kita,” ucap Toni.
Mereka mengikuti Darwin melalui pintu masuk, masuk ke dalam ruang gelap markas yang tersembunyi. Di dalam, suasana tegang terasa semakin kuat, seolah-olah semua dinding memiliki telinga untuk mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan. Namun, mereka tetap maju dengan tekad kuat, siap menghadapi apa pun yang akan mereka temui di dalam markas Darwin.
Dalam keheningan tegang, langkah mereka bergema di lorong-lorong yang gelap. Lampu redup hanya menerangi sebagian kecil dari ruangan, menciptakan bayangan-bayangan menyeramkan di sekeliling mereka. Mereka mengikuti Darwin dengan hati-hati, waspada terhadap setiap kemungkinan ancaman yang mungkin muncul di dalam markas tersebut.
“Kita hampir sampai di ruang pertemuan. Tetaplah waspada,” ucap Darwin mengingatkan.
“Baik!” sahut Alex.
“Harapan kami hanya Anda, Darwin,” ucap Diana.
“Toni adalah teman baikku. Beberapa kali ia pernah menolongku di saat salah satu anak buah Vito ingin membunuhku. Aku membantu kalian, bukan karena aku menghormati detektif licik yang mesum dan matrek ini. Aku membantu kalian, karena detektif itu adalah sahabat Toni,” ucap Darwin menjelaskan sedikit awal pertemanan Toni dan Darwin.
“Padahal aku belum pernah melakukan apa pun dengan wanita. Masa ia mereka melabel diriku sebagai detektif mesum. Kalau matrek dan licik, bukannya semua orang membutuhkan keahlian tersebut,” gerutu Alex dalam hati.
Langkah mereka terus bergerak maju, melewati lorong-lorong semakin gelap dan sempit. Ketegangan terasa semakin kuat di udara, tetapi mereka tetap bersiap menghadapi apa pun yang akan mereka temui nanti. Dengan setiap langkah yang mereka ambil, misteri di sekitar markas Darwin semakin menguat, dan detektif Alex bersama timnya semakin dekat dengan kebenaran mereka cari.
Setelah melewati lorong-lorong gelap dan terpencil, mereka tiba di sebuah ruang pertemuan luas di dalam markas Darwin. Ruangan itu terang benderang, diterangi oleh lampu-lampu gantung yang mewah di langit-langit. Dinding-dindingnya dilapisi dengan panel kayu gelap, memberikan kesan kemewahan dan keanggunan. Di tengah ruangan, sebuah meja besar dengan kursi-kursi kulit mengelilinginya berada di tengah ruangan, menciptakan atmosfer yang formal dan serius. Di ujung meja, terdapat kursi lebih besar dan terlihat lebih nyaman, mungkin sebagai tempat duduk Darwin.
“Silakan duduk. Kita punya banyak yang perlu dibahas,” ucap Darwin mengarahkan kedua tangannya ke kursi-kursi kosong.
Mereka mengambil tempat duduk masing-masing. Detektif Alex, Diana, dan Toni merasa keheningan ruangan itu seolah-olah menyimpan segala rahasia yang telah lama tersembunyi.
“Apa yang Anda punya tentang informasi ini, Darwin? Kami harap Anda dapat menjawabnya,” tanya Alex langsung ke intinya.
“Aku tahu Anda ingin mengetahui banyak hal. Aku memiliki beberapa informasi yang mungkin akan membuat semuanya menjadi jelas,” sahut Darwin.
Ruang pertemuan dipenuhi dengan keheningan sejenak sebelum Diana memberanikan diri bertanya. Tatapan tajam mereka beralih ke arah Darwin, menunggu jawaban yang mungkin membuka lebih banyak tabir misteri di balik tindakan dan rencana Darwin.
“Berapa lama Anda sudah berada di sini, Darwin? Dan bagaimana Anda bisa terus berselindung tanpa diketahui?” tanya Diana.
“Aku sudah berada di sini cukup lama, menyusun rencana dan melacak setiap gerak-gerik mereka. Markas ini memang tersembunyi dengan baik, dan aku memiliki tim yang bersembunyi di dalamnya, membantuku tetap tidak terdeteksi,” sahut Darwin menjelaskan.
“Dan bagaimana kita bisa masuk ke pelabuhan tanpa terdeteksi? Kami butuh akses tanpa menarik perhatian,” tanya Alex.
“Aku memiliki akses khusus ke jalur bawah tanah yang akan membawa kita masuk tanpa terlihat. Kita harus bergerak cepat, waktu kita terbatas,” sahut Darwin.
Dengan jawaban dari Darwin, detektif Alex, Diana, dan Toni merasa lega karena memiliki bantuan dari seseorang memiliki pengetahuan dan akses yang dibutuhkan untuk menghadapi Arnold Harsono dan rencananya.
Waktu sangat berharga, dan setiap detik bergantung pada kesuksesan misi ini. Dalam persiapan menuju jalur bawah tanah yang akan membawa mereka ke pelabuhan, Darwin dengan sigap membantu menyusun rencana terperinci. Peta dan diagram pelabuhan tersebar di atas meja, sedangkan cahaya remang-remang lampu di ruang pertemuan menggambarkan atmosfer tegang menyelimuti.
“Kita punya satu hari sebelum kapal pengangkut itu tiba. Jalur bawah tanah ini akan membawa kita melewati area pelabuhan yang paling minim pengawasan. Kita harus tetap waspada dan melangkah dengan hati-hati,” ucap Darwin mengingatkan.
“Bagaimana dengan keamanan di jalur bawah tanah? Kita tidak ingin ketahuan sebelum mencapai tujuan,” tanya Alex.
“Jangan khawatir, aku sudah memiliki orang dalam yang akan membuka akses untuk kita. Itu jalur rahasia yang tidak banyak yang tahu. Tapi kita harus cepat, kita tidak bisa membiarkan kapal itu sampai sebelum kita,” sahut Darwin.
“Kita siap, Darwin. Beri tahu kami apa yang perlu kita lakukan,” ucap Toni.
Setiap detail rencana dijelaskan, dan setiap anggota tim menyerap informasi itu dengan serius. Mereka merasa tegang namun penuh semangat, siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Saat matahari terbenam, mereka bersiap untuk menghadapi misi berbahaya yang bisa mengubah segalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Anonymous
Iya, bgitulah hidup
2024-01-30
0
Msd07
sepertinya Vito adalah org yg paling berbahaya
2024-01-30
0
Msd07
Setiap membaca kalimatnya, aku seperti terbawa ke dalam arus cerita. Tubuhku kadang terasa tegang, kadang tertawa sendiri, suasana tubuhku jadi mengikuti alur cerita. Kereeeen habis pokoknya karya ini, semangat thor. Jangan menyerah, teruslah menulis karya yg bagus
2024-01-30
0